http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/02/203584/68/11/Spektrum-Politik-Isu-Agama


Spektrum Politik Isu Agama 


Rabu, 16 Februari 2011 00:00 WIB     
CUKUP miris kita menyaksikan kembali persoalan konflik horizontal bernuansa 
agama terulang kembali terjadi di Republik ini. Benang merah dalam catatan 
penulis adalah selalu tidak berjauhan dengan gejolak politik yang sedang 
terjadi, terutama dentuman keras pada aras utama kepemimpinan nasional. Selang 
beberapa saat kita akan disodori oleh gejolak sosial besar yang berkembang di 
tengah masyarakat. Kini kita saksikan soal Ahmadiyah dan pembakaran gereja di 
Temanggung. Apa yang bisa kita pelajari dari sini? 

Spektrum 

Banyak dimensi dan banyak cara pandang dalam memahami soal ini. Dari dimensi 
politik saja, tampaknya menghasilkan sebuah spektrum yang luas atas kemungkinan 
penyebab terjadinya konflik sosial tersebut. 

Kemungkinan yang paling mendasar adalah memang ada konflik terpendam yang 
terjadi dan masyarakat membutuhkan penengah yang adil. Kemungkinan ini dalam 
kacamata awam barangkali yang paling banyak dirasakan. Mereka mudah terjebak 
dalam arus pusaran konflik. Bagi yang sadar dalam arus konflik, akan mudah 
untuk bertindak rasional, tetapi yang tidak sadar akan mudah emosional. 

Kemungkinan kedua adalah konflik tersebut dibesar-besarkan oleh segelintir 
elite yang ingin mengambil keuntungan. Spektrum ini masih terkait dengan 
spektrum pertama. Hanya, dipompa menjadi besar karena ada beberapa pihak yang 
melihat peluang dari konflik yang terjadi. Elite seperti ini tentu membahayakan 
jika masyarakat tidak menyadarinya. Tetapi elite ini masih tergolong lemah 
sebetulnya karena posisinya masih berada dalam lingkaran konflik tersebut yang 
bisa jadi masih bernuansa lokal. 

Kemungkinan ketiga adalah negara membiarkan. Ini kesengajaan, justru dibiarkan 
oleh negara seolah-olah berkembang alamiah saja. Negara merasa tidak sanggup 
menghadapi konflik tersebut. Ini jelas tidak kondusif untuk mengarah pada titik 
peredaman konflik. Pada kondisi ini, akan terbuka masuknya elite di tingkat 
nasional yang dapat mengambil keuntungan dari persoalan ini. Akibatnya eskalasi 
konflik terjadi dan bertambah luas. 

Spektrum terakhir adalah negara bermain dan memiliki kepentingan atas konflik 
tersebut. Ini kondisi yang sudah bernilai lebih dalam daripada spektrum ketiga. 
Sejak awal inteligensi negara mengetahui akan adanya konflik, tetapi negara 
melihat adanya kepentingan yang lebih besar yang harus diselamatkan, akhirnya 
negara sengaja membiarkan. Dalam spektrum ini juga sebetulnya yang 
mengendalikan adalah elite nasional yang menguasai negara. Elite nasional 
memainkan isu di tingkat nasional untuk menyelamatkan posisinya. 

Dari empat spektrum tersebut, dari kasus Ahmadiyah Cikeusik dan pembakaran 
gereja di Temanggung belum cukup kuat untuk disimpulkan pada spektrum mana 
sedang dihadapi oleh Republik ini. Yang pasti dari keempat spektrum bisa 
memiliki kemungkinan benar terjadi dan harus dihadapi oleh kita. 

Negara memihak 

Dalam model birokrasi yang dipaparkan oleh Ledivina Carino (1985) negara dapat 
dikendalikan oleh kaum pemilik modal, negara juga merupakan resultante dari 
tarik-menarik berbagai kepentingan, dan akhirnya negara juga dapat memiliki 
kepentingan sendiri. Dalam tataran empiris, model-model tersebut dapat terjadi 
berupa campuran antarmodel. Contohnya, negara memiliki kepentingan sendiri 
dengan melalui proses panjang tarik-menarik berbagai kepentingan seperti di 
Indonesia kini. 

Indonesia jelas sebagai negara yang sedang tumbuh kembang nilai demokrasinya, 
kelembagaan negara dibangun atas dasar kepentingan berbagai kelompok. Sebagai 
penggerak negara, pemerintah dikendalikan oleh rezim yang merupakan pilihan 
bersama masyarakat. Tetapi, sangat mungkin pada saat berjalan, rezim dan 
birokrasi kembali sebagai pemain tunggal (dominan) karena dia menentukan dan 
memiliki kepentingan sendiri. Kenyataan ini sulit dielakkan di mana-mana 
sekalipun di negara maju yang mengklaim demokratis dan pluralis pula. 

Kembali pada akar persoalan isu agama di Indonesia, keempat spektrum 
kemungkinan konflik horizontal bernuansa isu agama di atas, jelas membutuhkan 
peran negara yang lebih memihak. Memihak pada kepentingan bersama, bukan 
kepentingan sesaat. Negara di sini pasti dikendalikan oleh rezim. Oleh karena 
itu, rezim berkuasa haruslah berperilaku negarawan. Negarawan adalah penggerak 
negara yang memihak pada kebenaran dan memihak pada kepentingan bersama serta 
kepentingan jangka panjang. 

Kita ingin soal-soal seperti ini segera berakhir dengan menjadikannya sebagai 
pelajaran agar kita dapat lebih banyak menumbuhkan jiwa-jiwa kenegarawanan 
dalam masyarakat Indonesia. Sebetulnya proses pendidikan elite seperti ini 
terkesan trial and error dan membawa banyak korban bagi masyarakat. Tetapi 
tampaknya Indonesia diwarnai seperti ini sejak awal kemerdekaan bahkan sejak 
penjajahan, sebuah mekanisme yang kurang ideal sebetulnya. 

Pendidikan elite melalui partai tampaknya juga kurang dapat diharapkan. Melalui 
sistem pendidikan juga bisa kita saksikan, ternyata lebih menghasilkan 
teknokrat, atau elite yang berjarak dengan massanya. Akhirnya kita juga 
terjebak dalam pembiaran bersama. 

Dengan demikian, skenario besar yang jelas terukur harus disiapkan seluruh 
komponen kita sebagai bangsa jika kita ingin menghentikan proses seperti ini. 
Pertama, pendidikan elite menjadi negarawan harus menjadi kebutuhan bersama. 
Nilai-nilai luhur kebangsaan dan kenegarawanan menjadi masalah mendesak yang 
harus didorong oleh kita. Kemendiknas harus merombak isi kurikulum dalam sistem 
pendidikan yang mengintroduksi soal ini. 

Kedua, sistem kepartaian yang bernuansa iklim kebangsaan dan kenegarawanan 
harus didorong, sekalipun pahit. Dan terakhir, ketiga, sistem kelembagaan 
negara yang mendorong netralitas birokrasi serta profesionalitas harus 
ditegakkan juga di sini agar sinkron terhadap berbagai kebutuhan perubahan 
menuju Indonesia yang damai dan bersih. 

Oleh Irfan Ridwan Maksum 
Guru Besar Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP-UI, Advisor Local Governance 
Watch-UI 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke