Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/03/03/mereka-masih-pelrlu-dokter-dokter-yang-bijak/
Irsyalrusad Dokter Spesilalis Penyakit Dalam. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada...Ingin berbuat sesuatu yang berbuah kebaikan dan kebahagiaan untuk semua. Mereka Masih Pelrlu Dokter, Dokter yang Bijak! ________________________________ diunduh dari google Di tengah kegalauan pikiran saya pagi ini, sepeda tetap saya dayung menuju rumah sakit umum daerah. Tempat saya berkerja, sudah cukup lama, sudah hampir 20 tahun sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Sedikit kegalauan itu muncul setelah membaca beberapa tulisan mengenai profesi dokter di kompasiana. Terbayang jelas ilustrasi seorang dokter dengan jubah putih,lengkap dengan steteskop melingkar di lehernya, dan lembaran uang dolar terselip di kantong jubah putih itu. Entah apa maksudnya? Mungkin menggambarkan dokter sekarang yang mata duitan, serakah, berorientasi pada uang. Apakah semua dokter, saya juga seperti itu? Dokter yang bodoh, sembrono, serakah, uang menjadi orintasi saya dalam berkerja? Setelah sampai di rumah sakit, sebelum ke bangsal. Biasanya saya mampir dulu ke poli penyakit dalam, puluhan pasien saya lihat sudah duduk di ruang tunggu. Terbayang mimik senang, gembira di wajah mereka waktu melihat kedatangan saya. Tapi, waktu saya keluar dari poliklinik, saat saya harus visite dulu di bangsal, sebagian wajah pasien itu sertamerta berubah. Wajah-wajah yang tadinya senang, gembira, kelihatan seperti marah, dongkol, dan kecewa. Saya bisa maklum mereka bersikap seperti itu. Mereka tentu mengharapkan saya memeriksa, melayani mereka saat itu juga. Dengan tetap senyum kepada pasien yang menunggu itu, saya berjalan menuju bangsal yang berada cukup jauh dari poliklinik. Sampai di bangsal, di ruang perawat, saya minta laporan keadaan pasien secara menyeluruh, mendisikusikan pasien baru, pasien yang bermasalah atau yang meninggal. Alhamdulillah, tidak ada pasien yang meninggal malam itu. Tapi, pasien baru cukup banyak, dan pagi ini jumlah total pasien yang dirawat mencapai 36 orang. Lebih dari 80 persen dirawat di bangsal klas tiga. Semua pasien yang dirawat di klas tiga, kalau tidak pemegang kartu berobat jaminan kesehatan masyarakat miskin adalah pemegang surat keterangan tidak mampu. Semua pasien mendapatkan pelayanan gratis. Setelah mendapatkan laporan dari perawat, dan berdiskusi mengenai masalah-masalah pasien, saya lanjutkan visite di bangsal. Seperti laporan yang sudah saya terima, ada 36 pasien yang sedang dirawat. Kadang-kadang terbayang dalam pikiran saya, “36 orang, banyak sekali, berapa lama saya akan bisa menyelesaikan visite ini?” Andaikan satu pasien memerlukan waktu 3-5 menit saja, sekitar dua sampai tiga jam saya habiskan untuk berkeliling,visite, memeriksa pasien. Selama tiga jam itu saya hanya berdiri. Sesekali kalau kaki mulai pegel, tumit mulai terasa nyeri, saya duduk di tepi tempat tidur pasien. Kemudian, setelah visite, resep saya tulis, rekam medis saya lengkapi—rekam medik dapat menjadi alat bukti di pengadilan, bila pasien melakukan tuntutan, karena dugaan malpraktik yang mungkin saya lakukan—, saya meminta perawat untuk memperisiapkan tindakan yang diperlukan bagi pasien. Hari ini saja ada tiga pasien yang memerlukan tindakan. Satu pasien harus dipunksi cairan pleura parunya karena TBC. Kalau tidak dilakukan, atau terlambat, cairan itu dapat menekan fungsi paru, Pasien ke dua, pasien sirosis hati dengan cairan asites masif di perutnya. Cairan asites itu juga harus dikeluarkan karena pasien sudah mengeluh sesak nafas. Pasien ke tiga, pasien dengan abses/pus di hatinya karena infeksi amuba. Pasien dengan ukuran abses yang cukup besar ini, absesnya juga harus dikeluarkan, untuk mengurangi keluhan nyeri dan mempercepat penyembuhan. Semua saya lakukan dengan alat yang sangat sederhana, penunjang diagnosis yang juga sangat terbatas. Belum selesai kerja dan tanggungjawab saya di bangsal, perawat di poli sudah memanggil untuk segera ke sana. Kalau begitu pasti ada pasien yang sudah mulai mengeluh, marah-marah tidak sabar menunggu. Akhirnya, dengan sedikit berlari saya menuju poliklinik. Sampai di depan poliklinik, puluhan pasang mata menatap saya, seolah-olah menanyakan, ke mana saya, kenapa saya baru datang sekarang? Saya sangat memahami emosi pasien saat itu, mereka menunggu sangat lama. Menunggu bagi orang sakit tentu menjadi lebih berat. Menghadapi hal ini biasanya saya akan minta maaf. Alhamdulillah dengan minta maaf, sebagian besar pasien bisa menerima keterlambatan saya, suasana menjadi cair. Hari ini lebih dari 60 pasien terdaftar untuk berobat, terbesit di hati saya, sekitar jam tiga sore semua ini baru akan selesai, saya baru bisa istirahat. Setelah melayani semua pasien, satu botol aqua kecil itu baru sempat saya minum. Kemudian,dalam perjalanan pulang, terbayang puluhan pasien juga sudah menunggu di tempat praktek sore, tapi bayangan pasien itu ditimpali bayangan ilustrasi dokter dengan uang dolar terselip di kantongnya. Apakah untuk itu saya melayani pasien selama ini? Apakah semuanya dihargai dengan uang? Apakah tidak ada lagi dokter di Indonesia ini yang mengabdi untuk kepentingan pasien-pasiennya? Apakah dokter di Indonesia ini sembrono, bodoh, tidak bermutu? Sesuai dengan hujatan, keluhan-keluhan yang sering muncul akhir-akhir ini? Saya tidak dapat menjawabnya. Melihat rutinitas kerja seperti itu, apalagi ditengah-tengah hujatan terhadap profesi dokter, rasanya saya ingin menggantung steteskop ini. Tapi,pernah tiga bulan saya tidak masuk ke rumah sakit, tidak praktik, saya ingin mengajukan pensiun lebih dini, saya tidak tega, tidak sanggup. Disamping setiap hari saya menerima telepon, sms, menanyakan kapan saya praktik,masuk rumah sakit, bayangan pasien di bangsal, di poliklinik, dan di tempat praktik seperti memanggil-manggil saya. Mereka masih membutuhkan saya, dan dokter-dokter lain. Tentu saja dokter yang bijak, yang bertanggung-jawab, peduli, menghargai pasien-pasiennya. Riau, Rabu, 2/3/11 http://sastrapembebasan.wordpress.com/ http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/ Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
