Refleksi : Apakah tidak sama kalau dibilang NKRI adalah negara kaya kemiskinan? 
Kalau demikian halnya maka  maslahnya ialah sangat sedikit dari jumlah penduduk 
(minoritas) memiliki banyak kekayaan dan banyak (mayoritas) penduduk memiliki  
sangat sedikit kekayaan. Bayangkan saja hal ini terjadi setelah 60 tahun 
merdeka dari kolonialisme, jadi tidak ada perubahan mendasar! 

Melihat sepak terjang pihak berkuasa negara kaya kemiskinan selama ini memberi 
keyakinkan bahwa jurang pemisah antara kaum berada dan kaum tidak berada makin 
lama makin lebar dan kekayaan alam yang patut menjadi sumber jaminan perbaikan 
kehidupan mayaoritas penduduk akan habis disikat oleh kaum elit berkuasa. Jadi 
keuntungan dengan NKRI ialah kepada kaum minoritas saja.

http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=146606


Negara Kaya Tapi Miskin



"Welcome to Indonesia! It's dangerously beautiful, Sir!" Demikian tulis Ahmad 
Yunus, 29 tahun, ketika mengetahui backpaker asal Inggris yang dikenalnya di 
atas kapal dicopet pada saat naik bus ekonomi rute Toraja-Makassar.

Catatan Yunus itu tertuang di zamrud-khatulistiwa.or.id. Situs ini merekam 
perjalanan dia dan Farid Gaban, jurnalis mantan redaktur Tempo, berkeliling 
Indonesia mengendarai sepeda motor. Perjalanan berbiaya sekitar Rp 350 juta itu 
dimulai pada Juni 2009 dan berakhir April tahun lalu. Selama ekspedisi itu, 
mereka telah mengunjungi 80 pulau, menghasilkan 70 jam rekaman video, 10.000 
frame foto, tujuh buku, dan puluhan catatan perjalanan.

Senin pekan lalu, bertempat di kantor Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta, 
film dokumenter ekspedisi itu untuk pertama kalinya diputar untuk umum. 
Durasinya singkat, hanya 45 menit, tapi cukup memberi gambaran mengenai jalur 
ekspedisi yang ditempuh.

Dari Jakarta, mereka memulai perjalanan menyusuri pantai barat Sumatera. Dari 
Pulau Pahawang, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Aceh, Sabang, kemudian 
mereka berbalik turun menyusuri pantai timur Sumatera, melewati Medan, Selat 
Malaka, dan Pulau Natuna.

Lalu menyusuri Kalimantan lewat Singkawang, Pontianak, Ketapang, Tanjung Redep, 
lalu terus ke arah timur laut hingga ke Pulau Nunukan. Dari sana mereka ke 
Makassar, Pulau Miangas, Kepulauan Wakatobi, Banda Neira, kemudian bergerak 
makin ke timur hingga ke kota Merauke di Papua.

Setelah itu, Farid dan Yunus menyusuri wilayah selatan Indonesia seperti Flores 
dan terus bergerak ke barat hingga akhirnya kembali ke Jawa melalui Sidoarjo, 
Jawa Timur.

Durasi film 45 menit jelas tidak akan cukup untuk menampung berbagai pengalaman 
menarik selama mengunjungi ratusan kota di Indonesia itu. Maka, tim WatchDoc 
akhirnya membuat film dokumenter ini dalam bentuk kumpulan highlights. Tiap 
pulau hanya tampil beberapa menit. Lantas Farid dan Yunus secara bergantian 
hadir sebagai narator, menjelaskan fakta-fakta menarik yang mereka jumpai di 
sana.

Tiap pulau punya cerita tersendiri. Tentang Pulau Enggano, Yunus bercerita 
bagaimana masyarakat di sana terbiasa menyantap gulai penyu pada setiap acara 
hajatan. Ia tidak tega mencicipi. Puluhan penonton juga terhenyak ketika 
menyaksikan seekor penyu dipotong dengan parang oleh ibu-ibu. Gambar berikutnya 
memperlihatkan cangkang penyu sepanjang hampir satu meter yang sudah kosong 
(tidak ada isinya) tergeletak berlumuran darah di pantai.

Sementara itu, di kota Ranai, Natuna, cerita sedihnya adalah air bersih. Sumber 
mata air di Gunung Natuna sebenarnya masih banyak, tapi pipa air bersih hanya 
tersambung sampai ke pangkalan militer TNI Angkatan Udara (AU). Tidak sampai ke 
rumah warga, sehingga warga mengantre air bersih di pangkalan AU dengan jeriken.

Padahal, Natuna adalah kabupaten yang kaya cadangan gas alam. Anggaran 
pendapatan dan belanja daerah Natuna pada tahun ini, misalnya, menembus angka 
Rp 1,1 trilyun. Jadi, membangun jaringan pipa air bersih sampai ke rumah warga 
sebenarnya bisa dilakukan kalau pemda setempat mau. Ironisnya, Pemda Natuna 
lebih memprioritaskan membangun Masjid Raya Natuna yang sangat mewah, dengan 
biaya hampir Rp 800 milyar.

Farid lalu menjelaskan bahwa kebanyakan material untuk proyek masjid itu, 
seperti beton, keramik, semen, sebagian besar tukangnya, sampai rumput 
didatangkan dari Jawa, hingga dampak ekonomi pembangunan masjid itu terhadap 
warga lokal sangat kecil.

Ketika menyusuri Selat Malaka menuju Batam dengan kapal sayur, Farid 
menjelaskan tentang aparat yang tidak ubahnya perompak berseragam. Yunus 
menjelaskan lebih detail, yakni bagaimana kapal yang mereka tumpangi di Selat 
Malaka distop sampai empat kali oleh kapal patroli dari empat kesatuan berbeda: 
marinir, angkatan laut, polisi laut, dan polisi. Tiap patroli menarik pungli Rp 
150.000-200.000 dari kapal, yang kemudian dibebankan pada harga sayur dan buah. 
Akibatnya, pembeli sayur di Batam harus menanggung ekonomi biaya tinggi.

Sedangkan di Ketapang, Kalimantan Barat, fakta memprihatinkan adalah ekspansi 
lahan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan kebakaran hutan dan perubahan 
hidrologi Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia ini, kalau musim 
kemarau, bisa kering sampai ke dasar sehingga bisa menjadi lapangan sepak bola. 
"Tapi, kalau musim hujan, Kapuas meluap," kata Farid. Gambar lalu 
memperlihatkan sebagian dasar Sungai Kapuas yang kering retak-retak dan 
beberapa bocah yang asyik bermain bola.

Di Sulawesi, Farid dan Yunus meninggalkan motor mereka di Makassar dan lebih 
banyak berkeliling dengan kapal. Mereka mengunjungi Pulau Miangas yang terletak 
di perbatasan Indonesia-Filipina dan menemukan masyarakat di pulau terpencil 
itu terbiasa mengonsumsi talas sebagai pengganti beras. Ini terjadi karena 
kapal perintis yang membawa beras hanya datang seminggu sekali, bahkan dua 
bulan sekali bila cuaca buruk.

Mereka juga mengunjungi Pulau Binongko, dalam Kepulauan Wakatobi, Sulawesi. 
Pulau ini terkenal sebagai tempat pulang tukang besi karena hampir semua mata 
pencaharian warga di pulau ini adalah pandai besi. Farid lalu bertutur bahwa 
pulau pandai besi ini termasuk salah satu pemasok parang selama kerusuhan Ambon 
1999. Motifnya bisnis saja, karena demand-nya memang tinggi. Selama kerusuhan 
Ambon itu, satu parang bisa dijual Rp 50.000.

Dalam bincang-bincang usai pemutaran, terungkap bahwa ini akan dijadikan 
sebagai bonus DVD cuma-cuma untuk buku tentang ekspedisi Zamrud Khatulistiwa 
yang akan terbit sebentar lagi. Adapun judulnya adalah Indonesia: Mencintaimu 
dengan Sederhana. Film ini juga tidak akan dikenai copyright. Siapa pun boleh 
mengunggah film ini ke internet sepanjang film credit tidak dihapus. "Saya 
penganut copyleft," kata Farid.

Berbagai fakta menarik seputar perjalanan mereka sebenarnya lebih dulu populer 
di dunia maya sebelum film ini dibuat. Berbagai catatan perjalanan Farid dan 
Yunus sejak Juni 2009 telah diunggah ke situs zamrud-khatulistiwa.or.id dan 
situs jejaring sosial Facebook.

Laman khusus Facebook zamrud-khatulistiwa, misalnya, diikuti sampai 4.500 
penggemar dan banyak yang langsung berkomentar usai Farid-Yunus mem-posting 
catatan atau foto perjalanan di sana. "Ini untuk pertama kalinya ekspedisi 
keliling Indonesia yang sifatnya interaktif," ujar Farid.

Mengenai biaya, Farid mengatakan bahwa dana Rp 350 juta itu didapat dari 
penjualan royalti empat bukunya dan sedikit sponsor. Biaya memang menjadi 
kendala utama ekspedisi ini. Untuk menghemat, mereka tidur di losmen kelas Rp 
75.000 semalam, sering menumpang di rumah penduduk, atau membuka tenda di 
pinggir jalan ketika berada di pedalaman Kalimantan. "Pengeluaran kami 
rata-rata Rp 200.000 sehari. Kecuali kalau harus menyelam, karena sekali 
menyelam bisa Rp 500.000," Farid menjelaskan.

Kendala biaya itu pula yang membuat ekspedisi ini sempat berhenti dua bulan. 
Pada saat di Kalimantan, karena uang menipis, keduanya sempat kembali ke 
Jakarta. Setelah dana diperoleh, keduanya kembali ke Kalimantan dan meneruskan 
ekspedisi.

Tidak semua gambaran suram diperoleh dari ekspedisi itu. Dari segi kebangsaan, 
Farid mengatakan bahwa media benar-benar membuat bahasa Indonesia sebagai alat 
pemersatu. "Di seluruh pelosok, hampir tidak ada orang yang saya temui yang 
tidak bisa berbahasa Indonesia, bahkan di perbatasan Papua Nugini," katanya.

Tapi, secara umum, kontras antara kekayaan alam Indonesia dan kemiskinan 
penduduknya yang paling terasa, seperti dikatakan Farid di pamungkas film. 
"Saya mengonfirmasi bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tapi masih 
banyak kemiskinan."

Basfin Siregar
[Film, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 17 Maret 2011]Negara Kaya Tapi Miskin

"


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke