Refleksi :  Wah, mungkin para anggota MUI dan FPI cs bisa tidur tak nyenyak, 
makan pun tak enak  jika mengetahui  bahwa   ada yang pakai jilbab membanggakan 
candi Muaro, benda berhala kafir.

http://www.jambiekspres.co.id/jambi-cerdas/18698-situs-candi-muaro-jambi-warisan-budaya-yang-saya-banggakan.html

      Kamis, 24 Maret 2011 10:18 
     
      Situs Candi Muaro Jambi: Warisan Budaya yang Saya Banggakan  
      Oleh: Bella Moulina*
      UNESCO: Situs Candi Muaro Jambi, Tentative List of World Heritage."


       
      Situs Candri Muaro Jambi
      Headline tulisan di atas membuat saya tertarik membaca harian lokal di 
kota saya, Jambi Ekspres. Saya mengambil kesimpulan bahwa candi yang paling 
dibanggakan provinsi ini akan masuk dalam daftar tunggu warisan budayanya 
UNESCO setelah membaca isi berita yang dimuat pada tahun lalu. Saya cukup 
senang melihat tulisan tersebut, ternyata dunia semakin mengenal Situs Candi 
Muaro Jambi! 

      Terhitung sejak April 2009 hingga Januari 2011, saya sudah lima kali 
mengunjungi kawasan yang membentang seluas 12 kilometer ini. Pertama kali saya 
mengunjunginya ketika mau meliput wisata dan budaya untuk majalah kampus 
TROTOAR di Universitas Jambi. Waktu itu mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi 
bukanlah karena unsur kesengajaan, melainkan tidak sengaja berkunjung karena 
tempat pertama yang kami kunjungi (Sentra Batik Jambi di Seberang) terhambat. 
Saya dan dua teman, Wahyu dan Fadli, langsung memutuskan untuk meliput situs 
ini. Toh kami pikir, Situs Candi Muaro Jambi tidak kalah keren.

      Perjalanan menuju Situs Candi Muaro Jambi memakan waktu ± 1 jam. Pada 
April 2009 lalu, hanya ada satu jalur menuju kawasan tersebut, yaitu melalui 
Jembatan Batanghari I Aur Duri, tetapi sejak 2010 lalu jalur menuju Situs Candi 
Muaro Jambi sudah bisa melalui Jembatan Batanghari II. Bagi yang belum pernah 
mengunjungi situs ini, tidak perlu takut, karena penduduk di sekitar Muaro 
Jambi sangat senang apabila ditanya tempat ini. Saya mengalaminya ketika baru 
pertama kali kesana, saya bertanya kepada penduduk lokal, dan mereka pun 
menunjukkan arah menuju Situs Candi Muaro Jambi. Di sisi jalan juga terdapat 
palang informasi mengenai area Situs Candi Muaro Jambi. Menurut saya, 
pemerintah seharusnya lebih memperbanyak palang informasi tersebut di sisi 
jalan, agar memudahkan wisatawan dari luar Jambi yang ingin berkunjung. Ow ya, 
jangan lupa siapkan tiket masuk Rp.8.000,-/motor agar kamu bisa menikmati 
kompleks ini.

      Kali kedua saya berkunjung, ketika Februari 2010 lalu, saya dan rombongan 
Workshop Menulis Eka Tjipta Foundation-TROTOAR, berwisata ke kawasan ini 
setelah selesai workshop selama satu minggu di PT.WKS. Andreas Harsono, 
wartawan independen asal Jakarta ini bahkan bilang kepada saya suatu saat ingin 
menulis lebih dalam mengenai Situs Candi Muaro Jambi lho. Ia tertarik dengan 
luasnya candi kita!

      Memang dalam kurun waktu April 2009-Februari 2010, saya sudah lama tidak 
berkunjung ke Situs ini, tapi perjalanan menuju Situs Candi Muaro Jambi kembali 
terulang pada tahun yang sama, Juli 2010. Mama, Papa, dan kedua adik saya turut 
serta dalam liburan keluarga ini. Iwan, adikku yang belajar di IPB plus Mama 
dan adikku Sadi, juga belum berkunjung kesini, maka tercetuslah Situs Candi 
Muaro Jambi dalam destinasi liburan kami. Kami tidak lupa membawa makanan dan 
lauk pauk, serta tikar yang bisa digelar di area Situs ini. Nikmatnya makan di 
bawah pohon dekat Candi Tinggi (salah satu dari sembilan candi yang besar) 
bersama keluarga tidak akan pernah tergantikan.

                      Keempat kalinya, saya mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi 
bersama teman-teman dari KKN Tematik Unja yang akan survey lokasi KKN disini. 
Yup, saya dan teman-teman dalam waktu dekat akan KKN disini, jadi pada Desember 
2010 lalu kami survey di Desa Candi Muaro Jambi dan Desa Danau Lamo (dua desa 
yang berada dekat dengan kawasan Situs ini). Berbeda ketika pertama kali 
mengunjungi Situs Candi Muaro Jambi saya bertemu dengan Pak Bujang, seorang 
guide yang sangat ramah, waktu itu kami juga bertemu dengan seorang guide 
bernama Bang Borju. Saya rasa dia memiliki rasa cinta yang sangat tinggi 
terhadap Jambi. Ia menjadi guide dengan sukarela, plus mendirikan Sekolah Alam 
Raya (sekolah informal setiap hari minggu) bagi anak-anak di sekitar kompleks 
candi, dan ia membiayai sekolah ini dengan uangnya sendiri lho! Can you 
imagine? Pemuda Indonesia satu ini begitu mengabdi pada bangsanya.

      Terakhir kali, pada 24 Januari lalu, saya kembali mengunjungi Situs yang 
ditemukan oleh Letnan S.C. Crooke pada 1820 ini bersama teman-teman satu kelas 
di FKIP Bahasa Inggris 2007. Kami sengaja merencanakan liburan ke tempat ini 
karena telah habis mata kuliah di semester 7, and it was time to refresh our 
mind! Perjalanan kali ini ditempuh dari Jembatan Batanghari II, ditemani dengan 
rintik hujan dan semangat membara akan kebersamaan 25 mahasiswa/i yang cukup 
gokil. 

      Lagi-lagi saya bertemu dengan Bang Borju. Sebenarnya kami berencana akan 
mengelilingi 12 km Situs Candi Muaro Jambi, tapi karena cuaca yang tidak 
mendukung, maka kami memutuskan untuk tidak mengelilinginya. Bang Borju 
ternyata masih ingat dengan saya, Ana, dan Alsep, yang ketika itu pernah 
bertemu beliau sewaktu survey KKN Tematik. Ia ramah, dan sangat senang 
berbicara dengan kami, ia nggak sungkan-sungkan menawarkan bantuan kepada kami. 
What a nice guide, right?

      Di dalam kompleks Situs yang sering didatangi wisatawan lokal, nasional, 
dan internasional ini terdapat 82 candi, diantaranya sembilan candi besar yang 
sudah ditemukan, Candi Kedaton, Candi Kotomahligai, Candi Gedong I, Candi 
Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Kembar Batu, 
dan Candi astano, beberapa kanal kuno (digunakan sebagai akses memasuki candi 
dari jalur kanal), Gedung Koleksi Kepurbakalaan, Telago Rajo (kolam kuno), dan 
menapo (gundukan tanah yang berisi struktur bata). Di museum tersebut juga 
terdapat arca yang terbuat dari batu maupun bata, keramik lokal berupa gerabah 
dan keramik yang terbuat dari porselin atau batuan, prasasti pada bata kuno, 
genteng tanah liat polos maupun berglasir, gong/belanga perunggu,  mau 
mengelilingi kompleks 12 kilometer ini, Bang Borju dengan senang hati 
mengantarkan kamu keliling kok. Bang Borju juga pernah bercerita kepada saya 
kalau nanti akan ada trip keliling Situs Candi Muaro Jambi, dilanjutkan dengan 
menyantap kuliner khas Muaro Jambi juga lho! Nah kenapa nggak dicoba tuh?

      Cerita Situs yang memotret kejayaan Kerajaan Melayu Kuno pada abad 4-5 
masehi ini juga terdengar sampai ke Jerman lho. Teman saya, Supriadi, pernah 
bertemu dengan seorang turis asal Jerman yang lagi jalan kaki dari arah Simpang 
Rimbo menuju Aur Duri. Guess what? Jan Warschewski, pemuda ini datang jauh-jauh 
dari Jerman untuk mengunjungi Situs ini! Ia mengaku mengetahui informasi ini 
dari internet, kemudian ia memutuskan untuk menjelajah Indonesia, termasuk 
Situs Candi Muaro Jambi. Jujur, saya bangga! Lain halnya ama dua petualang Aku 
Cinta Indonesia (ACI) Detik.com, Titis dan Zulfi, mereka sebenarnya dijadwalkan 
hanya berkeliling Bengkulu dan Lampung dalam trip mencintai Indonesia ini, tapi 
mereka bersikeras menuju Situs Candi Muaro Jambi karena penasaran. Keren banget 
semangatnya guys! Saya senang mendengarnya.

      Well, sudah selayaknya saya kagum dan menjaga warisan budaya Jambi ini 
kan? Meski belum menjadi objek wisata yang terkenal seperti Candi Borobudur, 
saya yakin suatu saat Situs Candi Muaro Jambi bakal rame dikunjungi orang 
Jambi, Indonesia, dan luar negeri. Memang beberapa kios di sekitar Situs ini 
ada yang kurang terawat, tapi fasilitas di dalam Situs ini sudah mulai membaik 
kok. Saya menyarankan agar pemerintah lebih perhatian lagi dan terus 
memperkenalkan Situs ini kepada masyarakat luas. Tentunya didukung dengan 
fasilitas yang menunjang wisatawan, program budaya yang menarik, dan dikelola 
dengan serius oleh pemerintah. Akhir kata, saya nggak akan berhenti 
memperkenalkan Situs Candi Muaro Jambi ini kepada kalian semua. Saya cinta 
provinsi ini, kawan! As I want you to do so.

      Oleh : Bella Maulina

      (*Penulis adalah alumni Xpresi)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke