Bus terhadang macet di Semanggi, tertahan sebuah lomba 10K. 
Martin menoleh. Wajah yang selalu khawatir itu terlihat kusut. 
Saya mengangkat alis tanda setuju. Dalam sekejap kami berlompatan 
turun dari bus. Lari ke Stadion Madya mengejar penasaran siapa 
yang finish pertama di lomba taraf internasional tersebut. 

Itu sekitar seperempat abad silam. Salahsatu kenangan dengan 
Martin Aleida. Tentu tidak semua kenangan menyenangkan. Martin 
bukan kawan yang akur, tapi harus diakui dia pelari yang tangguh. 
Bukan cuma dalam olahraga tapi juga di dalam kehidupan. 

Senang rasanya dengar kawan satu itu dalam keadaan baik, bugar, 
dan masih suka lari! 

Tetep, nggak bakal menang di lari jarak pendek, lompat galah, 
apalagi renang. Nggak cocok buat orang jangkung, hehe... 

i am still running 
http://www.youtube.com/watch?v=P5Bs0IoUq24

the only place i ever will belong 


- 

Kompas Minggu, 10 April 2011

Lari Martin, Lari...!

Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi stres baik secara 
positif maupun negatif. Begitupun Martin Aleida, yang memilih berlari 
di tengah kegundahannya kala stres.

Menjalani hidup sebagai wartawan, Martin mengungkapkan dirinya, kerap 
dihinggapi stres karena berbagai hal. Saat masih bekerja di Tempo 
ketika stres datang, Martin mengaku kerap berlari saat pulang dari 
kantor redaksinya di kawasan Senen, Jakarta Pusat, ke rumahnya yang 
masih di Perumnas Depok I. Jarak yang  ditempuhnya itu lebih dari 30 
kilometer.

Di masa akhir 1970-an itu, kondisi Jakarta digambarkan Martin masih 
cukup nyaman untuk diarungi dengan berlari. Ketika itu, kadang dia 
melewati jalanan yang masih berupa tanah  dengan rumput-rumput liar 
yang tinggi.

"Kadang diselingi dengan berjalan, lalu berlari lagi. Kira-kira makan 
waktu dua jam dari Senen ke Depok," kata Martin mengingat-ingat.

Sementara itu, mobil Hardtop pemberian kantornya ketika itu lebih 
banyak berdiam di rumahnya. Selain karena ongkos bensinnya justru 
bikin tekor, Martin mengaku tidak suka menyetir. "Sambil berlari atau 
berjalan pulang, saya bisa melamun. Kalau menyetir tidak bisa melamun 
begitu, saya tidak suka," imbuhnya lagi.

Sementara ketika bekerja di Kantor Penerangan Perserikatan Bangsa-
Bangsa dari tahun 1985 hingga 2001, Martin gemar bersepeda sebagai 
transportasinya sehari-hari. Kini, Martin masih kerap berlari di 
sekitar rumahnya, sejauh 4 km setiap hari. Namun, kali ini bukan 
karena stres, melainkan untuk menjaga staminanya. Tidak heran, meski 
telah berumur, dirinya tampak amat bugar. (SF/ROW) 


- 

Perang dan Damai Martin Aleida

Sarie Febriane dan Aryo Wisanggeni G

Nyaris seluruh cerita pendek dan novelnya tak lahir di rumah ini. 
Bukan apa-apa, kala di rumah, dia lebih tergerak menyapu atau menanak 
nasi ketimbang menulis. Begitulah Martin Aleida (67), sang 
sastrawan.  

Pagi itu, Martin sudah menunggu kami di mulut gang, sekitar 10 meter 
dari rumahnya di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 
Tubuhnya yang jangkung ramping dibalut kaus polo, celana bermuda, dan 
bersepatu olahraga. Martin tampak segar bugar di usia lanjut.

Dengan gerakan yang sigap, Martin mempersilakan kami masuk ke ruang 
tamu, sekaligus ruang duduk sehari-hari. Di rumah inilah sejak 1981 
cerita hidupnya bersama keluarga terangkai, tetapi justru bukan novel 
atau cerpen-cerpennya.

"Saat saya kesulitan melanjutkan cerita yang saya tulis, berarti 
naskah itu harus saya tinggal sejenak. Jika saya mengerjakannya di 
rumah, jeda itu akan membawa saya ke halaman depan rumah saya. Lantas 
saya akan mulai memunguti guguran daun kering yang berserakan di 
halaman, memungut lagi, lagi, lagi. Kelanjutannya adalah menyapu dan 
batal menulis," kata Martin sembari terbahak.

Martin mengakui, dirinya bukanlah pengarang yang mampu fokus terus-
terusan, melainkan mudah teralihkan saat menulis. Ia juga bisa amat 
lambat menyelesaikan cerita. Martin pernah bahkan menghabiskan waktu 
tiga tahun untuk menyelesaikan satu cerpen. Oleh karena itu, dia 
cenderung memilih menulis karya-karyanya di Pusat Dokumentasi Sastra 
(PDS) HB Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat. 
Di sana, meski tetap mudah teralihkan oleh ajakan mengobrol dari 
teman-temannya, Martin merasa lebih kondusif untuk berkarya.

Kecenderungan Martin untuk "tidak produktif" berkarya kala di rumah 
boleh jadi karena rumahnya yang amat sejuk untuk ukuran cuaca 
Jakarta, yang hari itu tengah panas-panasnya. Pepohonan di halaman 
muka dan belakang, ubin teraso, ventilasi lebar, serta void di atas 
ruang makan membuat rumahnya terasa adem. Di rumah semacam itu, 
memang paling enak berleha-leha menikmati kesejukan dan kicauan 
burung-burung liar yang singgah di halaman.

Istri Martin, Sri Sulasmi (62), menanam apa saja yang ingin 
ditanamnya di halaman depan dan belakang rumah. Kini halaman depan 
rumah begitu teduh dinaungi pohon kemuning yang wangi semerbak kala 
berbunga, mangga, belimbing, juga pohon jati. Di halaman belakang, 
Sri menanam mangga, rambutan, pepaya, hingga cincau. Martin pun gemar 
menikmati segarnya cincau hijau hasil perasan sendiri.

Kenang-kenangan

Rumah yang kini ditinggalinya itu sebenarnya merupakan kenang-
kenangan dari dunia jurnalisme yang  sempat dijalani Martin. Setelah 
bekerja delapan tahun di Majalah Tempo sebagai wartawan, di tahun 
1979 Martin memperoleh uang 20 kali gajinya per bulan untuk membangun 
rumah di atas lahan 328 meter persegi. Sebelumnya, dia sempat 
mencicil rumah pertamanya yang lebih kecil di Perumnas I Depok pada 
1978.

Ketika rumah dipugar pada 1990, di lantai dua ditempatkan rak 
menyimpan buku koleksi peraih penghargaan Dokarim 2005 itu. Semuanya 
bercampur di sana, karya sastra, aneka jenis buku lainnya, juga 
sejumlah kaset rekaman perbincangan Martin dan almarhum sastrawan 
Pramoedya Ananta Toer.

"Saya kerap membesuk beliau setelah keluar dari penjara, dan saya 
sempat merekam sejumlah wawancara saya," kata Martin.

Sementara PDS HB Jassin menjadi rumah kedua Martin yang kini menjabat 
sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 
2009-2012.

"Biasanya saya pulang dari TIM sekitar pukul 20.00, selalu 
menggunakan kendaraan umum. Saya tak lagi banyak begadang di rumah. 
Sebelum tidur, saya menikmati suasana rumah sambil menikmati satu 
sloki red wine, kebiasaan yang saya contoh dari Rosihan Anwar," kata 
Martin menunjukkan puluhan botol anggur merah Cuvee buatan Perancis 
yang berjejer di atas lemari dapur.

Pada hari Sabtu dan Minggu, Martin akan menemani Sri Sulasmi di 
rumah. Jika ada waktu, Martin selalu menyempatkan diri menanak nasi 
merah andalannya yang pulen dan tanpa kerak. Pahitnya berbagai 
pengalaman masa muda akibat kekerasan politik yang dialami keduanya 
membuat pasangan ini senantiasa kompak dan sabar, termasuk bersabar 
menanak nasi tanpa rice cooker.

"Setiap bulir nasi harus bisa kita makan," ujar penulis yang kerap 
menjadikan prahara politik 1965 sebagai latar berbagai karyanya itu.

Di akhir pekan, pengagum trilogi lukisan celeng Joko Pekik itu akan 
mencuri-curi kesempatan menonton film kala Sri beristirahat karena 
sang istri tidak terlalu suka menonton film. "Istri saya lebih suka 
menonton kuliah subuh di televisi. Saya akhirnya selalu menemaninya 
menonton kuliah subuh," ujarnya.

Meski bukan tempat pilihan bagi Martin untuk melahirkan cerpen atau 
novel, rumahnya senantiasa menjadi latar cerita dari kehidupan 
Martin, Sri, maupun putra-putri mereka, Agung Sukmana (41), Dian 
Sukmawati (38), dan Teguh Nugroho (36). "Perang dan damai ada di 
sini. Di sini kami berperang, di sini pula kami berdamai," tutur 
Martin.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke