Yes 45:6-7 (6) supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai
terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan
tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap,
yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN
yang membuat semuanya ini.

Mau komplin? Mau cari kambing hitam? Ya silahkan.


--- In [email protected], siap murtad <islamic.invasion@...>
wrote:
>
> TUHAN, INIKAH MURKA-MU DARI LANGIT?
>
> Tuhan, apakah ini hukuman ...?
> ”Manusia
>  selalu merasa menguasai alam...kerakusan dan ketamakan manusia telah
> membuat kerusakan alam dimana-mana ...Bumi dilubangi untuk diambil
> isinya, hewan dibunuh ...tanaman dibabat...Langit,sungai dan samudera
> secara perlahan ikut dirusak oleh senyawa-senyawa ciptaan. Bahkan satu
> manusia meniadakan manusia lain demi sebuah kejayaan yang tidak jelas
> bentuknya...Alam nan bijaksana sudah memperingatkan dengan berbagai
> tanda, dari yang kecil sampai besar. Namun, berapa gelintirkah
> manusia-manusia yang tahu bahasa alam?...” (Kompas, 28 Desember
2004,
> dalam Tangisan peristiwa bencana Tsunami).
>
> SEBUAH GUGATAN ABADI
> Banyak
>  sekali pertanyaan bahkan gugatan manusia diseputar hidup
> kemanusiaannya. Diantaranya yang paling sering digugat adalah isu
> penderitaan. Dan gempa bumi di Jawa Tengah / Yogyakarta makin menambah
> panjang daftar gugatannya setelah Tsunami:
> ”Bagaimana mungkin Tuhan
> yang Maha-baik sampai menciptakan, mendesign, dan mengizinkan bencana,
> penderitaan, dan kejahatan bagi mahluk-Nya?”
>
> Jeritan penderitaan anak bangsa telah mencapai segala tingkatan.Ya,
tingkat global seperti becana alam / tsunami, kelaparan, perang dunia,
terorisme dan flu burung. Ya, tingkat komunitas seperti kebakaran,
kebanjiran, gempa bumi, wabah setempat, tawuran antar kampung, dll. Dan
Ya, hingga pada tingkat pribadi seperti sakit, patah hati, pertengkaran/
perceraian, ketidakadilan,
> penganiayaan, kesepian, kekecewaan, PHK, penolakan, kelaparan,
> kecelakaan, kebencian, perakusan, kemiskinan dan lain-lain ...
> Tak akan ada akhirnya!
>
> Banyak
>  orang berpikiran bahwa jikalau Tuhan menciptakan segala sesuatu maka
Ia
>  pun turut menciptakan kejahatan.Tetapi bagaimana mungkin Tuhan yang
> baik dapat mengizinkan hal-hal terburuk menimpa kemanusiaan?
Kejahatan,
> bencana dan penderitaan itu benar-benar hadir dan ada dimana-mana!
Maka
> orangpun secara gampang menyimpulkan bahwa Tuhan itu entah tidak
> Mahabaik (maka Ia mentoleransikan kejahatan), atau entah Ia tidak
> Maha-kuasa (maka tidak berdaya melenyapkan kejahatan yang tidak
> diingini-Nya), atau tidak kedua-duanya! Diskusi seorang profesor
> filsafat yang atheis dengan mahasiswanya yang taat beragama,
> diilustrasikan disini :
>
> ”Kamu beragama , bukan?”
> ”Ya, pak.”
> ”Jadi, kamu percaya Tuhan?”
> ”Tentu saja.”
> ”Apakah Tuhan baik?”
> ”Jelas! Tuhan baik.”
> “Apakah Tuhan maha kuasa ? Dapatkah Tuhan melakukan segala
sesuatu?”
> ”Tentu saja dapat.”
> ”Coba
>  yang satu ini. Seorang dari saudara saya adalah orang-taat
beragama.Ia
> meninggal karna kanker.Sebelumnya dia dan seluruh keluarga â€"
kecuali
> saya â€" sudah berdoa meminta Tuhan untuk menyembuhkannya. Tetapi
seperti
> yang sudah kuduga, itu semua isapan jempol belaka. Ia mati dengan amat
> menderita .Jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa Tuhan itu baik?
Dapatkah
> kamu menjawab-nya?” ... [Tiada jawaban ].
> ”Mari kita lanjutkan, anak muda.
> Tolong jawab, apakah Tuhan itu benar baik.”
> ”Ng....ya.”
> ”Apakah setan itu baik?”
> ”Tidak.”
> “Darimana datangnya setan?”
> Sang mahasiswa tergagap.” Dari ...Tuhan...”
> “Tuhan menciptakan setan, bukan?”
> ”Sekarang tolong katakan , adakah kejahatan didunia?”
> ”Ya, pak.”
> ”Kejahatan ada dimana-mana, bukan ?
>
> Apakah Tuhan menciptakan segala-galanya?”
> “Ya.”
> “Jadi, siapa yang menciptakan kejahatan?”
> [Tiada jawaban]
> “Adakah penyakit didunia ini? Pelanggaran susila? Kebencian?
> Kekerasan? Segala bentuk ”tsunami” yang mengerikan ,
apakah
> semuanya ada didunia ini?”
> Sang mahasiswa merasakan kegelisahan didadanya, ” Ya”,
sendunya.
> “Siapa yang menciptakan?” [Tiada jawaban ]
> Sang profesor tiba-tiba menggebrak kebisuan maha-siswa tersebut
> dengan suara lantang,
> “Siapa yang menciptakan semua itu? Coba bantah saya.
> Saya protes terhadap Tuhan pembawa bencana!”
>
> Kelihatannya
>  seperti sangat rasional. Beranjak dari asumsi-mati bahwa kejahatan
> adalah suatu realitas, sang profesor menyimpulkan bahwa setiap
realitas
> adalah ciptaan. Dan karena setiap ciptaan dipercaya sebagai karya
Tuhan, maka alhasil, setiap kejahatanpun (sebagaimana kebaikan) adalah
juga
> karya Tuhan. Kalau begitu, bagaimana Tuhan masih berani beraninya
> mengklaim diriNya maha baik?!...Maaf Prof, Anda keliru, dan izinkan
kami mencoba membantah dengan sederhana.
>
> Anda telah mengira seolah
> Tuhan mempunyai dua keberadaan hakekat (substansi) yang saling
menentang
>  dalam diri-Nya, yang satu positif, yang lain negatif. Namun pada diri
> Tuhan hanya mungkin ada satu substansi saja, yaitu semua unsur/hakekat
> kebaikan! Yang tampaknya sebagai “substansi tandingan”,
itu sesungguhnya
>  bukanlah sebuah substansi, melainkan justru satu ketiadaan-substansi
> yang dimaksudkan.
> CONTOH: Gelap bukan suatu substansi, melainkan ketiadaan substansi
terang. Kebutaan juga bukan suatu substansi, melainkan ketiadaan
substansi penglihatan.
> Kejahatan juga bukan substansi, bukan suatu “sebab”,
melainkan “akibat” ketiadaan sebuah substansi kebaikan.
Kita akan kupas lebih jauh.
>
> UNSUR FREE-WILL ( PILIHAN BEBAS )
> Pertama-tama,
>  Tuhan itu kasih dan baik adanya.Ia mengasihi manusia, maka
> diciptakan-lah dia sebagai mahluk yang teramat istimewa dan baik.
Namun
> Tuhan yang serba kasih dan baik itu, juga menuntut manusia untuk balik
> mengasihiNya dengan kesejatian. Buka robotik atau paksaan, melainkan
> harus mengalir dari kerelaan dan kerinduan hati yang terdalam. Itu
> sebabnya Tuhan menciptakan sistim kehendak dan pilihan bebas
(free-will) bagi manusia. Nah, kasih yang sejati itu hanya dapat
dihasilkan dari
> pilihan yang komit ditengah-tengah kebebasan untuk mengasihi atau
tidak mengasihi Tuhannya! Tuhan tidak menginginkan kasih-robotik, yang
hanya dipaksa untuk
> mengasihiNya tanpa ada pilihan. Bahkan kita manusiapun, sam tidal
> mengingini kekasih yang dipaksa untuk mencintai kita!
>
> Jelaslah
> bahwa untuk menciptakan suatu makhluk yang bebas, terkandung
didalamnya
> wewenang untuk memilih, DAN potensi memilih yang salah yang akan
> melahirkan kecelakaan, kejahatan , dan sengsara, khususnya memilih
untuk
>  menolak kebaikan yang seharusnya (yaitu mengasihi Tuhan). Dan buah
dari
>  pilihan sadar manusia inilah yang terkesan seolah-olah adalah
> “perbuatan Tuhan”. Padahal itu adalah akibat dari
pilihan, perbuatan dan
>  tanggungjawab manusia seutuhnya ata wewenang free-will yang Tuhan
> limpahkan kepadanya. Pilihan-pilihan yang salah dari manusia ( bukan
> dari Tuhan ) merupakan sebab langsung kenapa dunia menjadi penuh
> kejahatan dan sengsara.
>
> Ambil contoh tentang polusi.
> Polusi
>  adalah pencemaran lingkungan dengan racun yang berakibat buruk bagi
> manusia. Apakah polusi itu salahnya Tuhan? tentu tidak! Polusi adalah
> pilihan yang salah dari manusia yang mengabaikan lingkungannya.
Pilihan
> yang salah untuk merakusi, untuk masabodo dan kotor terhadap alam, dan
> tidak cukup peduli terhadap “warisan” kepada anak-cucu
manusia. Ambil
> contoh tentang hobi kita yang bodoh atau yang jahat. Tidak ada orang
> yang memaksa Anda, tetapi anda sendirilah yang memilih merokok, dan
> terjadilah kanker. Anda memilih makanan berlemak-lemak, dan terjadilah
> kerusakan jantung. Narkoba? Sex bebas ? Judi ? Rakus ? Pembunuhan ?
Gila
>  Kerja ? Malas Kerja ? Semuanya membawa anda pada masalah yang menuju
> bencana , makro atau mikro! Tuhan bukan pembuat bencana untuk
> menyengsarakan , namun bencana memang dapat merupakan teguran/hukuman
> (sebagai isyarat) bagi anda akibat dari salah-memilih, melenceng atau
> menolak apa yang ditawarkan oleh Tuhan demi kebaikan kita sendiri.
>
> Atau ambil contoh tentang pembunuhan.
> Ini
>  merupakan pilihan manusia yang jelas amat salah, karena didorong
bahkan
>  dikuasai oleh kebencian dan dendam akan musuhnya. Ini bukan pilihan
> Tuhan, malahan sebaliknya, merupakan larangan Tuhan! Namun sipembunuh
> memilih penyelesaian perselisihan dengan cara kekerasan dan
pembunuhan,
> ketimbang berkomunikasi dan negosiasi dalam toleransi dan kasih.
Ketika
> pilihan menjadi semakin salah, jadilah ia seorang teroris atau pembom
> bunuh-diri yang bahkan siap membunuh orang-orang lain yang tidak
> bersalah dan bukan
> musuhnya. Ia memilih menjadi pembunuh kehidupan
> dan pembunuh peradaban! Tak ada satu apapun yang dia bangun melainkan
> kerusakan, mengatas namakan Tuhan atau perjuangan!
>
> Para teroris
> ini berdalih kosong bahwa mereka sedang mencetuskan perjuangan
berdarah
> dan mati-hidup membela tuhannya, demi menuju keadilan, kebaikan dan
> perdamaian. Namun Tuhan tidak menciptakan diriNya suatu
> “neraka-sementara” untuk menuju jalan kesurga.Tuhan
hanya menyajikan
> jalan yang lurus dengan menciptakan dunia yang baik saja sejak
awalnya.
> Ia bukan pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan yang dipilih dan
> yang dinafsui manusia. Tuhan bahkan memerintahkan prasyarat dari Anda
> dan saya untuk memasukkan pedang, bukan menghunusnya :
“Masukkan pedang
> itu kembali kedalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang,
> akan binasa oleh pedang”
>
> Ketidak-taatan akan Pencipta disebut dosa, sebuah kejahatan yang biasa
dienteng-entengkan manusia, namun sangat
> serius dimata Tuhan yang mahakudus, karena upahnya adalah
“maut”
> (kematian kekal).
> (a) Sebagaimana Adam berdosa, itu
> sekaligus berakibat (upah) hilangnya nikmat-firdaus, lalu terlempar
> dalam “kefanaan-dunia” berupa menderita sakit,
kesedihan, bencana dan
> kematian. Maka ketika kita memilih melanggar ketetapan Tuhan yang
baik,
> kitapun akan ditegur dan dihukum menurut waktu dan cara-Nya. Jadi
> kejahatan dan sengsara bukanlah substansi, melainkan
“akibat” ketiadaan
> sebuah substansi kebaikan! Bencana dan kesengsaraan dunia yang
> dilahirkan oleh kejahatan dosa adalah sebuah akibat, bukan sebab. Ia
> bukan substansi yang diciptakan , tetapi akibat salah-urus dan
> salah-pilih manusia atas free-will yang khusus dianugerahi Tuhan
> kepadanya.
>
> SEBERAPA PASRAH ANDA MENERIMA SEBUAH BENCANA ?
> Tatkala
>  manusia tertimpa “gempa” atau “ tsunami”,
besar atau kecil, mereka
> segera bereaksi luas, mulai dari menerima (nrimo) pasrah hingga
menolak
> marah sehebatnya atas bencana tersebut. Tetapi awas, bagaimana kita
> bereaksi terhadap bencana sangat menentukan masa depan kita ( post
> bencana ). Reaksi kepasrahan yang salah justru akan memicu bencana
> susulan dan melipatgandakan penderitaan. Maka pakailah free-will Anda
> untuk memilih reaksi yang benar dan yang paling konstruktif
(membangun) :
>
> •
>  Umumnya manusia mereaksi dengan memprotes manusia lainnya yang
dianggap
>  biang keladi terhadap musibah yang dideritanya, bahkan sampai
> mengkambing-hitamkan semua pihak lain. Mereka berteriak dan
memaki-maki
> dalam banyak cara, namun intinya berpusar pada egoisme dan pembenaran
> diri: ”Sialan itu wadam-wadam yang ngontrak dirumah
> sebelah, yang bikin mesum lingkumgan. Ayo kita berantas saja
mereka!” Maka jadilah kerusakan baru diatas kerusakan lama.
> •
>  Ada yang “pasrah” menyesalkan diri/ hancur hati karena
merasa bersalah
> dalam batinnya. Sebagian menganggap bencana tersebut sebagai akibat
> kealpaan atau kesalahan sendiri, sebagian lainnya berfirasat bahwa itu
> adalah peringatan, teguran atau penghukuman dari kuasa
> adikodrati/karma/Tuhan, namun hanya berhenti sampai disitu. Mereka
hanya
>  surut dan takut sesaat, namun tidak berkomit memperbaharui secara
> dramatis relasinya dengan sumber-kebaikan, yaitu Tuhan! Dengan
lewatnya
> sang waktu yang berjalan terus, maka bussines runs as usual, semua
> kembali keposisi yang sama.
> • Sebaliknya ada yang pasrah-mati, karena
>  merasa bencananya melebihi daya tahan dan daya guna hidupnya.
> Kelanjutan hidup adalah kosong dan sia-sia, terlanjur hancur dan tak
ada
>  yang bisa diapa-apakan lagi. Jenis pasrah ini berkata,” tidak
ada lagi
> harapan, tidak perlu lagi pertolongan. Buat
> apa....Biarlah.....biarlah......”. Inilah pasrah model Yudas
> sipengkhianat yang akhirnya membunuh dirinya sendiri destruktif.
> •
>  Ada yang pasrah-tobat dalam kehancuran hati; bukan semata memahami
> kelayakan bencana tersebut sebagai teguran/ penghukuman dari kuasa
> adikodrati (karma/Tuhan), namun mereka juga menyesalkan dirinya yang
> kotor dan keji dihadapan Tuhan, dan minta pengampunan kepada-Nya
sambil
> bertobat. Banyak sekali kasus orang-orang yang tertimpa bancana
akhirnya
>  mendapatkan pemulihan yang indah, batiniah dan lahiriah dari Tuhan,
> karena ia memilih jenis “pasrah-tobat” ini dengan
sungguh-sungguh
> bertobat dan minta pengampunan, serta mohon kekuatan pembaharuan dari
> Tuhan, demi komitmen hidup baru bersama Dia (lihat sub-bab terakhir).
> •
>  Dan terakhir, ada yang justru menyesalkan Tuhan dan menghujatNya
karena
>  tidak rela atas perlakuan Tuhan yang dianggap jaht, kejam, tidak
adil,
> dan sewenang-wenang....
> “Tuhan, mengapa Kau cabut nyawa orang-orang tak berdosa?
> ”Tetapi kenapa kami, Tuhan? Kenapa bukan para pejabat yang
korup?
> ”Apa salah dan dosa kami Tuhan, sehingga kami terus berkubang
dalam bencana?
> ”Aku benci semua, juga kepadaMu Tuhan...mengapa mengazab kami
tiada henti?
>
> Terus
>  terang, inilah pilihan reaksi yang paling bodoh dari manusia. Ini
> adalah tuduhan dan penghakiman yang kehilangan akal sehat. Alih-alih
mau
>  memprotes kepada manusia, ia mengalamatkannya kepada Tuhan yang tidak
> bersalah.Pilihan reaksi ini paling tidak berguna, namun yang justru
> paling disukai oleh para setan, karena Anda bisa dijeratnya lebih
> lanjut dengan menghujat Tuhan. Berhati-hatilah dan berhikmatlah!
>
> PASRAH “SIAPA TAHU”
> Ada
>  lagi pasrah yang bersifat apatis untung-untungan. Ini diilustrasikan
> dalam sebuah kisah rakyat Tiongkok di zaman lampau, berjudul The
Farmer and His Horse. Kisah ini secara unik melukiskan betapa suatu
musibah dapat saja
> terjadi dalam jalinan berkat dan kutuk. Ia menampilkan sebuah bayangan
> kuasa kosmis (dari langit) yang turut menatur musibah dan rejeki
manusia tanpa gejala.
>  “Di sebuah desa yang amat miskin,
> hiduplah seorang petani tua yang berbudi luhur, bersama istri dan
> satu-satunya anak lelakinya. Keluarga ini terhitung yang paling kaya
> didesanya. Sang petani tua memiliki apa yang menjadi status simbol
> disana, seekor kuda, jenis betina. Pada suatu hari, kuda itu terlepas
> dan lari masuk kedalam hutan yang lebat. Jelaslah ini suatu musibah
> besar bagi Pak-tua itu. Ini juga dirasakan sebagai musibah seluruh
desa. Maka datanglah penduduk berduyun-duyun untuk menyatakan simpati
dan
> penghiburannya (sebagai comforter) kepada Pak-tua yang malang.
> Tetapi aneh, yang kehilangan malahan tidak bersedih atau menyesali
diri. Ia malahan menghibur para penghibur yang bersedih: “Kita
lupakan saja
> itu. Kita bersyukur kepada Langit (maksudnya “Tuhan”)...
siapa tahu apa
> yang sekarang kelihatan seperti musibah, nanti diberkati menjadi
> keberuntungan...”. Para petani yang lain hanya bengong, tidak
dapat
> memahaminya.
>
> Pada suatu pagi --diluar dugaan-- sang kuda yang
> hilang ternyata pulang kerumah! Ia pulang tidak sendirian. Ia membawa
> seekor kuda liar jantan yang gagah perkasa! Benar juga, musibah
menjadi
> berkat. Dan para penduduk kembali berduyun-duyun datang, kali ini
untuk
> memberi selamat. Tetapi Pak-tua itu menyambut mereka dengan
wanti-wanti
> berkata : “Jangan tergesa-gesa! Nikmati keberuntungan, tetapi
jangan
> lupa daratan. Siapa tahu yang seolah-olah keberuntungan ini justru
bisa
> jadi bencana...”.
>
> Para petani yang polos dan sederhana tentu
> tidak bisa lagi mengikuti jalan pikiran Pak-tua. ”Jelas-jelas
kuda
> seekor, kini menjadi dua, kok bisa jadi bencana? Bencana dari siluman
> mana?”, demikian komentar mereka sambil geleng-geleng kepala...
> Kuda
> jantan itu masih liar. Ia perlu dijinakkan dulu untuk dapat
ditunggangi.
>  Putera tunggal dari Pak-tualah yang akan melatihnya. Tapi malang bagi
> sang putera, ia terlempar dari punggung kudas dan patahlah kakinya.
>
> Kembali
>  para petani semua mendatangi rumah Pak-tua. Mereka sedih menyaksikan
> kaki sang anak yang patah itu. Mereka memaki-maki sikuda:
> “Dasar kuda
>  jantan sialan!”. Tetapi kembali Pak-tua menghibur sambil
melarang
> mereka menyumpah: “Sudahlah, jangan maki, jangan sumpah, siapa
tahu yang
>  dikira bencana justru itulah keberuntungan. ”Wah! Kali ini
para petani
> mulai emosi dan gerutu kepada Pak-tua: ”Ini sih sudah tidak
benar lagi,
> sudah keterlaluan. Masak, kaki patah bisa jadi
keberuntungan...”
>
> Beberapa
>  waktu telah berlalu. Suatu saat diseluruh negeri timbul perang
saudara.
>  Anak-anak muda yang sehat dan tak bercacat semua-nya kena wajib
militer
>  dan harus maju kemedan perang. Anak sipetani tua walau berbadan
sehat,
> tetapi karena kakinya pincang, ia dibebaskan dari dinas militer. Dan
apa
>  jadinya? Ternyata semua teman-teman sedesanya yang berperang, mati
> semua tanpa kecuali....Sekali lagi: Siapa Tahu.”
> Kisah ini hanyalah
> sebuah pelipur lara. Apa yang salah dari kisah ini? Ia hanya
ditampilkan
>  dari salah satu sudut skenario kehidupan “siapa-tahu”
(alias
> untung-untungan secara kosmis) dari satu orang: Si pak tani tua. Ia
> tidak seharusnya mengosongkan kisah yang dapat memperlihatkan kenapa
> semua pemuda sekampungnya “tertakdir” dengan bencana
kematian.
> Jangan-jangan mereka semua begitu bejad sehingga mereka justru dihajar
> dengan alasan kosmis ”siapa tahu”!
>
> Jangan salah, kisah ini tidak menyimpulkan bahwa sehabis gelap ada
terang.
> Gelap
>  justru bisa makin kental bila dibiarkan mirip pasrah-mati seperti
yang
> diskenariokan itu! Namun paling tidak kisah tersebut mengajari kita
> bahwa ‘dalam kebaikan, ada (potensi) keburukannya. Moral yang
> ditonjolkan disitu mengajarkan ketabahan bagi yang menderita musibah
> (sekaligus memberi cermin tahu-diri bagi yang mendapat rejeki). Tetapi
> inti yang paling pokok dari kisah itu adalah adanya harapan baik yang
> masih tersedia dalam keadaan yang hampir mustahil sekalipun, jikalau
> kita mendapatkan SIAPA TAHU yang dimisterikan dalam kisah itu. Sebab
> hidup adalah sebuah perjalanan “siapa tahu“, yang
sesungguhnya sudah
> cukup diberi tahu oleh yang tahu, yaitu sang Penciptanya sendiri, yang
> sayang belum dikenal oleh sipetani tua tersebut.
>
> “SIAPA TAHU” ADALAH SOSOK YANG PALING TAHU!
> Kita
>  diberi refleksi batiniah bahwa setiap kejadian merupakan perjalanan
> yang diketahui dan diizinkan Tuhan Yang Maha Tahu. Kitab Suci juga
> menyaksikan bahwa segala sesuatu yang terjadi diatas jagat raya ini,
> tidak ada yang kebetulan, sebab tidak ada seujung rambut kita yang
boleh
>  gugur tanpa pengetahuan dan izin Tuhan kita yang Maha-Baik. Ia
berkata
> kepada kita: “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit?
> Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Tuhan,
bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut,
karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (b)
>
> Selengkapnya baca di sini
>
> http://buktidansaksi.com/2011/03/TUHAN-Inikah-Murka-Mu-dari-Langit-
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke