Hihihi.... si Abu Sufyan itu kan sebetulnya bermuka dua. Dia masuk Islam krn 
disuruh milih, dibunuh atau masuk Islam. Lalu dia masuk Islam.

Tp lihat aja akhirnya, anak si Abu Sufyan ngebantai habis turunan Muhammad, 
sampe si Husein dipotong kepalanya dan ditancapkan ke tombak.

Dr sini kita tahu gimana hubungan Abu Sufyan dgn Muhammad, heheheh.....





________________________________
From: Tawangalun <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, March 28, 2011 1:36:47 PM
Subject: [proletar] Diskusi Heraclius dg Abu Sofyan sebelum Islam.

   
Telah menceritakan kepada kami (Abu Al-Yaman Al-Hakam bin Nafi') dia berkata, 
telah mengabarkan kepadaku (Syu'aib) dari (Az-Zuhri) telah mengabarkan kepadaku 
(Ubaidullah bin Abdullah bin `Utbah bin Mas'ud) bahwa (Abdullah bin `Abbas) 
telah mengabarkan kepadanya bahwa (Abu Sufyan bin Harb) telah mengabarkan 
kepadanya: bahwa Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang 
mengadakan ekspedisi dagang ke negeri syam pada saat berlakunya perjanjian 
antara Nabi Sallallahu'alaihi wa sallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir 
Quraisy. Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius atas undangan 
heraclius 
untuk diajak dialog di majelisnya, yang saat itu heraclius bersama dengan para 
pembesar negeri-negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka melalui 
penerjemah. Heraclius berkata; Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan 
keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata; 
Maka aku menjawab; Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan 
dia". Heraclius berkata; Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya." 
Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy dibelakang Abu Sufyan. Lalu 
Heraclius 
berkata melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya 
tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku, maka 
kalian harus mendustakannya. "Demi Allah, jika bukan karena rasa malu akibat 
tudingan pendusta yang mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta 
kepadanya." Abu Sufyan berkata: Maka yang ditanyakan kepadaku tentangnya (Nabi 
Shallallahu `alaihi wa sallam) adalah: "Bagaimana kedudukan nasabnya 
ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan baik-baik 
(bangsawan)". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang mengatakannya sebelum 
dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah bapaknya seorang raja?" 
Jawabku: "Bukan".  Apakah yang mengikuti dia orang-orang terpandang atau 
bukan?" 
Jawabku: "Bahkan orang-orang yang mengikuti dia adalah orang-orang yang 
rendah". 
Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: 
"Bertambah".  Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol 
terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada".  Dia bertanya lagi: "Apakah kalian 
pernah mendapakannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang 
dikatakannya 
itu?" Aku jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku 
curang?" Aku jawab: "Tidak pernah". Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak 
pernah melakukan itu". Berkata Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan 
selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" 
Aku 
jawab: "Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku 
jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan 
kami 
terkadang kami mengalahkan dia". Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya 
kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami: `Sembahlah Allah dengan tidak 
menyukutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan nenek 
moyang kalian. `Dia juga memerintahkan mengerjakan shalat, menunaikan zakat, 
berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturahim". Maka heraclius 
berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya bahwa aku telah berkata 
kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari 
keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan ditengah keturunan 
kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang 
mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya yang 
dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini 
meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga 
kepadamu apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, kamu jawab tidak. Aku 
katakan seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang 
menuntut 
kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan kepadamu apakah kalian pernahmendapatkan 
dia 
berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya 
tidak. 
Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta 
apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah 
yang 
mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang rendah?" Kamu 
menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang 
menjadi pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah bertambah 
bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawab bertambah. Dan memang 
begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya 
kepadamu 
apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak 
ada. Dan memang begitulah perkara iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam 
hati. Aku juga telah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu 
jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan 
aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu 
jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyukutukannya 
dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga 
memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, 
saling memaafkan dan menyambung silaturahim. Seandainya semua apa yang kamu 
katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku 
ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang 
ini, 
seandainya aku tahu jalan untuk menemuinya, tentu aku akan berusaha keras 
menemuinya hingga bila aku sudah berada disisinya pasti akan aku basuh kedua 
kakinya. Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu `alaihi wa 
sallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para penguasa negeri Bashrah, maka 
diberikan suratnya itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: 
"Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk 
Heraclius. Penguasa Romawi, keselamtan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. 
Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam; masuk Islamlah kamu, 
maka kamu akan selamat, Allah akan memberimu pahala dua kali. Namun jika kamu 
berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyatmu, dan Hai ahli kitab, marilah 
berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara 
kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita 
persekutukan 
Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian 
yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah 
kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri 
(kepada Allah)." Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa 
yang 
dikatakannya dan membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara 
ribut, sehingga mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami 
diusir keluar; "Sungguh dia telah diajak kepada urusan anak Abu Kabsyah. 
Heraclius mengkhawatirkan kerajaan Romawi." Pada masa itupun aku juga khawatir 
Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang) setelah Allah 
memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah Ibnu An-Nazhur, seorang pembesar 
Iliya' dan Heraclius adalah seorang uskup agama nasrani, dia menceritakan bahwa 
pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya'dia sangat gelisah, berkata 
sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari keadaanmu. Selanjutnya 
kata Ibnu An-Nazhur. "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang selalu 
memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para 
pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati 
perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja khitan telah lahir, siapakah 
diantara umat ini yang dikhitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah 
orang-orang yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang yahudi itu. 
Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang 
yahudi 
di negeri tersebut dibunuh." Ketika itu dihadapkan kepada Heraclius utusan Bani 
Ghassan untuk menceritakan perihal Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, 
setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia 
diperiksa, apakah dia berkhitan atau tidak. Seusai diperiksa ternyata memang 
dia 
berkhitan. Lalu diberitahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada 
orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, dikhitankah mereka atau 
tidak?" Dia menjawab: "Orang Arab itu dikhitan semua." Heraclius berkata: 
"Inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian Heraclius 
berkirim surat kepada sahabatnya di Roma yang ilmunya setaraf dengan Heraclius 
(untuk menceritakan perihal Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam). 
Sementara itu ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba 
di Himsha, balasan surat itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu 
menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau 
memang 
seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang 
ditempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir di majelisnya, Heraclius 
memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata, wahai bangsa 
Rum, maukah anda beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, 
sedangkan 
kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau akuilah Muhammad sebagai Nabi!." 
Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu 
telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi putus harapan 
yang 
mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad). Lalu diperintahkannya 
semuanya untuk kembali ketempatnya masing-masing seraya berkata; "Sesungguhnya 
saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji ketehuhan hati 
kalian semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di 
hadapan Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah 
Heraclius. Telah diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari 
Az-Zuhri (HR. Bukhari)

Shalom,
Tawangalun.

N.B.Diskusi tsb ketika Abu Sofyan(paman nabi) masih sebagai musuh Nabi,tapi 
akirnya orang tsb bisa berubah menjadi sahabat,bahkan Muawiyah akirnya diangkat 
sebagai Khalifah.


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke