Apa urusan uni Indonesia -Londo?
----- Original Message -----
From: Tawangalun
To: [email protected]
Sent: Sunday, March 27, 2011 1:19 AM
Subject: [proletar] Re: Negara Kaya Tapi Miskin
mBon nek RI dulu melu Londo yaitu Uni Indonesia Londo jelas malah
makmur,paling tidak lalu lintasnya tertib.
Untung Londo dulu bikin KA makane RI bisa punya KA.
Untung Rafles bikin Kebun Raya Bogor lantas RI punya Kebun Raya.
Jadi merdeka itu sing untung Bung Karna saja pak tani tetep rekoso.
Shalom,
Tawangalun.
--- In [email protected], "sunny" <ambon@...> wrote:
>
>
> Refleksi : Apakah tidak sama kalau dibilang NKRI adalah negara kaya
kemiskinan? Kalau demikian halnya maka maslahnya ialah sangat sedikit dari
jumlah penduduk (minoritas) memiliki banyak kekayaan dan banyak (mayoritas)
penduduk memiliki sangat sedikit kekayaan. Bayangkan saja hal ini terjadi
setelah 60 tahun merdeka dari kolonialisme, jadi tidak ada perubahan mendasar!
>
> Melihat sepak terjang pihak berkuasa negara kaya kemiskinan selama ini
memberi keyakinkan bahwa jurang pemisah antara kaum berada dan kaum tidak
berada makin lama makin lebar dan kekayaan alam yang patut menjadi sumber
jaminan perbaikan kehidupan mayaoritas penduduk akan habis disikat oleh kaum
elit berkuasa. Jadi keuntungan dengan NKRI ialah kepada kaum minoritas saja.
>
> http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=146606
>
>
> Negara Kaya Tapi Miskin
>
>
>
> "Welcome to Indonesia! It's dangerously beautiful, Sir!" Demikian tulis
Ahmad Yunus, 29 tahun, ketika mengetahui backpaker asal Inggris yang dikenalnya
di atas kapal dicopet pada saat naik bus ekonomi rute Toraja-Makassar.
>
> Catatan Yunus itu tertuang di zamrud-khatulistiwa.or.id. Situs ini merekam
perjalanan dia dan Farid Gaban, jurnalis mantan redaktur Tempo, berkeliling
Indonesia mengendarai sepeda motor. Perjalanan berbiaya sekitar Rp 350 juta itu
dimulai pada Juni 2009 dan berakhir April tahun lalu. Selama ekspedisi itu,
mereka telah mengunjungi 80 pulau, menghasilkan 70 jam rekaman video, 10.000
frame foto, tujuh buku, dan puluhan catatan perjalanan.
>
> Senin pekan lalu, bertempat di kantor Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI)
Jakarta, film dokumenter ekspedisi itu untuk pertama kalinya diputar untuk
umum. Durasinya singkat, hanya 45 menit, tapi cukup memberi gambaran mengenai
jalur ekspedisi yang ditempuh.
>
> Dari Jakarta, mereka memulai perjalanan menyusuri pantai barat Sumatera.
Dari Pulau Pahawang, Pulau Enggano, Kepulauan Mentawai, Aceh, Sabang, kemudian
mereka berbalik turun menyusuri pantai timur Sumatera, melewati Medan, Selat
Malaka, dan Pulau Natuna.
>
> Lalu menyusuri Kalimantan lewat Singkawang, Pontianak, Ketapang, Tanjung
Redep, lalu terus ke arah timur laut hingga ke Pulau Nunukan. Dari sana mereka
ke Makassar, Pulau Miangas, Kepulauan Wakatobi, Banda Neira, kemudian bergerak
makin ke timur hingga ke kota Merauke di Papua.
>
> Setelah itu, Farid dan Yunus menyusuri wilayah selatan Indonesia seperti
Flores dan terus bergerak ke barat hingga akhirnya kembali ke Jawa melalui
Sidoarjo, Jawa Timur.
>
> Durasi film 45 menit jelas tidak akan cukup untuk menampung berbagai
pengalaman menarik selama mengunjungi ratusan kota di Indonesia itu. Maka, tim
WatchDoc akhirnya membuat film dokumenter ini dalam bentuk kumpulan highlights.
Tiap pulau hanya tampil beberapa menit. Lantas Farid dan Yunus secara
bergantian hadir sebagai narator, menjelaskan fakta-fakta menarik yang mereka
jumpai di sana.
>
> Tiap pulau punya cerita tersendiri. Tentang Pulau Enggano, Yunus bercerita
bagaimana masyarakat di sana terbiasa menyantap gulai penyu pada setiap acara
hajatan. Ia tidak tega mencicipi. Puluhan penonton juga terhenyak ketika
menyaksikan seekor penyu dipotong dengan parang oleh ibu-ibu. Gambar berikutnya
memperlihatkan cangkang penyu sepanjang hampir satu meter yang sudah kosong
(tidak ada isinya) tergeletak berlumuran darah di pantai.
>
> Sementara itu, di kota Ranai, Natuna, cerita sedihnya adalah air bersih.
Sumber mata air di Gunung Natuna sebenarnya masih banyak, tapi pipa air bersih
hanya tersambung sampai ke pangkalan militer TNI Angkatan Udara (AU). Tidak
sampai ke rumah warga, sehingga warga mengantre air bersih di pangkalan AU
dengan jeriken.
>
> Padahal, Natuna adalah kabupaten yang kaya cadangan gas alam. Anggaran
pendapatan dan belanja daerah Natuna pada tahun ini, misalnya, menembus angka
Rp 1,1 trilyun. Jadi, membangun jaringan pipa air bersih sampai ke rumah warga
sebenarnya bisa dilakukan kalau pemda setempat mau. Ironisnya, Pemda Natuna
lebih memprioritaskan membangun Masjid Raya Natuna yang sangat mewah, dengan
biaya hampir Rp 800 milyar.
>
> Farid lalu menjelaskan bahwa kebanyakan material untuk proyek masjid itu,
seperti beton, keramik, semen, sebagian besar tukangnya, sampai rumput
didatangkan dari Jawa, hingga dampak ekonomi pembangunan masjid itu terhadap
warga lokal sangat kecil.
>
> Ketika menyusuri Selat Malaka menuju Batam dengan kapal sayur, Farid
menjelaskan tentang aparat yang tidak ubahnya perompak berseragam. Yunus
menjelaskan lebih detail, yakni bagaimana kapal yang mereka tumpangi di Selat
Malaka distop sampai empat kali oleh kapal patroli dari empat kesatuan berbeda:
marinir, angkatan laut, polisi laut, dan polisi. Tiap patroli menarik pungli Rp
150.000-200.000 dari kapal, yang kemudian dibebankan pada harga sayur dan buah.
Akibatnya, pembeli sayur di Batam harus menanggung ekonomi biaya tinggi.
>
> Sedangkan di Ketapang, Kalimantan Barat, fakta memprihatinkan adalah
ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit yang menyebabkan kebakaran hutan dan
perubahan hidrologi Sungai Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia ini, kalau
musim kemarau, bisa kering sampai ke dasar sehingga bisa menjadi lapangan sepak
bola. "Tapi, kalau musim hujan, Kapuas meluap," kata Farid. Gambar lalu
memperlihatkan sebagian dasar Sungai Kapuas yang kering retak-retak dan
beberapa bocah yang asyik bermain bola.
>
> Di Sulawesi, Farid dan Yunus meninggalkan motor mereka di Makassar dan
lebih banyak berkeliling dengan kapal. Mereka mengunjungi Pulau Miangas yang
terletak di perbatasan Indonesia-Filipina dan menemukan masyarakat di pulau
terpencil itu terbiasa mengonsumsi talas sebagai pengganti beras. Ini terjadi
karena kapal perintis yang membawa beras hanya datang seminggu sekali, bahkan
dua bulan sekali bila cuaca buruk.
>
> Mereka juga mengunjungi Pulau Binongko, dalam Kepulauan Wakatobi, Sulawesi.
Pulau ini terkenal sebagai tempat pulang tukang besi karena hampir semua mata
pencaharian warga di pulau ini adalah pandai besi. Farid lalu bertutur bahwa
pulau pandai besi ini termasuk salah satu pemasok parang selama kerusuhan Ambon
1999. Motifnya bisnis saja, karena demand-nya memang tinggi. Selama kerusuhan
Ambon itu, satu parang bisa dijual Rp 50.000.
>
> Dalam bincang-bincang usai pemutaran, terungkap bahwa ini akan dijadikan
sebagai bonus DVD cuma-cuma untuk buku tentang ekspedisi Zamrud Khatulistiwa
yang akan terbit sebentar lagi. Adapun judulnya adalah Indonesia: Mencintaimu
dengan Sederhana. Film ini juga tidak akan dikenai copyright. Siapa pun boleh
mengunggah film ini ke internet sepanjang film credit tidak dihapus. "Saya
penganut copyleft," kata Farid.
>
> Berbagai fakta menarik seputar perjalanan mereka sebenarnya lebih dulu
populer di dunia maya sebelum film ini dibuat. Berbagai catatan perjalanan
Farid dan Yunus sejak Juni 2009 telah diunggah ke situs
zamrud-khatulistiwa.or.id dan situs jejaring sosial Facebook.
>
> Laman khusus Facebook zamrud-khatulistiwa, misalnya, diikuti sampai 4.500
penggemar dan banyak yang langsung berkomentar usai Farid-Yunus mem-posting
catatan atau foto perjalanan di sana. "Ini untuk pertama kalinya ekspedisi
keliling Indonesia yang sifatnya interaktif," ujar Farid.
>
> Mengenai biaya, Farid mengatakan bahwa dana Rp 350 juta itu didapat dari
penjualan royalti empat bukunya dan sedikit sponsor. Biaya memang menjadi
kendala utama ekspedisi ini. Untuk menghemat, mereka tidur di losmen kelas Rp
75.000 semalam, sering menumpang di rumah penduduk, atau membuka tenda di
pinggir jalan ketika berada di pedalaman Kalimantan. "Pengeluaran kami
rata-rata Rp 200.000 sehari. Kecuali kalau harus menyelam, karena sekali
menyelam bisa Rp 500.000," Farid menjelaskan.
>
> Kendala biaya itu pula yang membuat ekspedisi ini sempat berhenti dua
bulan. Pada saat di Kalimantan, karena uang menipis, keduanya sempat kembali ke
Jakarta. Setelah dana diperoleh, keduanya kembali ke Kalimantan dan meneruskan
ekspedisi.
>
> Tidak semua gambaran suram diperoleh dari ekspedisi itu. Dari segi
kebangsaan, Farid mengatakan bahwa media benar-benar membuat bahasa Indonesia
sebagai alat pemersatu. "Di seluruh pelosok, hampir tidak ada orang yang saya
temui yang tidak bisa berbahasa Indonesia, bahkan di perbatasan Papua Nugini,"
katanya.
>
> Tapi, secara umum, kontras antara kekayaan alam Indonesia dan kemiskinan
penduduknya yang paling terasa, seperti dikatakan Farid di pamungkas film.
"Saya mengonfirmasi bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya, tapi masih
banyak kemiskinan."
>
> Basfin Siregar
> [Film, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 17 Maret 2011]Negara Kaya Tapi Miskin
>
> "
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/