Polisi itu, kalo mau dpt jabatan, dia hrs bayar ke atas. Ga tau berapa 
persisnya, tp misalnya mau jadi kapolres aja di daerah yg basah, gua ga aneh 
kalo ybs bayar milyaran.

Sama jg dgn dokter/dokter gigi yg baru lulus kalo mau penempatan, atau kalo mau 
ngambil spesialisasi, biarpun bayarnya ga sampe milyaran (mungkin), tp paling 
ga 
puluhan atau ratusan juta hrs ada.

Maklum aja, sekarang itu nyari bini anak ingusan kan ga susah, beda dgn jaman 
dulu, dimana kalo mau dpt jabatan ya anak sendiri jg dikasih ke nabi biarpun 
masih ingusan, hehehe...





________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 30, 2011 10:16:05 PM
Subject: [proletar] 13 Tahun Reformasi, Polisi Masih Bobrok

   
Refleksi : Kata pepatah :" Ikan mulai busuk dari kepala", jadi kalau kepala 
sudah busuk badan pun  cepat turut busuk. Sialnya jenderal-jenderal polri 
berdompet bunjit, prajurit berdompet tipis, tetapi mau turut digembungkan 
dengan 
jalan tidak halal, akibatnya tetap saja semua bobrok. hehehehe

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/13-tahun-reformasi-polisi-masih-bobrok/


30.05.2011 15:26

13 Tahun Reformasi, Polisi Masih Bobrok
Penulis : M Bachtiar Nur 

(foto:dok/ist)
Kinerja kepolisian dinilai masih bobrok meski reformasi telah berjalan selama 
13 
tahun di negeri ini.
Bahkan, Pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) Imparsial Al Araf menyatakan, 
dinamika 
reformasi yang ada saat ini tidak memberi kontribusi maksimal bagi pembentukan 
polisi yang akuntabel. Sebaliknya, reformasi hanya bersifat kosmetik belaka 
karena belum dilakukan secara lebih substansial dan utuh. 


Bukti kegagalan dalam reformasi polisi terlihat dari banyaknya penyimpangan dan 
tindak kekerasan melibatkan anggota Polri. Penyimpangan tersebut antara lain 
kasus kekerasan, korupsi, hingga kesewenang-wenangan yang mengakibatkan salah 
tangkap. 


Penegakan hukum hanya berlaku bagi masyarakat kecil, sementara ketika 
berhadapan 
dengan penguasa dan para mafia, hukum seolah tersandera dan tumpul. 


Selain dituding kerap berpihak pada kepentingan tertentu, berbagai penyimpangan 
yang dilakukan anggota Polri terus terjadi seperti keterlibatan dalam kasus 
korupsi pembalakan kayu liar, skandal penyuapan, politisasi politik, pembiaran 
kasus kekerasan beragama dan berkeyakinan, terlibat kriminal dan lainnya. 


Al Araf mengatakan, salah satu penyebab terjadinya penyimpangan adalah 
mekanisme 
imunitas anggota kepolisian yang terlibat pelanggaran hukum, khususnya bagi 
para 
petinggi Polri. 


"Kalau pun ada hukuman misalnya pada pelanggaran HAM atau korupsi, yang 
dikenakan sanksi hanya level bawah. Sementara atasan yang seharusnya 
bertanggung 
jawab memperoleh keistimewaan imunitas sehingga bisa mengulangi perbuatannya. 
Ini menjadi lingkaran setan," ujar Al Araf. 


Tak hanya itu, proses rekrutmen, pendidikan, dan promosi yang sarat dengan suap 
menjadi pangkal masalah dari penyimpangan anggota polisi. "Asumsi masyarakat 
berhubungan dengan polisi, ujung-ujungnya jadi masalah duit. Hal ini karena 
proses rekrutmen, pendidikan, dan promosi sarat suap. 


Bayar berapa untuk jadi polisi. Untuk promosi Kapolres atau Kapolda harus 
menyetorkan uang berapa ratus juta," papar Al Araf. Akibatnya, polisi akan 
berusaha mengembalikan uang yang mereka setorkan saat rekrutmen atau promosi. 


Ia menambahkan, kegagalan reformasi institusi Polri akan berdampak pada 
demokratisasi di pemerintahan. Oleh karena itu, untuk menciptakan reformasi 
polisi yang mumpuni, pemerintah didesak untuk sejumlah kebijakan. Misalnya 
saja, 
penataan sistem rekrutmen, pendidikan, dan promosi, revisi UU No 2/2002 tentang 
Polri. 


Selain itu, revisi KUHAP juga perlu dilakukan. Revisi itu terkait dengan tugas 
dan fungsi Polri dalam sistem pidana serta luasnya diskresi anggota kepolisian 
dalam konteks penegakan hukum dan memperkuat kewenangan Komisi Kepolisian 
Nasional (Kompolnas). Lembaga pengawas tersebut selama ini hanya dianggap 
keranjang sampah.

Imparsial mencatat gambaran ketidakprofesionalan Polri tersebut. Data tersebut 
menyebut setidaknya ada 70 kasus salah tangkap terkait teroris sejak 2005. 
Sementara itu, untuk berbagai tindakan kriminal seperti penyerangan terhadap 
warga, pembunuhan, pemerasan, dan kekerasan berlebih dalam penanganan unjuk 
rasa 
sejak 2005 sampai 2010 telah terjadi 135 kasus.

"Itu baru yang terawasi. Untuk kasus salah tangkap dalam kasus terorisme, 
indeksnya setiap tahun terus meningkat," tukas Al Araf. Gambaran lain terlihat 
dari data Transparansi Internasional (TI) yang menyebutkan pada 2008, Polri 
merupakan institusi terkorup di Indonesia. 


Selain itu, kelemahan Polri menangani kasus korupsi juga menjadi tolok ukur. 
"Data Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan, terdapat 145 tunggakan kasus 
korupsi yang harus diselesaikan pada 2010," sambungnya. 


[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke