Refleksi : Alangkah hebat sekali, baru dibicarakan dalam simposium sudah 
dibilang berhasil, Apakah ini bukan penipuan di siang hari bolong?  Bukankah 
jika dilihat kenyataan di Indonesia terdapat ketidak toleransi dalam 
masyarakat, antara lain  pembakaran rumah-rumah ibadah kamu minoritas  
dilakukan dalam tanun ini. 

Pada pihak lain, okonom yang sekarang berkedudukan sebagai  presiden NKRI 
pernah mensponsor pengiriman Laskar Jihad cs guna menumpas kaum Nasrani di Poso 
dan Maluku, hingga kini oknom ini tak pernah meminta maaf terhadap keluarga 
korban kekerasaan atas nama agama.

Berdirinya kerajaan Mojopahit tidak ada sangkut paut dengan Islam, terkekecuali 
hancur leburnya. 



http://www.antaranews.com/berita/258864/indonesia-berhasil-jadi-jembatan-islam-dan-barat

Indonesia Berhasil Jadi Jembatan Islam dan Barat
Selasa, 17 Mei 2011 04:54 WIB | 1320 Views

 
Eddy Pratomo. (kemlu.go.id)

London (ANTARA News) - Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman, Dr. Eddy 
Pratomo, mengatakan bahwa harapan Indonesia menjadi jembatan antara Islam dan 
Barat berhasil dibuktikan.

Hal itu disampaikan Dubes dalam paparannya "The Role of Soft Power and Its 
Significance in the Realm of Internal and External Policies of Indonesia," 
demikian Fungsi Penerangan, Sosial, Budaya KBRI Berlin, Purno Widodo, 
menyampaikan kepada ANTARA News di London, Selasa.

Simposium international Cultural Diplomacy 2011 yang diadakan Institute for 
Cultural Diplomacy Berlin itu, dihadiri professional muda, akademisi, 
perwakilan politik dan diplomatik termasuk mantan Presiden Romania Dr. Emil 
Constantinescu, kalangan pers, perwakilan dari sektor swasta dan pemangku 
kepentingan di bidang hubungan internasional.

Eddy Pratomo mengatakan karakter budaya Indonesia membuktikan Indonesia mampu 
menjadi penghubung antara Islam dan Barat. "Multikulturalisme telah tumbuh di 
Indonesia, yang terbentuk dari berbagai unsur merupakan komponen penting dalam 
strategi soft power Indonesia," ujarnya. 

Bahkan sebelum entitas negara Republik Indonesia terbentuk, yaitu sejak 
berdirinya Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 dimana soft power meredam 
berbagai ketegangan atas realitas multi budaya dari tiga agama yang berkembang 
saat itu yaitu Budha, Hindu dan Islam.

Politik luar negeri Indonesia sebagaimana dipaparkan Pratomo, selalu 
mengedepankan soft power dengan berbagai modalitas yang dimiliki seperti Islam 
Moderat dan demokrasi. 

Hal tersebut didukung dengan berbagai norma dan nilai-nilai yang berkembang 
seperti penegakan hukum dan HAM, sistem pemerintahan yang baik, kebebasan media 
serta desentralisasi.

Dengan berbagai modalitas tersebut, ia mengemukakan, politik luar negeri 
Indonesia semakin menunjukkan perannya, terbukti dengan berbagai 
penyelenggaraan Inter-faith dan Inter-Cultural Dialogue serta Bali Democracy 
Forum.

Hal ini membuat Indonesia semakin yakin mampu menjembatani berbagai 
pertentangan antara Islam dan Barat yang akhir-akhir ini menjadi masalah di 
dunia internasional.

KBRI Berlin yang menjadi fokus utama, dan dua kali diundang menjadi perbicara 
dalam forum tersebut. Hal ini menunjukkan perhatian masyarakat internasional 
terhadap Indonesia semakin tinggi. 

Hal ini, menurut dia, juga menjadi cerminan kepercayaan masyarakat 
internasional agar Indonesia semakin berperan dalam mengatasi berbagai masalah 
dunia yang dihadapi saat ini.

Disela-sela simposium yang dihadari masyarakat internasional ini, KBRI Berlin 
juga mempromosikan budaya Indonesia dengan mendirikan mini exhibition 
menyajikan berbagai informasi bahan cetak dan elektronik mengenai budaya 
Indonesia dan potensi pariwisata Indonesia. 

Pada sesi wawancara,  Eddy Pratomo memberikan keterangan mengenai berbagai 
nilai budaya Indonesia dalam Bhineka Tunggal Ika, bagaimana menjaga warisan 
budaya serta bagaimana menjembatani pertukaran budaya. "Cultural Exchange akan 
meningkatkan saling pengertian diantara berbagai peradapan, hal ini dapat 
dilakukan dengan meningkatkan kontak antar manusia, dalam berbagai cara," ujar 
Dubes Pratomo.

Selain menjadi pembicara kunci dalam forum simposium internasional ini, KBRI 
Berlin menyediakan pojok kopi dengan berbagai penganan penyerta seperti peyek 
kacang dan tempe, keripik pisang serta berbagai penganan ringan yang mencuri 
perhatian peserta.

Rasa khasnya kopi Bali menuai pujian dari salah satu peserta dari Kenya yang 
merupakan negara penghasil kopi dunia itu mengakui rasa kopi Bali tidak beda 
dengan kopi asal Kenya. ?Saya fikir kopi Kenya adalah kopi dengan rasa terbaik, 
namun setelah merasakan kopi Bali ini, saya harus berfikir ulang,? ujarnya 
berkelakar disela-sela jeda acara.

Berita Terkait
  a.. IPHI Siap Jadi Perekat Ukhuwah Islamiyah
  b.. PPP Bahas Masalah Nasionalisme dan Keislaman 
  c.. NII Juga Menyusup ke PP Muslimat
  d.. PPP Apresiasi Pembentukan Densus 26
  e.. Soal Al-Zaytun, Menteri Agama Terlalu Cepat Menyimpulkan
Video
  a.. FUI Mogok Depan Istana


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke