Manusia Tidak Punya Roh Tapi Punya Jiwa !!!
=Roh&jiwa itu adalah fungs daripada otak.
Roh itu cuma dongeng dalam agama, dan secara ilmiahnya tidak pernah ada roh,
dan tidak ada kehidupan setelah mati.
`=Sampai kapan pun manusia tidak akan sampai pada puncak kepastiam ilmiah
tentang ROH itu bukan wilayah filsafat yang sesungguh nya hanya agama yang
dapat memastikan kehidupan setelah mati
Karena perdefinisi yang namanya "kehidupan" artinya "tidak mati", dan definisi
"mati" artinya tidak hidup.
=Oooh sudah terjawab oleh anda
Jadi
kontradiksi kalo ada istilah kehidupan setelah mati, sama seperti
kontradiksi-nya dengan istilah "sibuta bermata celi", atau sama
kontradiksinya dengan istilah "mayat hidup" yang istilah ini hanya
digunakan sebagai idiom yang bukan arti sebenarnya.
Jadi mayat itu tidak ada yang hidup, kalo ada yang meng-gerak2an mayat
itu sering dikatakan "mayat hidup" tetapi tetap mayatnya tetap mati, dan
yang meng-gerak2an mayat itulah yang hidup.
=Cara anda membuat idiom membuat bulu kuduk saya berdiri.
Jangan ngomong yang susah2, Descartes bukan Muslimin, dan juga bukan
ulama Nasrani, tapi dia Filosoofer tulen. Sederhana koq pendapat dia,
dia cuma mau menerangkan bahwa segala bentuk ilmu pengetahuan hanya
berfokus kepada dua kegiatan yang sifatnya "real" dan "abstract".
=Descartes tidak memisah kan yang real&yang abstrak,malah menyatukan kedua hal
tsb
karena itu, ia memulai dengan terlebih dahulu meragukan
segala sesuatu. gejala-gejala yang nampak, ia ragukan semua. Ia ragu
terhadap apa yang ia tangkap melalui inderawi. sampai akhirnya ia
menemukan yang pasti; sesuatu yang sama sekali tidak ia ragukan—dan
tidak bisa diragukan—oleh (si)apapun, yaitu “saya sedang ragu”. “Saya
sedang ragu” disebabkan karena “saya berpikir”. “Saya berpikir”
merupakan suatu kebenaran karena tidak ada yang meragukan lagi. “Saya
berpikir” adalah benar, karenanya pasti “ada”. Jika “saya berpikir”
menjadi “ada”, maka kesimpulannya “saya berpikir, maka saya ada”.
Descartes
menyebut keraguan itu sebagai “keraguan metodis universal” Maksud
kata “keraguan” disini bukan dalam arti kebingungan yang tak
berkesudahan, melainkan mempertanyakan kembali kinerja akal budi.
“Keraguan” dipraktekkan sebagai tahap awal menuju kepastian, menjaring
yang benar dari yang salah, dan membuka jalan kepastian dari
kemungkinan. Keraguan disebut juga sebagai “metodis” karena “keraguan”
adalah cara penalaran mengungkap kebenaran secara
reflektif-radikal-filosofis. Perjalanan menuju kebenaran ini mesti
direntang tanpa batas sampai keraguan itu membatasi diri dengan
menemukan kepastian yang “benar-benar pasti” dan ”pasti benar”. .
Yang bersifat abstract itu bentuknya "non-materialisme" seperti teori2
matematika, idea2, rumus2 matematika, dll.
Jadi urusan agama dan kepercayaan merupakan kegiatan materialisme juga
seperti aktivitas menyembah Tuhan (padahal Tuhannya itu abstract).
Kegiatan materialisme adalah kegiatan yang "ada", sedangkan kegiatan
yang abstract adalah kegiatan yang "tidak ada" karena sifatnya hanya
idea atau renungan.
Ber-angan2 juga merupakan kegiatan abstract.
Demikianlah, roh, setan, Tuhan, Allah, dan keimanan itu semuanya
merupakan "object abstract" yang tidak punya kegiatan sama sekali.
=Descartes mengandaikan roh/jiwa memiliki sifat asasi lebih “cerdas” dari sifat
asasi benda/materi, karena secara a priori roh/jiwa membawa
pengertian-pengertian tunggal tentang substansi roh dan bendawi serta mampu
memilah-milah secara jelas (clear and distinctly atau self-evident)
suatu gagasan atau idea tanpa terpengaruh oleh gagasan atau idea-idea
yang lain melalui sifat asasi roh/jiwa, pengertian yang terungkap
bukan hanya substansi bendawi dan rohani saja, melainkan menjamah
substansi pertama, yaitu substansi Tuhan yang tiada batasnya. disinilah letak
perbedaan ontologi Descartes dengan pemikiran ontologi
yang lain. Ia mengandaikan akal (rasio) mempunyai kemampuan menjangkau
pengetahuan tentang segala hal, termasuk pengetahuan (substansi) Tuhan.
Sekalipun yang mampu dijangkau sebetulnya, kata Descartes, hanyalah
atribut substansi belaka
Justru di titik inilah filsafat
Dercartes menemukan kerapuhan fundamental ketika dipaksa membicarakan
tentang hubungan eksistensi substansi jiwa dan badan. Pendapatnya bahwa
substansi Tuhan adalah pemegang otoritas atau—meminjam istilah Pak
Joksis—“penjamin” eksistensi substansi jiwa dan substansi badan, makin
memperjelas bahwa tidak sepenuhnya segala kebenaran selalu bermuara dari
subyek yang sadar. Menurut kadarnya sendiri muncul banyak fakta bahwa
manusia sering dihadapkan pada realitas (yang benar dan pasti) diluar
jangkauannya sebagai subyek yang sadar.
-----Banyak kutipan dari JB bury tentang sejarah kebebasan berfikir
hal 190--223
--- On Thu, 4/21/11, muskitawati <[email protected]> wrote:
From: muskitawati <[email protected]>
Subject: [proletar] Manusia Tidak Punya Roh Tapi Punya Jiwa !!!
To: [email protected]
Date: Thursday, April 21, 2011, 7:09 AM
Manusia Tidak Punya Roh Tapi Punya Jiwa !!!
Roh itu cuma dongeng dalam agama, dan secara ilmiahnya tidak pernah ada roh,
dan tidak ada kehidupan setelah mati.
Karena perdefinisi yang namanya "kehidupan" artinya "tidak mati", dan definisi
"mati" artinya tidak hidup.
Jadi kontradiksi kalo ada istilah kehidupan setelah mati, sama seperti
kontradiksi-nya dengan istilah "sibuta bermata celi", atau sama kontradiksinya
dengan istilah "mayat hidup" yang istilah ini hanya digunakan sebagai idiom
yang bukan arti sebenarnya.
Jadi mayat itu tidak ada yang hidup, kalo ada yang meng-gerak2an mayat itu
sering dikatakan "mayat hidup" tetapi tetap mayatnya tetap mati, dan yang
meng-gerak2an mayat itulah yang hidup
Jangan ngomong yang susah2, Descartes bukan Muslimin, dan juga bukan ulama
Nasrani, tapi dia Filosoofer tulen. Sederhana koq pendapat dia, dia cuma mau
menerangkan bahwa segala bentuk ilmu pengetahuan hanya berfokus kepada dua
kegiatan yang sifatnya "real" dan "abstract".
Yang bersifat real itu bentuknya "materialisme" seperti teknik membangun
gedung, perhitungan dan kalkulasi matematikanya.
Yang bersifat abstract itu bentuknya "non-materialisme" seperti teori2
matematika, idea2, rumus2 matematika, dll.
Jadi urusan agama dan kepercayaan merupakan kegiatan materialisme juga seperti
aktivitas menyembah Tuhan (padahal Tuhannya itu abstract).
Kegiatan materialisme adalah kegiatan yang "ada", sedangkan kegiatan yang
abstract adalah kegiatan yang "tidak ada" karena sifatnya hanya idea atau
renungan.
Ber-angan2 juga merupakan kegiatan abstract.
Demikianlah, roh, setan, Tuhan, Allah, dan keimanan itu semuanya merupakan
"object abstract" yang tidak punya kegiatan sama sekali.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/