Bagi sekelompok fundamentalis extreem, pluralisme dianggap sebagai mengakui 
adanya tuhan lain selain Allah...dan itu haram !....mereka maunya seperti 
dikebun binatang, agar tidak dicampur satu sama lain, tapi dipisahkan...kalo 
perlu dengan pembatas kandang yg kuat...makin berbahaya, semakin kuat 
kandangnya....
-----Original Message-----
From: "sunny" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 28 Apr 2011 20:27:20 
To: <Undisclosed-Recipient>
Reply-To: [email protected]
Subject: [proletar] Pluralisme Menghadapi Tantangan Berat

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/pluralisme-menghadapi-tantangan-berat/

8.04.2011 11:11

Pluralisme Menghadapi Tantangan Berat
Penulis : Theophilus Bela


 


(foto:dok/ist)
Pada satu hari Minggu di awal bulan Februari lalu, para tokoh lintas agama 
menggelar sebuah acara di Istana Olahraga Senayan Jakarta yang diberi judul 
"Pekan Kerukunan Antarumat Beragama Sedunia" atau dalam bahasa Inggris disebut 
"World Interfaith Harmony Week".
Acara ini disaksikan sekitar 6.000 tamu undangan yang mewakili berbagai agama 
di negeri kita. Para tokoh lintas agama pun tampil di panggung, menyampaikan 
doa dan seruan perdamaian bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. 

Tidak ketinggalan para politikus terkemuka di negeri ini tampil ke depan dan 
menyampaikan pidato-pidato indah tentang kerukunan umat beragama di negeri 
kita. Para hadirin pun dihibur oleh acara kesenian yang menampilkan tari kecak 
dari Bali, seni bela diri pencak silat, dan tarian barongsai yang memperagakan 
keterampilan akrobatik para senimannya. 

Juga diperdengarkan lagu-lagu merdu para siswa-siswi sebuah sekolah menengah 
Katolik dari Jakarta. Sungguh, para hadirin amat puas dengan mata acara yang 
disajikan pada acara besar tersebut. Tiba pada giliran seniman Butet 
Kertaradjasa naik panggung, para hadirin pun bertepuk tangan meriah sambil 
menghela napas menantikan banyolan sang pelawak. Butet menunjukkan wajah yang 
agak seram bercampur sedih, tetapi memang begitulah kebiasaannya kalau 
manggung. 

Ternyata betul, Butet sesungguhnya sedang dalam keadaan amat sedih. Saat 
memegang mikrofon, dia langsung mengumumkan sesuatu yang sangat mengagetkan 
para hadirin, yaitu bahwa pada pagi hari itu (Minggu, 6 Februari 2011) 
segerombolan orang beringas telah menyerang warga Ahmadiyah di Cikeusik, 
Pandeglang, Banten. Dalam serangan itu ada tiga warga Ahmadiyah yang tewas dan 
beberapa orang lainnya mengalami luka-luka.

Suasana di Istora Senayan pun berubah dalam sekejap, dari suasana riang gembira 
beralih menjadi sedih dan penuh tanda tanya tentang mengapa hal demikian bisa 
terjadi dan kenapa aparat keamanan tak bisa menangkal serangan tersebut. 
Lain-lain lagi pertanyaan juga timbul setiap kali kejadian semacam ini muncul.

Hari Selasa (8 Februari 2011) setelah kejadian di Pandeglang tadi, ada seorang 
kawan menelepon saya dan menanyakan apakah saya sudah melihat siaran di sebuah 
televisi swasta tentang kerusuhan yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah. 
Namun pagi hari itu saya juga lagi apes karena listrik di tempat saya sedang 
padam, jadi saya tidak bisa menonton televisi. 

Maksud kawan saya ialah, pada kerusuhan berbau SARA di Temanggung, ada massa 
beringas yang mengamuk karena tak puas dengan putusan pengadilan dalam sebuah 
kasus penodaan agama. Massa yang mengamuk itu menyerang tiga gereja yang 
terletak dekat kantor pengadilan negeri dan membakar gedung gereja serta 
beberapa kendaraan di halaman gereja. 

Benda-benda sakral dalam gereja juga dirusak. Seorang pastor yang berusaha 
menyelamatkan gerejanya dipukuli massa sampai babak belur.
Keesokan harinya, hari Rabu awal Februari itu, saya dikejutkan oleh sebuah 
berita bahwa massa dalam jumlah besar menyerang sebuah gereja di kompleks 
perumahan Galaxi, Bekasi, Jawa Barat. 

Dalam keadaan kepepet, saya menghubungi polisi dan pihak keamanan lainnya untuk 
melindungi gereja. Pihak polisi dan aparat keamanan pun bergegas menuju lokasi 
dan berhasil melindungi gereja yang malang itu. Di dekat gereja tersebut 
berdiri juga beberapa gereja lainnya dan sebuah rumah sakit serta sebuah 
sekolah menengah atas. Untung, polisi berhasil menenangkan situasi di lokasi 
itu.

Itulah sekilas pengantar dari saya mengenai tantangan-tantangan terhadap 
pluralisme di masyarakat kita. Dalam hari-hari terakhir ini kita menyaksikan 
polisi menangkap banyak teroris di beberapa lokasi dekat Jakarta.

Jangan Menghasut Umat

Menyaksikan ini semua, kita menjadi bertanya-tanya tentang apa sebenarnya 
penyebab semua gangguan terhadap pluralisme di negeri kita tercinta ini. Banyak 
pakar dan pihak media sudah sering mengulas masalah ini. 

Saya sendiri juga telah menggeluti masalah ini lebih dari sepuluh tahun dan 
adakalanya juga menerangkan tentang sebab-musabab gangguan terhadap pluralisme, 
atau secara konkret menerangkan mengenai gangguan atas gereja-gereja di Tanah 
Air kita.

Dari catatan saya, gangguan terhadap gereja-gereja terbanyak terjadi di Jawa 
Barat dan secara khusus di tempat-tempat seperti Bekasi, Bandung, Bogor, dan 
Tangerang. Dari catatan yang saya peroleh, ada lebih dari 65 persen pabrik 
terdapat di sekitar Karawang dan Bekasi.

Hal ini disebabkan adanya infrastruktur yang baik di sana seperti jalan kereta 
api, jalan tol, dan ditambah lagi tersedianya listrik yang berlimpah, karena 
dipasok dari bendungan-bendungan yang dibangun di Kali Citarum. 

Dengan adanya begitu banyak pabrik di daerah antara Karawang dan Bekasi, 
tidaklah mengherankan bahwa di daerah itu telah terjadi proses urbanisasi 
secara besar-besaran. Jadi, begitu banyak orang telah datang dari berbagai 
daerah kepulauan Nusantara ke wilayah itu untuk mencari nafkah. 

Orang-orang pendatang baru itu tentu mempunyai latar belakang bahasa, budaya, 
adat-istiadat, dan agama yang bermacam-macam pula, yang merupakan cermin 
pluralitas bangsa kita. Ada seorang ahli Jerman menitipkan sebuah rumusan 
sederhana sebagai berikut: "Di situ ada pendatang, di situ pula ada masalah."

Jadi, bagaimana kita harus menghadapi masalah-masalah hidup bersama ini? 
Pertama-tama, para pemimpin, termasuk pemimpin agama, harus bisa membaca dan 
memahami, serta mengerti masalah yang dihadapi. 

Kalau terjadi urbanisasi besar-besaran seperti yang kita jumpai di wilayah 
dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, yaitu Jabodetabek, sebagai pemimpin, 
termasuk pemimpin agama, kita harus berjiwa besar dan menghadapi masalah yang 
dihadapi di depan mata dengan pikiran yang jernih. 

Akan menjadi sangat fatal kalau dalam menghadapi masalah perkotaan besar 
seorang tokoh agama datang dengan ajaran-ajaran agama yang keras dan menghasut. 
Sebagai tokoh agama, dia harus menyadari bahwa kapasitasnya untuk menyerap 
masalah urbanisasi perkotaan yang rumit juga amat sangat terbatas adanya.

Hal yang paling baik yang bisa dibuat seorang tokoh agama ialah membawa air 
kesejukan ke dalam kepengapan dan kebisingan hidup perkotaan kita. Tokoh agama 
harus membawa kesejukan dengan sifat moderat dan toleran terhadap sesama warga 
yang ciri-cirinya berbeda dengan dirinya sendiri.

Awal tahun 1960-an saya menginjakkan kaki pertama kali di Jakarta sebagai 
seorang mahasiswa muda. Waktu itu jalan-jalan di Jakarta masih lengang dan Kota 
Jakarta sendiri masih sedikit penduduknya jika dibandingkan keadaan sekarang. 

Kami bisa mengadakan perarakan keagamaan dari wilayah Kramat, Jakarta Pusat 
hingga Jatinegara. Kini hal tersebut sudah mustahil, karena jalan-jalan antara 
kedua tempat itu sudah penuh sesak dengan kendaraan yang berimpit-impitan dan 
macet. 

Jadi, kehidupan orang-orang kota sekarang menjadi amat sangat keras, karena di 
mana-mana penuh kesesakan dan kemacetan. Jadi, tugas para tokoh agama menjadi 
amat sangat berat, karena dia harus menyejukkan dan menenangkan umat atau 
jemaatnya yang selalu berhadapan dengan kerasnya hidup perkotaan yang pengap 
ini. Tokoh agama janganlah mengajarkan hal-hal yang keras, apalagi yang 
menghasut umatnya. 

*Penulis adalah Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta dan Sekjen 
Indonesian Committee on Religion and Peace.


[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke