Haruskah Umat Non-Hindu Ikut Tradisi Budaya Nyepi ???
<http://ahmedfikreatif.wordpress.com/2010/03/18/haruskah-umat-non-hindu-\
ikut-tradisi-budaya-nyepi/>
Posted on Maret 18, 2010 by Goda-Gado

Permulaan Maret 2008 dua tahun lalu, bertepatan dengan pergantian tahun
Saka 1930. Setiap menyambut kedatangan tahun baru, warga Hindu Bali
melaksanakan hari raya Nyepi. Ritual Nyepi memiliki empat inti, yang
disebut Catur Brata, meliputi amati geni (tidak boleh menyalakan api
atau lampu), amati karya (tidak boleh bekerja, berbuat gaduh, atau
memukul-mukul), amati lelungan (tidak boleh bepergian, keluar
pekarangan), dan amati lelanguan (tidak boleh makan). Di Bali, mematuhi
Catur Brata bukan hanya kewajiban kaum Hindu, tetapi juga
"dipaksakan" kepada umat penganut agama lain.

Minoritas warga non-Hindu di daerah itulah yang menjadi korbannya. Warga
non-Hindu di Gianyar dan Denpasar misalnya, dilarang menyalakan lampu
pada hari itu. Bila melanggar, tak jarang rumah mereka dilempari.
Barangkali hanya oknum semata. Di lain kejadian, pernah seorang anggota
TNI non-Hindu yang anggota keluarganya meninggal, terpaksa menunda
pemakaman, demi memenuhi tuntutan ritual Nyepi. Bukan itu saja, seluruh
penerbangan nasional maupun internasional ditiadakan karena Bandar udara
ditutup.

Bahkan pernah terjadi ketika Nyepi jatuh pada hari Jumat, umat Islam
yang hendak melaksanakan kewajiban syariat nya beribadah Jumat tidak
diperkenankan mengumandangkan adzan. Kalao masalah ini mungkin tidak
terlalu masalah. Untuk mencapai masjid mereka harus berjalan memutar
agar tidak melewati pemukiman warga Hindu Bali. Kaum Muslim yang tinggal
di tengah pemukiman kaum Hindu Bali bahkan tidak sedikit yang tidak bisa
shalat Jumat. Mungkin terkecuali di daerah kampung Bali yang mayoritas
Muslim (kampung muslim).

Tragisnya, perayaan Nyepi tahun ini beberapa tahun lalu jatuh pula pada
hari Jumat (7 Maret 2008). Kenyataan ini dengan sangat jelas telah
mengganggu hak asasi, menghambat ibadah umat Islam, yang suatu saat
bukan mustahil menyuburkan benih-benih konflik horizontal.

Mengapa segala intoleransi ini tidak pernah dianggap sebagai bentuk
diskriminasi, dan tidak pernah ada dari golongan pembela demokrasi,
pembela HAM, atau pengumandang pluralisme yang menggugat ketimpangan
tersebut, seperti saat mereka menggugat RUU APP dan RUU P yang
nyata-nyata bertujuan demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia?
Mengapa orang-orang itu tidak pernah mengatakan, "Bali bukan hanya
diisi oleh orang Hindu saja Bung…!" seperti saat mereka menolak
penerapan Syariat Islam secara nasional maupun daerah di Indonesia
dengan sering mengatakan dan berteriak, "Indonesia bukanlah negeri
yang berisi Islam saja. Indonesia bukanlah Timur Tengah. Indonesia
adalah Bhineka Tunggal Ika dst…!" Aneh ……!!!!!

Munculnya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) "Kota Injil" di
Manokwari bulan April tahun lalu masih bisa dimaklumi kemarahan mereka
sebagai reaksi atas lahirnya perda-perda Anti Maksiat bernuansa Syariah
Islam dan rencana pendirian Islamic Center, kendatipun alasan mereka
juga kurang masuk akal. Lain halnya umat Hindu di Bali, alasan apa yang
bisa diterima akal sehat sebagai pembenaran atas perilaku diskriminatif
yang sudah berlangsung lama ini yang barangkali di negeri asalnya saja
tidak se-arogan dengan memaksakan seluruh pemeluk agama untuk nyepi
(kecuali beberapa petugas dan pecalang)?

Mereka tentu menyadari, sedang berdomisili di sebuah negeri, yang
penduduknya mayoritas beragama bukan Hindu. Dan eksistensi negara ini
lahir berasal cucuran darah para ulama dan laskar umat Islam, serta para
santri. Tetapi mengapa masyarakat Bali bersikap "jumawa "dan
tidak takut dituduh melangar hak asasi dan hak beribadah masyarakat
non-Hindu? Perlukah tradisi budaya Nyepi ini dipertahankan seperti
metodenya saat ini dengan "mematikan sementara" denyut nadi
seluruh kegiatan di Bali tanpa pandang bulu para penduduknya yang
berlatarbelakang heterogen meskipun mayoritasnya Hindu?

Pertanyaan di atas mencermati fakta bahwa hanya pemeluk Hindu Bali saja
yang "memaksakan" ritual Nyepi dengan model seperti ini,
sedangkan umat Hindu lain melakukan Nyepi di rumah sendiri-sendiri tanpa
menganggu aktivitas orang dan pemeluk agama lain. Bahkan di India yang
menjadi pusat kelahiran Hindu pun tidak dijumpai "Nyepi" massal
ala Bali ini. Demikian yang kukutip dari Saras Dewi, dosen filsafat di
Universitas Indonesia (UI) dan pengajar Filsafat Upanishad di Sekolah
Tinggi Agama Hindu, Rawamangun Jakarta, dalam sebuah wawancaranya di
sebuah media. Ketika menjawab pertanyaan: "Apakah ritual Nyepi ini
adalah khas Bali?"
http://www.detiknews.com/read/2008/02/26/135842/900168/10/ibadah-jalan-s\
alib-di-bali-diimbau-tak-berbarengan-nyepi
<http://www.detiknews.com/read/2008/02/26/135842/900168/10/ibadah-jalan-\
salib-di-bali-diimbau-tak-berbarengan-nyepi>
--- In [email protected], "Powered by Telkomsel ®"
<cha6966@...> wrote:
>
> Untuk saudaraku umat Hindu.
> Om swasty yastu.
> ''Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933''
>
> Semoga hidup kita lebih baik dari tahun lalu.
>
> Awignamastu Hyang Widhi berkenan mengabulkan.
>
> Om shanty shanty shanty Om.
>
>
> pin: 21EF6D92
> Charles Asiku
>



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke