http://riaupos.co.id/news/2011/02/mengapa-harus-golput-oleh-hasrin-saily/

Mengapa Harus Golput Oleh: Hasrin Saily
Posted by idris on February 19, 2011 
Mengapa dan ada apa golongan putih (Golput). Pertanyaan tersebut susah untuk 
dijawab, karena berkaitan dengan luapa hati nurani dan kekecewaan perorangan, 
guna menentukan hak pilihnya dalam kehidupan berdemokrasi.

Walaupun susah untuk dijawab, namun populasi keberadaan Golput secara bertahap 
akan dapat dikurangi, jika hasil penyelenggaraan demokrasi seperti Pemilu 
Legislatif, Pemilu Presiden, Pemilukada melahirkan pemimpin yang berniat akan 
mengemban amanah rakyat, dan bukan pemimpin yang membohongi rakyat, bukan 
pemimpin yang munafik.

Pemimpin yang tahu pasti memprogramkan aspek pembangunan yang mampu 
mengentaskan kemiskinan, kemelaratan, pengangguran secara nyata dan bukan 
dengan angka-angka.

Keberadaan Golput muncul di panggung demokrasi dan perpolitikan di Indonesia 
pada dekade 1970-1980 yang diawali dengan peristiwa Malari (Malapetaka Januari) 
tanggal 15 Januari 1974 di Jakarta.

Golput itu ada model legalitasnya, tiada karena tidak punya anggaran dasar dan 
anggaran rumah tangga. Kelahiran dan perwujudan golongan putih sebagian besar 
disebabkan oleh karena kekecewaan setelah melihat dan mendengar serta mengalami 
praktik-praktik kebohongan dan kemunafikan para pemimpin dari penyelenggaraan 
demokrasi tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten dan kota.

Pemimpin dipilih dan dipercaya untuk mengemban amanat penderitaan rakyat, tapi 
kadang-kadang pemimpin itu lupa dan terlena dengan tahta, harta dan wanita.

Praktik KKN dan politik uang menjadi misi utama dalam kepemimpinan, selalu lupa 
daratan, senang pada puji-pujian, penghargaan, sanjungan, angka kemiskinan di 
tingkat nasional sampai ke daerah berkisar berkepanjangan antara 15-40 persen.

Laju pembangunan yang mengarah kepada program pengentasan kemiskinan seperti 
deret hitung sementara angka kemiskinan seperti deret ukur, hal ini akibat dari 
program pembangunan yang direncanakan tidak berpihak kepada rakyat miskin, 
kadang-kadang hitungan makna pembangunan berdasarkan pada multiplier effect 
(efek ganda) sementara saji rakyat miskin berlumut dengan 4 tidak sehat 5 jauh 
dari sempurna.

Dalam Pemilukada yang baru dilaksanakan di Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis, 
terlihat Golput mencapai 34 persen lebih, dengan rincian sebagai berikut, 
jumlah pemilih di Kota Dumai 165.930 orang, yang menggunakan hak pilih 107.952 
orang (65,06 persen) yang tidak hak pilih 57.978 orang (34,71 persen).

Di Kabupaten Bengkalis jumlah pemilih 343.772 orang, yang menggunakan hak pilih 
sebanyak 225.895 orang (65,71 persen), yang tidak menggunakan hak pilih 
sebanyak 117.877 orang (34,29 persen). Sedangkan dalam Pemilu Legislatif 2007 
dinyatakan konstituen yang menggunakan hak pilih hanya sebesar 29,01 persen 
atau setara 49,6 juta jiwa.

Berdasarkan laporan LP3S dalam Pilpres terdapat 28 persen yang tidak 
menggunakan hak plihnya dan Riau Pos tanggal 23 November 2008 memuat berita 
hasil Pilkada Gubernur Riau versi LSI terdapat 41 persen konstituen yang tidak 
menggunakan hak pilihnya.

Dari berbagai tanda konstituen yang tidak menggunakan hak pilihnya, maka 
diprediksi disebabkan oleh, pertama, apatis.

Rasa kekecewaan yang mendalam di hati sanubari konstituen akibat dari munculnya 
pemimpin yang tidak amanah dari Pemilu dan pemimpin itu tidak ingat lagi dengan 
janji-janji pada masa kampanye, demikian terhadap tanggung jawab yang 
dipikulnya dalam menjunjung tinggi amanat penderitaan rakyat.

Kedua, politis. Ini disengaja oleh pihak-pihak tertentu untuk jangan ikut 
memilih, terutama pada kantong-kantong domisili konstituen yang dianggap lawan 
politik.

Ketiga, Administratif. Tidak tertibnya adminstrasi daftar pemilih sementara 
(DPS) dan daftar pemilih tetap (DPT), terutama saat merekrut konstituen dari 
rumah ke rumah, kemudian konstituen juga apatis terhadap daftar DPS dan DPT 
yang sudah diumumkan melalui tempat-tempat  yang mudah dibaca oleh konstituen.

Keempat, waktu. Pada saat penyelenggaraan  hari pemungutan suara, konstituen 
lebih mementingkan urusan lain daripada menggunakan hak pilihnya, terutama 
urusan cari makan alias urusan 'kampung tengah'. Kelima, pendidikan.

Masih rendahnya kesadaran dan pengetahuan politik bagi konstituen, sehingga 
persentase pemilih tradisional melebihi angka 60 persen di seluruh Indonesia.

Mengembalikan kepercayaan Golput atau mengurangi populasi Golput pada setiap 
helat penyelenggaraan demokrasi sangat erat kaitannya dengan fenomena lahirnya 
Golput itu sendiri. Introspeksi diri bagi pemangku demokrasi (legislatif, 
eksekutif) perlu dilakukan.

Legislatif itu negarawan yang mengingatkan eksekutif agar bekerja sesuai aturan 
dan amanah. Kata Herman Saragih pada acara live Metro Tv, 18 Januari 2011 bahwa 
legislatif itu bukan pedagang, berkoalisi bukan berkomplot untuk mencari 
keuntungan dan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan.

Legislatif itu rekan eksekutif dalam menjunjung tinggi amanat penderitaan 
rakyat begitu juga sebaliknya. Legislatif bukan alat eksekutif dalam mencari 
keuntungan ketika pengesahan APBN, APBD I, APBD II, idealnya dalanm semua aspek 
demokrasi dan pemerintahan legislatif harus berada beberapa tingkat melebihi 
eksekutif.

Rakyat sangat merindukan pemimpin legislatif, eskekutif maupun yudikatif yang 
idealis demikian juga Parpol yang cukup dewasa dan objektif, sehingga perahunya 
ditumpangi oleh pemimpin yang berkualitas, tanpa ada eksploitasi di bidang 
modal.

Dr Effendi Gazali pengamat perpolitikan Indonesia, mengatakan, bahwa politik di 
Indonesia bukanlah politik ratusan literatur yang dibaca untuk referensi 
disertasi S3 tidak menemukan keadaan politik di Indonesia.

Pendidikan politik bagi masyarakat maupun pemangku sangat diperlukan. 
Undang-undang, peraturan pemerintah serta kaidah hukum lainnya harus konsekuen 
dilaksanakan, jangan ada persepsi di bidang hukum, bahwa semut di seberang 
lautan kelihatan, sementara gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.

Pada Februari-Mei 2011 adalah hari dan detik-detik bagi rakyat untuk mendengar, 
menyaksikan kampanye serta pemaparan visi dan misi sekaligus akan memilih 
kepala daerah untuk 5 tahun ke depan di 5 kabupaten/kota di Provinsi Riau.

Janji jangan hanya di mulut, jangan berpusi dengan visi dan misi, rakyat jangan 
dilukai dengan kelakuan pe-mimpin yang selalu mengambil kebijakan diluar jalur 
hak dan kewajibannya sebagai pemegang amanah Allah dan amanah rakyat, 
hindarilah sifat kebohongan, kemunafikan serta gaya mempesona, jadikan visi dan 
misi menjadi kenyataan yang dijabarkan melalui program pembangunan.

Mudah-mudahan Pilkada bupati/wali kota 2011 di Provinsi Riau dapat melahirkan 
pe-mimpin yang berkualitas, berakhlak dan mampu menciptakan terobosan-terobosan 
baru, guna mengurangi dan menghapus kemiskinan, kemelaratan dan pengangguran di 
Bumi Lancang Kuning, lebih jauh dari itu kekecewaan rakyat terobati dan 
popularitas Golput semakin kecil di Negara Republik Indonesia tercinta dan 
Provinsi Riau yang disayang.***

Hasrin Saily, Mantan Kadisparsenibupora kabupaten Siak.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke