Sumber: 
http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150110764003067#!/notes/zaki-hussein/imperialisme-dan-ngo-di-amerika-latin/10150156390548343



Imperialisme dan NGO di Amerika Latin*

by Zaki Hussein on Saturday, 12 March 2011 at 19:44

Oleh: James Petras

Pada awal tahun 1980-an, sebagian dari kelas berkuasa neoliberal yang lebih 
pandai, menyadari bahwa kebijakan mereka mengakibatkan polarisasi masyarakat 
dan 
memicu ketidakpuasan sosial berskala-besar. Para politisi neoliberal mulai 
membiayai dan memajukan strategi "dari bawah" yang berjalan seiring dengan 
kebijakan neoliberal mereka, yaitu strategi memajukan organisasi "akar rumput" 
dengan ideologi "anti-negara" untuk mengintervensi kelas-kelas yang secara 
potensial bertentangan demi menciptakan sebuah "bantalan sosial." 
Organisasi-organisasi ini secara keuangan bergantung pada sumber-sumber 
neoliberal dan terlibat langsung dalam persaingan dengan gerakan sosial-politik 
untuk memenangkan kesadaran para pimpinan lokal dan aktivis komunitas. Pada 
tahun 1990-an, organisasi-organisasi ini, yang disebut "non-pemerintah," 
berjumlah ribuan dan menerima hampir empat miliar dolar di seluruh dunia.

Neoliberalisme dan NGO

Kebingungan mengenai karakter politik dari organisasi non-pemerintah (NGO) 
muncul dari sejarah mereka yang sebelumnya di tahun 1970-an, selama masa 
kediktatoran. Pada periode ini, mereka aktif memberikan dukungan kemanusiaan 
kepada korban-korban kediktatoran militer dan mengutuk pelanggaran hak asasi 
manusia. NGO menyediakan "dapur umum" yang memungkinkan keluarga korban 
bertahan 
dalam gempuran gelombang pertama yang dilakukan kediktatoran neoliberal. 
Periode 
ini menghasilkan citra baik bagi NGO, bahkan di antara kaum kiri. Mereka 
dianggap sebagai bagian dari "kubu progresif."

Meskipun demikian, bahkan pada saat itu, keterbatasan NGO sudah terlihat jelas. 
Sementara mereka menyerang pelanggaran hak asasi manusia oleh kediktatoran 
lokal, mereka jarang mengutuk patron-patron Amerika dan Eropa yang membiayai 
dan 
memberikan saran kepada mereka. Juga tidak terdapat upaya yang serius untuk 
menghubungkan kebijakan ekonomi neoliberal dan pelanggaran hak asasi manusia 
dengan peralihan baru dalam sistem imperialis. Jelas bahwa sumber keuangan 
mereka yang berasal dari luar, membatasi kritik dan tindakan hak asasi manusia 
mereka.

Oposisi terhadap neoliberalisme tumbuh pada awal tahun 1980-an, sementara 
pemerintah Amerika dan Eropa serta Bank Dunia meningkatkan pembiayaan mereka 
untuk NGO. Terdapat hubungan langsung antara pertumbuhan gerakan sosial yang 
menentang model neoliberal dan upaya untuk merusak mereka dengan menciptakan 
bentuk-bentuk aksi sosial alternatif melalui NGO. Titik pertemuan dasar di 
antara NGO dan Bank Dunia adalah mereka sama-sama menentang "peran negara" 
(statism). Di permukaan, NGO mengkritik negara dari perspektif "kiri" untuk 
membela masyarakat sipil, sementara kaum kanan melakukannya atas nama pasar. 
Walau demikian, dalam kenyataannya, Bank Dunia, rezim-rezim neoliberal, dan 
yayasan-yayasan barat mengkooptasi dan mendorong NGO untuk menggerogoti negara 
kesejahteraan nasional dengan menyediakan pelayanan sosial sebagai kompensasi 
bagi korban perusahaan multi-nasional (MNC). Dengan kata lain, ketika rezim 
neoliberal menghancurkan komunitas dari atas dengan membanjiri negara dengan 
barang-barang impor murah; mengambil uang pembayaran utang luar negeri; 
menghapus peraturan yang melindungi buruh, dan memperbanyak pengangguran serta 
buruh berupah murah, NGO dibiayai untuk menyediakan proyek-proyek "swa-bantu" 
(self-help), "pendidikan populer," dan pelatihan kerja, untuk menyerap 
sementara 
sejumlah kecil kaum miskin, mengkooptasi pimpinan-pimpinan lokal, dan merusak 
perjuangan anti-sistem.

NGO menjadi "tampilan komunitas" dari neoliberalisme, terkait erat dengan 
mereka 
yang ada di atas, dan melengkapi kerja destruktif mereka dengan proyek-proyek 
lokal. Intinya, kaum neoliberal mengorganisir operasi "penjepitan" atau 
strategi 
ganda. Naasnya, banyak dari kaum kiri hanya memfokuskan perjuangan pada 
"neoliberalisme" dari atas dan luar negeri (Dana Moneter Internasional, Bank 
Dunia) dan bukan pada neoliberalisme dari bawah (NGO, usaha mikro). Alasan 
utama 
dari kekhilafan ini adalah karena banyak mantan-Marxis yang beralih ke rumusan 
dan praktek NGO. Anti-peran negara adalah tiket perjalanan ideologis dari 
politik kelas ke "pemberdayaan masyarakat" (community development), dari 
Marxisme ke NGO.

Biasanya, para ideolog NGO mempertentangkan kekuasaan "negara" dengan kekuasaan 
"lokal." Mereka menyatakan, kekuasaan negara jauh dari warga negaranya, mandiri 
dan sewenang-wenang, serta cenderung mengembangkan kepentingan yang berbeda dan 
bertentangan dengan kepentingan warga negaranya, sementara kekuasaan lokal 
pasti 
lebih dekat dan responsif terhadap rakyat. Namun, terlepas dari kasus-kasus 
sejarah di mana yang kebalikannya juga benar, paham di atas mengabaikan 
hubungan 
penting antara negara dengan kekuasaan lokal―kebenaran sederhana bahwa 
kekuasaan 
negara yang digunakan oleh kelas penghisap akan menghancurkan inisiatif lokal 
yang progresif, sementara kekuasaan yang sama di tangan kekuatan progresif akan 
memperkuat inisiatif-inisiatif seperti itu.

Wacana pertentangan negara dengan kekuasaan lokal itu digunakan untuk 
membenarkan peran NGO sebagai broker di antara organisasi-organisasi lokal, 
donatur asing neoliberal (Bank Dunia, Eropa, atau Amerika Serikat) dan rezim 
pasar bebas lokal. Namun, dampaknya adalah untuk memperkuat rezim neoliberal 
dengan memutus hubungan antara perjuangan lokal dengan gerakan politik 
nasional/internasional. Penekanan pada "aktivitas lokal" menguntungkan rezim 
neoliberal karena hal itu memungkinkan para pendukung asing dan dalam negeri 
mereka untuk mendominasi kebijakan sosial-ekonomi-makro serta menyalurkan 
sebagian besar sumberdaya negara untuk mensubsidi para eksportir kapitalis dan 
institusi keuangan.

Jadi, sementara kaum neoliberal mentransfer kekayaan negara kepada pihak swasta 
yang kaya, NGO tidak menjadi bagian dari perlawanan serikat buruh. Sebaliknya, 
mereka aktif dalam proyek-proyek swasta lokal, memajukan wacana wirausaha 
(swa-bantu) di komunitas-komunitas lokal dengan memfokuskan diri pada 
usaha-mikro (micro-enterprises). NGO membangun jembatan ideologi antara 
kapitalis berskala kecil dengan monopoli yang mendapat untung dari 
privatisasi―semua atas nama "anti-peran negara" dan pembangunan masyarakat 
sipil. Sementara kaum kaya mengakumulasi kerajaan uang yang amat luas dari 
privatisasi, NGO yang berasal dari kelas menengah profesional memperoleh jumlah 
yang kecil untuk membiayai kantor mereka, transportasi, dan aktivitas ekonomi 
berskala-kecil.

Persoalan politik yang penting di sini adalah bahwa NGO mendepolitisasi 
sektor-sektor dalam masyarakat, menghancurkan komitmen mereka terhadap 
pekerjaan 
publik, dan mengkooptasi pimpinan-pimpinan potensial dalam proyek-proyek kecil. 
NGO tidak terlibat dalam perjuangan guru sekolah negeri, ketika rezim 
neoliberal 
menyerang pendidik dan pendidikan publik. Jarang, apabila pernah terjadi, NGO 
mendukung pemogokan dan protes terhadap upah murah serta pemotongan anggaran. 
Karena dana pendidikan mereka datang dari pemerintah neoliberal, mereka 
menghindari solidaritas dengan para pendidik publik yang sedang berjuang. Dalam 
prakteknya, "non-pemerintah" bermakna aktivitas anti-belanja-publik, 
membebaskan 
sejumlah besar dana bagi kaum neoliberal untuk mensubsidi para eksportir 
kapitalis, sementara sejumlah kecil dana menetes dari pemerintah untuk NGO.

Pada kenyataannya, organisasi non-pemerintah tidaklah non-pemerintah. Mereka 
menerima dana dari pemerintah negara asing atau bekerja sebagai subkontraktor 
dari pemerintah lokal. Seringkali mereka secara terbuka berkolaborasi dengan 
agen-agen pemerintah di dalam atau luar negeri. Tindakan "subkontrak" ini 
menghancurkan para profesional dengan kontrak tetap, menggantikan mereka dengan 
profesional tidak tetap. NGO tidak dapat menyediakan program jangka panjang 
yang 
komprehensif seperti yang disediakan oleh negara kesejahteraan. Sebaliknya, 
mereka menyediakan pelayanan yang terbatas kepada kelompok masyarakat yang 
terbatas. Lebih penting lagi, program mereka tidak bertanggungjawab kepada 
komunitas lokal, tetapi kepada donatur asing. Dalam hal ini, NGO merusak 
demokrasi dengan mengambilalih program-program sosial dari tangan komunitas 
lokal dan pejabat terpilih mereka untuk menciptakan ketergantungan kepada 
pejabat asing yang tidak dipilih dan pejabat lokal mereka yang ditunjuk.

NGO mengalihkan perhatian dan perjuangan rakyat dari anggaran nasional ke 
penghisapan-diri untuk mengamankan pelayanan sosial lokal. Hal ini memungkinkan 
kaum neoliberal memotong anggaran untuk pelayanan sosial dan mengalihkan dana 
negara untuk mensubsidi utang-utang tak terbayar dari bank-bank swasta, dan 
menyediakan pinjaman untuk para eksportir. Penghisapan-diri (swa-bantu) 
bermakna 
bahwa, sebagai tambahan dari pembayaran pajak kepada negara tanpa memperoleh 
imbalan apa-apa, rakyat pekerja harus bekerja dengan waktu yang lebih panjang 
dan sumberdaya yang sedikit, serta mengeluarkan energi yang sudah sedikit untuk 
mendapatkan pelayanan yang terus didapatkan oleh kaum borjuis dari negara. Yang 
lebih mendasar lagi, ideologi NGO mengenai "aktivitas sukarela dari swasta" 
merusak arti dari yang "publik": gagasan bahwa pemerintah memiliki kewajiban 
untuk mengurus warga negaranya dan memberikan mereka kehidupan, kebebasan, dan 
kebahagiaan; bahwa tanggung jawab politik dari negara adalah penting untuk 
kesejahteraan warga negara. Sebagai ganti dari tanggung jawab negara, NGO 
mengembangkan gagasan neoliberal tentang tanggung jawab swasta untuk 
masalah-masalah sosial dan pentingnya sumberdaya swasta untuk menyelesaikan 
persoalan ini. Intinya, mereka memberikan beban ganda kepada kaum miskin yang 
terus membayar pajak untuk membiayai negara neoliberal yang melayani kaum kaya, 
tetapi mereka ditinggalkan dengan penghisapan-diri pribadi untuk mengurus 
kebutuhan mereka sendiri.

NGO dan Gerakan Sosial-Politik

NGO menekankan proyek, bukan gerakan; mereka "memobilisasi" rakyat untuk 
memproduksi agar mendapatkan keuntungan, tapi bukan berjuang untuk mengontrol 
alat-alar produksi dan kekayaan; mereka memfokuskan diri pada bantuan keuangan 
teknis dari proyek, tetapi bukan pada kondisi struktural yang membentuk 
kehidupan rakyat sehari-hari. NGO mengkooptasi bahasa kaum kiri: "kekuasaan 
rakyat," "pemberdayaan," "kesetaraan gender," "pembangunan berkelanjutan," 
"kepemimpinan dari bawah" (bottom-up). Persoalannya adalah bahwa bahasa ini 
dihubungkan dengan kerangka kolaborasi dengan donatur dan agen-agen pemerintah 
yang membatasi aktivitas praktis pada politik non-konfrontasi. Watak lokal dari 
aktivitas NGO bermakna bahwa "pemberdayaan" tidak akan pernah melampaui upaya 
mempengaruhi wilayah kecil dari kehidupan sosial, dengan sumberdaya yang 
terbatas, dan dalam syarat-syarat yang diizinkan oleh ekonomi makro dan negara 
neoliberal.

NGO dan staf profesional pos-Marxis mereka bersaing secara langsung dengan 
gerakan sosial-politik untuk memenangkan pengaruh di antara kaum miskin, 
perempuan dan mereka yang secara ras dieksklusi. Ideologi dan praktek mereka 
mengalihkan perhatian dari sumber dan solusi atas kemiskinan (melihat ke bawah 
dan ke dalam, bukan ke atas dan ke luar). Menyatakan usaha-mikro, dan bukan 
penghapusan penghisapan oleh bank-bank asing, sebagai solusinya, didasarkan 
pada 
gagasan bahwa problemnya adalah inisiatif individual dan bukan perpindahan 
pendapatan ke luar negeri. Bantuan NGO berdampak pada sejumlah kecil penduduk, 
mendorong persaingan di antara komunitas untuk sumberdaya yang langka, 
menciptakan pembedaan yang berbahaya dan persaingan antar-komunitas dan di 
dalam 
komunitas itu sendiri, sehingga mengancurkan solidaritas kelas. Hal serupa juga 
terjadi di antara para profesional: tiap orang mendirikan NGO-nya sendiri untuk 
mendapatkan dana asing. Mereka bersaing dengan cara mengajukan proposal yang 
lebih sesuai dengan donatur asing, sementara mengklaim berbicara atas nama 
pengikut mereka.

Dampak akhirnya adalah pertumbuhan NGO yang memfragmentasi komunitas miskin ke 
dalam pengelompokan sektoral dan sub-sektoral yang tidak bisa melihat gambaran 
sosial yang lebih besar yang berdampak pada mereka dan lebih tidak bisa lagi 
bersatu dalam perjuangan melawan sistem. Pengalaman belakangan ini juga 
menunjukkan bahwa donatur asing membiayai proyek-proyek selama 
"krisis"―tantangan sosial dan politik terhadap status quo. Ketika gerakan telah 
surut, mereka memindahkan pembiayaan mereka ke "kolaborasi" bergaya-NGO, 
menyesuaikan proyek-proyek NGO ke dalam agenda neoliberal. Yang menjadi butir 
dominan dalam agenda pembiayaan adalah pembangunan ekonomi yang sesuai dengan 
"pasar bebas" dan bukan organisasi sosial untuk perubahan sosial.

Struktur dan watak NGO, dengan postur "apolitis" mereka dan fokus mereka pada 
swa-bantu, mendepolitisasi dan mendemobilisasi kaum miskin. Mereka memperkuat 
proses-proses elektoral yang didorong oleh partai-partai neoliberal dan media 
massa. Pendidikan politik mengenai watak imperialisme, dan basis kelas dari 
neoliberalisme, perjuangan kelas antara eksportir dan buruh-buruh kontrak, 
dihindari. Alih-alih, NGO mendiskusikan "kaum yang dieksklusi," "kaum tak 
berdaya," "kemiskinan ekstrim," "diskriminasi gender atau rasial," tanpa 
bergerak melampaui gejala di permukaan menuju sistem sosial yang memproduksi 
kondisi-kondisi ini. Dengan memasukkan kaum miskin ke dalam ekonomi neoliberal 
melalui "tindakan yang murni sukarela dan dari swasta," NGO menciptakan sebuah 
dunia politik di mana penampakan berupa solidaritas dan tindakan sosial 
menyembunyikan sebuah penyesuaian diri yang konservatif dengan struktur 
kekuasaan nasional dan internasional.

Bukanlah sebuah kebetulan bahwa ketika NGO menjadi dominan di daerah-daerah 
tertentu, tindakan politik kelas yang mandiri menjadi menurun, dan 
neoliberalisme berjalan tanpa perlawanan yang berarti. Pada dasarnya, 
pertumbuhan NGO terjadi bertepatan dengan meningkatnya pendanaan di bawah 
neoliberalisme dan pendalaman kemiskinan di mana-mana. Terlepas dari berbagai 
klaim tentang kesuksesan lokal, kekuasaan neoliberalisme secara umum berdiri 
tanpa perlawanan yang berarti, dan NGO semakin mencari tempat dalam celah-celah 
yang disisakan oleh kekuasaan.  


Persoalan merumuskan alternatif juga telah dirintangi dengan cara lain. Banyak 
mantan pimpinan gerilya dan gerakan sosial, serikat buruh dan organisasi 
perempuan kerakyatan, telah dikooptasi NGO. Tak diragukan lagi, beberapa dari 
mereka tertarik oleh harapan―atau ilusi―bahwa NGO bisa memberikan mereka akses 
kepada tuas-tuas kekuasaan yang memungkinkan mereka untuk berbuat sesuatu yang 
berguna. Namun, secara umum tawaran yang ada memang menggoda: bayaran yang 
lebih 
tinggi (terkadang dengan mata uang berkurs tetap), prestis dan pengakuan oleh 
donatur asing, konferensi dan jaringan asing, staf kantor, dan relatif aman 
dari 
represi. Sebaliknya, gerakan sosial-politik tidak memberikan banyak keuntungan 
material, tetapi memberikan kemandirian dan kehormatan yang lebih besar, dan 
yang lebih penting lagi, kebebasan untuk melawan sistem ekonomi dan politik 
yang 
ada. NGO dan bank-bank asing pendukung mereka (Bank Pembangunan Antar-Amerika, 
Bank Dunia) menerbitkan newsletter yang menampilkan cerita-cerita sukses dari 
usaha-mikro dan proyek-proyek swa-bantu lainnya―tanpa menyebut tingkat 
kegagalan 
yang tinggi, di mana konsumsi rakyat menurun, produk-produk impor yang murah 
membanjiri pasar, dan tingkat bunga naik, seperti di Meksiko sekarang ini.

Bahkan "kesuksesan" itu hanya dialami oleh sejumlah kecil kaum miskin dan 
suksesnya hanya sampai tingkat di mana yang lain tidak dapat masuk ke dalam 
pasar yang sama. Nilai propaganda dari kesuksesan individual dari usaha-mikro, 
penting dalam menumbuhkan ilusi bahwa neoliberalisme adalah sebuah fenomena 
yang 
populer. Ledakan massa yang keras dan sering terjadi di daerah-daerah tempat 
promosi usaha-mikro menunjukkan bahwa ideologi tersebut tidaklah hegemonik dan 
NGO belum menggantikan gerakan kelas yang mandiri.

Terakhir, NGO menumbuhkan sejenis ketergantungan dan kolonialisme ekonomi serta 
budaya, yang baru. Proyek dirancang, atau setidaknya disetujui, atas dasar 
"petunjuk" dan prioritas dari pusat-pusat imperialis serta institusi mereka. 
Proyek diatur dan "dijual" ke komunitas-komunitas. Evaluasi dilakukan oleh dan 
untuk institusi-institusi imperial. Perubahan prioritas pendana atau evaluasi 
yang buruk akan mengakibatkan ditinggalkannya berbagai kelompok, komunitas, 
pertanian, dan koperasi yang tadinya dikerjakan. Segalanya dan semua orang 
semakin didisiplinkan untuk mengikuti tuntutan para pendana dan evaluator 
proyek. Raja-raja muda yang baru, mengawasi dan memastikan kesesuaian dengan 
tujuan, nilai-nilai serta ideologi pendana, dan juga penggunaan yang tepat dari 
dana. Ketika "kesuksesan" terjadi, hal itu sangat bergantung pada dukungan luar 
yang berkelanjutan, yang tanpanya, hal itu akan rubuh.

Dalam banyak hal, struktur hierarki dan bentuk transmisi "bantuan" serta 
"pelatihan" yang ada sama dengan aktivitas kedermawanan abad kesembilan belas, 
dan para promotornya tidak banyak berbeda dengan para misionaris Kristen. NGO 
menekankan "swa-bantu" dalam menyerang "paternalisme dan ketergantungan" 
terhadap negara. Dalam persaingan antar-NGO untuk menangkap korban-korban 
neoliberal, mereka menerima subsidi penting dari rekan-rekan mereka di Eropa 
dan 
Amerika Serikat. Ideologi swa-bantu menekankan pergantian pegawai publik dengan 
sukarelawan, dan profesional yang mobilitasnya semakin tinggi, yang dikontrak 
untuk sementara. Filsafat dasar para intelektual NGO adalah mentransformasikan 
"solidaritas" menjadi kolaborasi dan subordinasi pada ekonomi-makro 
neoliberalisme, dengan mengalihkan perhatian dari sumberdaya negara milik 
kelas-kelas yang kaya menuju penghisapan-diri kaum miskin.

Namun, ketika sejumlah besar NGO semakin menjadi alat neoliberalisme, ada 
minoritas kecil yang berupaya mengembangkan sebuah strategi alternatif yang 
mendukung politik kelas dan anti-imperialis. Tidak ada di antara mereka yang 
menerima dana dari Bank Dunia, agen-agen pemerintah AS atau Eropa. Mereka 
mendukung upaya menghubungkan kekuasaan lokal dengan perjuangan untuk 
mengambilalih kekuasaan negara. Mereka mengkaitkan proyek-proyek lokal dengan 
gerakan sosial-politik yang bersifat nasional: menduduki tanah-tanah perkebunan 
besar, membela kepemilikan publik dan nasional dari perusahaan-perusahaan 
multinasional. Mereka memberikan solidaritas politik kepada gerakan sosial yang 
terlibat dalam perjuangan pengambilalihan tanah. Mereka mendukung gerakan 
perempuan yang terhubung dengan perspektif kelas. Mereka mengakui pentingnya 
politik dalam mendefinisikan perjuangan lokal dan jangka pendek. Mereka percaya 
bahwa organisasi lokal harus berjuang di tingkat nasional dan pimpinan nasional 
harus bertanggungjawab kepada aktivis-aktivis lokal.

Beberapa Contoh

Mari kita lihat beberapa contoh dari peran NGO dan hubungan mereka dengan 
neoliberalisme dan imperialisme di negara-negara tertentu:

Bolivia

Pada tahun 1985, pemerintah Bolivia meluncurkan Kebijakan Ekonomi Barunya (NEP) 
dengan keputusan: membekukan upah selama empat bulan sementara tingkat inflasi 
tahunan sedang menggila pada 15.000 persen. NEP membatalkan semua pengendalian 
harga dan mengurangi atau menghapuskan subsidi makanan dan bahan bakar. Hal itu 
juga meletakkan dasar untuk privatisasi sebagian besar perusahaan negara dan 
pemecatan pegawai sektor publik. Pemotongan besar-besaran dalam program 
kesehatan dan pendidikan menghapuskan kebanyakan pelayanan publik. Kebijakan 
penyesuaian struktural (SAP) ini dirancang dan didikte oleh Bank Dunia dan IMF 
serta disetujui oleh bank-bank dan pemerintah AS serta Eropa. Jumlah orang 
Bolivia yang terserang kemiskinan bertambah secara geometris. Pemogokan umum 
yang panjang dan konfrontasi yang keras pun menyusul. Sebagai tanggapan, Bank 
Dunia, pemerintah negara-negara AS dan Eropa memberikan bantuan dalam jumlah 
besar untuk mendanai sebuah "program pengurangan kemiskinan." Sebagian besar 
dana diarahkan kepada sebuah agen pemerintah Bolivia, Dana Sosial Darurat 
(ESF), 
yang menyalurkan dana tersebut ke NGO untuk mengimplementasikan programnya. 
Dana 
itu jumlahnya cukup besar: pada tahun 1990, total bantuan asing berjumlah $738 
juta.

Jumlah NGO di Bolivia bertambah dengan cepat sebagai respons terhadap pendanaan 
internasional: sebelum 1980, ada 100 NGO; pada tahun 1992, terdapat 530 dan 
terus bertambah. Hampir semua NGO diarahkan untuk mengurus persoalan sosial 
yang 
diciptakan oleh Bank Dunia dan kebijakan pasar bebas pemerintah Bolivia, yang 
tidak dapat lagi diatasi oleh institusi-institusi negara yang sudah dipreteli. 
Dari puluhan juta yang dialokasikan untuk NGO, hanya 15 sampai 20 persen yang 
mencapai kaum miskin. Sisanya disalurkan untuk membayar biaya administratif dan 
gaji profesional. NGO Bolivia berfungsi sebagai kaki tangan negara dan bekerja 
mengkonsolidasikan kekuasaan negara. Tingkat kemiskinan absolut tetap sama dan 
sebab-sebab struktural jangka panjangnya―kebijakan-kebijakan 
neoliberal―diberikan bantalan oleh NGO. Sementara tidak menyelesaikan persoalan 
kemiskinan, NGO mengelola program-program kemiskinan yang menguatkan rezim dan 
memperlemah oposisi terhadap SAP. NGO, dengan dana mereka yang besar, 
mengeksploitasi kelompok-kelompok rentan dan mampu meyakinkan beberapa pimpinan 
oposisi bahwa mereka bisa mendapat manfaat dari kerjasama dengan pemerintah. 
Menurut seorang pegamat, yang mengomentari peran NGO dalam "program 
kemiskinan": 
"Apabila hal ini (program-program NGO) tidak menciptakan dukungan langsung, 
setidaknya ia mengurangi oposisi yang potensial terhadap negara dan 
program-programnya."

Ketika guru sekolah negeri La Paz melakukan pemogokan untuk memprotes upah $50 
sebulan dan ruang kelas yang terlalu padat, NGO mengabaikannya; Ketika wabah 
demam kuning dan kolera melanda daerah pedesaan, program-program swa-bantu NGO 
tak bisa mengatasinya, sementara sebuah program kesehatan publik yang 
komprehensif seharusnya bisa mencegah wabah itu terjadi. NGO menyerap banyak 
mantan intelektual kiri Bolivia dan mengubah mereka menjadi pembela sistem 
neoliberal. Seminar-seminar mengenai "masyarakat sipil" dan "globalisasi" 
mengaburkan kenyataan bahwa penghisap yang paling jahat (para pemilik tambang 
swasta, eksportir pertanian yang baru dan kaya, serta konsultan dengan bayaran 
tinggi) adalah anggota "masyarakat sipil" dan SAP merupakan sebuah rancangan 
imperial untuk membuka sumberdaya mineral negeri itu kepada penjarahan tanpa 
aturan.

Cile

Di Cile, di bawah kediktatoran Pinochet pada 1973-1989, NGO memainkan peran 
penting mengutuk pelanggaran hak asasi manusia, menyiapkan kajian-kajian yang 
kritis terhadap model neoliberal dan membuat dapur umum serta program-program 
kemiskinan lainnya. Jumlah mereka bertambah berlipat ganda dengan munculnya 
perjuangan kerakyatan yang masif di antara tahun 1982 dan 1986, yang mengancam 
akan menggulingkan kediktatoran Pinochet. Di tingkat ekspresi ideologinya, 
mereka berorientasi pada "demokrasi" dan "pembangunan dengan kesetaraan." Dari 
hampir dua ratus NGO, tidak sampai lima yang memiliki analisa dan penjelasan 
yang kritis serta jernih terhadap hubungan antara kediktatoran dan imperialisme 
AS, keterkaitan antara kebijakan pasar bebas yang dibiayai Bank Dunia dengan 
tingkat kemiskinan 47 persen.

Pada bulan Juli 1986, ada sebuah pemogokan umum yang berhasil―sebuah kelompok 
gerilya hampir berhasil membunuh Pinochet―dan Amerika Serikat mengirim seorang 
wakil (Gelbard) untuk memerantarai sebuah transisi elektoral antara 
bagian-bagian yang lebih konservatif dalam oposisi dengan Pinochet. Sebuah 
jadwal Pemilu ditetapkan, sebuah pemungutan suara diorganisir dan partai-partai 
elektoral bermunculan. Terbentuk aliansi antara kaum Demokrat Kristen dengan 
Sosialis, yang memenangkan pemungutan suara dan mengakhiri kekuasaan Pinochet 
(tetapi tidak mengakhiri komandonya atas angkatan bersenjata dan polisi 
rahasia); setelah itu, aliansi ini memenangkan kepresidenan.

Gerakan sosial yang memainkan peran sangat penting dalam mengakhiri 
kediktatoran, dimarjinalisasi. NGO beralih dari mendukung gerakan menjadi 
berkolaborasi dengan pemerintah. Para profesional di NGO Kristen Demokratik dan 
Sosialis menjadi menteri-menteri di pemerintahan. Dari kritikus kebijakan pasar 
bebas Pinochet, mereka menjadi pendukungnya. Mantan Presiden CIEPLAN (sebuah 
institut penelitian yang utama), Alexandro Foxley, mengumumkan janjinya untuk 
meneruskan pengelolaan indikator-indikator ekonomi makro dengan cara yang sama 
seperti menteri Pinochet. NGO diinstruksikan oleh donatur asing mereka untuk 
mengakhiri dukungan mereka terhadap gerakan akar rumput yang mandiri dan 
berkolaborasi dengan rezim neoliberal sipil yang baru. Sur Profesionales, salah 
satu NGO riset yang paling dikenal, melakukan penelitian terhadap 
"kecenderungan 
akan kekerasan" di daerah-daerah kumuh―informasi yang berguna bagi polisi dan 
rezim baru untuk merepresi gerakan sosial yang mandiri. Dua peneliti utamanya 
(spesialis gerakan sosial) menjadi menteri di pemerintahan yang mengatur 
kebijakan ekonomi yang menciptakan ketidaksetaraan pendapatan yang paling berat 
sebelah dalam sejarah Cile belakangan ini.

Hubungan eksternal NGO dan ambisi profesional dari para pimpinannya memainkan 
peran penting dalam merusak gerakan rakyat yang sedang berkembang. Sebagian 
besar pimpinannya menjadi pejabat pemerintah yang mengkooptasi para pimpinan 
lokal, sementara merusak perkumpulan komunitas kelas bawah. Wawancara dengan 
perempuan yang aktif di daerah kumuh Lo Hermida, mengungkap pergeseran yang 
terjadi pada masa pasca-Pemilu. "Para NGO memberitahu kami bahwa karena 
demokrasi telah tiba, tidak perlu lagi melanjutkan program-program (dapur umum) 
yang ada. Kalian tidak membutuhkan kami." NGO semakin mengkondisikan aktivitas 
mereka untuk mendukung rezim pasar bebas yang "demokratik." Para pejabat NGO 
terus menggunakan retorika partisipatoris mereka untuk mendapatkan suara bagi 
partai-partai mereka di pemerintahan dan untuk mengamankan kontrak-kontrak 
pemerintah.

Satu dampak mencolok dari NGO di Cile tedapat dalam hubungan mereka dengan 
"gerakan perempuan." Apa yang pada awalnya muncul sebagai sebuah kelompok 
aktivis yang potensial di pertengahan tahun 1980-an, perlahan-lahan diambilalih 
oleh NGO yang menerbitkan newsletter mahal dari kantor-kantor yang berfasilitas 
lengkap. Para "pimpinannya" yang tinggal di daerah elit, merepresentasikan 
sekelompok perempuan yang jumlahnya semakin kecil. Dalam Konferensi Feminis 
Amerika Latin di Cile pada 1997, sekelompok feminis Cile kelas bawah yang 
militan ("kaum otonomis") melontarkan kritik yang radikal terhadap kaum feminis 
NGO sebagai kelompok yang sudah terbeli oleh subsidi pemerintah.

Brazil

Gerakan sosial paling dinamis di Brazil adalah Gerakan Pekerja Desa Tak 
Bertanah 
(MST). Dengan lebih dari lima ribu organizer dan beberapa ratus ribu simpatisan 
dan aktivis, mereka terlibat langsung dalam ratusan pendudukan tanah di 
beberapa 
tahun terakhir. Dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh MST pada 
bulan 
Mei 1998, di mana saya berbicara, peran NGO adalah salah satu topik perdebatan. 
Seorang wakil sebuah NGO Belanda muncul di tempat acara itu dan ngotot untuk 
berpatisipasi. Ketika ia diberitahu bahwa pertemuan itu bersifat tertutup, ia 
mengatakan kepada mereka bahwa ia memiliki sebuah "usulan" untuk pendanaan 
($300 
ribu) pengembangan komunitas, dan ngotot untuk masuk. Dengan tegas, para 
pimpinan MST mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak untuk diperjualbelikan dan 
bahwa bagaimanapun juga, mereka, MST, merancang "proyek" mereka sendiri menurut 
kebutuhan mereka dan tidak membutuhkan pengajar dari NGO.

Selanjutnya, rapat perempuan dari MST membahas sebuah pertemuan yang baru 
diadakan dengan NGO-NGO feminis berbasis pedesaan. Para perempuan MST mendorong 
perspektif perjuangan kelas, menggabungkan aksi langsung (pendudukan tanah) dan 
perjuangan untuk reformasi agraria dengan kesetaraan gender. Para profesional 
NGO mendesak agar para perempuan MST berpisah dengan organisasi mereka dan 
mendukung sebuah program reformasi yang murni feminis dan minimalis. Hasil 
akhirnya adalah sebuah kesepakatan taktis untuk menentang kekerasan rumah 
tangga, mendaftar perempuan sebagai kepala keluarga, dan mendorong kesetaraan 
gender. Para perempuan MST, kebanyakan anak-anak perempuan dari petani tak 
bertanah, memandang para profesional NGO sebagai kariris yang suka 
memecah-belah, tak bersedia menentang elit politik dan ekonomi yang menindas 
semua petani. Terlepas dari kritik mereka terhadap kawan laki-laki mereka, 
mereka jelas merasakan pertalian yang lebih kuat dengan gerakan daripada dengan 
NGO "feminis" yang mendukung kolaborasi kelas.

Dalam pembahasan kami, MST membedakan antara NGO yang memberikan kontribusi 
terhadap gerakan (uang, sumberdaya, dsb.) untuk membiayai perjuangan kelas, 
dengan NGO yang pada dasarnya berbaju misionaris dan memecah-belah serta 
mengisolasi petani, sama seperti banyak proyek NGO yang disponsori oleh 
Pantekosta, Bank Dunia, dan USAID.

El Salvador

Di seluruh Amerika Latin, para petani yang militan telah menyuarakan kritik 
yang 
serius terhadap peran dan politik mayoritas besar NGO, terutama mengenai sikap 
mendominasi dan patronase yang mereka tunjukkan di balik retorika menyenangkan 
mereka tentang "pemberdayaan rakyat" dan partisipasi. Saya menemukan ini secara 
langsung selama kunjungan saya baru-baru ini ke El Salvador, di mana saya 
memberikan ceramah untuk Alianza Democratica Campesino (ADC, atau Aliansi 
Petani 
Demokratik) yang merepresentasikan 26 organisasi petani dan pekerja tak 
bertanah.

Sebagian dari kerjasama kami adalah mengenai pengembangan bersama sebuah proyek 
untuk mendanai sebuah riset yang diarahkan petani dan pusat pelatihan. 
Bersama-sama dengan para pimpinan ADC, kami mengunjungi sebuah agen swasta 
Kanada, CRC SOGEMA, yang disubkontrak oleh CIDA, agen bantuan luar negeri 
pemerintah Kanada. Mereka mengelola sebuah paket bantuan (Kanada) senilai $25 
juta untuk El Salvador. Sebelum kunjungan kami, salah seorang pimpinan ADC 
telah 
melakukan diskusi informal dengan salah seorang rekan CRC SOGEMA dari El 
Salvador. Ia menjelaskan proposal yang ada dan signifikansinya untuk merangsang 
riset partisipatoris berbasis petani. Perwakilan CRC SOGEMA melanjutkan dengan 
menggambar orang di secarik kertas. Ia menunjuk ke kepalanya. "Itu," katanya, 
"adalah NGO: mereka berpikir, menulis, dan menyiapkan program." Ia lalu 
menunjuk 
ke tangan dan kakinya, "itu adalah para petani: mereka memberikan data dan 
mengimplementasikan proyek."

Peristiwa yang menyingkap ini adalah latar belakang dari pertemuan formal kami 
dengan Ketua CRC SOGEMA. Sang direktur memberitahu kami bahwa uang yang ada 
sudah diperuntukkan bagi sebuah NGO El Salvador: FUNDE (Fundacion Nacional para 
el Desarrollo, Yayasan Nasional untuk Pembangunan), sebuah firma konsultan yang 
berisikan para profesional yang mobilitasnya semakin tinggi. Ia menyarankan 
para 
pimpinan petani untuk bekerjasama dan terlibat, karena, ia menyatakan, hal itu 
"memberdayakan." Dalam pembicaraan kami, terungkap bahwa rekan CRC SOGEMA asal 
El Salvador yang mengekspresikan pandangan yang tak patut mengenai hubungan 
antara NGO (kepala) dengan petani (tangan dan kaki) adalah "penghubung" antara 
FUNDE dan SOGEMA. Para pimpinan ADC menanggapi, sementara FUNDE secara teknis 
tidak kompeten, "kursus-kursus" dan penelitian mereka tidak memenuhi keperluan 
petani dan mereka memiliki sikap yang sangat paternalistik terhadap petani. 
Ketika si direktur Kanada menanyakan sebuah contoh, para pimpinan ADC 
menceritakan insiden "gambar politik" dan peran petani yang direndahkannya.

Ini adalah, kata direktur SOGEMA, sebuah "insiden yang sangat disayangkan," 
tapi 
meskipun demikian, mereka telah berkomitmen untuk bekerja dengan FUNDE. Apabila 
ADC ingin mewarnai, yang paling bisa mereka lakukan adalah mengikuti 
pertemuan-pertemuan FUNDE. Para pimpinan ADC mengatakan bahwa tujuan dan 
rancangan proyek itu dielaborasi oleh para profesional kelas menengah, 
sementara 
para petani diundang untuk bekerjasama dengan memberikan data dan mengikuti 
"seminar-seminar" mereka. Dengan jengkel, si direktur mengakhiri pertemuan itu. 
Para pimpinan petani sangat marah. "Kenapa kami didorong untuk mempercayai 
bahwa 
mereka (agen Kanada) berkepentingan dalam demokrasi dan partisipasi petani 
serta 
semua omong-kosong lainnya, di saat mereka sudah tersambung dengan NGO yang 
tidak merepresentasikan satu orang petani pun? Studi itu tidak akan pernah 
dibaca oleh petani, dan tidak akan pernah relevan untuk perjuangan kami dalam 
memperoleh tanah. Kajian itu akan berisikan tentang "modernisasi" serta 
bagaimana menipu petani agar meninggalkan tanah mereka dan mengubah tanah 
tersebut menjadi pertanian komersial atau daerah turis."

Kesimpulan

Para manajer NGO sudah terampil dalam merancang proyek. Mereka menyebarkan 
retorika baru tentang "identitas" dan "globalisme" ke dalam gerakan rakyat. 
Teks-teks dan aktivitas mereka mempromosikan kerjasama internasional, 
swa-bantu, 
usaha-mikro, dan menciptakan ikatan ideologis dengan kaum neoliberal, sementara 
memaksa orang untuk tergantung kepada donatur luar. Setelah satu dasawarsa 
aktivitas NGO, para profesional ini telah "mendepolitisasi" dan 
mende-radikalisasi seluruh bidang kehidupan sosial: organisasi pemuda, 
perempuan 
dan komunitas. Di Peru dan Cile, di mana NGO sudah sangat mapan, gerakan sosial 
radikal pun menurun.

Perjuangan lokal untuk isu-isu mendesak adalah makanan dan bahan yang 
memelihara 
gerakan yang sedang tumbuh. NGO memang menekankan yang "lokal," tetapi 
pertanyaan sangat pentingnya adalah ke arah mana aksi-aksi lokal akan berjalan: 
apakah mereka akan menaikkan isu yang lebih besar tentang sistem sosial dan 
menghubungkan diri dengan kekuatan lokal lainnya untuk melawan negara dan 
pendukung imperialnya, atau mereka akan berputar di dalam, sementara mencari 
donatur asing dan terfragmentasi ke dalam serangkaian pemohon yang bersaing 
untuk subsidi dari luar. Ideologi NGO mendorong yang terakhir.

Para intelektual NGO sering menulis tentang "kerjasama" tetapi tanpa memikirkan 
ongkos dan persyaratan untuk mengadakan kerjasama dengan rezim neoliberal dan 
donatur asing. Dalam peran mereka sebagai perantara dan broker, bergerak cepat 
untuk mendapatkan dana asing dan mencocokkan dana itu ke proyek-proyek yang 
dapat diterima oleh donatur dan penerima lokal, para "pengusaha yayasan" 
melakukan jenis politik baru yang sama dengan "kontraktor buruh" 
(enganchadores) 
yang ada belum lama ini: mengumpulkan perempuan-perempuan untuk "dilatih" 
membangun usaha-mikro yang disubkontrak kepada produsen yang lebih besar atau 
eksportir yang mempekerjakan buruh murah. Politik baru NGO pada dasarnya adalah 
politik para komprador: mereka tidak membuat produk nasional apapun; 
sebaliknya, 
mereka menghubungkan donatur asing dengan tenaga kerja lokal (usaha mikro 
swa-bantu) untuk memfasilitasi keberlanjutan rezim neoliberal. Para manajer NGO 
pada dasarnya adalah aktor-aktor politik yang proyek-proyek dan lokakarya 
pelatihannya tidak punya dampak ekonomi yang signifikan dalam meningkatkan 
penghasilan buruh dan petani. Namun, aktivitas mereka tentu punya dampak 
mengalihkan rakyat dari perjuangan kelas ke berbagai bentuk kolaborasi dengan 
penindas mereka.

Untuk membenarkan pendekatan ini, para ideolog NGO akan sering menggunakan 
istilah "pragmatisme" atau "realisme," menyebut kemunduran kaum revolusioner 
kiri, kemenangan kapitalisme di Timur, "krisis Marxisme," ketiadaan alternatif, 
kekuatan Amerika Serikat, kudeta dan represi oleh militer. "Kemungkinanisme" 
(possibilism) digunakan untuk meyakinkan kaum kiri agar bekerja dalam 
ruang-ruang di pasar bebas yang dipaksakan oleh Bank Dunia dan penyesuaian 
struktural, dan untuk membatasi politik pada parameter-parameter elektoral yang 
dipaksakan oleh militer.

"Kemungkinanisme" yang pesimistik dari para ideolog NGO sudah tentu bersifat 
berat-sebelah. Mereka memfokuskan diri pada kemenangan Pemilu neoliberal dan 
bukan pada protes-protes massa serta pemogokan umum pasca-Pemilu, yang 
memobilisasi sejumlah besar orang dalam aktivitas ekstra-parlementer. Mereka 
melihat pada kematian komunisme di akhir tahun delapan puluhan dan bukan pada 
kebangkitan kembali gerakan sosial radikal di pertengahan sembilan puluhan. 
Mereka menggambarkan pembatasan-pembatasan oleh miiter terhadap para politisi 
elektoral tanpa melihat perlawanan terhadap militer oleh gerilyawan Zapatista, 
pemberontakan perkotaan di Caracas, pemogokan umum di Bolivia. Secara singkat, 
para penganut kemungkinanisme mengabaikan dinamika perjuangan yang dimulai pada 
tingkat lokal atau sektoral dalam parameter-parameter elektoral yang dibuat 
oleh 
militer, dan kemudian didorong ke atas, melampaui batasan-batasan itu, oleh 
kegagalan para penganut kemungkinanisme untuk memuaskan permintaan dan 
kebutuhan 
dasar rakyat.  


Pragmatisme NGO bertemu dengan ekstremisme kaum neoliberal. Tahun 1990-an telah 
menyaksikan radikalisasi kebijakan neoliberal, yang dirancang untuk mencegah 
krisis dengan menyerahkan kesempatan spekulasi dan investasi yang jauh lebih 
menguntungkan kepada bank-bank dan perusahaan multinasional: minyak bumi di 
Brazil, Argentina, Meksiko, Venezuela; jumlah upah dan pembayaran jaminan 
sosial 
yang lebih rendah; lebih banyak lagi pembebasan pajak; dan penghapusan semua 
hukum perburuhan yang melindungi buruh. Struktur kelas di Amerika Latin menjadi 
lebih tetap dan negara menjadi terhubung lebih langsung dengan kelas penguasa 
daripada sebelumnya. Ironisnya, kaum neoliberal menciptakan struktur kelas yang 
lebih terpolarisasi, yang jauh lebih dekat dengan paradigma Marxis tentang 
masyarakat daripada dengan visi NGO.

Inilah kenapa Marxisme memberikan alternatif yang nyata dari NGO-isme. Dan di 
Amerika Latin, memang terdapat intelektual Marxis yang menulis dan berbicara 
untuk gerakan sosial yang sedang berlawan, berkomitmen untuk menanggung 
konsekuensi politik yang sama dengan gerakan. Mereka adalah intelektual 
"organik" yang pada dasarnya merupakan bagian dari gerakan―narasumber yang 
menyediakan analisis dan pendidikan untuk perjuangan kelas, bertentangan dengan 
intelektual NGO "pos-Marxis," yang ada di dunia institusi, seminar akademik, 
yayasan asing, konferensi internasional dan laporan-laporan birokratik. Para 
intelektual Marxis ini mengakui betapa pentingnya perjuangan-perjuangan lokal, 
tetapi mereka juga mengakui bahwa keberhasilan perjuangan-perjuangan ini sangat 
bergantung pada hasil konflik antar-kelas dalam merebut negara di tingkat 
nasional.

Apa yang mereka tawarkan bukanlah "solidaritas" yang hierarkis dari bantuan 
asing dan kerjasama dengan neoliberalisme, tetapi solidaritas kelas, dan dalam 
kelas, solidaritas kelompok-kelompok yang tertindas (perempuan dan orang-orang 
kulit berwarna) dalam melawan para penindas asing dan dalam negeri mereka. 
Fokus 
utamanya bukan pada donasi yang memecah-belah kelas dan menjinakkan kelompok 
kecil untuk sementara waktu, tetapi pada aksi bersama oleh anggota dari kelas 
yang sama, yang melakukan perjuangan ekonomi yang sulit secara bersama-sama 
untuk perbaikan kolektif.

Kekuatan para intelektual Marxis yang kritis terletak pada kenyataan bahwa 
ide-ide mereka sesuai dengan kenyataan sosial yang berubah. Polarisasi kelas 
yang semakin kencang dan konfrontasi yang semakin keras, terlihat nyata. Jadi, 
sementara kaum Marxis berjumlah sedikit dalam arti kelembagaan, tetapi mereka 
secara strategis kuat, karena mereka mulai berhubungan dengan generasi baru 
kaum 
militan yang revolusioner, dari Zapatista di Meksiko sampai MST di Brazil.

Catatan:

* Artikel ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari James Petras, 
"Imperialism and NGOs in Latin America," Monthly Review, Volume 49, No. 7, 
Desember 1997. Diakses tanggal 27 Februari 2011 dari 
http://www.monthlyreview.org/1297petr.htm—Penerj.


http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke