Refleksi : Daerah Otonom Baru adalah tipu muslihat rezim SBY supaya proyek Food 
Estate milik  Bin Ladin Groups guna memproduksikan bahan makanan untuk Timur 
Tengah bisa cepat dilaksanakan dengan kecil kemungkinan ditentang oleh 
masyarakat. Selama ini tidak ada satu daerah pun yang disebut otonom  
menunjukkan hasil positif terhadap perbaikan tingkat hidup penduduk setempat 
menjadi lebih baik dan bermutu.


http://www.suarapembaruan.com/home/usulan-daerah-otonom-baru-di-kabupaten-mappi/4251

Usulan Daerah Otonom Baru di Kabupaten Mappi
Jumat, 4 Maret 2011 | 14:09

 Bupati Mappi Aminadab Yumame bersama 80 warga menyampaikan presentasi dalam 
rangka pengusulan daerah otonom baru di Kabupaten Mappi. [SP/Robert Isidorus 
Vanwi] 

















[JAYAPURA] Sekitar 80 orang yang teridir dari  kepala suku, adat, dan 
masyarakat bersama Bupati Mappi Aminadab Yumame datang menyampaikan presentasi 
dalam rangka pengusulan daerah otonom baru di Kabupaten Mappi, Jumat (4/3) 
siang di Ruang Rapat DPR Papua. 

Perwakilan DPRP diwakili Ketua Komisi A Ruben Magai. Jumlah Penduduk Kabupaten 
Mappi saat ini berjumlah.  80.263 jiwa Dalam presentasi pemekaran tersebut 
dikatakan, aspirasi sebagian besar masyarakat Suku Awyu dan Suku Korwai Kombai 
yang menginginkan adanya pemekaran daerah di wilayahnya untuk mendekatkan 
pelayanan dan memperpendek rentang kendali guna percepatan pembangunan 
infratruktur serta Sumber Daya Manusia. 

"Ini sekaligus memenuhi aspirasi masyarakat dan janji bapak Gubernur Provinsi 
Papua pada waktu kunjungan kerja (Turkam) ke Distrik Edera di Bade pada tahun 
2007, dan Distrik Citak Mitak di Senggo pada tahun 2008 di Kabupaten Mappi yang 
pada waktu itu mendapatkan tanggapan positif dari Bapak Gubernur Provinsi 
Papua,"ujarnya 

Kata dia, presentasi ini  untuk mendapatkan Rekomendasi dari Gubernur Provinsi 
Papua tentang persetujuan pembentukan calon Kabupaten Muara Digul dengan Ibu 
Kota di Bade, serta pembentukan calon Kabupaten Admi Korbai dengan Ibu kota di 
Senggo. 

Adapun Persyaratan Pembentukan. Daerah Otonomi Baru (DOB) yang sudah dan belum 
kami penuhi sesuai PP 78 tahun 2007 terdiri dari, Keputusan tersebut 
ditandatangani oleh Ketua Bamuskam masing-masing  kampung, Ketua LMA, Ketua 
Dewan Adat, Kelompok Ormas maupun perorangan, Kepala Distrik yang menjadi 
cakupan wilayah calon Kabupaten Muara Digul dan Admi Korbai. Calon Kabupaten  
Admi Korbai dengan  ibu kota di Senggo terdiri dari. Distrik Citak-Mitak 
Distrik Kaibar,Distrik Ti Zain, Distrik Passue Bawah,Distrik Passue Lalu, calon 
Kabupaten Muara Digul dengan ibu kota di Bade terdiri dari. Distrik 
Edera,Distrik Syaha Me,Distrik Bamgi,Distrik Venaha ,Distrik Yakomi. SK 
Penyerahan Aset Provinsi (bergerak maupun tidak bergerak) kepada Calon 
Kabupaten. SK Kesediaan memberikan dukungan dana untuk untuk penyelenggaraan 
pemerintahan sementara. SK Kesediaan memberikan dukungan dana untuk untuk 
penyelenggaraan pemilukada pertama kali.

 "Sesuai dengan ketentuan PP78/2007, persyaratan pembentukan Kabupaten Muara 
Digul dan Admi korbai yaitu, Persyaratan Adminsitrasi (Belum Terpenuhi)   masih 
kurang persetujuan Gubernur Papua  dan DPRD Provinsi Papua di Jayapura serta 
Persetujuan Menteri Dalam Negeri RI di Jakarta. Persyaratan Teknis (Sudah 
Terpenuhi) Persyaratan Fisik Kewilayahan (Sudah Terpenuhi)". Lanjut dia, Kajian 
Daerah sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2007 adalah Faktor 
Kependudukan, Kemampuan Ekonomi, Potensi Daerah, Kemampuan Keuangan, Sosial 
Budaya, Sosial Politik, Luas Daerah, Pertahanan, Keamanan, Tingkat 
Kesejahteraan Masyarakat, dan  Rentang Kendali.

 "Semua ini sudah kami lakukan. Dan masyarakat  Suku Awyu dan Suku Korwai 
Kombai siap untuk menjadi kabupaten, "kata Bupati Mappi. Dikatakan, luas 
Kabupaten Mappi 28.518 Km2 Ini merupakan wilayah yang sangat luas menyebabkan 
rentan kendali pemerintah menjadi jauh sehingga membuat pelayanan ke daerah 
pedalaman menjadi sangat lamban.

" Hal ini dirasakan oleh Pemerintah dan juga masyarakat bahwa pelayanan kurang 
berjalan secara optimal daerah-daerah  di pedalaman,"ujarnya.  

Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu mengatakan. "Semua harus dilakukan 
sesuai mekanisme dan presedural.  Presentasi ini juga harus dilakukan kepada 
Gubernur,"ujarnya. Ketua Komisi A Ruben Magai, mengatakan apa yang dilakukan 
ini sesuai prosedural yang berlaku dan tak sembunyi-sembunyi." Ini baik, namun 
selesai ini akan ada lagi tahapan dalam rapat panmun dan dilanjutkan dalam 
paripurna,"ujarnya.  [154]

++++

http://www.sinarharapan.co.id/berita/content_96/read/pemda-harus-pastikan-ketersediaan-lahan/

Selasa 01. of Maret 2011 13:43 
Food Estate Segera Dijalankan Kembali Hatta:

Pemda Harus Pastikan Ketersediaan Lahan
OLEH: FAISAL RACHMAN



     
Jakarta - Meski banyak mendapat tentangan, pemerintah memastikan megaproyek 
Food Estate di Merauke, Papua segera berjalan tahun ini. 

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, di awal 2011 ini saja pemerintah 
sudah siap mengucurkan dana dari Anggaran Pendaparan dan Belanja Negara (APBN) 
hingga Rp 800 miliar.


Menurut Hatta, dana sebesar itu dianggarkan untuk membangun infrastruktur 
dasar. "Tahun ini anggaran sebesar Rp 700 miliar sampai Rp 800 miliar sudah 
siap dikucurkan. Diharapkan investor akan segera tergerak untuk berinvestasi di 
situ," ujar Hatta ketika menjawab pertanyaan SH di kantornya, Jakarta, Senin 
(28/2).


Ia menyangkal jika proyek ini terhambat oleh adanya perbedaan interpretasi akan 
penggunaan lahan dari beberapa kementerian/lembaga yang terkait pembangunan 
Food Estate. "Penggunaan dana sebesar 570 hektare itu sudah selesai, tak ada 
lagi perdebatan soal itu," tegasnya.


Saat ini, menurut Hatta, Kementerian Pertanian sedang mendesain ulang rencana 
induk (master plan) proyek tersebut. Hal ini terkait dengan adanya perubahan 
penggunaan lahan yang saat ini sudah disepakati seluas 570.000 hektare. 
"Redesign masterplan tersebut sedang dikerjakan Menteri Perdagangan dan sudah 
hampir rampung," ujarnya.
Hal yang terpenting saat ini, kata Hatta, adalah tugas pemerintah daerah untuk 
memastikan ketersedian lahan yang akan digunakan. "La­han itu yang punya 
wewenang kan pemerintah daerah," tukasnya.


Sebelumnya, pemerintah mengatakan akan mendo­rong badan usaha milik ne­gara 
(BUMN) untuk lebih aktif berpartisipasi dalam pembangunan koridor ekonomi 
berbasis pangan. Wakil menteri Pertanian Bayu Krisnamurti mencontohkan, dalam 
proyek Food Estate di Merauke, Papua, investasi BUMN diharapkan bisa mencapai 
Rp 3 triliun. Kebutuhan ini terutama digunakan untuk membangun infrastruktur 
dasar dan juga sebagai pendorong agar investor lain bersedia melakukan hal yang 
serupa. "Beberapa BUMN sudah bersedia. Ini berguna untuk mendorong pihak lain 
ber­investasi lebih jauh di Food Estate," tutur Bayu.


Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengutarakan, dalam perhitungannya, 
pembangunan Food Estate, pemerintah membutuhkan total anggaran sekitar Rp 100 
triliun. Anggaran tersebut selain digunakan untuk pembangunan Food Estate, juga 
untuk pembangunan infrastruktur penunjang seperti jalan, jembatan, dan 
pelabuhan. "Selain jalan provinsi, tidak kalah penting jalan kabupaten untuk 
menghubungkan tempat produksi," tuturnya.


Seperti disebutkan, Megaproyek Merauke Integrated Food Estate and Energy 
(MIFEE) sejatinya mendapat banyak kecaman. Proyek tersebut dituding hanya 
me­nguntungkan korporasi mo­dern dan asing. Besarnya proyek ini bertumpu ini 
pada investasi a­sing pun membuat petani dan penduduk asli Papua dinilai makin 
tersingkir. Oleh sebab itu, proyek tersebut memiliki potensi konflik besar, 
terlebih dari adanya pengambilalihan lahan adat dan hutan konservasi.


"Kami khawatir, perusahaan-perusahaan yang bergerak di MIFEE malah mengabaikan 
hak-hak petani setempa. Pemanfaatan ekonominya lebih banyak diraup 
perusahaa-perushaan multinasional," ujar Achmad Yakub, Ketua Departemen Kajian 
Strategis Nasional, Serikat Petani Indonesia. Oleh karena itu, Ia men­desak 
agar pemerintah menghentikan program Food Estate. Ia menilai pengembangan Food 
Estate bertentangan dengan paya peme­rintah sendiri dalam memnuhi kemandirian 
pangan. n


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke