Refl: Bagus atau buruk penjualan manusia? Kalau bagus silahkan percaya pada 
kaum berkuasa dan rezim mereka, kalau buruk apa yang harus dilakukan?

http://us.detiknews.com/read/2011/03/27/003144/1602017/10/kisah-mbah-wiji-yang-dijual-agen-prt-ke-malaysia

Minggu, 27/03/2011 00:31 WIB

Laporan dari Kuala Lumpur
Kisah Mbah Wiji yang Dijual Agen PRT ke Malaysia  
Hery Winarno - detikNews





foto: Hery/detikcom 


"Kapok mas, saya sudah tidak pengen lagi ke sini, saya mau di rumah saja. Saya 
juga mau laporkan ke polisi pak Ambu yang sudah ngajak saya ke Malaysia. Saya 
jadi sengsara di sini,beda sama janjinya dulu," imbuhnya.Kuala Lumpur - 
Mengulas nasib buruk TKW yang berada di negeri Malaysia seolah tak ada 
habisnya. Namun persoalan TKW tidak sekadar disebabkan kekerasan maupun gaji 
yang tidak dibayar oleh majikannya. Beberapa agen nakal pun tega melakukan 
penipuan kepada TKW.

Inilah yang dialami oleh Sudarwiji atau yang biasa disebut Mbah Wiji. Nenek 
berusia 55 tahun tidak menyangka bila dirinya ternyata telah dijual agen yang 
mengirimnya ke Malaysia.

"Saya sudah kerja di rumah majikan 6 bulan, tapi kalau saya minta gaji tidak 
dikasih. Katanya majikan, dia sudah beli saya 8500 ringgit ke agen. Saya 
disuruh kerja 2 tahun," ujar Wiji kepada detikcom di Rumah Kita, Jl Tun Rajak, 
Kuala Lumpur Malaysia, Sabtu (26/3/2011).

Semula TKW asal Kediri, Jawa Timur ini tidak percaya bahwa ia telah dijual oleh 
Agen yang membawa ke Malaysia. Namun setelah berada di penampungan Rumah Kita, 
ia baru diberitahu teman-teman lainnya bahwa ia telah dijual. Modus yang sama 
juga menimpa TKW lainnya.

"Sayakan sudah tua, mosok masih payu (laku). Ya saya tidak percaya, tapi kok 
katanya yang kaya saya ini banyak. Saya dijual jadi pembantu sama agen," terang 
Wiji.

Awal kedatangan Wiji ke Malaysia karena diajak oleh seseorang bernama Pak Ambu, 
yang merupakan tetangga desanya. Wiji dijanjikan akan bekerja di Malaysia 
sebagai PRT dengan upah 5000 sampai 6000 ringgit perbulan.

"Saya sudah sakit-sakitan, tangan saya sering mati rasa, tapi kalau minta 
pulang ke Indonesia dibilang, saya harus bayar 8500 Ringgit. Karena majikan 
saya bayar saya segitu untuk dua tahun. saya sudah tidak kuat lagi kerja," 
tutur Wiji sambil mengelus dadanya.

Proses kedatangannya ke Malaysia pun terhitung menyedihkan. Bila TKW berangkat 
dengan menggunakan pesawat terbang, Wiji harus rela dengan menggunakan kapal 
laut. Wiji semula diberangkatkan dari Surabaya menuju Medan, Sumatera Utara. 
Setelah itu, Wiji kembali melanjutkan perjalan ke Malaysia dengan menggunakan 
kapal laut dari Batam.

Oleh seseorang yang mengajaknya ke Malaysia, semua data diri dirubah termasuk 
umurnya dipalsukan menjadi 48 tahun. Proses pembuatan foto untuk paspor juga 
dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

"Waktu di kapal, saya juga disuruh pura-pura tidak kenal saya yang ngajak saya. 
Saya cuma disuruh diam saja di bawah, saya nurut saja, soalnya katanya harus 
begitu," kenang Wiji saat mulai meninggalkan tanah air.

Agen yang membawa Wiji kemudian menulis sebuah alamat di secarik kertas. Sang 
Agen berpesan, bila telah sampai di Malaysia dan ditanya petugas, Wiji diminta 
mengaku akan menjenguk anaknya yang telah bekerja dan mempunyai istri warga 
Malaysia.

"Tapi pas ditanya petugas Malaysia, saya bingung karena petugas nanya siapa 
nama anak saya dan istrinya. Saya tidak bisa jawab dan mau nangis karena saya 
tidak dikasih tahu siapa nama anak saya dan istrinya, saya cuma ngasih kertas 
alamat saja," kenang mbah Wiji sambil menitikan air mata.

Saat dirinya dimintai keterangan oleh petugas imigrasi Malaysia, agen yang 
membawa tidak diketahui dimana. Wiji pun tidak bisa berbuat banyak selain 
meminta belas kasihan kepada petugas, bahwa ia mau ke Malaysia untuk menemui 
anaknya.

Dengan berbekal paspor kunjungan, akhirnya petugas tersebut meloloskan Wiji. 
Setelah lolos, baru agen yang membawanya tersebut menghampirinya dan 
mengajaknya ke Kuala Lumpur.

"Saya disuruh diam, saya cuma dikasih roti tawar. Terus saya ditempatkan di 
rumah majikan," kenang Wiji.

Namun setelah di rumah majikan, nasib baik pun tak mengunjungi Wiji. Makian dan 
kekerasan kerap ia terima dari keluarga sang majikan. Bahkan dalam sehari, Wiji 
mengaku hanya diberi jatah makan satu kali, saat makan siang.

"Saya sudah putus asa, sudah pengen bunuh diri terus, karena minta pulang tidak 
dikasih. Tangan saya  ini kalau kerja sering sakit, tapi majikan tidak percaya 
terus, saya cuma bisa nangis sambil berdoa. Wolo-wolo kuato gusti Allah," sebut 
Wiji.

Hingga suatu siang, Wiji diajak majikannya lalu diturunkan di sebuah tempat. 
Wiji dibuang begitu saja di tengah belantara kota Kuala Lumpur.

"Saya ditinggal jam 11.00 siang, saya bingung tidak tahu mesti kemana. Saya 
cuma jalan terus saja, tidak tahu kemana. Terus saya ketemu perempuan yang 
kasihan sama saya karena saya jalan sambil nangis. Saya terus dianterin ke sini 
(KBRI), sampai sini jam 8 malam," kenang Wiji.

Kini Wiji sudah berada di Rumah Kita, penampungan sementara bagi para TKW. Wiji 
dan 40 rekan lainnya saat ini sedang menunggu putusan dari Jabatan Mahkamah 
Tenaga Kerja Malaysia. Wiji, melalui KBRI sedang menuntut gaji yang merupakan 
haknya selama bekerja di rumah sang majikan.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke