Di tanah Jawa ada filosofi yang mengibaratkan hidup ini seperti orkestra gamelan yang 'bertalu-talu menuju gong'. Daerah lain yang juga mengenal nada pentatonik pasti gampang memahami ini. Bukan cuma dalam urusan hidup manusia saja tapi juga meluas sampai ke urusan alam semesta.
Maksudnya, dengan filosofi ini orang juga terbantu untuk memahami bahwa yang digembar-gembor sebagai big bang itu ya ibaratnya cuma sepentungan gong dalam sebuah komposisi. Bagi yang mengalami jaman mesin tik, bisa juga berfilosofi hidup ini bagaikan orkestra mesin tik; ketak-ketik-ketak-ketik ting! Sreet...baris baru, ketak-ketik.. dan begitulah seterusnya. --- PAREWA <parewa70@...> wrote: > Jumat malam kami tiba lagi didusun kecil kampung kami, seperti hari > yang sudah-sudah. Deretan gunung itu masih yang dulu-dulu jua. > Walau disana sini telah banyak perubahan, saya bersyukur keindahan > alam dusun kami masih alami. Diam-diam saya berdoa agar dusun > cantik itu tidak pernah menarik hati kaum kapitalis menancapkan > taring rakusnya. Lalu, layaknya âBelanda minta tanahâ merubah > sawah2 menjadi mal dan vila yang entah kapan pula akan disinggahi > oleh pemiliknya. > > Usai shalat subuh di surau tuo tak jauh dari rumah, saya bertandang > ke rumah-rumah sanak saudara dan kawan-kawan semasa bujang. Tak > lupa pula sekedar bercakap-cakap ringan dengan segala orang yang > kami temui dijalan. Inilah rahasia hidup sehat sebenar-benarnya: > shalat subuh lalu jalan kaki keliling dusun, bertandang dan > bertegur sapa dengan siapa saja. Badan bugar, jiwa sehat, hati > senang, dan pikiran jadi lawas. > > Secara demikian, tak kan berguna push up dan joging sembari lirik > kiri lirik kanan mengharapkan sekedar anggukan orang untuk > menjadi sehat. Ah, diri yg melayang-layang bak debu ditengah > keramaian. Tak ada apa-apa dan tak ada siapa-siapa!. Hampa. Yang > tersisa selanjutnya adalah: terus menerus memproduksi kata-kata > untuk menipu diri sendiri. Mencoba membangun bahagia khayali lalu > meyakinkan orang bahwa âsaya bahagiaâ. Alih-alih menjadi sehat, > malah pantat melawas dan jiwa meranggas bak pohon lama tak disiram > hujan. > Karenanya jiwa yang sepi dan beku macam begitu lama-lama akan > bertukar akal pula, jadi gila dan tak ada obatnya. > > Menjelang matahari tepat dipuncak > ubun-ubun kepala, saya pulang ke rumah. Baru saja melangkahkan kaki > menginjak anak tangga pertama rumah panggung kami segera saja > tercium aroma pangek ikan yang membangkitkan selera. Dendeng > batokok balado dan rendang kering itam kesukaan saya pastilah juga > sudah terhidang. Seminggu sekali pulang kampung memang moment2 > âmelepas seleraâ inilah yang paling saya tunggu. Rasa-rasanya > kerja keras selama lima hari di kota besar yang penuh asap > kendaraan dan sumpah serapah itu terbayar tunai sudah. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
