Emha pasti belum pernah ke Arab, dipikirnya orang Arab itu Islam semua :)

Dipikirnya Arab itu Muhammedan & keturunan unta semua.


--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
>
> 
> Itulah kebodohan Barat. Mereka lebih suka dibilang 'bodoh' 
> daripada 'curang'. Bagi mereka 'bodoh' mengandung ketidaktahuan, 
> sehingga akibat yang timbul dari kebodohan wajib dimaafkan. 
> 
> Padahal, kebodohan yang mereka lakukan adalah membenturkan 
> peradaban dengan kepercayaan. Atau dalam idiom mereka sendiri, 
> ibarat membandingkan apel dengan durian. Terutama setelah 
> Huntington menarik simpul teori "clash of civilizations" yang 
> belakangan malah dikerucutkan tinggal menjadi Barat vs Islam. 
> Kebodohan ini jelas mendiskreditkan Islam. 
> 
> Orang boleh ragu jika ini karena kebodohan semata. Sebab, 
> mustahil mereka tidak tahu bahwa hasilnya akan sama kalau ia 
> berbunyi "Kristen vs Timur" atau "Kristen vs Selatan". Umat 
> Kristen akan tampak konyol di mata dunia. 
> 
> Untuk menghindari babak belur yang konyol itulah Barat lebih 
> suka berkata & berlagak bodoh. Dan mereka berhasil. 
> 
> Lucunya, dalam melawan kebodohan Barat itu Emha menempuh jalan 
> yang sama. Menulis dengan blagak bodo. Bodo-bodoan. 
> 
> Emha tau yang dia maksud adalah dia anti terhadap demokrasi ala 
> Barat yang mengandalkan kroyokan itu. Demokrasi mengandalkan massa, 
> adu banyak pengikut, yang dibuktikan melalui voting. 
> 
> Tapi dia kelewat emosional sehingga lupa (atau memang pilon 
> kalau dirinya sering dijadikan idola oleh sebagian remaja), bahwa 
> bukan mustahil sebagian belia menangkap tulisannya ini sebagai 
> arahan, kalau tidak bisa dibilang "instruksi", perintah untuk 
> mengharamkan demokrasi secara menyeluruh. 
> 
> Padahal, dia juga tau bahwa demokrasi itu tidak tunggal. Tau 
> bahwa musyawarah adalah juga bentuk demokrasi yang hidup di 
> belahan bumi timur & selatan - wilayah yang dalam sejarah dikenal 
> sebagai sumber peradaban. 
> 
> Oleh karena itu, mestinya dia juga tau bahwa hal mendasar dari 
> per-adab-an adalah berlakunya kebenaran oleh akal sehat, dan bukan 
> berjalannya kebenaran hanya lantaran pengikutnya banyak, apalagi 
> sekedar ikut-ikutan atau malah digiring. 
> 
> Bagaimana pun, tulisan Emha ini cukup menghibur. Emosional lagi 
> lucu, karena justru ikut menghalangi cahaya & menggelapkan makna 
> demokrasi itu sendiri. Sarat dengan sadomasochism budaya. 
> Padahal, kalau nggak salah, dia termasuk yang keras menolak Yogya 
> disebut antidemokrasi. 
> 
> 
> --- 
> 
> > SAYA ANTI DEMOKRASI
> > oleh : Emha Ainun Nadjib
> > 
> > Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, 
> > dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya
> > diktator mayoritas.
> > 
> > Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan 
> > yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas 
> > kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan 
> > minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan 
> > minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
> > 
> > Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina
> > banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein 
> > nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah 
> > Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau amerika 
> > Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang 
> > salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di 
> > seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, 
> > sementara yang salah pasti adalah Islam.
> >
> > "Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama 
> > dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro 
> > dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. 
> > Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites 
> > terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.
> >
> > Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh
> > peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang 
> > membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massaBarat 
> > atas kesunyatan Islam.
> >
> > Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan
> > previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca 
> > Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan 
> > dengan menilai dari sudut pandang mereka.
> >
> > Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa
> > melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan 
> > diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap 
> > kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut  
> > itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam 
> > juga menilai Islam.
> > 
> > Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, 
> > yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun 
> > memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. 
> > Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro 
> > dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya 
> > ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu..."
> >
> > Lho kok Arab bukan etnis?
> >
> > Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab 
> > tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. 
> > Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia 
> > Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.
> >
> > Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan 
> > mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King 
> > mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib...", itu universal namanya. 
> > Bahasa jelasnya begini:
> > apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak 
> > universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas 
> > estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
> >
> > Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang
> > ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh dhonn kepada Islam, 
> > telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang 
> > atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu 
> > jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu 
> > bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak 
> > mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem 
> > peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.
> >
> > "Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan 
> > digelapkan oleh orang Islam sendiri.
> > 
> > Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada 
> > suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. 
> > Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera mervisi metoda dan 
> > strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu 
> > menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan 
> > berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk 
> > menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.
> > 
> > Sumber : Buku Emha
> > http://www.goodreads.com/book/show/1380373.Iblis_Nusantara_Dajjal_Dunia
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke