Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  726  050 kali.

 = = =               = = = =               == = = =




NII Adalah Gerakan Makar Yang

Harus Ditindak Tegas !



Hiruk-pikuk yang terdengar di negeri kita akhir-akhir ini tentang makin
berkembang biaknya kegiatan-kegiatan NII (Negara Islam Indonesia), dan makin
maraknya radikalisme di sebagian kalangan Islam, memerlukan perhatian dan
kewaspadaan dari kita semua, yang mencintai keutuhan dan keselamatan negara
dan bangsa kita.
Sebab, para pendukung NII dan berbagai kelompok radikal kalangan Islam ini
telah terang-terangan menyatakan di berbagai kesempatan dan melalui berbagai
cara bahwa mereka sudah tidak mengakui NKRI sebagai negara hukum yang sah,
atau menyatakan bahwa mereka bukanlah lagi warganegara NKRI.
Sebagian dari mereka bahkan menyatakan bahwa mengibarkan dan menghormati
bendera Sang Merah Putih serta Pancasila adalah perbuatan terlarang menurut
agama. Di antara mereka  juga ada yang melarang dinyanyikannya  lagu
kebangsaan Indonesia Raya dan menghormati lambang Bhinneka Tunggal Ika.
Persoalan lama yang sengaja dibiarkan saja
Tentang meluasnya gerakan radikalisme di Indonesia, ketua Umum PB NU secara
tegas menyatakan  bahwa sekarang ini sudah mencapai tingkat « lampu merah »
yang sangat membahayakan negara. Apa yang diungkapkan dengan jelas olehnya
itu digarisbawahi oleh Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan oleh
Amien Rais, (mantan pimpinan Muhammadiyah juga).
Dengan membaca isi pernyataan ketiga tokoh kalangan agama itu,  maka kita
dapat memperoleh sedikit  gambaran bahwa masalah NII atau radikalisme ini
memang sebenarnya sudah merupakan persoalan lama, namun sengaja dibiarkan
tidak terselesaikan oleh pemerintahan Orde Baru di bawah Suharto, dan
diteruskan oleh berbagai  pemerintahan yang menggantikannya.
Bahkan, sekarang banyak terbongkar bahwa pimpinan Orde Baru, terutama dari
kalangan Angkatan Darat, sudah lama memupuk kerjasama atau persekongkolan
dengan berbagai kelompok radikal di kalangan Islam, untuk kepentingan
politik. Pimpinan Angkatan Darat, melalui aparat-aparatnya seperti (antara
lain ; intelijen, Bakin atau BAIS, atau badan-baan lainnya) menggunakan
kelompok-kelompok radikal di kalangan Islam, untuk memperkuat dominasi
kekuasaan rejim militer atau melindungi « kestabilan » rejim militernya.
Kerjasama atau persekongkolan pimpinan Angkatan Darat dengan
kelompok-kelompok Islam radikal ini ditujukan untuk tetap (atau
terus-menerus)  menghidupkan berbagai sentimen anti ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno dan mencegah bangkitnya kembali segala macam
manifestasi pro-PKI.
Terlibatnya tokoh-tokoh Orde Baru dengan pesantren Al Zaitun
Kiranya,  kita semua masih ingat bahwa karena besarnya obsesi anti
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dan anti-PKI inilah sebagian dari
pîmpinan Angkatan Darat telah merangkul, atau membujuk (dan menggunakan !)
semua golongan reaksioner atau kotra-revolusioner, termasuk
kelompok-kelompok penerus DI-TII, yang tergabung dalam NII atau FPI atau
bermacam-macam kelompok-kelompok Islam radikal lainnya.
Berdirinya dan banyaknya kegiatan « pesantren modern » Al Zaitun di Jawa
Barat adalah salah satu contoh kecilnya. Selama ini sudah cukup banyak
tulisan atau berita yang mengungkap keterlibatan « tokoh-tokoh » Orde Baru ,
seperti (antara lain !) : Wiranto, Hendropriyono, Tutut Suharto, Habibi,
dalam kegiatan-kegiatan Al Zaitun. Padahal, pimpinan Al Zaitun adalah Panji
Gumilang, anak-buah setia « pemimpin besar » pemberontak Darul Islam,
Kartosuwirjo.
Seperti sama-sama kita ingat, Kartosuwiryo telah dijatuhi hukuman mati oleh
Mahkamah Militer dalam tahun 1962 karena dituduh memimpin pembrontakan
bersenjata DI-TII dan melakukan usaha pembunuhan terhadap Presiden Sukarno.
Jadi, « hubungan historis » antara DI-TII dengan pesantren Al Zaitun dapat
dilihat dari segi ini juga. Sekarang ini, Al Zaytun mempunyai
jaringan-jaringan yang erat dengan berbagai gerakan Islam radikal, termasuk
dengan NII.
Dari apa yang telah diberitakan oleh banyak pers dan televisi selama ini
sudah jelaslah bagi kita semua bahwa gerakan di bawah tanah yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok NII-KW9 adalah  gerakan makar terhadap negara dan
pemerintahan Republik Indonesia. Artinya, sudah jelas pula bahwa NII-KW9
adalah musuh negara dan bangsa Indonesia.
NII KW 9 adalah kelanjutan dari DI-nya Kartosuwirjo
Sekarang ini, NII-KW 9 adalah kelanjutan atau perpanjangan dari DI-TII-nya
Kartosuwirjo, yang sampai tahun 1962 memusuhi Bung Karno dan anti-PKI. Dari
segi ini dapatlah dimengerti bahwa sebagian pimpinan Angkatan Darat atau
sebagian aparat-aparatnya, sekarang ini, mempunyai kesamaan pandangan
politik (dan « bekerja-sama » secara sembunyi-sembunyi )  dengan sebagian
golongan Islam radikal.
Pimpinan Angkatan Darat pada umumnya  -- sampai sekarang !  --  begitu
antinya kepada Bung Karno dan kepada PKI (dan kepada semua golongan kiri
pada umumnya)  sehingga mau merangkul kelompok atau kalangan yang sebenarnya
adalah musuh-musuh negara dan bangsa, Padahal, musuh-musuh negara yang
sebenarnya ini, yang terdiri dari golongan Islam radikal, sudah terbukti
melakukan berbagai pengkhianatan terhadap Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,
dan terhadap Bung Karno dan pendukungnya yang utama, yaitu PKI.
Sesungguhnya, musuh-musuh negara dan bangsa ini sejak lama sudah menentang
Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bendera Sang Merah Putih, dan lagu
kebangsaan Indonesia Raya, dan melawan NKRI,  karena mereka menginginkan
berdirinya Negara Islam Indonesia dan berlakunya Syariat Islam. Mereka
adalah pengkhianat proklamasi 17 Agustus 45 dan pengkhianat terhadap para
pejuang kemerdekaan bangsa kita.
NU dan Muhammadiyah : NKRI tak bisa diotak-atik lagi
Keinginan mereka ini pastilah tidak akan diterima oleh rakyat Indonesia.
Seperti yang sudah dinyatakan berkali-kali oleh pimpinan organisasi Islam
yang terbesar Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, Negara Kesatuan Republik
Indonesia beserta Pancasilanya adalah adalah satu-satunya bentuk yang sudah
tidak bisa ditawar-tawar lagi atau diotak-atik kembali.
Pendirian NU dan Muhammadiyah ini sesuai dengan perkembangan Islam di
Indonesia sekarang ini, dan juga seiring atau sejiwa dengan apa yang terjadi
dewasa ini di banyak negara-negara Arab atau negara muslim di dunia pada
umumnya. Seperti kita ketahui masing-masing, di sebagian besar negara-negara
Arab di dunia, yang jumlahnya 20 negara dengan seluruh penduduk sebesar 250
juta sekarang ini, sedang terjadi pergolakan-pergolakan besar dan penting
untuk menuntut adanya perubahan atau pembaruan dalam sistem pemerintahan dan
kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan.
Perkembangan ini sekarang sedang  terjadi di Mauritania, Maroko, Aljazair,
Libia, Tunisia, Mesir, Yaman, Oman, Bahrein, Saudi Arabia, Jordania, Siria,
dengan skala yang berbeda-beda, dan isi yang juga tidak selalu sama, dan
tujuan yang bisa berlain-lainan pula. Namun,  semuanya berusaha untuk
memperjuangkan perubahan atau pembaruan. Semuanya ini akan merupakan
sumbangan kepada terjadinya situasi baru di negara-negara Arab dan dunia
Islam di kemudian hari.
Barangkali di negeri kita, Indonesia, ada saja orang-orang atau kalangan
yang bertanya-tanya  mengapa terjadi pergolakan-pergolakan di begitu banyak
negara Arab secara beruntun-runtun atau sekaligus bersamaan, padahal
semuanya ada di bawah pemerintahan yang  -- sedikit banyaknya dan walaupun
berbeda-beda -- mentrapkan ketentuan-ketentuan yang menganut agama Islam.
Tentunya ada hal-hal dalam sisitem pemerintahan, sosial, ekonomi dan
kebudayaan, yang tidak disukai atau ditentang oleh rakyat berbagai negara
itu sehingga begitu banyak orang bersedia berjuang sampai mengorbankan jiwa
mereka, seperti yang  terjadi Siria, Yaman, Mesir, Tunisia, Libia, Aljazair
dan Maroko dll. Padahal, kebanyakan pemerintahan-pemerintahan di negara Arab
itu  (yang umumnya mengatur kehidupan  masyarakat secara Islam itu) ada yang
berkuasa sudah  puluhan tahun, dan yang ternyata gagal.
Dengan adanya pergolakan-pergolakan  di banyak negara Arab sekarang ini,
yang justru menuntut adanya perubahan atau pembaruan dalam kehidupan
bernegara dan bermasyarakat, maka kelihatan sekalilah betapa kelirunya atau
betapa sesatnya tujuan perjuangan NII KW9 untuk mendirikan Negara Islam
Indonesia dan menggantikan NKRI.
Tujuan perjuangan NII merupakan kemunduran bangsa dan negara
Apa yang diperjuangkan NII KW9 adalah bertentangan sama sekali dengan tujuan
kebanyakan pergolakan-pergolakan  yang terjadi di negara-negara Arab dewasa
ini. Negara Islam Indonesia yang mereka perjuangkan tidaklah mungkin  --
sama sekali tidak mungkin !!! -- lebih maju, lebih terbuka, dan lebih
toleran dari NKRI yang sekarang, walaupun masih banyak sekali
persoalan-persoalan parah yang harus ditangani (antara lain : korupsi,
penegakan hukum, keadilan sosial, pelanggaran  HAM dll dll). Negara Islam
Indonesia adalah kemunduran bangsa dan kerusakan Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika.
NII adalah musuh rakyat Indonesia, dan bangsa Indonesia haruslah berjuang
sekuat-kuatnya  dengan berbagai jalan, untuk menumpasnya. Dalam hal ini
pemerintah haruslah berani bertindak dengan tegas. Namun, pemerintah (yang
mana pun !!!) tidak akan bisa bertindak tegas dan menumpas NII ini, selama
masih ada pejabat-pejabat atau  tokoh-tokoh yang karena anti ajaran-ajaran
Bung Karno dan anti-PKI tetap terus bersekongkol dengan unsur-unsur Islam
radikal, yang merupakan musuh dan pengkhianat bangsa dan negara.
Paris, 28 April 2011
A. Umar Said
* * *
Lampiran
PBNU : Radikalisme di Indonesia Sudah "Lampu Merah"


Jakarta 26 April 2011 (ANTARA News) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
menilai radikalisme di Indonesia sudah pada tingkatan "lampu merah" atau
sangat membahayakan sehingga negara harus berani menindak tegas.

"Ini sudah `lampu merah`, sudah `emergency`. Negara harus tegas, segera
ambil tindakan," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada wartawan di
kantor PBNU, Jakarta.

Dikatakannya, terungkapnya pelaku teror bom yang berasal dari kalangan
terpelajar dan memiliki perekonomian yang baik menunjukkan radikalisme telah
menyentuh kalangan menengah.

Said Aqil juga merujuk hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian
(LaKIP) yang menunjukkan lebih dari 40 persen pelajar di Jakarta dan
sekitarnya cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan
masalah agama dan moral.

Survei yang digelar selama Oktober 2010-Januari 2011 tersebut dilakukan di
59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri dengan responden 590 guru pendidikan
agama Islam di SMP dan SMA, 993 siswa SMP umum kelas XIV dan XIX, serta
siswa SMA kelas X, XI, XII.

Selain itu, menurut Said Aqil, jaringan kelompok radikal juga sudah sampai
ke tingkat desa, tidak hanya terkonsentrasi di kota.

"Ini jelas bahaya sekali. Radikalisme sudah sempurna, punya sistem, orang,
pelatih, dan sumber dana," kata Said Aqil.

Menurutnya, merebaknya radikalisme bukti kegagalan Kementerian Agama
menjalankan tugasnya membangun, mengawal, dan meningkatkan moralitas dan
spiritualitas bangsa.

Said Aqil mengatakan perlu penanganan secara komprehensif untuk
menanggulangi radikalisme, mulai dari pendekatan konstitusi khususnya
memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia bukan negara agama,
pendekatan ekonomi, sosial budaya, hingga keamanan.

"Ini butuh `political will` pemerintah dan DPR," kata alumni Universitas
Ummul Qura, Arab Saudi tersebut.

Yang tidak kalah penting dilakukan, menurut Said Aqil, adalah mengembalikan
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan dihilangkannya
ketidakadilan di bidang hukum, politik, ekonomi, dan lainnya.

"Selama masih seperti itu, pemerintah tidak akan dipercaya. Nasihat, arahan,
khutbah tidak ada artinya. Suara NU sampai habis pun tidak ada artinya,"
katanya.

Dikatakannya, radikalisme agama memang bukan asli Indonesia, tetapi datang
dari luar dan mendapat sokongan dari luar.


Dikatakannya, setidaknya ada 12 organisasi atau yayasan di Indonesia yang
mengajarkan teologi radikal dan mendapat dukungan dana dari Timur Tengah
terutama Arab Saudi.

Menurut Said Aqil, kepentingan politik, terutama pihak yang mencoba meraih
simpati dari kalangan Islam, turut memiliki andil bagi tumbuh suburnya
radikalisme. Demi kepentingan politik, kelompok-kelompok radikal justru
"dilindungi".

"Kita tuntut keberanian pemerintah untuk menindak gerakan radikal atas nama
apapun," katanya.(*)



* * *


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke