Amerika Mengacak Negara Pengkhianat Dengan Syariah Islam !!!
Seperti juga ilmu Yudo dari Jepang, menjatuhkan lawan itu dengan memanfaatkan
kekuatan lawan, jangan dilawan dengan kekuatan sendiri.
Artinya, musuh mendorong kita betot, musuh menarik kita jorokin.
Demikianlah dalam strategi politik mengalahkan atau mengontrol lawan, cara2
penjajahan telah ditinggalkan karena biayanya terlalu tinggi dan
effektivitasnya sangat rendah. Selain itu juga konsistensinya tidak stabil.
Setiap negara punya dasar pertahanan ideologisnya pada budaya dan nasionalisme.
Kalo budaya dan nasionalismenya bisa dihancurkan, maka para pejabatnya bisa
dijadikan boneka.
Memang setiap negara berbeda cara mengontrolnya, tapi kalo kita bahas
Indonesia, maka budaya dan nasionalismenya dengan gampang dihancurkan dengan
Syariah Islam yang diimport ke Indonesia melalui Arab Saudia.
Syariah Islam sangat ideal untuk menghancurkan dan menjadikan Indonesia
selamanya menjadi negara boneka, karena Syariah Islam tidak mengenal
nasionalisme tapi anti-nasionalisme, tidak mengenal batas negara sehingga bisa
diimport bebas masuk ke Indonesia. Syariah Islam juga menolak hukum negara
yang berlaku, karena mereka menggunakan hukum Allah yang bisa difatwakan dari
Arab Saudi padahal fatwanya itupun didesign di Amerika untuk kepentingan
Amerika tentunya. Begitulah sehingga jangan heran kalo Amerika sukses dan
menjadi tempat ketergantungan semua negara2 Islam didunia sekarang ini.
Apalagi, dengan Syariah Islam gampang untuk bertindak meskipun melanggar HAM.
Musuh bisa dibunuh, diculik, dan diteror tanpa mencemong negara Amerika karena
Amerika itu sendiri anti-Islam sehingga kalo menggunakan Islam untuk
menghancurkan lawannya, siapa yang bisa menyalahkan Amerika????
Jadi jangan salahkan Amerika, karena Amerika hanya memanfaatkan situasi yang
ada. Memang kepentingan Amerika adalah tujuan utamanya, tapi ini pun bukan
kesalahan bukan dosa karena setiap negara semuanya punya kepentingan.
> edogawa2000 - Gmail <edogawa2000@...> wrote:
> Jika ke pengadilan juga percuma,
> karena HAKIM kita banyak yang takut
> dengan intimidasi ormas BRUTAL
> tersebut.. terlebih lagi apabila
> HAKIM tersebut beragama lain ...
> belum lagi tekanan politis yang
> nanti juga di bebankan kepada hakim
> tersebut ,,,....
Bukan begitu, hakim itu dilindungi aparat negara sehingga enggak mungkin takut.
Masalahnya justru sebaliknya, hakim2 ini memang susupan atau sudah disusupi
oleh aliran2 agama mayoritas yang dibackingi tentara. Seharusnya untuk menjadi
hakim latar belakang pendidikannya adalah Fakultas Hukum yang bebas dari agama,
tetapi hakim sekarang didominasi oleh hakim2 yang lulusan sekolah2 agama
seperti IAIN jurusan Syariah atau hukum Islam. Padahal "Hukum Islam" bukanlah
ilmu hukum.
Akademi Militer yang memproduksi jendral2 menyaring mahasiswanya yang betul2
Islam tulen, beberapa gelintir dimasukkan juga betul2 Kristen tulen, katolik
tulen, Hindu tulen, tapi mayoritas tetap Islam tulen tidak boleh yang agamanya
abu2. Padahal Akademi Militer itu khan bukan sekolah agama, tetapi kenapa
penyaringannya malah ditekankan kepada agamanya???
Hasil lulusan yang paling bisa anda saksikan adalah SBY, yaitu seorang jendral
yang besar jasanya dalam mengexpressikan aspirasi umat Islam Indonesia dengan
membantai mereka yang bukan Islam, mereka yang hanya setengah2 Islam, dan
mereka yang abu2 yang tidak jelas agamanya.
Memang, kita tidak bisa menutup mata, gara2 Sukarno yang khianat inilah yang
mendorong Amerika memperalat Islam untuk menghancurkan semua sendi kehidupan di
Indonesia. Tidak seharusnya Sukarno mengangkat diri sebagai presiden seumur
hidup dan mengganyang Malaysia yang tidak ada urusannya dengan Indonesia.
Amerika memang sengaja menghancurkan kultur Indonesia dan Nasionalisme
Indonesia dengan menggantikannya dengan Islam yang dikendalikannya dari Arab
Saudia.
Tapi itu semua tidak bisa disalahkan Amerika, karena setiap negara memang punya
kepentingan, selama tidak dengan cara kekuatan militer seharusnya bangsa ini
memiliki dasar budaya yang kuat dan kokoh tentunya tidak bisa di-acak2 dari
luar.
Ingat, siapapun yang memulai perang harus menanggung resiko kalah dan semua
yang kalah selalu terjajah. Meskipun sekarang ada HAM, penjajahan dilarang,
tetapi kontrol cara lain tanpa menjajah akan menghancurkan negara ini.
Jepang sebagai contohnya, setelah kalah dalam perang dunia kedua, negara itu
hancur lebur, kaisarnya meskipun tidak dibunuh tetapi dijadikan boneka oleh
yang menang, hingga sekarangpun Jepang tetap dibawah kontrol pemenang. Tapi
Jepang tetap bisa maju karena kokoh budaya dan nasionalismenya sehingga biarpun
dikontrol ketat dalam satu sisi tapi bisa maju dalam sisi lainnya.
Beda dengan negara2 Arab yang takabur memerangi Israel 1967 keroyokan, ternyata
dalam 6 hari keok dikalahkan Israel, maka sama nasibnya seperti Jepang,
meskipun dari luar anda lihat mereka sepertinya sama seperti negara merdeka,
sebetulnya sama sekali tidak, mereka didikte, bahkan seluruh angkatan perang
Mesir adalah orang2 Amerika keturunan Arab. Gimana mau memerangi Amerika kalo
tentaranya saja orang Amerika??? Ingat deh, Sadam Hussein juga sama nasibnya,
diserang Amerika, malah tentaranya memberi sambutan hangat dengan lambaian
tangan persahabatan, disemua jalan tentara Amerika yang baru mendarat
di-elu2kan, sedangkan cuma segelintir saja pasukan pengawal presiden yang
ngacir sembunyi diwaktu tentara Amerika mendarat!!!
Jadi sekali lagi, jangan memulai perang kalo memang enggak perlu berperang,
jangan takabur dan jangan cari gara2 seperti yang dilakukan Sukarno yang idiot
itu, dialah bapak pembawa bencana kepada bangsa ini, tapi malah dianggap
pahlawan. Ini sangat menggiriskan hati, dan untuk itulah tertutup masa depan
bangsa ini. Nasionalisme yang tadinya meng-gebu2 dengan gampang saja
dihancurkan dengan Syariah Islam.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/