Refleksi : NKRI bukan diciptakan untuk mengangkat dan membawa masyarakat keluar 
dari kemiskinan, sebab kalau diciptakan untuk perubahan kebaikan masyarakat 
berarti  air bersih nan sehat sebagai kebutuhan utama manusia  bisa diperoleh 
dengan mudah nan murah.  Selain itu  harta kekayaan alam yang berlimpah-limpah 
yang diolah selama ini telah paling tidak, telah membuat angka kemiskinan 
menjadi nol atau mendekati nol, jadi  dengan lain kata tidak perlu mengirim 
warga berpendidikan rendah menjadi babu dan jonggos di tanah orang. 

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/03/212560/68/11/Siapa-Menanggung-Air-Minum-Masyarakat-Miskin


Siapa Menanggung Air Minum Masyarakat Miskin? 


Kamis, 24 Maret 2011 00:02 WIB      

Seiring dengan perayaan Hari Air Sedunia tanggal 22 Maret 2011 lalu, perlu 
sejenak kita merefleksikan seberapa jauh negara kita sudah mampu memberikan 
kebutuhan infrastruktur air bagi seluruh penduduknya. Salah satu indikator 
kapasitas pemerintah ialah dengan melihat besarnya pendanaan yang disediakan 
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Apakah anggaran itu cukup 
untuk memenuhi kebutuhan penduduk? 

Sangat sulit memperkirakan jumlah anggaran yang diperlukan untuk memenuhi 
kebutuhan 230 juta warga. Kondisi geografis, iklim, lokasi penduduk, jenis 
teknologi, dan kualitas sistem sangat bervariasi. Karena itu, yang bisa 
dilakukan ialah mencoba membandingkan besarnya anggaran dan tarif air yang 
berlaku, dibandingkan dengan pencapaian akses kebutuhan air minum. Kita juga 
dapat menyandingkan kondisi ini dengan kondisi dua negara lainnya, misalnya 
Malaysia dan Amerika Serikat, yang sudah mampu mencapai hampir 100% pemenuhan 
air penduduknya. 

Berdasarkan informasi National Geographic (2010), harga air per meter kubik di 
Kuala Lumpur hanya sekitar Rp2.500. Sementara di Amerika Serikat berkisar 
antara Rp7.800 dan Rp43.600, bergantung pada kondisi geografis yang memengaruhi 
tingkat kesulitan akses air. Harga air rata-rata di Jakarta sendiri 
diperkirakan sekitar Rp7.500. Bisa dilihat bahwa harga air di Kuala Lumpur jauh 
lebih murah bila dibandingkan dengan harga air Jakarta dan Amerika Serikat. 
Sementara itu, data dari Joint Monitoring Programme WHO 2008 menyebutkan, sejak 
1990 Indonesia hanya mampu meningkatkan pemenuhan air minum bagi penduduknya 
sebesar 9% dalam waktu 18 tahun, yaitu dari 71% pada 1990 menjadi 80% pada 
2008. Malaysia--yang pada 1990 baru memenuhi 88% kebutuhan minum 
penduduk--mengklaim sudah mencapai 100% pada 2005, yang berarti kenaikan 
sekitar 12% selama 15 tahun. Amerika Serikat tetap stabil sebesar 99% selama 
kurun waktu itu. Jika melihat kondisi ini, dengan kalkulasi harga air tersebut 
ditambah anggaran sarana air minum perumahan sebesar Rp3 triliun atau 0,4% dari 
APBN, pemerintah tampaknya belum bisa memenuhi kebutuhan air minum seluruh 
penduduk Indonesia, seperti yang dilakukan kedua negara lainnya. 

Sangat kompleks 
Apa yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat? 
Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan nasional air minum dan penyehatan 
lingkungan berbasis masyarakat (AMPL BM), yang berangkat dari kesadaran bahwa 
pemerintah tidak akan mampu bekerja sendirian dalam mengatasi permasalahan 
kebutuhan air minum yang sangat kompleks. Karena itu, masyarakat perlu berperan 
aktif agar mampu mengatasi permasalahan air ini dan pemerintah berperan sebagai 
fasilitator. 

Pertanyaannya, apakah masyarakat memang dianggap sudah mampu berinvestasi bagi 
sistem pemenuhan kebutuhan air minum yang membutuhkan biaya tidak kecil? 
Bagaimana dengan masyarakat miskin yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan 
sehari-hari saja sulit? Apalagi salah satu dari 11 prinsip dalam kebijakan AMPL 
BM adalah keberpihakan kepada masyarakat miskin. Untuk menjawab pertanyaan itu, 
mari kita melihat realitas masyarakat miskin di perkotaan yang belum mampu 
mengakses PDAM, seperti daerah perkotaan Jakarta dan Surabaya. Harga air yang 
mereka harus beli sekitar Rp1.000 sampai Rp1.500 per galon atau kira-kira 
Rp50.000 sampai dengan Rp75.000 per meter kubik. Ada juga sistem penyelangan 
dari keran tetangga yang dipatok sebesar Rp8.000 per jam. Coba bandingkan 
dengan iuran PAM Jaya dan Palyja (2007) di Jakarta untuk golongan IV B atau 
rumah mewah yang sekitar Rp12.550 per meter kubik. 

Dengan demikian, masyarakat miskin sebenarnya justru membayar lebih mahal 
daripada para pengguna PDAM. Hanya saja, besar investasi awal untuk pemasangan 
sambungan PDAM yang cukup mahal, status tempat tinggal, dan kependudukan 
membuat mereka tidak dapat mengakses jaringan PDAM. Kita juga bisa melihat 
bagaimana penjualan air kemasan begitu laku di pasaran, dengan harga per galon 
(19 liter) hampir setara dengan iuran PDAM per meter kubik (1.000 liter) untuk 
rumah mewah. Padahal, menurut standar WHO, air kemasan termasuk sumber air 
tidak layak minum (unimproved water source) karena belum jelasnya pengawasan 
kualitas air minum kemasan tersebut. Dengan kenyataan seperti ini, lagi-lagi 
pertanyaannya, di mana keberpihakan terhadap masyarakat miskin itu bisa terjadi 
dalam sektor air minum? 

Memusingkan 
Dilema antara mengatasi biaya air minum yang besar dan keberpihakan kepada 
masyarakat memang cukup memusingkan, bahkan sering dijadikan isu politik. 
Sering kali keputusan mengenai harga air ledeng ataupun alokasi anggaran air 
minum tidak berdasarkan kebutuhan riil, tapi lebih sebagai senjata untuk 
menarik simpati masyarakat. 

Pengelola air minum pun tidak sanggup melakukan fungsinya dengan baik karena 
minimnya biaya, sehingga masyarakat juga yang kembali menjadi korban disebabkan 
kurang optimalnya akses dan pengolahan mutu air minum. Risiko kesehatan, 
seperti penyakit menular lewat air, menurunnya stamina tubuh seperti ginjal, 
kulit, serta bahaya kontaminasi limbah menjadi beban yang ditanggung masyarakat 
akibat sistem manajemen air minum yang tidak merata dan terpelihara. Karena 
itu, harus segera dipikirkan pemecahan masalah pembiayaan ini. Jika selama ini 
pemerintah menggantungkan diri kepada hibah dan pajak untuk investasi awal, 
sekarang perlu juga mengakses alternatif sumber lainnya, seperti melibatkan 
sektor swasta maupun publik dalam bentuk saham, obligasi dan pinjaman. Akan 
tetapi, ada kekhawatiran berbagai pihak, jika swasta mulai dilibatkan dalam 
pengadaan air minum, harga air bisa melambung tinggi untuk mendapatkan laba 
usaha, seperti contoh kasus air minum kemasan tersebut. 

Akhirnya, semuanya berpulang lagi kepada kemampuan pemerintah dan masyarakat 
untuk melakukan pengendalian terhadap harga air minum melalui kebijakan dari 
tingkat lokal sampai dengan tingkat nasional. Yang perlu diingat, air minum 
adalah anugerah Tuhan yang berhak diakses setiap makhluk hidup (barang sosial). 
Namun, perlindungan dan pengolahan sumber air minum yang layak bagi kesehatan, 
jaringan distribusi dari sumber ke konsumen, serta pengolahan limbah air yang 
sudah digunakan agar tidak mencemari sumber yang ada membutuhkan biaya yang 
tidak kecil, mau tidak mau air menjadi barang ekonomi juga. Sebagai pengguna, 
baik masyarakat maupun pemerintah, kita semua perlu menyadari bahwa 
bagaimanapun kita harus mau menanggung bersama harga air demi keberlangsungan 
hidup kita dan anak-anak. 

Oleh Margarettha Christine Siregar, Staf organisasi kemanusiaan World Vision 
Indonesia dengan spesialisasi di bidang water, sanitation and hygiene (Wash)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke