http://www.sinarharapan.co.id/content/read/politik-intelektual/
16.05.2011 09:05 Politik Intelektual Penulis : I Gusti Agung Anom Astika* Belum lama berselang, fenomena kekerasan kembali melanda kehidupan rakyat di negeri ini. Baik itu yang berskala nasional, ataupun yang lokal; mulai dari isu Ahmadiyah, isu komunisme, isu NII, Isu kekerasan di Papua, kekerasan terhadap petani, buruh, maupun mahasiswa. Seluruhnya dapat dianggap sebagai ancaman terhadap perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Indonesia. Jelas, apabila rangkaian peristiwa kekerasan itu berlanjut, bukan tidak mungkin pemerintah mengambil tindakan-tindakan represif untuk meredamnya. Pun demikian dengan pola interaksi sosial yang kehilangan ruang gerak bebasnya, akan melahirkan banyak tegangan ataupun konflik sosial. Artinya, masyarakat menganggap kekerasan sebagai cara dan juga penyelesaian terhadap segala macam problematik kehidupan, dan/atau sebagai cara berpolitik. Kecemasan ini boleh jadi beralasan, mengingat pertumbuhan angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia relatif tinggi, baik akibat inflasi dalam negeri maupun dampak krisis keuangan global. Pun sudah disadari pula oleh pemerintah sejak tahun 2006 bahwa realitas yang sama adalah tempat lahir dan berkembangnya gerakan-gerakan radikal yang pro kekerasan. Oleh karenanya, penting kemudian untuk memperhatikan realitas kekerasan sebagai produk dari realitas ekonomi-politik yang melingkupinya. Menanggapi kenyataan yang demikian, ada banyak pendapat yang muncul dari kalangan intelektual. Pertama, pendapat yang mengatakan penyelesaian problem kekerasan adalah membubarkan atau setidaknya mengeliminasi keberadaan organisasi-organisasi kekerasan. Kedua, pendapat bahwa praktik-praktik kekerasan adalah bagian dari siasat kekuatan politik tertentu untuk mencapai tujuannya. Dengan begitu, jalan keluarnya adalah "bernegosiasi" dengan kekuatan politik tersebut. Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa baik kekerasan maupun kemiskinan keduanya merupakan produk dari kapitalisme. Dengan begitu, solusinya kemudian adalah mengubah sistem ekonomi politik terlebih dahulu untuk menghindari kekerasan yang akan berlarut-larut. Dasar Pemikiran Masing-masing dari ketiga anggapan ini memiliki dasar pemikirannya sendiri. Anggapan pertama lebih berpijak pada upaya-upaya penegakan Hak Asasi Manusia sebagai landasan untuk berpolitik. Lalu, anggapan yang kedua bertolak dari upaya-upaya membangun keseimbangan di antara berbagai kekuatan politik. Sementara itu, anggapan yang ketiga berporos pada upaya-upaya mendesakkan perubahan sosial. Secara praktis, ketiganya menjadi bagian dari perdebatan di kalangan intelektual di Indonesia. Namun, sebelum masuk ke dalam perdebatan itu sendiri, baiklah jika dipahami semuanya dalam kerangka politik. Politik, di dalam pengertiannya yang paling sederhana, selalu berpijak pada asumsi tentang penaklukkan, tentang upaya mengeksplorasi/mengeksploitasi habis-habisan pihak lain untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Pendasaran teoretisnya ada pada pemikiran Carl Schmitt yang menegaskan bahwa politik adalah seni mengecualikan. Dalam bentuk yang lebih halus, Aristoteles menegaskan bahwa politik adalah upaya untuk memengaruhi dan meyakinkan orang/pihak lain untuk menerima tujuan politik tertentu sebagai yang paling benar adanya. Apabila diperhatikan dengan saksama, dua bentuk penjelasan yang sederhana itu sudah semestinya tidak dikembangkan menjadi pemahaman tentang politik di dalam peringkat praktis. Mengapa demikian? Dampaknya kan luar biasa, seperti ketika Nazi Jerman melancarkan holocaust terhadap masyarakat Yahudi, ataupun pada saat Rezim Orde Baru di Indonesia mampu membuat kategori-kategori tentang siapa-siapa yang pantas hidup, ataupun mati di Indonesia. Dengan kata lain, apabila problematik kekerasan dan kemiskinan itu diselesaikan lewat upaya-upaya penaklukkan, tidak menutup kemungkinan akan muncul bentuk kekerasan yang lain. Pada titik ini, anggapan kedua tentang arti penting konsensus politik menjadi penting diperhatikan. Tetapi, anggapan ini juga bermasalah, lantaran tidak ada jaminan bahwa konsensus politik itu dapat bertransformasi menjadi siasat politik untuk menekan pihak-pihak tertentu. Sementara itu, anggapan ketiga, yang tampak menjanjikan, bahwa akar soalnya adalah problem ekonomi politik kapitalisme menjadi benar dalam peringkat analisis teoretik. Begitu masuk dalam peringkat praktis, semua analisis teoretis itu menjadi sekadar tanah gembur, tetapi tak satu bibit padi pun hendak singgah di sana. Mengapa demikian? Karena ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap kapitalisme begitu besar, sampai pada peringkat kesadaran bahwa ruang publik dan ruang privatnya tersedia di dunia virtual yang diselenggarakan kapitalisme. Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Ini adalah tugas intelektual yang setidaknya masih bisa berpikir tentang ilmu pengetahuan sebagai upaya memperadabkan manusia. Pertama adalah tugas intelektual untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang kondisi kemiskinan di berbagai wilayah di Indonesia, dan mendeskripsikan potensi-potensi konflik di tingkat lokal. Berangkat dari sana, tugas intelektual adalah menjadi fasilitator dari berbagai pertemuan di antara kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat. Hasil dari pertemuan-pertemuan itulah yang nantinya menjadi rekomendasi untuk adanya tuntutan akan perubahan sosial. *Penulis adalah Mahasiswa STF Driyarkara. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
