Program ini ditayangkan semalam dengan sang pembawa acara sendiri yang dulunya 
tengah mengumpulkan berbagai jejak pendapat mengenai multikulturalisme pernah 
merasakan sendiri bagaimana pengaruhnya bagi dirinya.

Dia dibesarkan kebanyakan di lingkungan kelas menengah kulit putih. Sahabat 
karibnya di sekolah dulu berdarah campuran Lebanon-Mesir. Sahabat karib ayahnya 
dan orang ini adalah ayah angkatnya sendiri berdarah Yunani. Sang bibi dan dua 
kemenakannya merupakan warganegara ganda Malaysia-Australia. Saat remaja dia 
dibesarkan di Fremantle yang kental dengan budaya imigran Italia. Akhir minggu 
kakek neneknya kebanyakan selalu membawanya pada sebuah restoran Cina favorit 
mereka.

Perdebatan mengenai multikulturalisme yang utamanya dipicu oleh beberapa 
kejadian di Eropa sekarang menjadi demikian buruk. Para pemimpin di Eropa, 
terutamanya Inggris dan Jerman akhir-akhir ini telah menilai kebijakan 
multikultural sebagai suatu program gagal. Negara-negara tersebut sedang 
bergelut dengan masalah sosial besar yang terkait dengan para extrimis Islam 
dan wilayah-wilayah yang didominasi umat Islam yang merupakan lahan subur bagi 
terorisme.

Kebijakan berbalik arahnya Eropa telah menguatkan komitmen Menteri Imigrasi 
Australia pada multikulturalisme. Dikatakan bahwa sistem yang ada di Australia 
dari dulu baik, sekarang juga berjalan dengan sangat baik dan merupakan contoh 
bagi dunia.

Secara umum, isu tidak lagi mengenai ras, tapi lebih mengenai agama dan dalam 
hal ini hanya satu, yaitu Islam. Jika diperhatikan selama ini ada 
gelombang-gelombang imigrasi dari orang-orang Italia, Yunani, Lebanon, Vietnam 
dan lainnya lagi ke Australia. Tiap gelombang dan dekade menghasilkan yang baik 
maupun buruk, adanya kesempatan dan juga masalah. Tapi, tiap generasi tampaknya 
bisa menempatkan dirinya di Australia.

Mengapa sekarang generasi imigran Muslim yang baru disambut dengan rasa takut 
dan marah dari begitu banyak penduduk Australia? Mengapa adanya burqa dan 
mesjid demikian menyinggung banyak orang?

Sang pembawa acara menyimpulkan bahwa ini sebagian besar diakibatkan oleh 
kelakuan para extrimis Muslim dengan gerakan fundamentalisnya yang bertujuan 
untuk memurnikan Islam. Multikulturalisme tidak mendapat tempat dalam alam 
fikiran mereka dimanapun mereka berada. Hanya ada satu Tuhan, satu jalan hidup 
dan satu hukum Islam, Syariah, tak perduli tempat atau negara mereka tinggal. 
Islam diatas segala-galanya.

Para extrimis ini tidak mewakili semua orang Muslim, tapi banyak orang Muslim 
akan dicap kafir jika mereka berani berbicara menentang orang-orang garis keras 
ini. Dengan demikian debat dalam komunitas Muslim ditekan dan para extrimis 
bisa berlaku seakan mereka mewakili semua penganut Islam.


Transkrip menyusul.

http://sixtyminutes.ninemsn.com.au/Blog.aspx?&blogentryid=801855&showcomments=true



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke