Pulau kecil di sepakbola, tp juara dlm korupsi.




________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 2, 2011 10:31:53 PM
Subject: [proletar] Indonesia, Pulau Kecil di Bumi Sepak Bola

   
Refleksi : Kalau telah ditakdirkan menjadi pulau kecil  maka tentu tidak mudah 
dilewati apa yang dianugerahkan.

http://www.jambiekspres.co.id/opini/18975-indonesia-pulau-kecil-di-bumi-sepak-bola.html


Sabtu, 23 April 2011 10:51 

Indonesia, Pulau Kecil di Bumi Sepak Bola 

SUNGGUH kian menjengkelkan. Perbincangan sepak bola Indonesia belum juga 
beranjak dari pertengkaran di meja rapat dan Kantor PSSI. Orang-orang yang 
merasa punya kuasa dalam persepakbolaan Indonesia masih saja saling bertikai. 
Ketika komite normalisasi (KN) dibuat oleh Federasi Sepak Bola Internasional 
(FIFA) untuk menyelamatkan sepak bola Indonesia, eh yang terjadi bukannya 
kenormalan, melainkan serial pertengkaran baru.

Tentu saja ini membuat geras (geram dan gemas). Bukankah pembicaraan tentang 
sepak bola mestinya lebih banyak, misalnya, bagaimana gol dibuat, siapa pemain 
hebat, bagaimana kemenangan dicapai, siapa pemain terbaik, cerita tentang 
pelatih hebat, dan aneka pe ristiwa lain di lapangan? Kapan kita bisa seperti 
itu?

Kalau dicermati, dari daftar prestasi yang dibuat koran ini saat menyambut 
ulang 
tahun ke-81 PSSI, 19 April lalu, Indonesia belum punya prestasi level dunia.Di 
level Asia pun berat. Bisa saja orang menunjuk pada Piala Dunia 1938 di Prancis 
ketika Hindia Belanda (cikal Indonesia), ikut turnamen itu. Hindia Belanda 
langsung ke Prancis, sebab lawan di prakualifikasi, Jepang, mundur karena 
berperang dengan China. 


Lagi pula di pertandingan melawan Hongaria, Hindia Belanda langsung kalah 6-0 
dan pulang. Indonesia tak bisa mengulang "prestasi" ini. Prestasi sepak bola 
Indonesia tak sebanding dengan banyaknya penduduk. Kita punya penduduk 
terbanyak 
kelima di dunia, tetapi di ranking ke-130. Memang kita bisa "bangga", karena 
India yang merupakan berpenduduk terbanyak kedua di dunia, rankingnya lebih 
rendah dari kita, di posisi 142. Tapi, kalau kita mencontoh yang lebih bawah, 
kapan kita maju? Lagi pula, rakyat India tidak segila rakyat kita dalam 
menonton 
bola.

Kali ini kita seharusnya menyelesaikan problem PSSI pasca-Nurdin Halid dengan 
mengikuti aturan main. Sportiflah. Aturan FIFA memang harus diikuti kalau kita 
mau tetap "gaul" di dunia sepak bola. PSSI sebenarnya sudah lolos sanksi dan 
mulai dipedulikan FIFA dengan dibentuknya KN. Padahal, FIFA bisa saja terus 
tidak ngreken PSSI. 


Toh, FIFA juga lama sekali tidak ngreken ketika publik bola di tanah air 
berteriak-teriak agar Nurdin Halid diturunkan karena pernah menjadi napi, yang 
bertentangan dengan aturan FIFA. Sampai ketika diplomasi Dubes Djoko Susilo 
berhasil meyakinkan FIFA, bahwa memang sepak bola Indonesia krisis kepemimpinan 
berat.

Mengapa selama ini FIFA tak begitu "peduli" sepak bola Indonesia? Ini karena 
sepak bola kita adalah pulau kecil di tengah bumi sepak bola. Harus diakui, 
meski pahit, kita bukan negara penting dalam sepak bola. Tak heran FIFA kerap 
mencueki kita. FIFA tak mungkin cuek dan tutup mata apabila ada persoalan, 
misalnya, di persepakbolaan Brazil, Meksiko, Prancis, atau Korea. Mereka adalah 
raksasa yang bisa memengaruhi keasyikan dunia sepak bola. Kalau Indonesia? 
Rasanya, tidak ada pun tidak apa-apa. Tidak ngaruh. Kitalah yang lebih 
berkepentingan agar bisa bergaul sehat dan normal dalam dunia sepak bola. 
Karena 
itu, kali ini hendaknya para pemilik suara PSSI atau siapa pun elite yang punya 
kuasa di dunia sepak bola Indonesia kembali ke akal sehat olahraga.

Kita sudah letih menyaksikan keinginan memaksakan kehendak mengaburkan prestasi 
dan kebanggaan dalam sepak bola. Bahkan, ada yang rela mendapat sanksi FIFA 
demi 
mengegolkan calonnya karena merasa mayoritas pemilik suara. Logika apa ini? 
Masak demi seseorang, entah itu George Toisutta, Arifin Panigoro, atau Nirwan 
Bakrie, ada yang rela PSSI dikucilkan? Lalu, apa bedanya dengan era sebelumnya? 


Kalau memang sepak bola kita tak bisa dibina, sebaiknya kita lebih mencurahkan 
perhatian ke olahraga yang lebih bisa memberikan kebanggaan nasional. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke