Itulah kebodohan Barat. Mereka lebih suka dibilang 'bodoh' daripada 'curang'. Bagi mereka 'bodoh' mengandung ketidaktahuan, sehingga akibat yang timbul dari kebodohan wajib dimaafkan.
Padahal, kebodohan yang mereka lakukan adalah membenturkan peradaban dengan kepercayaan. Atau dalam idiom mereka sendiri, ibarat membandingkan apel dengan durian. Terutama setelah Huntington menarik simpul teori "clash of civilizations" yang belakangan malah dikerucutkan tinggal menjadi Barat vs Islam. Kebodohan ini jelas mendiskreditkan Islam. Orang boleh ragu jika ini karena kebodohan semata. Sebab, mustahil mereka tidak tahu bahwa hasilnya akan sama kalau ia berbunyi "Kristen vs Timur" atau "Kristen vs Selatan". Umat Kristen akan tampak konyol di mata dunia. Untuk menghindari babak belur yang konyol itulah Barat lebih suka berkata & berlagak bodoh. Dan mereka berhasil. Lucunya, dalam melawan kebodohan Barat itu Emha menempuh jalan yang sama. Menulis dengan blagak bodo. Bodo-bodoan. Emha tau yang dia maksud adalah dia anti terhadap demokrasi ala Barat yang mengandalkan kroyokan itu. Demokrasi mengandalkan massa, adu banyak pengikut, yang dibuktikan melalui voting. Tapi dia kelewat emosional sehingga lupa (atau memang pilon kalau dirinya sering dijadikan idola oleh sebagian remaja), bahwa bukan mustahil sebagian belia menangkap tulisannya ini sebagai arahan, kalau tidak bisa dibilang "instruksi", perintah untuk mengharamkan demokrasi secara menyeluruh. Padahal, dia juga tau bahwa demokrasi itu tidak tunggal. Tau bahwa musyawarah adalah juga bentuk demokrasi yang hidup di belahan bumi timur & selatan - wilayah yang dalam sejarah dikenal sebagai sumber peradaban. Oleh karena itu, mestinya dia juga tau bahwa hal mendasar dari per-adab-an adalah berlakunya kebenaran oleh akal sehat, dan bukan berjalannya kebenaran hanya lantaran pengikutnya banyak, apalagi sekedar ikut-ikutan atau malah digiring. Bagaimana pun, tulisan Emha ini cukup menghibur. Emosional lagi lucu, karena justru ikut menghalangi cahaya & menggelapkan makna demokrasi itu sendiri. Sarat dengan sadomasochism budaya. Padahal, kalau nggak salah, dia termasuk yang keras menolak Yogya disebut antidemokrasi. --- > SAYA ANTI DEMOKRASI > oleh : Emha Ainun Nadjib > > Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, > dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya > diktator mayoritas. > > Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan > yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas > kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan > minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan > minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya. > > Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina > banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein > nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah > Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika > Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang > salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di > seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, > sementara yang salah pasti adalah Islam. > > "Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama > dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro > dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. > Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites > terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam. > > Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh > peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang > membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massaBarat > atas kesunyatan Islam. > > Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan > previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca > Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan > dengan menilai dari sudut pandang mereka. > > Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa > melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan > diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap > kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut > itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam > juga menilai Islam. > > Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, > yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun > memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. > Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro > dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya > ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..." > > Lho kok Arab bukan etnis? > > Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab > tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. > Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia > Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap. > > Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan > mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King > mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. > Bahasa jelasnya begini: > apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak > universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas > estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia. > > Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang > ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, > telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang > atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu > jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu > bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak > mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem > peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya. > > "Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan > digelapkan oleh orang Islam sendiri. > > Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada > suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. > Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan > strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu > menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan > berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk > menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan. > > Sumber : Buku Emha > http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
