http://militanindonesia.org/teori/trotsky/8164-tugas-tugas-pendidikan-komunis.html

Tugas-Tugas Pendidikan Komunis

"Manusia Baru" dan Kaum Revolusioner

Sering ditekankan kalau tugas pencerahan Komunis adalah pendidikan manusia 
baru. Kata-kata ini agak terlalu umum, terlalu menyedihkan, dan kita harus 
sangat berhati-hati untuk tidak mengijinkan interpretasi humanitarian tak 
berbentuk terhadap konsep "manusia baru" atau tugas-tugas pendidikan Komunis. 
Tidak ada keraguan apapun kalau manusia masa depan, rakyat komune, akan menjadi 
makhluk yang sangat menarik dan indah, dan bahwa psikologinya (kaum futuris 
akan memaafkan aku, tetapi saya melihat kalau manusia masa depan akan memiliki 
psikologi) akan sangat berbeda dengan psikologi kita. Sayangnya, tugas kita 
sekarang tidak boleh jatuh pada pendidikan manusia masa depan. Pandangan 
Utopian dan humanitarian-psikologis adalah bahwa manusia baru haruslah dibentuk 
terlebih dahulu, dan lalu dia akan kemudian menciptakan kondisi-kondisi baru. 
Kita tidak boleh mempercayai ini. Kita tahu bahwa manusia adalah produk dari 
kondisi-kondisi sosial. Tetapi kita juga tahu bahwa antara manusia dan 
kondisi-kondisi itu ada sebuah hubungan yang kompleks dan saling bekerja secara 
mutual dan aktif. Manusia sendiri adalah instrumen dari perkembangan sejarah 
ini, dan tidak kurang dari itu. Dan di dalam aksi-reflek historis yang kompleks 
dari kondisi-kondisi yang dialami oleh manusia-manusia aktif, kita tidak 
menciptakan rakyat komune yang harmonis dan sempurna secara abstrak, tetapi 
kita membentuk manusia-manusia konkret dari epos kita, yang masih harus 
berjuang untuk menciptakan kondisi-kondisi yang mana masyarakat komune harmonis 
dapat tumbuh. Ini tentu saja adalah hal yang sangat berbeda, untuk alasan yang 
sederhana bahwa cicit kita, masyarakat dari komune ini, tidak akan menjadi kaum 
revolusioner.

Sekilas pandang ini tampak keliru, ini hampir menghina. Namun begitulah 
kenyataannya. Konsepsi "kaum revolusioner" dibentuk oleh kita dari pikiran dan 
kehendak kita, dari totalitas semangat-semangat terbaik kita, dan oleh 
karenanya kata "kaum revolusioner" dipenuhi dengan ideal-ideal dan moral-moral 
tertinggi yang telah kita rebut dari seluruh epos revolusi kebudayaan 
sebelumnya. Oleh karenanya kita seperti melempar sebuah hujatan kepada 
anak-cucu kita bila kita tidak menganggap mereka sebagai kaum revolusioner. 
Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kaum revolusioner adalah sebuah produk dari 
kondisi sejarah tertentu, sebuah produk dari masyarakat kelas. Kaum 
revolusioner bukanlah abstraksi psikologis. Revolusi sendiri bukanlah prinsip 
abstrak, tetapi sebuah kenyataan material historis, yang tumbuh dari 
antagonisme kelas, dari penindasan satu kelas oleh yang lainnya. Oleh karenanya 
kaum revolusiner adalah sebuah tipe historis yang konkrit, dan sebagai 
konsekuensinya sebuah tipe yang temporer. Kita bangga menjadi bagian dari tipe 
ini. Tetapi dari kerja kita kita sedang membangun kondisi masyarakat dimana 
tidak akan ada antagonisme kelas, tidak akan ada revolusi, dan oleh karenanya 
tidak akan ada kaum revolusioner. Benar kalau kita bisa meluaskan arti kata 
"kaum revolusioner" sampai ia mencakup seluruh aktivitas sadar dari manusia 
untuk menundukkan alam, dan untuk meluaskan pencapaian-pencapaian teknik dan 
kebudayaan. Tetapi kita tidak punya hak untuk membuat abstraksi semacam itu, 
peluasan tanpa batas akan konsepsi "kaum revolusioner", karena kita belumlah 
menyelesaikan tugas historis revolusioner konkrit kita, yakni penumbangan 
masyarakat kelas. Sebagai konsekuennya, kita masih jauh dari diperlukan untuk 
mendidik rakyat komune harmonis, membentuknya dengan kerja laboratorium yang 
detil, di dalam sebuah tahapan transisi masyarakat yang sangat tidak harmonis. 
Tugas semacam ini akan sangat Utopis kekanak-kanakan. Yang kita inginkan adalah 
untuk membuat para juara, kaum revolusioner, yang akan mewarisi dan 
menyelesaikan tradisi-tradisi historis, yang belumlah kita bawa sampai ke 
kesimpulan.

Revolusi dan Mistisisme

Apa karakter-karakter utama dari kaum revolusioner? Kita harus menekankan bahwa 
kita tidak punya hak untuk memisahkan kaum revolusioner dari basis kelas 
darimana dia telah berkembang, yang tanpanya dia bukanlah apa-apa. Kaum 
revolusioner epos kita, yang hanya bisa diasosiasikan dengan kelas buruh, 
memiliki karakter-karakter psikologisnya yang unik, karakter-karakter intelek 
dan tekad. Bila diperlukan dan memungkinkan, kaum revolusioner menghancurkan 
halangan-halangan historis dan menggunakan kekerasan untuk tujuan itu. Bila ini 
tidak memungkinkan, maka dia mengambil jalan memutar, melemahkan dan 
menghancurkan, dengan sabar dan teguh. Dia adalah seorang revolusioner karena 
dia tidak takut untuk menghancurkan halangan-halangan dan dengan tidak mengenal 
kasihan menggunakan kekerasan; pada saat yang sama dia memahami nilainya. 
Adalah tujuannya untuk terus mempertahankan pekerjaan destruktif dan kreatifnya 
di tingkat aktivitas yang tertinggi, yakni, untuk memperoleh dari 
kondisi-kondisi sejarah tertentu tingkatan paling maksimum dimana mereka mampu 
menghasilkan gerak maju untuk kelas revolusioner.

Kaum revolusionis hanya tahu halangan-halangan eksternal untuk aktivitasnya, 
bukan halangan-halangan internal. Yakni: dia harus mengembangkan di dalam 
dirinya sendiri kapasitas untuk mengestimasi arena aktivitas di dalam semua 
kekonkretannya, dengan aspek-aspek positif dan negatifnya, dan untuk mencapai 
sebuah keseimbangan politik yang tepat. Tetapi bila dia secara internal 
terhambat oleh halangan-halangan internal untuk beraksi, bila dia tidak 
memiliki pemahaman atau kekuatan tekad, bila dia terhentikan oleh goncangan 
internal, oleh prasangka-prasangka agama, nasional, atau keahlian, maka dia 
paling banter hanyalah setengah revolusioner. Sudah terlalu banyak 
halangan-halangan di dalam kondisi objektif, dan kaum revolusioner tidak boleh 
memberikan dirinya kemewahan untuk melipatgandakan halangan-halangan dan 
friksi-friksi objektif dengan halangan-halangan subjektif. Oleh karenanya 
pendidikan kaum revolusioner harus, pertama-tama, terdiri dari emansipasinya 
dari sisa-sisa kebodohan dan tahayul, yang sering ditemukan di kesadaran yang 
sangat "sensitif". Dan oleh karenanya kita mengadopsi sebuah sikap keras yang 
tidak mengenal belas kasihan kepada siapapun yang mengucapkan barang satu kata 
bahwa mistisisme atau sentimentalis religi dapat dikombinasikan dengan 
Komunisme. Kita berpendapat bahwa ateisme, yang merupakan sebuah elemen yang 
terpisahkan dari cara pandang materialis, adalah sebuah kondisi yang diperlukan 
untuk pendidikan teori kaum revolusioner. Dia yang percaya pada dunia yang lain 
tidak akan mampu mengkonsentrasikan semua semangatnya untuk merubah dunia yang 
ada sekarang ini.

Darwinisme dan Marxisme

Bahkan bila Darwin, seperti yang dia sendiri katakan, tidak kehilangan 
kepercayaannya kepada Tuhan karena semua penyangkalannya terhadap teori 
penciptaan dari Alkitab, Darwinisme sendiri pada dasarnya sama sekali 
bertentangan dengan kepercayaan ini. Di dalam ini, seperti halnya di dalam 
aspek-aspek lain, Darwinisme adalah sebuah pelopor, sebuah persiapan untuk 
Marxisme. Di ambil dalam pengertian materialis dan dialektis yang luas, 
Marxisme adalah aplikasi Darwinisme terhadap masyarakat manusia. Liberalisme 
Manchester telah mencoba untuk memasukkan Darwinisme secara mekanis ke 
sosiologi. Usaha-usaha seperti ini hanya menghasilkan analogi-analogi 
kekanak-kanakan yang menjadi kedok dari pembenaran borjuis yang bermaksud 
jahat: bahwa kompetisinya Marx dijelaskan sebagai hukum "abadi" dari perjuangan 
eksistensi. Ini adalah konyol. Hanya hubungan internal antara Darwinisme dan 
Marxisme yang memungkinkan kita untuk memahami gerak hidup dari makhluk hidup 
di dalam hubungan primevalnya [awalnya] dengan alam inorganik; di dalam 
partikularisasinya yang selanjutnya dan evolusi; di dalam dinamikanya; di dalam 
pembedaan kebutuhan-kebutuhan hidup di antara jenis-jenis fundamental dari 
kerajaan tumbuh-tumbuhan dan binatang; di dalam perjuangan-perjuangannya; di 
dalam munculnya manusia "pertama" atau makhluk yang menyerupai manusia, yang 
menggunakan alat untuk pertama kalinya; di dalam perkembangan kerjasama 
primitif [komunisme primitif – Pent.],yang menggunakan organ-organ asosiatif; 
di dalam stratifikasi masyarakat selanjutnya sebagai akibat dari perkembangan 
alat-alat produksi, yakni alat-alat untuk menundukkan alam; di dalam peperangan 
antar kelas; dan, akhirnya, di dalam perjuangan untuk menghapus kelas-kelas.

Pemahaman dunia dari sebuah sudut pandang yang begitu luas menandakan 
emansipasi kesadaran manusia untuk pertama kalinya dari sisa-sisa mistisisme, 
dan mengamankan tempat pijak yang kuat. Ini menandakan bahwa di masa depan 
tidak akan ada halangan-halangan subjektif di dalam perjuangan, tetapi bahwa 
satu-satunya halangan dan reaksi yang ada adalah eksternal, dan harus 
diselesaikan dengan berbagai cara, menurut kondisi-kondisi dari konflik 
tertentu.

Betapa sering kita mengatakan: "Praktek pada akhirnya menang." Ini benar di 
dalam pengertian bahwa pengalaman kolektif dari sebuah kelas, dan dari seluruh 
umat manusia, perlahan-lahan menyapu ilusi-ilusi dan teori-teori keliru yang 
berdasarkan generalisasi yang terlalu terburu-buru. Tetapi juga bisa dikatakan 
dengan kebenaran yang sama: "Teori pada akhirnya menang," ketika kita memahami 
bahwa teori pada kenyataannya terdiri dari total pengalaman umat manusia. Di 
lihat dari sudut pandang ini, pertentangan antara teori dan praktek hilang, 
karena teori tidak lain adalah praktek yang dipertimbangkan dan digeneralisasi 
dengan benar. Teori tidak mengalahkan praktek, tetapi teori mengalahkan sikap 
praktek yang serampangan, empiris, dan kasar. Supaya bisa mengestimasi dengan 
benar kondisi-kondisi perjuangan dan situasi dari kelas kita sendiri, kita 
harus memiliki sebuah metode orientasi politik dan sejarah yang dapat 
diandalkan. Ini adalah Marxisme, atau, sehubungan dengan epos baru-baru ini, 
Leninisme.

Marx dan Lenin – mereka adalah dua pemandu utama di dalam bidang penelitian 
sosial. Bagi generasi lebih muda, jalan ke Marx adalah melalui Lenin. Jalan 
langsung menjadi semakin sulit, karena periode yang terlalu panjang yang 
memisahkan generasi baru dari para jenius yang menemukan Sosialisme Ilmiah, 
Marx dan Engels. Leninisme adalah perwujudan dan kondensasi dari Marxisme untuk 
aksi revolusioner yang langsung di dalam epos kematian masyarakat borjuasi. 
Institut Lenin di Moskow harus dibuat sebagai akademi strategi revolusioner 
yang lebih tinggi. Partai Komunis kita dipenuhi dengan semangat kuatnya Lenin. 
Kejeniusan revolusionernya ada bersama kita. Paru-paru revolusioner kita 
menghirup atmosfer doktrin yang lebih baik dan lebih tinggi yang telah 
diciptakan oleh perkembangan pemikiran manusia yang sebelumnya. Oleh karenanya 
kita sangat yakin bahwa hari esok adalah milik kita.

___________________________________

Sumber: The Communist Review, Desember 1922, Vol. 4, No. 7

Penerbit: Partai Komunis Inggris Raya

Penerjemah: Ted Sprague dari "The Tasks of Communist Education", Leon Trotsky 
Internet Archive. Diterjemahkan April 2011.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke