Betul sekali pak umar, jangan malah dipiara buat persiapan mencapai tujuan 
politik macam2.

--- Pada Jum, 29/4/11, Umar Said <[email protected]> menulis:

Dari: Umar Said <[email protected]>
Judul: [proletar] NII Adalah Gerakan Makar Yang Harus Ditindak Tegas !
Kepada: [email protected]
Tanggal: Jumat, 29 April, 2011, 7:03 PM







 



  


    
      
      
      Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/



yang sampai sekarang sudah dikunjungi  726  050 kali.



= = =               = = = =               == = = =



NII Adalah Gerakan Makar Yang



Harus Ditindak Tegas !



Hiruk-pikuk yang terdengar di negeri kita akhir-akhir ini tentang makin

berkembang biaknya kegiatan-kegiatan NII (Negara Islam Indonesia), dan makin

maraknya radikalisme di sebagian kalangan Islam, memerlukan perhatian dan

kewaspadaan dari kita semua, yang mencintai keutuhan dan keselamatan negara

dan bangsa kita.

Sebab, para pendukung NII dan berbagai kelompok radikal kalangan Islam ini

telah terang-terangan menyatakan di berbagai kesempatan dan melalui berbagai

cara bahwa mereka sudah tidak mengakui NKRI sebagai negara hukum yang sah,

atau menyatakan bahwa mereka bukanlah lagi warganegara NKRI.

Sebagian dari mereka bahkan menyatakan bahwa mengibarkan dan menghormati

bendera Sang Merah Putih serta Pancasila adalah perbuatan terlarang menurut

agama. Di antara mereka  juga ada yang melarang dinyanyikannya  lagu

kebangsaan Indonesia Raya dan menghormati lambang Bhinneka Tunggal Ika.

Persoalan lama yang sengaja dibiarkan saja

Tentang meluasnya gerakan radikalisme di Indonesia, ketua Umum PB NU secara

tegas menyatakan  bahwa sekarang ini sudah mencapai tingkat « lampu merah »

yang sangat membahayakan negara. Apa yang diungkapkan dengan jelas olehnya

itu digarisbawahi oleh Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan oleh

Amien Rais, (mantan pimpinan Muhammadiyah juga).

Dengan membaca isi pernyataan ketiga tokoh kalangan agama itu,  maka kita

dapat memperoleh sedikit  gambaran bahwa masalah NII atau radikalisme ini

memang sebenarnya sudah merupakan persoalan lama, namun sengaja dibiarkan

tidak terselesaikan oleh pemerintahan Orde Baru di bawah Suharto, dan

diteruskan oleh berbagai  pemerintahan yang menggantikannya.

Bahkan, sekarang banyak terbongkar bahwa pimpinan Orde Baru, terutama dari

kalangan Angkatan Darat, sudah lama memupuk kerjasama atau persekongkolan

dengan berbagai kelompok radikal di kalangan Islam, untuk kepentingan

politik. Pimpinan Angkatan Darat, melalui aparat-aparatnya seperti (antara

lain ; intelijen, Bakin atau BAIS, atau badan-baan lainnya) menggunakan

kelompok-kelompok radikal di kalangan Islam, untuk memperkuat dominasi

kekuasaan rejim militer atau melindungi « kestabilan » rejim militernya.

Kerjasama atau persekongkolan pimpinan Angkatan Darat dengan

kelompok-kelompok Islam radikal ini ditujukan untuk tetap (atau

terus-menerus)  menghidupkan berbagai sentimen anti ajaran-ajaran

revolusioner Bung Karno dan mencegah bangkitnya kembali segala macam

manifestasi pro-PKI.

Terlibatnya tokoh-tokoh Orde Baru dengan pesantren Al Zaitun

Kiranya,  kita semua masih ingat bahwa karena besarnya obsesi anti

ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dan anti-PKI inilah sebagian dari

pîmpinan Angkatan Darat telah merangkul, atau membujuk (dan menggunakan !)

semua golongan reaksioner atau kotra-revolusioner, termasuk

kelompok-kelompok penerus DI-TII, yang tergabung dalam NII atau FPI atau

bermacam-macam kelompok-kelompok Islam radikal lainnya.

Berdirinya dan banyaknya kegiatan « pesantren modern » Al Zaitun di Jawa

Barat adalah salah satu contoh kecilnya. Selama ini sudah cukup banyak

tulisan atau berita yang mengungkap keterlibatan « tokoh-tokoh » Orde Baru ,

seperti (antara lain !) : Wiranto, Hendropriyono, Tutut Suharto, Habibi,

dalam kegiatan-kegiatan Al Zaitun. Padahal, pimpinan Al Zaitun adalah Panji

Gumilang, anak-buah setia « pemimpin besar » pemberontak Darul Islam,

Kartosuwirjo.

Seperti sama-sama kita ingat, Kartosuwiryo telah dijatuhi hukuman mati oleh

Mahkamah Militer dalam tahun 1962 karena dituduh memimpin pembrontakan

bersenjata DI-TII dan melakukan usaha pembunuhan terhadap Presiden Sukarno.

Jadi, « hubungan historis » antara DI-TII dengan pesantren Al Zaitun dapat

dilihat dari segi ini juga. Sekarang ini, Al Zaytun mempunyai

jaringan-jaringan yang erat dengan berbagai gerakan Islam radikal, termasuk

dengan NII.

Dari apa yang telah diberitakan oleh banyak pers dan televisi selama ini

sudah jelaslah bagi kita semua bahwa gerakan di bawah tanah yang dilakukan

oleh kelompok-kelompok NII-KW9 adalah  gerakan makar terhadap negara dan

pemerintahan Republik Indonesia. Artinya, sudah jelas pula bahwa NII-KW9

adalah musuh negara dan bangsa Indonesia.

NII KW 9 adalah kelanjutan dari DI-nya Kartosuwirjo

Sekarang ini, NII-KW 9 adalah kelanjutan atau perpanjangan dari DI-TII-nya

Kartosuwirjo, yang sampai tahun 1962 memusuhi Bung Karno dan anti-PKI. Dari

segi ini dapatlah dimengerti bahwa sebagian pimpinan Angkatan Darat atau

sebagian aparat-aparatnya, sekarang ini, mempunyai kesamaan pandangan

politik (dan « bekerja-sama » secara sembunyi-sembunyi )  dengan sebagian

golongan Islam radikal.

Pimpinan Angkatan Darat pada umumnya  -- sampai sekarang !  --  begitu

antinya kepada Bung Karno dan kepada PKI (dan kepada semua golongan kiri

pada umumnya)  sehingga mau merangkul kelompok atau kalangan yang sebenarnya

adalah musuh-musuh negara dan bangsa, Padahal, musuh-musuh negara yang

sebenarnya ini, yang terdiri dari golongan Islam radikal, sudah terbukti

melakukan berbagai pengkhianatan terhadap Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,

dan terhadap Bung Karno dan pendukungnya yang utama, yaitu PKI.

Sesungguhnya, musuh-musuh negara dan bangsa ini sejak lama sudah menentang

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bendera Sang Merah Putih, dan lagu

kebangsaan Indonesia Raya, dan melawan NKRI,  karena mereka menginginkan

berdirinya Negara Islam Indonesia dan berlakunya Syariat Islam. Mereka

adalah pengkhianat proklamasi 17 Agustus 45 dan pengkhianat terhadap para

pejuang kemerdekaan bangsa kita.

NU dan Muhammadiyah : NKRI tak bisa diotak-atik lagi

Keinginan mereka ini pastilah tidak akan diterima oleh rakyat Indonesia.

Seperti yang sudah dinyatakan berkali-kali oleh pimpinan organisasi Islam

yang terbesar Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, Negara Kesatuan Republik

Indonesia beserta Pancasilanya adalah adalah satu-satunya bentuk yang sudah

tidak bisa ditawar-tawar lagi atau diotak-atik kembali.

Pendirian NU dan Muhammadiyah ini sesuai dengan perkembangan Islam di

Indonesia sekarang ini, dan juga seiring atau sejiwa dengan apa yang terjadi

dewasa ini di banyak negara-negara Arab atau negara muslim di dunia pada

umumnya. Seperti kita ketahui masing-masing, di sebagian besar negara-negara

Arab di dunia, yang jumlahnya 20 negara dengan seluruh penduduk sebesar 250

juta sekarang ini, sedang terjadi pergolakan-pergolakan besar dan penting

untuk menuntut adanya perubahan atau pembaruan dalam sistem pemerintahan dan

kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Perkembangan ini sekarang sedang  terjadi di Mauritania, Maroko, Aljazair,

Libia, Tunisia, Mesir, Yaman, Oman, Bahrein, Saudi Arabia, Jordania, Siria,

dengan skala yang berbeda-beda, dan isi yang juga tidak selalu sama, dan

tujuan yang bisa berlain-lainan pula. Namun,  semuanya berusaha untuk

memperjuangkan perubahan atau pembaruan. Semuanya ini akan merupakan

sumbangan kepada terjadinya situasi baru di negara-negara Arab dan dunia

Islam di kemudian hari.

Barangkali di negeri kita, Indonesia, ada saja orang-orang atau kalangan

yang bertanya-tanya  mengapa terjadi pergolakan-pergolakan di begitu banyak

negara Arab secara beruntun-runtun atau sekaligus bersamaan, padahal

semuanya ada di bawah pemerintahan yang  -- sedikit banyaknya dan walaupun

berbeda-beda -- mentrapkan ketentuan-ketentuan yang menganut agama Islam.

Tentunya ada hal-hal dalam sisitem pemerintahan, sosial, ekonomi dan

kebudayaan, yang tidak disukai atau ditentang oleh rakyat berbagai negara

itu sehingga begitu banyak orang bersedia berjuang sampai mengorbankan jiwa

mereka, seperti yang  terjadi Siria, Yaman, Mesir, Tunisia, Libia, Aljazair

dan Maroko dll. Padahal, kebanyakan pemerintahan-pemerintahan di negara Arab

itu  (yang umumnya mengatur kehidupan  masyarakat secara Islam itu) ada yang

berkuasa sudah  puluhan tahun, dan yang ternyata gagal.

Dengan adanya pergolakan-pergolakan  di banyak negara Arab sekarang ini,

yang justru menuntut adanya perubahan atau pembaruan dalam kehidupan

bernegara dan bermasyarakat, maka kelihatan sekalilah betapa kelirunya atau

betapa sesatnya tujuan perjuangan NII KW9 untuk mendirikan Negara Islam

Indonesia dan menggantikan NKRI.

Tujuan perjuangan NII merupakan kemunduran bangsa dan negara

Apa yang diperjuangkan NII KW9 adalah bertentangan sama sekali dengan tujuan

kebanyakan pergolakan-pergolakan  yang terjadi di negara-negara Arab dewasa

ini. Negara Islam Indonesia yang mereka perjuangkan tidaklah mungkin  --

sama sekali tidak mungkin !!! -- lebih maju, lebih terbuka, dan lebih

toleran dari NKRI yang sekarang, walaupun masih banyak sekali

persoalan-persoalan parah yang harus ditangani (antara lain : korupsi,

penegakan hukum, keadilan sosial, pelanggaran  HAM dll dll). Negara Islam

Indonesia adalah kemunduran bangsa dan kerusakan Pancasila dan Bhinneka

Tunggal Ika.

NII adalah musuh rakyat Indonesia, dan bangsa Indonesia haruslah berjuang

sekuat-kuatnya  dengan berbagai jalan, untuk menumpasnya. Dalam hal ini

pemerintah haruslah berani bertindak dengan tegas. Namun, pemerintah (yang

mana pun !!!) tidak akan bisa bertindak tegas dan menumpas NII ini, selama

masih ada pejabat-pejabat atau  tokoh-tokoh yang karena anti ajaran-ajaran

Bung Karno dan anti-PKI tetap terus bersekongkol dengan unsur-unsur Islam

radikal, yang merupakan musuh dan pengkhianat bangsa dan negara.

Paris, 28 April 2011

A. Umar Said

* * *

Lampiran

PBNU : Radikalisme di Indonesia Sudah "Lampu Merah"



Jakarta 26 April 2011 (ANTARA News) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

menilai radikalisme di Indonesia sudah pada tingkatan "lampu merah" atau

sangat membahayakan sehingga negara harus berani menindak tegas.



"Ini sudah `lampu merah`, sudah `emergency`. Negara harus tegas, segera

ambil tindakan," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada wartawan di

kantor PBNU, Jakarta.



Dikatakannya, terungkapnya pelaku teror bom yang berasal dari kalangan

terpelajar dan memiliki perekonomian yang baik menunjukkan radikalisme telah

menyentuh kalangan menengah.



Said Aqil juga merujuk hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian

(LaKIP) yang menunjukkan lebih dari 40 persen pelajar di Jakarta dan

sekitarnya cenderung setuju menempuh aksi kekerasan untuk menyelesaikan

masalah agama dan moral.



Survei yang digelar selama Oktober 2010-Januari 2011 tersebut dilakukan di

59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri dengan responden 590 guru pendidikan

agama Islam di SMP dan SMA, 993 siswa SMP umum kelas XIV dan XIX, serta

siswa SMA kelas X, XI, XII.



Selain itu, menurut Said Aqil, jaringan kelompok radikal juga sudah sampai

ke tingkat desa, tidak hanya terkonsentrasi di kota.



"Ini jelas bahaya sekali. Radikalisme sudah sempurna, punya sistem, orang,

pelatih, dan sumber dana," kata Said Aqil.



Menurutnya, merebaknya radikalisme bukti kegagalan Kementerian Agama

menjalankan tugasnya membangun, mengawal, dan meningkatkan moralitas dan

spiritualitas bangsa.



Said Aqil mengatakan perlu penanganan secara komprehensif untuk

menanggulangi radikalisme, mulai dari pendekatan konstitusi khususnya

memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia bukan negara agama,

pendekatan ekonomi, sosial budaya, hingga keamanan.



"Ini butuh `political will` pemerintah dan DPR," kata alumni Universitas

Ummul Qura, Arab Saudi tersebut.



Yang tidak kalah penting dilakukan, menurut Said Aqil, adalah mengembalikan

kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dengan dihilangkannya

ketidakadilan di bidang hukum, politik, ekonomi, dan lainnya.



"Selama masih seperti itu, pemerintah tidak akan dipercaya. Nasihat, arahan,

khutbah tidak ada artinya. Suara NU sampai habis pun tidak ada artinya,"

katanya.



Dikatakannya, radikalisme agama memang bukan asli Indonesia, tetapi datang

dari luar dan mendapat sokongan dari luar.



Dikatakannya, setidaknya ada 12 organisasi atau yayasan di Indonesia yang

mengajarkan teologi radikal dan mendapat dukungan dana dari Timur Tengah

terutama Arab Saudi.



Menurut Said Aqil, kepentingan politik, terutama pihak yang mencoba meraih

simpati dari kalangan Islam, turut memiliki andil bagi tumbuh suburnya

radikalisme. Demi kepentingan politik, kelompok-kelompok radikal justru

"dilindungi".



"Kita tuntut keberanian pemerintah untuk menindak gerakan radikal atas nama

apapun," katanya.(*)



* * *



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke