Orang makan orang nT bingung @mBoong?

Bbrp hari yl ada yang kisah mengenai sarapan
pagi orang (super) kaya dan yang biasa. Kalau
yang biasa, sarapannya ya biasa, kalau yang
(super) kaya sarapannya ya biasa, skala
masing-masing. Nyantap perusahaan di
meja sarapan.

nT (nDeboost dll) ga bisa spt sekarang kalau
(juga) ga makan orang miskin. Apalagi negara-
negara yg sekarang maju. Nenek moyang mereka
dulu juga makan orang. Amerika makan Indian
dan budak, Belanda makan Indonesia dsb. dst.

Makanya kalau kamu ga percaya yang mbesok ada
hisab, artinya nT  nyokong praktek gini.

--- In [email protected], "sunny" <ambon@...> wrote:
>
> Refl: Bagus atau buruk penjualan manusia? Kalau bagus silahkan percaya
pada kaum berkuasa dan rezim mereka, kalau buruk apa yang harus
dilakukan?
>
>
http://us.detiknews.com/read/2011/03/27/003144/1602017/10/kisah-mbah-wij\
i-yang-dijual-agen-prt-ke-malaysia
>
> Minggu, 27/03/2011 00:31 WIB
>
> Laporan dari Kuala Lumpur
> Kisah Mbah Wiji yang Dijual Agen PRT ke Malaysia
> Hery Winarno - detikNews
>
>
>
>
>
> foto: Hery/detikcom
>
>
> "Kapok mas, saya sudah tidak pengen lagi ke sini, saya mau di rumah
saja. Saya juga mau laporkan ke polisi pak Ambu yang sudah ngajak saya
ke Malaysia. Saya jadi sengsara di sini,beda sama janjinya dulu,"
imbuhnya.Kuala Lumpur - Mengulas nasib buruk TKW yang berada di negeri
Malaysia seolah tak ada habisnya. Namun persoalan TKW tidak sekadar
disebabkan kekerasan maupun gaji yang tidak dibayar oleh majikannya.
Beberapa agen nakal pun tega melakukan penipuan kepada TKW.
>
> Inilah yang dialami oleh Sudarwiji atau yang biasa disebut Mbah Wiji.
Nenek berusia 55 tahun tidak menyangka bila dirinya ternyata telah
dijual agen yang mengirimnya ke Malaysia.
>
> "Saya sudah kerja di rumah majikan 6 bulan, tapi kalau saya minta gaji
tidak dikasih. Katanya majikan, dia sudah beli saya 8500 ringgit ke
agen. Saya disuruh kerja 2 tahun," ujar Wiji kepada detikcom di Rumah
Kita, Jl Tun Rajak, Kuala Lumpur Malaysia, Sabtu (26/3/2011).
>
> Semula TKW asal Kediri, Jawa Timur ini tidak percaya bahwa ia telah
dijual oleh Agen yang membawa ke Malaysia. Namun setelah berada di
penampungan Rumah Kita, ia baru diberitahu teman-teman lainnya bahwa ia
telah dijual. Modus yang sama juga menimpa TKW lainnya.
>
> "Sayakan sudah tua, mosok masih payu (laku). Ya saya tidak percaya,
tapi kok katanya yang kaya saya ini banyak. Saya dijual jadi pembantu
sama agen," terang Wiji.
>
> Awal kedatangan Wiji ke Malaysia karena diajak oleh seseorang bernama
Pak Ambu, yang merupakan tetangga desanya. Wiji dijanjikan akan bekerja
di Malaysia sebagai PRT dengan upah 5000 sampai 6000 ringgit perbulan.
>
> "Saya sudah sakit-sakitan, tangan saya sering mati rasa, tapi kalau
minta pulang ke Indonesia dibilang, saya harus bayar 8500 Ringgit.
Karena majikan saya bayar saya segitu untuk dua tahun. saya sudah tidak
kuat lagi kerja," tutur Wiji sambil mengelus dadanya.
>
> Proses kedatangannya ke Malaysia pun terhitung menyedihkan. Bila TKW
berangkat dengan menggunakan pesawat terbang, Wiji harus rela dengan
menggunakan kapal laut. Wiji semula diberangkatkan dari Surabaya menuju
Medan, Sumatera Utara. Setelah itu, Wiji kembali melanjutkan perjalan ke
Malaysia dengan menggunakan kapal laut dari Batam.
>
> Oleh seseorang yang mengajaknya ke Malaysia, semua data diri dirubah
termasuk umurnya dipalsukan menjadi 48 tahun. Proses pembuatan foto
untuk paspor juga dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
>
> "Waktu di kapal, saya juga disuruh pura-pura tidak kenal saya yang
ngajak saya. Saya cuma disuruh diam saja di bawah, saya nurut saja,
soalnya katanya harus begitu," kenang Wiji saat mulai meninggalkan tanah
air.
>
> Agen yang membawa Wiji kemudian menulis sebuah alamat di secarik
kertas. Sang Agen berpesan, bila telah sampai di Malaysia dan ditanya
petugas, Wiji diminta mengaku akan menjenguk anaknya yang telah bekerja
dan mempunyai istri warga Malaysia.
>
> "Tapi pas ditanya petugas Malaysia, saya bingung karena petugas nanya
siapa nama anak saya dan istrinya. Saya tidak bisa jawab dan mau nangis
karena saya tidak dikasih tahu siapa nama anak saya dan istrinya, saya
cuma ngasih kertas alamat saja," kenang mbah Wiji sambil menitikan air
mata.
>
> Saat dirinya dimintai keterangan oleh petugas imigrasi Malaysia, agen
yang membawa tidak diketahui dimana. Wiji pun tidak bisa berbuat banyak
selain meminta belas kasihan kepada petugas, bahwa ia mau ke Malaysia
untuk menemui anaknya.
>
> Dengan berbekal paspor kunjungan, akhirnya petugas tersebut meloloskan
Wiji. Setelah lolos, baru agen yang membawanya tersebut menghampirinya
dan mengajaknya ke Kuala Lumpur.
>
> "Saya disuruh diam, saya cuma dikasih roti tawar. Terus saya
ditempatkan di rumah majikan," kenang Wiji.
>
> Namun setelah di rumah majikan, nasib baik pun tak mengunjungi Wiji.
Makian dan kekerasan kerap ia terima dari keluarga sang majikan. Bahkan
dalam sehari, Wiji mengaku hanya diberi jatah makan satu kali, saat
makan siang.
>
> "Saya sudah putus asa, sudah pengen bunuh diri terus, karena minta
pulang tidak dikasih. Tangan saya  ini kalau kerja sering sakit, tapi
majikan tidak percaya terus, saya cuma bisa nangis sambil berdoa.
Wolo-wolo kuato gusti Allah," sebut Wiji.
>
> Hingga suatu siang, Wiji diajak majikannya lalu diturunkan di sebuah
tempat. Wiji dibuang begitu saja di tengah belantara kota Kuala Lumpur.
>
> "Saya ditinggal jam 11.00 siang, saya bingung tidak tahu mesti kemana.
Saya cuma jalan terus saja, tidak tahu kemana. Terus saya ketemu
perempuan yang kasihan sama saya karena saya jalan sambil nangis. Saya
terus dianterin ke sini (KBRI), sampai sini jam 8 malam," kenang Wiji.
>
> Kini Wiji sudah berada di Rumah Kita, penampungan sementara bagi para
TKW. Wiji dan 40 rekan lainnya saat ini sedang menunggu putusan dari
Jabatan Mahkamah Tenaga Kerja Malaysia. Wiji, melalui KBRI sedang
menuntut gaji yang merupakan haknya selama bekerja di rumah sang
majikan.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke