Refl:  Kalau terlalu lama tidak bisa terbangun atau dihidupkan dari mati suri, 
masalahnya  akan sama  dengan telah dikuburkan sebelum mati kekal panggilan 
Illahi.  

http://www.equator-news.com/utama/reformasi-mati-suri

Jumat, 20 Mei 2011 
Reformasi Mati Suri 
  Belasan tahun sudah berlalu pascaruntuhnya orde baru yang digantikan masa 
reformasi. Sudahkah negara berjalan pada relnya. Mengapa masih saja repot nasi?

PONTIANAK - Perjalanan era reformasi memasuki usia ke-13 pada hari ini, Jumat 
(20/5). Beberapa kemajuan sudah dirasakan, mulai kebebasan berpendapat, 
berekspresi, berkumpul, dan kebebasan pers.

"Namun bebasnya kebebasan pers tersebut ternyata tidak diikuti oleh manisnya 
perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara di beberapa sektor," ujar Beni 
Sulastiyo, Sekretaris Panitia Diskusi Aktivis Gerakan 98 kepada Equator, 
kemarin (19/5).

Untuk mengupas sejauh mana dampak positif reformasi, aktivis gerakan 98 
rencananya akan menggelar diskusi tentang Refleksi 13 Tahun Reformasi. Diskusi 
tersebut mengambil tempat di Aula Museum Kalbar, Jalan Ayani.

Menurut Beny, ada berbagai sektor yang belum sepenuhnya tersentuh reformasi. 
Salah satunya sektor hukum, penggunaan uang rakyat, serta perilaku aparatur 
pemerintah yang belum sepenuhnya memihak rakyat.

"Penegakan hukum memprihatinkan. Praktik korupsi masih bagaikan buih di lautan. 
Penggunaan anggaran tidak dikelola dengan baik. Kebijakan ekonomi nasional 
kabur dan cenderung tidak berpihak pada rakyat," ucapnya.

Selain itu, pelayanan publik dan perilaku pemerintah masih buruk. Semangat 
kemandirian bangsa dan Negara masih rapuh, sistem pendidikan nasional yang 
tidak berdaya, hingga kerusakan lingkungan yang semakin parah.

"Beberapa orang pakar bahkan berani mengatakan bahwa Indonesia berada pada 
track negara yang gagal," yakinnya.

Kondisi ini, kata Beni, jelas-jelas sangat memprihatinkan. Padahal 13 tahun 
lalu kita telah bertekad menjadi bangsa yang lebih baik dan lebih bermartabat 
serta kuat ekonominya setelah berjuang dengan keringat, air mata, dan darah.

"Sekarang tekad itu semakin luntur. Semangat dan tekad untuk membangun bangsa 
telah digeser oleh kepentingan orang perorangan yang pragmatis. Mereka bahkan 
berkolaborasi untuk melakukan aksi-aksi yang destruktif," beber Beni.

Para elit menganggap bangsa ini tak punya rakyat. Negeri ini dianggap milik 
mereka yang berkemampuan secara politis dan financial. Negara ini tlah dikelola 
semata-mata demi kepentingan segelintir elit pengusaha dan penguasa.

Kondisi seperti ini, tegas Beni, tak mungkin kita biarkan. Kita tidak mungkin 
membiarkan bangsa ini terpeleset kembali jatuh ke jurang kehancuran, sebab 
terlalu banyak pihak yang sudah berkorban untuk bangsa ini.

"Oleh karena itu, kita perlu melakukan otokritik tentang kontribusi kaum muda 
dalam menjaga tekad dan semangat membangun bangsa sebagaimana yang digaungkan 
dalam perjuangan kemerdekaan dan reformasi," cetusnya.

Kritik tersebut tentu saja tak akan berhenti sekadar pada tataran kaum muda. 
Para elit politik yang memegang kekuasaan sekarang juga perlu dikritik. "Mereka 
harus bertanggung jawab terhadap segala persoalan yang saat ini dihadapi bangsa 
ini. Mereka tidak boleh berdiam diri," tukasnya. (bdu)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke