Refl:  Kalau reformasi politik, ekonomi dan keadilan sosial untuk kepentingan 
masyarakat berarti semua hal yang kurang beres atau tidak baik dalam  
masyarakat dibetulkan, agar jalannya perkembangan bisa cepat dapat memperbaiki 
dan mempertinggi mutu kehidupan anggota masayarakat. Tetapi, kalau yang disebut 
reformasi  itu  berkarakter setengah hati atau "lain di bibir dan lain di hati 
penguasa", maka tentu saja mayoritas anggota masyarakat tidak dapat menikmati 
faedahnya reformasi yang dipropagandakan oleh rezim berkuasa dan para pendukung 
setianya.  Dengan lain kata agaknya tidak keliru bila dikatakan bahwa reformasi 
yang didengungkan dan dipropagandankan akan tidak lain dari pada lagu ninabobo. 

http://nasional.kompas.com/read/2011/05/21/20404840/Ruminah.Kami.Belum.Rasakan.Reformasi.

  
Ruminah: Kami Belum Rasakan Reformasi...

Caroline Damanik | I Made Asdhiana | Sabtu, 21 Mei 2011 | 20:40 WIB 
 KOMPAS IMAGES/CAROLINE DAMANIK Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS Yati 
Andriani (kedua dari kiri) bersama keluarga korban pelanggaran HAM berat di 
masa lalu (ki-ka), Saiful (keluarga korban tragedi Tanjung Priok), Ruminah (ibu 
Gunawan, korban tragedi Mei 1998) dan Ruyati (ibu Eten Karyana) dalam 
keterangan pers di Jakarta, Sabtu (21/5/2011). Mereka mendesak Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono segera menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. 


JAKARTA, KOMPAS.com - Di halaman kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban 
Tindak Kekerasan (Kontras), Sabtu (21/5/2011), Ruminah duduk berdampingan 
dengan Ruyati. Keduanya tak keberatan dan tak jemu-jemunya mengingat masa lalu 
demi sebuah penyelesaian hukum.

Tepat 13 tahun lalu, seiring dengan bergulirnya momen reformasi di Indonesia, 
putra mereka justru tak ketahuan rimbanya hingga sekarang. "Saya merasa belum 
ada reformasi," ungkap Ruminah lirih ketika dipersilakan bicara.

Putranya, Gunawan, kala itu berumur 16 tahun. Ketika kerusuhan Mei 1998 
bergulir, Ruminah tak pernah mendapat kabarnya lagi. Menurut informasi, 
putranya itu sudah dimakamkan. Tapi, menurut dia, hanya bajunya yang dikubur.

Pengalaman pahit itu pun tampaknya diabaikan oleh pemerintah. Berkas hukum 
terus menggantung di Kejaksaan Agung. Berbagai lobi diupayakan oleh keluarga 
korban, baik ke Komnas HAM, DPR, Kejaksaan Agung, dan terakhir Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. Hasilnya? Masih nihil.

"Saya merasa belum ada reformasi karena korban belum dapat keadilan. Kan selagi 
kasus-kasus Soeharto belum diselesaikan, belum ada reformasi. Bagi saya, sudah 
13 tahun ini pemerintah belum ada tanggapan apa-apa dari kasus-kasus di 1998 
dulu. Menurut saya, belum ada reformasi," katanya.

Menurut pengertiannya, reformasi berarti ada perubahan dan penyelesaian, 
seperti penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang diamanatkan di awal 
masa reformasi.

Itu diketahuinya dari sejumlah aktivis Kontras yang mendampinginya bersama 
keluarga korban lainnya. Menurut dia, reformasi tak hanya bisa diartikan dengan 
kebebasan berbicara dan berpendapat seperti saat ini selama keadilan hukum 
tidak terwujud.

Ruyati juga mengangguk, setuju terhadap cerita Ruminah. Rasa kehilangan akan 
putranya, Eten Karyana, masih tersimpan. Hanya dompet dan kartu tanda penduduk 
(KTP) milik putranya yang terakhir kuliah di Fakultas Sastra Universitas 
Indonesia yang kini masih disimpannya sebagai pengobat rasa kangen.

"Saya enggak akan bosan bicara terus. Sampai sekarang SBY tak kelihatan mau 
menyelesaikan pelanggaran HAM. Berkas kami saat ini digantung di Kejaksaan 
Agung," ungkapnya.

Bagi Ruminah dan Ruyati, reformasi belum ada artinya. Menurut rekan mereka, 
Saiful, yang menjadi keluarga korban Tragedi Tanjung Priok, suasana reformasi 
masih gelap. "Saya harap SBY mampu melakukan gebrakan, jangan takut 
ditinggalkan. Jangan hanya menjanjikan teori, tapi aplikasinya tidak ada. Kalau 
dia mau, penyelesaian bisa tuntas," katanya.

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Yati Andriani mengatakan, kemauan politik 
dari pemerintahan Presiden SBY-lah yang diperlukan. Rekomendasi DPR sudah 
dikeluarkan. Presiden seharusnya bisa langsung menanggapinya dengan 
mengeluarkan keppres seperti yang dilakukan mantan Presiden Abdurrahman Wahid. 
Tapi, justru saat ini para keluarga korban terkesan "dipingpong".

"Kami yakin, kalau Presiden sendiri enggak mau mengambil risiko politik untuk 
menyelesaikan, ya sulit untuk selesai. SBY kami lihat enggak seperti Gus Dur 
yang berani, keppres waktu itu langsung keluar. Sekarang, sudah dua tahun 
dilobi, katanya terus sedang mencari format yang tepat untuk penyelesaian. 
Alasannya begitu terus," jelas Yati.

"Kenapa enggak institusi-institusi dioptimalkan untuk menindaklanjuti 
rekomendasi. Jangan-jangan format yang tepat itu cuma pertimbangan politik SBY 
saja. Bohong menurut kami kalau SBY katakan hukum sebagai panglima," tegasnya. 


TERKAIT:
  a.. Keluarga Korban HAM Ingatkan Presiden
  b.. Jangan Selalu Dibandingkan dengan Orba
  c.. Syafii: Saya Takkan Berhenti Ingatkan SBY



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke