Refleksi : Kalau telah ditakdirkan menjadi pulau kecil  maka tentu tidak mudah 
dilewati apa yang dianugerahkan.

http://www.jambiekspres.co.id/opini/18975-indonesia-pulau-kecil-di-bumi-sepak-bola.html

      Sabtu, 23 April 2011 10:51 

     
      Indonesia, Pulau Kecil di Bumi Sepak Bola  


      SUNGGUH kian menjengkelkan. Perbincangan sepak bola Indonesia belum juga 
beranjak dari pertengkaran di meja rapat dan Kantor PSSI. Orang-orang yang 
merasa punya kuasa dalam persepakbolaan Indonesia masih saja saling bertikai. 
Ketika komite normalisasi (KN) dibuat oleh Federasi Sepak Bola Internasional 
(FIFA) untuk menyelamatkan sepak bola Indonesia, eh yang terjadi bukannya 
kenormalan, melainkan serial pertengkaran baru.

      Tentu saja ini membuat geras (geram dan gemas). Bukankah pembicaraan 
tentang sepak bola mestinya lebih banyak, misalnya, bagaimana gol dibuat, siapa 
pemain hebat, bagaimana kemenangan dicapai, siapa pemain terbaik, cerita 
tentang pelatih hebat, dan aneka pe ristiwa lain di lapangan? Kapan kita bisa 
seperti itu?

      Kalau dicermati, dari daftar prestasi yang dibuat koran ini saat 
menyambut ulang tahun ke-81 PSSI, 19 April lalu, Indonesia belum punya prestasi 
level dunia.Di level Asia pun berat. Bisa saja orang menunjuk pada Piala Dunia 
1938 di Prancis ketika Hindia Belanda (cikal Indonesia), ikut turnamen itu. 
Hindia Belanda langsung ke Prancis, sebab lawan di prakualifikasi, Jepang, 
mundur karena berperang dengan China. 

      Lagi pula di pertandingan melawan Hongaria, Hindia Belanda langsung kalah 
6-0 dan pulang. Indonesia tak bisa mengulang "prestasi" ini. Prestasi sepak 
bola Indonesia tak sebanding dengan banyaknya penduduk. Kita punya penduduk 
terbanyak kelima di dunia, tetapi di ranking ke-130. Memang kita bisa "bangga", 
karena India yang merupakan berpenduduk terbanyak kedua di dunia, rankingnya 
lebih rendah dari kita, di posisi 142. Tapi, kalau kita mencontoh yang lebih 
bawah, kapan kita maju? Lagi pula, rakyat India tidak segila rakyat kita dalam 
menonton bola.

      Kali ini kita seharusnya menyelesaikan problem PSSI pasca-Nurdin Halid 
dengan mengikuti aturan main. Sportiflah. Aturan FIFA memang harus diikuti 
kalau kita mau tetap "gaul" di dunia sepak bola. PSSI sebenarnya sudah lolos 
sanksi dan mulai dipedulikan FIFA dengan dibentuknya KN. Padahal, FIFA bisa 
saja terus tidak ngreken PSSI. 

      Toh, FIFA juga lama sekali tidak ngreken ketika publik bola di tanah air 
berteriak-teriak agar Nurdin Halid diturunkan karena pernah menjadi napi, yang 
bertentangan dengan aturan FIFA. Sampai ketika diplomasi Dubes Djoko Susilo 
berhasil meyakinkan FIFA, bahwa memang sepak bola Indonesia krisis kepemimpinan 
berat.

      Mengapa selama ini FIFA tak begitu "peduli" sepak bola Indonesia? Ini 
karena sepak bola kita adalah pulau kecil di tengah bumi sepak bola. Harus 
diakui, meski pahit, kita bukan negara penting dalam sepak bola. Tak heran FIFA 
kerap mencueki kita. FIFA tak mungkin cuek dan tutup mata apabila ada 
persoalan, misalnya, di persepakbolaan Brazil, Meksiko, Prancis, atau Korea. 
Mereka adalah raksasa yang bisa memengaruhi keasyikan dunia sepak bola. Kalau 
Indonesia? Rasanya, tidak ada pun tidak apa-apa. Tidak ngaruh. Kitalah yang 
lebih berkepentingan agar bisa bergaul sehat dan normal dalam dunia sepak bola. 
Karena itu, kali ini hendaknya para pemilik suara PSSI atau siapa pun elite 
yang punya kuasa di dunia sepak bola Indonesia kembali ke akal sehat olahraga.

                      Kita sudah letih menyaksikan keinginan memaksakan 
kehendak mengaburkan prestasi dan kebanggaan dalam sepak bola. Bahkan, ada yang 
rela mendapat sanksi FIFA demi mengegolkan calonnya karena merasa mayoritas 
pemilik suara. Logika apa ini? Masak demi seseorang, entah itu George Toisutta, 
Arifin Panigoro, atau Nirwan Bakrie, ada yang rela PSSI dikucilkan? Lalu, apa 
bedanya dengan era sebelumnya? 

                      Kalau memang sepak bola kita tak bisa dibina, sebaiknya 
kita lebih mencurahkan perhatian ke olahraga yang lebih bisa memberikan 
kebanggaan nasional. (*)
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke