"Aku tahu kalian di sini untuk membunuhku. 
Tembak, pengecut! Kalian hanyalah pembunuh." 
- che (14 Mei 1928 - 9 Oktober 1967) 


- 

http://www.youtube.com/watch?v=j7_712bA8Zo

Hasta siempre, comandante (let's start) 
Hasta siempre, comandante (mars track) 
Hasta siempre, comandante (revolution never stopped) 
Hasta siempre, comandante (revolution will never die)
Hasta siempre, comandante (Mahatma Gandhi) 
Hasta siempre, comandante (Bung Karno)
Hasta siempre, comandante (Cut Nya Dien)
Hasta siempre, comandante (as always)
Hasta siempre, comandante (bangkit) 


-

50 TAHUN RI-KUBA
"From Indonesia with Love"

Senin, 19 Juli 2010 | 04:29 WIB

Oleh Irwan Julianto

Presiden Indonesia Soekarno disambut oleh Presiden Kuba 
Fidel Castro (tegah) dan Che Guevara (kedua dari kanan) di 
Bandara Jose Marti, Havana, Kuba, pada kunjungan kenegaraan 
tanggal 13 Mei 1960. Kunjungan ini untuk meresmikan hubungan 
diplomatik antara Indonesia dan Kuba yang dijalin sejak awal 
1960. (Foto: KOLEKSI KEDUTAAN BESAR KUBA JAKARTA) 


Baik di ruang tamu Kedutaan Besar Republik Indonesia di 
Havana maupun di ruang tamu Kedutaan Besar Kuba di Jakarta 
terpampang foto yang sama: Presiden Soekarno di Bandara 
Jose Marti, Havana, disambut oleh Presiden Kuba Fidel Castro, 
Che Guevara, dan deretan pejabat Kuba lain. 

Di latar belakang terlihat pesawat yang membawa Presiden 
Soekarno ke Kuba pada 13 Mei 1960. Di bagian bawah foto 
terbaca tulisan tangan "From Indonesia with Love". Tulisan 
tangan tegak ini, menurut Dubes Kuba untuk RI Jorge Leon, 
kemungkinan besar adalah tulisan tangan Soekarno karena 
cukup banyak orang di Havana menyatakan demikian.

Kunjungan Presiden Soekarno pertama kali ke Kuba ini 
menandai peresmian hubungan diplomatik RI-Kuba 50 tahun 
lalu. Sebelumnya, pertengahan tahun 1959 Che Guevara diutus 
Fidel Castro untuk mengunjungi beberapa negara Asia, 
termasuk Indonesia, untuk merintis formalitas hubungan 
diplomatik. Che bertemu Soekarno, Megawati, bahkan 
mengunjungi Candi Borobudur. 

Peringatan 50 tahun hubungan diplomatik RI-Kuba tahun ini 
dilakukan secara sederhana dengan sebuah seminar di Havana 
dan pameran di Bandung, serta ditandai oleh penerbitan 
prangko di Havana dan Jakarta beserta sampul hari pertamanya, 
22 Januari dan 23 Februari lalu. Gambar kedua sampul hari 
pertama bersama foto Soekarno di Havana dan Che di Borobudur 
dapat kita saksikan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) yang 
mulai Senin (19/7) hingga Rabu (21/7) mengadakan Festival 
Film-film Kuba. 

Lewat ke-11 film dalam acara itu, kita dapat sedikit banyak 
memahami kesulitan hidup di negara miskin yang pernah 
menjadi yang paling kaya di kawasan Karibia ini. Mobil tua 
buatan Amerika tahun 1950-an masih banyak berkeliaran di kota 
Havana karena sejak Fidel Castro dan Che Guevara pada awal 
tahun 1959 berhasil menyingkirkan diktator Fulgencio Batista, 
hubungan diplomatik Kuba-Amerika Serikat terputus, menyusul 
nasionalisasi perusahaan-perusahaan AS di Kuba oleh Castro. 

Fidel Castro, yang kini sakit-sakitan dan hampir tak pernah 
tampil di depan umum sejak empat tahun lalu, pekan lalu 
muncul di depan umum. Perkembangan politik terakhir 
menunjukkan mulai longgarnya kekangan politik di negeri 
anggota Gerakan Nonblok yang oleh AS dituding sebagai 
"satelit Uni Soviet" ini. Puluhan tahanan politik segera 
akan dibebaskan. Presiden AS Barack Obama pun mengizinkan 
warga AS keturunan Kuba untuk mengunjungi dan mengirim uang 
ke Kuba.

Pemulihan hubungan diplomatik Kuba-AS? "Rasanya untuk periode 
pertama Obama masih sulit, tetapi kalau Obama terpilih lagi 
tahun 2012, tidak mustahil hubungan Kuba-AS akan pulih lagi. 
Dengan Vietnam saja yang berperang dengan AS, Washington mau 
berbaikan lagi, sementara kedua negara kami tak pernah 
berperang. Ganjalannya hanya di perusahaan-perusahaan milik 
AS dan pangkalan militer Guantanamo," tutur Jorge Leon.

Matahari kembar

Sudah menjadi rahasia umum di antara Fidel Castro dan Che 
ada persaingan popularitas. Mereka bagaikan "matahari kembar" 
bagi rakyat Kuba. Keduanya menyandang panggilan "Comandante" 
atau pangkat mayor. Ketika mengunjungi Kuba bulan November 
lalu, terlihat gambar Che di mana-mana, di mural/ dinding 
hingga T-shirt, terutama reproduksi foto jepretan Alberto Korda 
yang konon adalah foto paling banyak dikopi di seluruh dunia.

Pada 12 Juni 1959, belum genap enam bulan sesudah Revolusi 
Kuba meraih kemenangan, Castro mengutus Che selama tiga bulan 
untuk mengunjungi 14 negara Asia, kebanyakan negara peserta 
Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Pada rentang 
tiga bulan inilah Che berkunjung ke Jakarta dan menyempatkan 
diri ke Borobudur. 

Mengirim Che dari Havana memungkinkan Castro muncul agak 
berjarak dari Che dan para simpatisannya yang menganut 
marxisme. Che memang bukan warga asli Kuba karena ia 
dilahirkan di Argentina. Ia bergabung dengan Castro di 
Meksiko sebelum mendarat dan bergerilya di Kuba melawan 
pasukan Batista. Ketika kembali ke Kuba pada September 1959, 
nyata bahwa Castro lebih memiliki kekuatan politik.

Che memang diberikan jabatan cukup tinggi, yaitu Gubernur 
Bank Sentral Kuba dan Menteri Perindustrian. Namun, jiwa 
revolusionernya membuatnya gelisah. Ia pun "mengekspor" 
revolusi Kuba ke Kongo, tetapi gagal. Kemudian ia meninggalkan 
semua kemuliaannya di Kuba, bergerilya di Bolivia hingga 
tertangkap dan dieksekusi pada 9 Oktober 1967. 

Mengekspor Revolusi Kuba

Khusus tentang Che. Castro dalam film dokumenter Comandante 
(2003) yang dibuat sutradara Oliver Stone menyebut Che 
sebagai tidak sabaran. Castro terdiam dan tak menjawab jelas 
ketika ditanya mengapa ia membiarkan Che tak memperoleh 
dukungan di Bolivia. Ini sungguh berbeda dengan episode 
perang saudara di Angola dalam film Kangamba (2008), di mana 
dukungan militer Kuba amat besar, hingga akhirnya tentara 
rezim apartheid Afrika Selatan menarik diri.

"Che memang disingkirkan Castro. Kuba adalah negara totaliter. Kebutuhan hidup 
di Kuba amat pas-pasan walaupun coba dijatah pemerintah. Saya sedang mengurus 
agar istri saya pindah ke AS, pura-pura menikah dengan lelaki lain yang menang 
lotre ke AS, 
yang dijatah 100 orang per tahun. Saya harus menyiapkan uang 
2.000 peso convertible (2.200 dollar AS)," tutur seorang pria 
pegawai sebuah galeri lukisan di Havana yang tak mau namanya 
dikutip.

Gaji pria tersebut sebulan hanya 240 peso Kuba atau setara 
dengan 10 peso convertible. "Untuk survive, saya harus menjual 
beli cerutu Havana. Anak perempuan tunggal saya sekarang 
mahasiswi tingkat terakhir. Ia ingin ke luar negeri karena 
membayangkan gajinya sebulan nanti tak cukup untuk membeli 
sepasang sepatu," tambahnya. 

Hidup di Kuba memang tidak mudah walaupun pelayanan kesehatan 
dan mutu pendidikan gratis di negeri itu jauh melampaui 
Indonesia. Hak-hak sipil politik belum kondusif dihormati 
negara. Namun, tak urung ada juga film-film yang berani 
mengungkapkan kaum marjinal seperti homoseks dalam film 
Strawberry & Chocolate.

Yang paling menghibur adalah musik Afro-Cuban. Sayang tiga 
tokoh dalam film dokumenter Buena Vista Social Club (1998) karya 
Wim Wender, yaitu Compay Segundo, Ibrahim Ferrer, dan Ruben 
Gonzalez, kini sudah tiada.... 





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke