Ngakunya nggak pernah namun petengtengan ngajak perang mubahalah. nT
hubungi ustdz Ahmad Hariyadi sana. Ajak beliau diskusi, dialog atau
apapun namanya.

Garut kan ga jauh amat dari kediaman nT?

--- In [email protected], "ma_suryawan" <ma_suryawan@...> wrote:
>
> Sumber:
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/03/13/Tamu/krn.20110313.\
229598.id.html
>
> ABDUL BASIT, AMIR NASIONAL JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA:
> KAMI TIDAK PERNAH DIAJAK DIALOG
>
> Kekerasan atas nama agama yang menimpa warga Jemaat Ahmadiyah
Indonesia (JAI) di Cikeusik, Banten, 6 Februari lalu, berbuntut lahirnya
peraturan daerah yang diskriminatif. Peraturan itu muncul dari Jawa
Timur dan Jawa Barat. Kedua gubernur itu sama-sama menerbitkan peraturan
yang melarang aktivitas Ahmadiyah.
>
> Ketua Umum Pengurus Besar, atau kerap disebut Amir Nasional JAI, Abdul
Basit, heran dengan munculnya peraturan daerah yang dinilai tidak jelas
itu. "Apa yang dimaksud aktivitas?" katanya saat ditemui di Kantor Pusat
JAI di Kompleks Kampus Mubarok di Kemang, Parung, Bogor, Jawa Barat,
Rabu lalu. Dia menampik penilaian bahwa aktivitas Ahmadiyah telah
mengganggu ketertiban. "Aktivitas kami, ya, hanya salat di masjid,"
ujarnya.
>
> Basit, yang sejak lahir menganut paham Ahmadiyah, telah empat periode
memimpin organisasi keagamaan yang berpusat di London, Inggris, ini.
Basit menjadi Amir Nasional sejak 2002. Warga Bandung, Jawa Barat, ini
menempa ilmu agama sejak kuliah di Rabwah, Pakistan. Basit meneruskan
peran ayahnya, yang juga mubalig di Ahmadiyah. Namun karier Basit lebih
moncer ketimbang sang ayah. Bapak lima anak ini pernah mengemban tugas
dakwah di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Inggris.
>
> Kini Basit dan keluarganya tinggal di Kantor Pusat Jemaat Ahmadiyah
Indonesia di kompleks seluas 3,5 hektare itu. "Sebagian besar pengurus
besar tinggal di kompleks ini," katanya. Dari kawasan yang sepi, indah,
dan asri ini Basit memimpin jemaahnya. Salah satunya, menyelesaikan
persoalan yang membelit jemaah belakangan ini.
>
> Di ruang guest house, Basit ditemani mubalig lokal Rakeeman R.A.M.
Jumaan, mubalig lokal Naib atau Wakil Amir Mirajudin Sahid, serta
anggota staf redaksi buletin Darsus, Sukma Fadhal Ahmad, menuturkan
perasaan dan sikap Jemaat kepada Akbar Tri Kurniawan dan fotografer
Yosep Arkian dari Tempo. Suguhan yang menghangatkan pagi itu berupa teh
tarik ala Pakistan dan beberapa kudapan. Obrolan berakhir di meja makan
untuk santap siang dengan menu kare India, irisan buncis dan wortel,
serta sambal.
>
> Belakangan ini beberapa pemerintah daerah menerbitkan peraturan daerah
melarang aktivitas Ahmadiyah. Bagaimana tanggapan Jemaat Ahmadiyah
Indonesia?
>
> Kami mendapat penjelasan dari kantornya Bang Buyung (pengacara senior
Adnan Buyung Nasution, yang mengonsep Surat Keputusan Bersama 3 Menteri
tentang Ahmadiyah) bahwa tidak ada pembekuan. Okelah itu ranah hukum.
Ketika (SKB) ini diambil sebagai bahan rujukan untuk melarang Ahmadiyah,
sudah jauh menyimpang. Seperti (peraturan daerah) yang di Jawa Timur dan
lainnya, kurang-lebih sama isinya: "Dilarang beraktivitas". Itu pun
tidak jelas aktivitas itu. Seingat kami, warga kami ini, di masjid, ya,
ibadah. Salat lima waktu. Pas Jumat, ya, jumatan, tadarus kalau ada. Apa
yang mesti dilarang? Saya heran. Padahal jelas perintahnya "Hai manusia,
beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu." Disuruh
beribadah. Kenapa melarang itu, apa yang tidak boleh?
> Ada tanggapan lain?
>
> Kami ini masih berbadan hukum. Sudah lama (ada). Tidak ada pembubaran
dan pelarangan. Lalu, atas dasar apa kami dilarang? Makanya belum jelas,
banyak pernyataan dari Menteri Dalam Negeri memicu protes. Bukan dari
kita, tapi pakar hukum. Yang tidak boleh itu apa? Kalau tidak salah,
Mendagri bilang ibadah tidak dilarang. Tapi di berbagai tempat, di
daerah kecil tidak boleh. Jadi, yang begini-begini efeknya, susahnya
nanti sesuka-sukanya. Ada aparat desa, aparat kecamatan melarang semua.
Rujukannya ke situ, karena di situ dituliskan segala aktivitas.
Aktivitas apa yang tidak boleh?
>
> Makanya kita harus merujuk SKB yang dibuat bareng. Kita lihat di
lapangan ini banyak orang tidak tahu SKB. Pemerintah tidak paham, jadi
begitulah. Kita selalu sosialisasikan bahwa itu (SKB) harus cermat
dibaca. Sehingga bisa menarik kesimpulan mana yang boleh dan tidak
boleh. Kalau hanya aktivitas saja, kan bisa disalahartikan. Yang namanya
ibadah kan bukan aktivitas. Organisasi harus bersosial, tapi kami tidak
boleh beraktivitas. Ini rancu. Ada satu larangan dalam surat di Jawa
Barat, kami tidak boleh memakai atribut JAI. Di Jawa Timur juga begitu.
Tapi kami ini ikut peraturan berorganisasi oleh negara bahwa organisasi
yang berbadan hukum harus memasang papan nama organisasi massa. Bahkan
kalau kantor pusat ukurannya berapa, kalau di cabang berapa, disebutkan,
begitu aturannya. Ketika ada larangan itu, mereka sendiri yang mau
menurunkan, silakan saja!
> Waktu di DPR, Anda dan anggota Dewan bersepakat lebih banyak menggelar
dialog di pusat dan daerah. Apakah dialog juga dilakukan di tingkat
bawah?
>
> Selama ini kita hampir tidak pernah diajak (dialog), di mana-mana.
Jadi seolah-olah pemutusan sepihak. Jadi begini, ini kan ada dua. Satu
ranah hukum dan ranah teori. Di daerah-daerah, kami hampir tidak pernah
diajak dialog. Tampaknya mereka ini di sana-sini memutuskan begitu. Ya,
kita mau apa dengan yang begini. Kemarin dengar pendapat (dengan DPR)
kami tidak bisa menjelaskan keseluruhan. Makanya, salah satu opsi yang
kita ajukan, ajaklah kami berdialog. Karena, ketika kita mempunyai
tindakan yang sama, hukum yang sama, Al-Quran dan Sunnah, kalau ada
perbedaan lebih senang kita berdialog. Nanti akan ketemu titik temunya
di mana, akan lebih mengerucut dan lebih jelas. Tapi kalau sudah
diketok, tidak usah (dialog), susah juga kita. Kalau begitu, bangsa ini
akan menjadi bangsa yang jumud.
>
> Bagaimana Ahmadiyah di negara tetangga?
>
> Kalau di Malaysia, kami tidak dianggap orang Islam. Tapi di sana hukum
berjalan tegas. Ya, sudahlah. Kami tidak pernah dilarang, apalagi untuk
beribadah, mengadakan pertemuan tahunan. Tidak pernah seperti itu.
Selama kita beraktivitas di tempat sendiri, kadang kita sewa untuk
berkumpul. Di sana polisi tegas. Jadi, kalau ada apa-apa, misalnya ada
yang mau protes merusuhi, polisi langsung bertindak. Saya lama di sana.
Kalau kami mengadakan acara begini-begini, oke. Lapor biasa saja,
acaranya apa, oke, jalan. Tidak ada yang mau mengusik kita, merusak.
Mereka mengatakan tegas, "Polisi itu urusannya keamanan. Urusan
keyakinan bukan urusan kami (polisi)." Ini kan masalah keyakinan, tidak
bisa digunakan hukum positif. Dipaksakan tidak bisa. Urusan negara
adalah urusan ketertiban. Urusan keimanan, nanti hisabnya dengan Allah
SWT.
>
> Kami ini tersebar di 180 negara, di Eropa, Afrika. Kami tidak akan
bertentangan di Barat dan di mana-mana. Selama mereka warga negara dari
satu negara, kami wajib taat pada hukum negara.
> Bagaimana JAI memproses badan hukum?
>
> Lancar saja. Tidak ada apa-apa, akhir-akhir ini saja setelah
reformasi. Kami memproses badan hukum tahun 1953. Ada dokumennya.
> Daerah mana yang luwes menerima keberadaan Ahmadiyah?
>
> Yogyakarta, Jawa Tengah, itu sangat terbuka, sudah puluhan tahun
bergaul dengan masyarakat. Di daerah-daerah seperti Papua, Sulawesi
Utara, daerah-daerah yang masyarakatnya majemuk. Rata-rata yang keras
itu di daerah Jawa Barat.
>
> Bagaimana hubungan Jemaat dengan warga sekitar?
>
> Biasa saja. Seperti di Manis Lor (Kuningan), lurahnya saja dari kita.
Di perbatasan Garut dan Sukabumi juga banyak warga Ahmadiyah. Mereka
menyatu ikut membangun desa. Ada yang jadi guru di berbagi bidang,
macam-macam. Di Wonosobo biasa-biasa saja. Yang merusuhi tanah-tanah
kita, ya, orang-orang dari luar daerah itu. Kita kalau membangun
apa-apa, ya, mendahulukan orang di sekitar untuk bekerja.
> [Naib Amir Mirajudin Sahid menambahkan: Di Banjarnegara, lurah dari
Ahmadiyah diangkat sampai empat kali. Awalnya memang dihujat karena
Ahmadiyah.]
>
> Bagaimana menyikapi peraturan daerah itu?
>
> Saya hormati itu semua. Saya selalu menganjurkan kepada warga
Ahmadiyah, coba pelajari dulu itu (peraturan daerah), terus dari situ
teruskan seperti ibadah. Sikapi dengan bijaksana dan teruskan aktivitas
seperti biasa, karena kami selama ini tidak pernah melanggar
undang-undang. Aktivitas kami baik secara institusi sekalipun, dari
dulu. Dan Anda bisa lihat track record kami di berbagai negara. Kami
tidak pernah ada sesuatu yang melanggar hukum. Makanya, di awal saya
mengatakan: coba saja aktivitas kami ini apa selain tarbiyah (belajar)
itu saja. Karena itu, apa pun larangannya, kita terus jalan saja. Masak,
ketika di jalan kami tidak boleh ibadah.
>
> Apa yang dikhawatirkan dari peraturan daerah itu?
>
> Aturan ini sering disalahgunakan. Makanya diprotes oleh pakar hukum.
Dengan begini, akan seenaknya main hakim sendiri, ini sekte atau apa.
Ada kejadian di beberapa tempat. Ada satu tempat di Palu, di sana ada
beberapa keluarga Ahmadiyah, mendirikan musala, ukurannya kecil. Tiap
hari ya biasa salat lima waktu, belajar mengaji, anak-anak. Lalu datang
aparat dari desa, melarang kami memakai musala, ibadah (diminta) di
rumah saja. Kayak model-model seperti itu. Yang kami tangkap, seluruh
aktivitas tidak boleh.
>
> Apakah akan menguji secara hukum perda itu ke Mahkamah Konstitusi?
>
> Kalau memungkinkan, kenapa tidak? Kan peraturan itu berkategori
(hierarki), jadi bisa di-judicial review di Mahkamah Konstitusi atau
Mahkamah Agung. Yang begini-begini kami usahakan. Dan ini kami limpahkan
ke kuasa hukum, ada Lembaga Bantuan Hukum. Kami juga berkonsultasi
dengan Adnan Buyung Nasution. Yang kami tuntut mungkin satu saja.
Advokasi kami terus jalan. Jadi, tidak akan semua perda kami ajukan.
Cukup satu saja, bisa Jawa Timur dan Jawa Barat, ini masih proses.
>
> Tindak kekerasan sudah sering, bagaimana Anda menyiapkan mental
keluarga?
>
> Ya, saya yakin hukum masih ditegakkan. Soal keamanan dan ketertiban
segera dikoordinasikan dengan aparat. Itu saja. Kan masih ada Allah SWT.
Secara pribadi, kami tidak melanggar apa-apa. Jadi, apa yang harus kami
takutkan?
>
> Ada instruksi khusus kepada jemaah menghadapi situasi yang berkembang
seperti ini?
>
> Kami anjurkan untuk banyak berdoa, percaya kepada Allah, ancaman ini
serahkan kepada aparat polisi atau tentara. Kalau kita tidak melapor,
kita juga salah. Jangan mengambil hukum di tangan sendiri. Jadi, kalau
dibilang bentrok, tidak ada bentrok. Kita yang diserang. Ini kan disorot
dunia internasional.
>
> Anda berusaha meraih simpati masyarakat internasional?
>
> Tidak usah kami sebarkan, berita ini sudah menyebar. Kami tak perlu
ngomong, orang lain tahu. Kan banyak yang protes ke kedutaan. Selain
itu, ada juga lembaga Amnesty International. Kemudian banyak lagi
non-governmental organization yang sangat concern terhadap hal-hal
seperti ini. Jadi, kami tidak minta, mereka mencari sendiri.
>
> Misi apa yang menjadi fokus dari Ahmadiyah pusat?
>
> Kalau di sini, kami banyak resistensi. Untuk izin rumah sakit
kesehatan, susahnya setengah mati. Kalau di negara Afrika, malah
pemerintah yang menyediakan tanahnya. Rumah sakit dan sekolah kami
banyak di Afrika. Di sana kami masuk pada 1930-an. Waktu itu Afrika
sangat terbelakang. Karena hasilnya bagus, resistensi kepada kita
kurang. Di sana kami juga menyediakan air minum, solar cell, itu kita
buat. Tapi tidak cari untung. Di negara berkembang juga banyak
permasalahan kesehatan mata, kami datangkan pakar-pakarnya.
>
> Di Indonesia?
>
> Kami belum sampai situ, karena masih (ada) resistensi. Paling cuma
sekolah, itu pun beberapa diganggu. Kalau membuka, pasti bisa. Bukan
untuk bangga, tapi kami ingin bisa berbuat sesuatu untuk bangsa ini.
Kita mau mendirikan klinik di depan kompleks ini saja susahnya setengah
mati.
>
> Ketika mengadakan kegiatan sosial, JAI tidak menyebutkan nama?
>
> Lihat kondisinya. Ada yang bergabung dengan Fatayat NU. Contohnya,
ketika ada (kegiatan) Go Green, kami siapkan 125 ribu bibit di berbagai
tempat, wakil pemerintah juga datang. Kami juga meminta setiap orang
Ahmadiyah menanam itu.
>
> Tidak usah jauh-jauh, kami itu organisasi terbesar yang melakukan
donor mata di Indonesia. Sehingga Ketua Bank Mata Jakarta mengatakan,
kalau tidak ada Ahmadiyah, ini sudah bangkrut. Donor darah juga termasuk
nomor dua organisasi yang menyumbangkan. Tanya saja ke Palang Merah
Indonesia Manis Lor, Kuningan. Berapa banyak yang rutin donor darah.
Sampai-sampai, kalau orang kekurangan darah, datang ke Manis Lor, tidak
usah bayar, kami siap. Rutin kami adakan donor darah dan mata.
>
> Berapa yang sudah mendonorkan mata?
>
> Kami targetkan 10 ribu donor, sekarang sekitar 6.000. Kapan pun kalau
meninggal dan mendonorkan mata, silakan saja diambil. Ini anjuran, amal
jariyah.
>
> Bagaimana perjalanan Ahmadiyah selama ini?
>
> Semua ada plus-minusnya. Tapi warga Ahmadiyah menilai zaman Sukarno
oke. Keadaan masyarakatnya lebih santun. Saya sudah 60 tahun hidup di
sini. Sejak kecil saya hidup di Garut. Teman akrab saya itu dari NU,
Muhammadiyah, dan Persis. Tetapi tidak ada itu mencerca. Hampir semua
datang ke rumah berdialog. Orang NU yang mendirikan IAIN Sunan Gunung
Jati itu akrab dengan ayah saya. Jadi, hampir tidak ada mencerca. Mereka
santun. Bisa berbeda tetapi tetap bermasyarakat. Kalau zaman Soeharto,
tahu sendiri penegakan hukumnya, tidak usah cerita lagi, semua tahu
(tertawa). Sekarang ini, ya, begini.
>
> Cerita miris seperti apa lagi yang dialami Ahmadiyah sekarang?
>
> Ada satu kejadian di Manis Lor, warga Ahmadiyah yang mau menikah
ditolak oleh Kantor Urusan Agama. Di Lombok, ketika warga Ahmadiyah
mengungsi, tidak diberi kartu tanda penduduk. Sampai anak-anaknya mau
bersekolah, susah; mau ke puskesmas, susah. Jadi, alasannya macam-macam.
Kualitas aparat di daerah ini tidak bisa membedakan dirinya sebagai
aparat yang digaji dengan duit pajak. Warga Ahmadiyah juga bayar pajak.
Jadi, bias pribadinya ikut, bukan sebagai pelayan. Itu kan hak sipil,
warga Ahmadiyah adalah warga Republik Indonesia.
>
> Yang dilarang menikah jadinya tetap menikah tanpa hukum negara?
>
> Tidak. Kami cari KUA yang mau. Pergi ke kecamatan tetangga, minta
nikah.
>
> Kalau yang tidak diberi KTP?
>
> Ya, bingung. Kalau kita mau diusir, ya, pasti pemerintah bakal repot
dan ribut sendiri.
>
> Apa kegiatan Anda?
>
> Kalau pagi-pagi, ya, saya cek surat, e-mail, lalu membalasnya. Kalau
keluar, ya, paling kunjungan ke daerah. Saya sudah sebulan lebih tidak
keluar karena situasi seperti ini. Sekali kunjungan bisa seminggu.
Banyak daerah yang perlu dikunjungi. Kami selalu berhubungan dengan
Khalifah di London. Kalau tidak pagi, ya, sore. Kantor pusatnya itu
mengikuti Khalifah. Di mana Khalifah berada, di situlah kantor pusatnya.
Kebetulan sekarang ada di London.
>
> Apa perintah Khalifah atas kejadian di Cikeusik?
>
> Banyak berdoa, tingkatkan ibadah, hubungan umat harus ditingkatkan.
Jalin hubungan dengan masyarakat, termasuk pemerintah. Kan banyak
informasi yang salah dan harus dibenarkan. Selalu bersikap santun.
>
> Apa hikmah dari peristiwa Cikeusik?
>
> Kami bisa lebih dewasa. Anggota kami juga lebih khusyuk ibadahnya,
lebih banyak berdoa. Tarbiyah itu ada yang singkat dan lambat. Dengan
kejadian ini, orang-orang kami makin kuat, lebih solid persaudaraannya.
Di Afrika Barat, kami mempunyai Rumah Misi. Ini sebutan kami, yang
isinya ada masjid, kompleks perumahan, sekolah, perpustakaan. Ada kiai
yang datang ke rumah mubalig kami. Video Cikeusik itu diputar, entah
mereka dapatkan dari mana, kan itu sudah tersebar di YouTube. Tidak
sampai satu menit, kiai itu mengatakan "stop-stop". Inilah Ahmadiyah
yang sedang dibunuh. Lalu kiai mengatakan, "Apakah ini orang Islam, dan
mereka melakukan pembunuhan ini atas nama Islam dan Rasulullah dan Allah
SWT?"
>
> Anda menonton video Cikeusik?
>
> Saya tidak berani. Sangat sadis sekali. Apa Islam seperti ini? Tapi
(tahu) dari berita dan cerita, dan saya berjumpa dengan yang jadi korban
dan saksi. Apa yang Anda lakukan saat peristiwa itu terjadi?
>
> Pada saat kejadian itu, saya tidak tidur tiga hari. Mencari tempat
untuk mengungsikan (jemaah). Kita meminta tolong ke LBH, menolong dan
mengeluarkan yang terkurung. Bagaimana memberi konseling untuk anak-anak
yang melihat. Ini sangat traumatik. Kami pindahkan terutama ibu dan
anak-anak. Sekarang kami kosongkan.
>
> Anda menjadi amir sudah berapa periode?
>
> Empat kali saya terpilih sejak 2001. Satu periode tiga tahun. Kita ini
ada majelis syura tingkat nasional. Musyawarah nasionalnya setiap tahun,
tapi untuk pemilihan ketuanya tiga tahun sekali. Setelah dipilih,
dikirim ke pusat disetujui atau tidak.
>
>
------------------------------------------------------------------------\
--------
>
> BIODATA
>
> NAMA: Abdul Basit
>
> KELAHIRAN: Bandung, 16 April 1951
>
> ISTRI: Musliwati (punya lima anak)
>
> PEKERJAAN:
>
> Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia
> PENDIDIKAN:
>
> Jamia Ahmadiyya Rabwah Pakistan
> PENGALAMAN:
>
> Mubalig Ahmadiyah di Sumatera Utara dan Aceh (1981-1985)
> Mubalig Ahmadiyah di Bangkok, Thailand (1985-1987)
> Mubalig Ahmadiyah di Kuala Lumpur, Malaysia (1988-1997)
> Mubalig Ahmadiyah di Yogyakarta dan Jawa Tengah (1987)
> Mubalig Ahmadiyah di London (1996)
> Mubalig Ahmadiyah di Johar, Singapura (1997-2001)
> Mubalig Ahmadiyah di Kemang, Bogor (2001-sekarang)
>
------------------------------------------------------------------------\
--------
>
> Tak Surut oleh Ancaman
>
> Kantor Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tepat berada di depan
Pos Polisi Lalu Lintas Pondok Udik, Kemang, Bogor, Jawa Barat, di Jalan
Raya Parung Kilometer 27. Kantor ini dari luar terlihat sepi, dengan
pohon-pohon rindang. Terdapat jalan aspal yang lebarnya hanya cukup satu
mobil. Ujung jalan itu adalah gerbang hijau tinggi menyambung dengan
pagar yang menjalar panjang menutupi kompleks.
>
> Kompleks ini terkesan tertutup. Tak ada satu papan nama pun yang
menunjukkan bahwa kompleks tersebut merupakan pusat kegiatan JAI, yang
kini ruang geraknya terus dipersempit oleh masyarakat dan beberapa
pemerintah daerah.
>
> Masuk ke kompleks, suasana sepi meruap. Lahan seluas 3,5 hektare ini
masih banyak yang kosong. Hanya ada tiga gedung dan beberapa puluh
rumah. Tapi penataan bangunan rapi dan asri. Aktivitas warga Ahmadiyah
di dalam gedung pun cukup riuh. "Berjalan seperti biasa," ujar Amir
Nasional JAI, Abdul Basit. Warga Ahmadiyah tetap menjalankan aktivitas
dan bebas keluar rumah. "Saya masih tinggal di luar kompleks," kata
Rakeeman R.A.M. Jumaan, mubalig lokal.
>
> Beberapa siswa Jamiah Ahmadiyah berjalan santai di antara halaman.
Pegawai di gedung sekretariat lebih sibuk lagi. Menurut Basit, mereka
mengerjakan penulisan buletin, siaran, dan dokumentasi tentang ajaran
Ahmadiyah. Salah satu yang sedang dikerjakan adalah menerjemahkan
Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. "Ahmadiyah menargetkan terjemahan 100
bahasa," katanya. Yang sudah dikerjakan baru 80 bahasa, di antaranya
Sunda, Cina, Rusia, Jerman, dan Belanda.
>
> Rakeeman mengatakan, di kompleks ini terdapat 200 orang. Saat azan
zuhur, sebagian besar berbondong-bondong ke masjid untuk salat
berjemaah. Tua, dewasa, remaja, hingga anak-anak salat bersama hingga
tiga saf. Mereka tak memperlihatkan wajah ketakutan kendati hidupnya
terus terancam. "Anak-anak tetap sekolah," kata Basit. AKBAR TRI
KURNIAWAN
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke