TUHAN, INIKAH MURKA-MU DARI LANGIT? Tuhan, apakah ini hukuman ...? ”Manusia selalu merasa menguasai alam...kerakusan dan ketamakan manusia telah membuat kerusakan alam dimana-mana ...Bumi dilubangi untuk diambil isinya, hewan dibunuh ...tanaman dibabat...Langit,sungai dan samudera secara perlahan ikut dirusak oleh senyawa-senyawa ciptaan. Bahkan satu manusia meniadakan manusia lain demi sebuah kejayaan yang tidak jelas bentuknya...Alam nan bijaksana sudah memperingatkan dengan berbagai tanda, dari yang kecil sampai besar. Namun, berapa gelintirkah manusia-manusia yang tahu bahasa alam?...” (Kompas, 28 Desember 2004, dalam Tangisan peristiwa bencana Tsunami).
SEBUAH GUGATAN ABADI Banyak sekali pertanyaan bahkan gugatan manusia diseputar hidup kemanusiaannya. Diantaranya yang paling sering digugat adalah isu penderitaan. Dan gempa bumi di Jawa Tengah / Yogyakarta makin menambah panjang daftar gugatannya setelah Tsunami: ”Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha-baik sampai menciptakan, mendesign, dan mengizinkan bencana, penderitaan, dan kejahatan bagi mahluk-Nya?” Jeritan penderitaan anak bangsa telah mencapai segala tingkatan.Ya, tingkat global seperti becana alam / tsunami, kelaparan, perang dunia, terorisme dan flu burung. Ya, tingkat komunitas seperti kebakaran, kebanjiran, gempa bumi, wabah setempat, tawuran antar kampung, dll. Dan Ya, hingga pada tingkat pribadi seperti sakit, patah hati, pertengkaran/ perceraian, ketidakadilan, penganiayaan, kesepian, kekecewaan, PHK, penolakan, kelaparan, kecelakaan, kebencian, perakusan, kemiskinan dan lain-lain ... Tak akan ada akhirnya! Banyak orang berpikiran bahwa jikalau Tuhan menciptakan segala sesuatu maka Ia pun turut menciptakan kejahatan.Tetapi bagaimana mungkin Tuhan yang baik dapat mengizinkan hal-hal terburuk menimpa kemanusiaan? Kejahatan, bencana dan penderitaan itu benar-benar hadir dan ada dimana-mana! Maka orangpun secara gampang menyimpulkan bahwa Tuhan itu entah tidak Mahabaik (maka Ia mentoleransikan kejahatan), atau entah Ia tidak Maha-kuasa (maka tidak berdaya melenyapkan kejahatan yang tidak diingini-Nya), atau tidak kedua-duanya! Diskusi seorang profesor filsafat yang atheis dengan mahasiswanya yang taat beragama, diilustrasikan disini : ”Kamu beragama , bukan?” ”Ya, pak.” ”Jadi, kamu percaya Tuhan?” ”Tentu saja.” ”Apakah Tuhan baik?” ”Jelas! Tuhan baik.” “Apakah Tuhan maha kuasa ? Dapatkah Tuhan melakukan segala sesuatu?” ”Tentu saja dapat.” ”Coba yang satu ini. Seorang dari saudara saya adalah orang-taat beragama.Ia meninggal karna kanker.Sebelumnya dia dan seluruh keluarga – kecuali saya – sudah berdoa meminta Tuhan untuk menyembuhkannya. Tetapi seperti yang sudah kuduga, itu semua isapan jempol belaka. Ia mati dengan amat menderita .Jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan itu baik? Dapatkah kamu menjawab-nya?” ... [Tiada jawaban ]. ”Mari kita lanjutkan, anak muda. Tolong jawab, apakah Tuhan itu benar baik.” ”Ng....ya.” ”Apakah setan itu baik?” ”Tidak.” “Darimana datangnya setan?” Sang mahasiswa tergagap.” Dari ...Tuhan...” “Tuhan menciptakan setan, bukan?” ”Sekarang tolong katakan , adakah kejahatan didunia?” ”Ya, pak.” ”Kejahatan ada dimana-mana, bukan ? Apakah Tuhan menciptakan segala-galanya?” “Ya.” “Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?” [Tiada jawaban] “Adakah penyakit didunia ini? Pelanggaran susila? Kebencian? Kekerasan? Segala bentuk ”tsunami” yang mengerikan , apakah semuanya ada didunia ini?” Sang mahasiswa merasakan kegelisahan didadanya, ” Ya”, sendunya. “Siapa yang menciptakan?” [Tiada jawaban ] Sang profesor tiba-tiba menggebrak kebisuan maha-siswa tersebut dengan suara lantang, “Siapa yang menciptakan semua itu? Coba bantah saya. Saya protes terhadap Tuhan pembawa bencana!” Kelihatannya seperti sangat rasional. Beranjak dari asumsi-mati bahwa kejahatan adalah suatu realitas, sang profesor menyimpulkan bahwa setiap realitas adalah ciptaan. Dan karena setiap ciptaan dipercaya sebagai karya Tuhan, maka alhasil, setiap kejahatanpun (sebagaimana kebaikan) adalah juga karya Tuhan. Kalau begitu, bagaimana Tuhan masih berani beraninya mengklaim diriNya maha baik?!...Maaf Prof, Anda keliru, dan izinkan kami mencoba membantah dengan sederhana. Anda telah mengira seolah Tuhan mempunyai dua keberadaan hakekat (substansi) yang saling menentang dalam diri-Nya, yang satu positif, yang lain negatif. Namun pada diri Tuhan hanya mungkin ada satu substansi saja, yaitu semua unsur/hakekat kebaikan! Yang tampaknya sebagai “substansi tandingan”, itu sesungguhnya bukanlah sebuah substansi, melainkan justru satu ketiadaan-substansi yang dimaksudkan. CONTOH: Gelap bukan suatu substansi, melainkan ketiadaan substansi terang. Kebutaan juga bukan suatu substansi, melainkan ketiadaan substansi penglihatan. Kejahatan juga bukan substansi, bukan suatu “sebab”, melainkan “akibat” ketiadaan sebuah substansi kebaikan. Kita akan kupas lebih jauh. UNSUR FREE-WILL ( PILIHAN BEBAS ) Pertama-tama, Tuhan itu kasih dan baik adanya.Ia mengasihi manusia, maka diciptakan-lah dia sebagai mahluk yang teramat istimewa dan baik. Namun Tuhan yang serba kasih dan baik itu, juga menuntut manusia untuk balik mengasihiNya dengan kesejatian. Buka robotik atau paksaan, melainkan harus mengalir dari kerelaan dan kerinduan hati yang terdalam. Itu sebabnya Tuhan menciptakan sistim kehendak dan pilihan bebas (free-will) bagi manusia. Nah, kasih yang sejati itu hanya dapat dihasilkan dari pilihan yang komit ditengah-tengah kebebasan untuk mengasihi atau tidak mengasihi Tuhannya! Tuhan tidak menginginkan kasih-robotik, yang hanya dipaksa untuk mengasihiNya tanpa ada pilihan. Bahkan kita manusiapun, sam tidal mengingini kekasih yang dipaksa untuk mencintai kita! Jelaslah bahwa untuk menciptakan suatu makhluk yang bebas, terkandung didalamnya wewenang untuk memilih, DAN potensi memilih yang salah yang akan melahirkan kecelakaan, kejahatan , dan sengsara, khususnya memilih untuk menolak kebaikan yang seharusnya (yaitu mengasihi Tuhan). Dan buah dari pilihan sadar manusia inilah yang terkesan seolah-olah adalah “perbuatan Tuhan”. Padahal itu adalah akibat dari pilihan, perbuatan dan tanggungjawab manusia seutuhnya ata wewenang free-will yang Tuhan limpahkan kepadanya. Pilihan-pilihan yang salah dari manusia ( bukan dari Tuhan ) merupakan sebab langsung kenapa dunia menjadi penuh kejahatan dan sengsara. Ambil contoh tentang polusi. Polusi adalah pencemaran lingkungan dengan racun yang berakibat buruk bagi manusia. Apakah polusi itu salahnya Tuhan? tentu tidak! Polusi adalah pilihan yang salah dari manusia yang mengabaikan lingkungannya. Pilihan yang salah untuk merakusi, untuk masabodo dan kotor terhadap alam, dan tidak cukup peduli terhadap “warisan” kepada anak-cucu manusia. Ambil contoh tentang hobi kita yang bodoh atau yang jahat. Tidak ada orang yang memaksa Anda, tetapi anda sendirilah yang memilih merokok, dan terjadilah kanker. Anda memilih makanan berlemak-lemak, dan terjadilah kerusakan jantung. Narkoba? Sex bebas ? Judi ? Rakus ? Pembunuhan ? Gila Kerja ? Malas Kerja ? Semuanya membawa anda pada masalah yang menuju bencana , makro atau mikro! Tuhan bukan pembuat bencana untuk menyengsarakan , namun bencana memang dapat merupakan teguran/hukuman (sebagai isyarat) bagi anda akibat dari salah-memilih, melenceng atau menolak apa yang ditawarkan oleh Tuhan demi kebaikan kita sendiri. Atau ambil contoh tentang pembunuhan. Ini merupakan pilihan manusia yang jelas amat salah, karena didorong bahkan dikuasai oleh kebencian dan dendam akan musuhnya. Ini bukan pilihan Tuhan, malahan sebaliknya, merupakan larangan Tuhan! Namun sipembunuh memilih penyelesaian perselisihan dengan cara kekerasan dan pembunuhan, ketimbang berkomunikasi dan negosiasi dalam toleransi dan kasih. Ketika pilihan menjadi semakin salah, jadilah ia seorang teroris atau pembom bunuh-diri yang bahkan siap membunuh orang-orang lain yang tidak bersalah dan bukan musuhnya. Ia memilih menjadi pembunuh kehidupan dan pembunuh peradaban! Tak ada satu apapun yang dia bangun melainkan kerusakan, mengatas namakan Tuhan atau perjuangan! Para teroris ini berdalih kosong bahwa mereka sedang mencetuskan perjuangan berdarah dan mati-hidup membela tuhannya, demi menuju keadilan, kebaikan dan perdamaian. Namun Tuhan tidak menciptakan diriNya suatu “neraka-sementara” untuk menuju jalan kesurga.Tuhan hanya menyajikan jalan yang lurus dengan menciptakan dunia yang baik saja sejak awalnya. Ia bukan pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dipilih dan yang dinafsui manusia. Tuhan bahkan memerintahkan prasyarat dari Anda dan saya untuk memasukkan pedang, bukan menghunusnya : “Masukkan pedang itu kembali kedalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” Ketidak-taatan akan Pencipta disebut dosa, sebuah kejahatan yang biasa dienteng-entengkan manusia, namun sangat serius dimata Tuhan yang mahakudus, karena upahnya adalah “maut” (kematian kekal). (a) Sebagaimana Adam berdosa, itu sekaligus berakibat (upah) hilangnya nikmat-firdaus, lalu terlempar dalam “kefanaan-dunia” berupa menderita sakit, kesedihan, bencana dan kematian. Maka ketika kita memilih melanggar ketetapan Tuhan yang baik, kitapun akan ditegur dan dihukum menurut waktu dan cara-Nya. Jadi kejahatan dan sengsara bukanlah substansi, melainkan “akibat” ketiadaan sebuah substansi kebaikan! Bencana dan kesengsaraan dunia yang dilahirkan oleh kejahatan dosa adalah sebuah akibat, bukan sebab. Ia bukan substansi yang diciptakan , tetapi akibat salah-urus dan salah-pilih manusia atas free-will yang khusus dianugerahi Tuhan kepadanya. SEBERAPA PASRAH ANDA MENERIMA SEBUAH BENCANA ? Tatkala manusia tertimpa “gempa” atau “ tsunami”, besar atau kecil, mereka segera bereaksi luas, mulai dari menerima (nrimo) pasrah hingga menolak marah sehebatnya atas bencana tersebut. Tetapi awas, bagaimana kita bereaksi terhadap bencana sangat menentukan masa depan kita ( post bencana ). Reaksi kepasrahan yang salah justru akan memicu bencana susulan dan melipatgandakan penderitaan. Maka pakailah free-will Anda untuk memilih reaksi yang benar dan yang paling konstruktif (membangun) : • Umumnya manusia mereaksi dengan memprotes manusia lainnya yang dianggap biang keladi terhadap musibah yang dideritanya, bahkan sampai mengkambing-hitamkan semua pihak lain. Mereka berteriak dan memaki-maki dalam banyak cara, namun intinya berpusar pada egoisme dan pembenaran diri: ”Sialan itu wadam-wadam yang ngontrak dirumah sebelah, yang bikin mesum lingkumgan. Ayo kita berantas saja mereka!” Maka jadilah kerusakan baru diatas kerusakan lama. • Ada yang “pasrah” menyesalkan diri/ hancur hati karena merasa bersalah dalam batinnya. Sebagian menganggap bencana tersebut sebagai akibat kealpaan atau kesalahan sendiri, sebagian lainnya berfirasat bahwa itu adalah peringatan, teguran atau penghukuman dari kuasa adikodrati/karma/Tuhan, namun hanya berhenti sampai disitu. Mereka hanya surut dan takut sesaat, namun tidak berkomit memperbaharui secara dramatis relasinya dengan sumber-kebaikan, yaitu Tuhan! Dengan lewatnya sang waktu yang berjalan terus, maka bussines runs as usual, semua kembali keposisi yang sama. • Sebaliknya ada yang pasrah-mati, karena merasa bencananya melebihi daya tahan dan daya guna hidupnya. Kelanjutan hidup adalah kosong dan sia-sia, terlanjur hancur dan tak ada yang bisa diapa-apakan lagi. Jenis pasrah ini berkata,” tidak ada lagi harapan, tidak perlu lagi pertolongan. Buat apa....Biarlah.....biarlah......”. Inilah pasrah model Yudas sipengkhianat yang akhirnya membunuh dirinya sendiri destruktif. • Ada yang pasrah-tobat dalam kehancuran hati; bukan semata memahami kelayakan bencana tersebut sebagai teguran/ penghukuman dari kuasa adikodrati (karma/Tuhan), namun mereka juga menyesalkan dirinya yang kotor dan keji dihadapan Tuhan, dan minta pengampunan kepada-Nya sambil bertobat. Banyak sekali kasus orang-orang yang tertimpa bancana akhirnya mendapatkan pemulihan yang indah, batiniah dan lahiriah dari Tuhan, karena ia memilih jenis “pasrah-tobat” ini dengan sungguh-sungguh bertobat dan minta pengampunan, serta mohon kekuatan pembaharuan dari Tuhan, demi komitmen hidup baru bersama Dia (lihat sub-bab terakhir). • Dan terakhir, ada yang justru menyesalkan Tuhan dan menghujatNya karena tidak rela atas perlakuan Tuhan yang dianggap jaht, kejam, tidak adil, dan sewenang-wenang.... “Tuhan, mengapa Kau cabut nyawa orang-orang tak berdosa? ”Tetapi kenapa kami, Tuhan? Kenapa bukan para pejabat yang korup? ”Apa salah dan dosa kami Tuhan, sehingga kami terus berkubang dalam bencana? ”Aku benci semua, juga kepadaMu Tuhan...mengapa mengazab kami tiada henti? Terus terang, inilah pilihan reaksi yang paling bodoh dari manusia. Ini adalah tuduhan dan penghakiman yang kehilangan akal sehat. Alih-alih mau memprotes kepada manusia, ia mengalamatkannya kepada Tuhan yang tidak bersalah.Pilihan reaksi ini paling tidak berguna, namun yang justru paling disukai oleh para setan, karena Anda bisa dijeratnya lebih lanjut dengan menghujat Tuhan. Berhati-hatilah dan berhikmatlah! PASRAH “SIAPA TAHU” Ada lagi pasrah yang bersifat apatis untung-untungan. Ini diilustrasikan dalam sebuah kisah rakyat Tiongkok di zaman lampau, berjudul The Farmer and His Horse. Kisah ini secara unik melukiskan betapa suatu musibah dapat saja terjadi dalam jalinan berkat dan kutuk. Ia menampilkan sebuah bayangan kuasa kosmis (dari langit) yang turut menatur musibah dan rejeki manusia tanpa gejala. “Di sebuah desa yang amat miskin, hiduplah seorang petani tua yang berbudi luhur, bersama istri dan satu-satunya anak lelakinya. Keluarga ini terhitung yang paling kaya didesanya. Sang petani tua memiliki apa yang menjadi status simbol disana, seekor kuda, jenis betina. Pada suatu hari, kuda itu terlepas dan lari masuk kedalam hutan yang lebat. Jelaslah ini suatu musibah besar bagi Pak-tua itu. Ini juga dirasakan sebagai musibah seluruh desa. Maka datanglah penduduk berduyun-duyun untuk menyatakan simpati dan penghiburannya (sebagai comforter) kepada Pak-tua yang malang. Tetapi aneh, yang kehilangan malahan tidak bersedih atau menyesali diri. Ia malahan menghibur para penghibur yang bersedih: “Kita lupakan saja itu. Kita bersyukur kepada Langit (maksudnya “Tuhan”)... siapa tahu apa yang sekarang kelihatan seperti musibah, nanti diberkati menjadi keberuntungan...”. Para petani yang lain hanya bengong, tidak dapat memahaminya. Pada suatu pagi --diluar dugaan-- sang kuda yang hilang ternyata pulang kerumah! Ia pulang tidak sendirian. Ia membawa seekor kuda liar jantan yang gagah perkasa! Benar juga, musibah menjadi berkat. Dan para penduduk kembali berduyun-duyun datang, kali ini untuk memberi selamat. Tetapi Pak-tua itu menyambut mereka dengan wanti-wanti berkata : “Jangan tergesa-gesa! Nikmati keberuntungan, tetapi jangan lupa daratan. Siapa tahu yang seolah-olah keberuntungan ini justru bisa jadi bencana...”. Para petani yang polos dan sederhana tentu tidak bisa lagi mengikuti jalan pikiran Pak-tua. ”Jelas-jelas kuda seekor, kini menjadi dua, kok bisa jadi bencana? Bencana dari siluman mana?”, demikian komentar mereka sambil geleng-geleng kepala... Kuda jantan itu masih liar. Ia perlu dijinakkan dulu untuk dapat ditunggangi. Putera tunggal dari Pak-tualah yang akan melatihnya. Tapi malang bagi sang putera, ia terlempar dari punggung kudas dan patahlah kakinya. Kembali para petani semua mendatangi rumah Pak-tua. Mereka sedih menyaksikan kaki sang anak yang patah itu. Mereka memaki-maki sikuda: “Dasar kuda jantan sialan!”. Tetapi kembali Pak-tua menghibur sambil melarang mereka menyumpah: “Sudahlah, jangan maki, jangan sumpah, siapa tahu yang dikira bencana justru itulah keberuntungan. ”Wah! Kali ini para petani mulai emosi dan gerutu kepada Pak-tua: ”Ini sih sudah tidak benar lagi, sudah keterlaluan. Masak, kaki patah bisa jadi keberuntungan...” Beberapa waktu telah berlalu. Suatu saat diseluruh negeri timbul perang saudara. Anak-anak muda yang sehat dan tak bercacat semua-nya kena wajib militer dan harus maju kemedan perang. Anak sipetani tua walau berbadan sehat, tetapi karena kakinya pincang, ia dibebaskan dari dinas militer. Dan apa jadinya? Ternyata semua teman-teman sedesanya yang berperang, mati semua tanpa kecuali....Sekali lagi: Siapa Tahu.” Kisah ini hanyalah sebuah pelipur lara. Apa yang salah dari kisah ini? Ia hanya ditampilkan dari salah satu sudut skenario kehidupan “siapa-tahu” (alias untung-untungan secara kosmis) dari satu orang: Si pak tani tua. Ia tidak seharusnya mengosongkan kisah yang dapat memperlihatkan kenapa semua pemuda sekampungnya “tertakdir” dengan bencana kematian. Jangan-jangan mereka semua begitu bejad sehingga mereka justru dihajar dengan alasan kosmis ”siapa tahu”! Jangan salah, kisah ini tidak menyimpulkan bahwa sehabis gelap ada terang. Gelap justru bisa makin kental bila dibiarkan mirip pasrah-mati seperti yang diskenariokan itu! Namun paling tidak kisah tersebut mengajari kita bahwa ‘dalam kebaikan, ada (potensi) keburukannya. Moral yang ditonjolkan disitu mengajarkan ketabahan bagi yang menderita musibah (sekaligus memberi cermin tahu-diri bagi yang mendapat rejeki). Tetapi inti yang paling pokok dari kisah itu adalah adanya harapan baik yang masih tersedia dalam keadaan yang hampir mustahil sekalipun, jikalau kita mendapatkan SIAPA TAHU yang dimisterikan dalam kisah itu. Sebab hidup adalah sebuah perjalanan “siapa tahu“, yang sesungguhnya sudah cukup diberi tahu oleh yang tahu, yaitu sang Penciptanya sendiri, yang sayang belum dikenal oleh sipetani tua tersebut. “SIAPA TAHU” ADALAH SOSOK YANG PALING TAHU! Kita diberi refleksi batiniah bahwa setiap kejadian merupakan perjalanan yang diketahui dan diizinkan Tuhan Yang Maha Tahu. Kitab Suci juga menyaksikan bahwa segala sesuatu yang terjadi diatas jagat raya ini, tidak ada yang kebetulan, sebab tidak ada seujung rambut kita yang boleh gugur tanpa pengetahuan dan izin Tuhan kita yang Maha-Baik. Ia berkata kepada kita: “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Tuhan, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (b) Selengkapnya baca di sini http://buktidansaksi.com/2011/03/TUHAN-Inikah-Murka-Mu-dari-Langit- [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
