Implementasikan PANCASILA dalam
kehidupan sehari-hari !




Untuk menyambut Hari PANCASILA 1 Juni ini disajikan berita-berita yang
mencerminkan arti penting Pancasila, yang akhir-akhir ini menarik perhatian
banyak kalangan.  Di antara berita-berita terdapat hasil survey Badan Pusat
Statatistik di seluruh Indonesia, yang menyatakan bahwa 80% masyarakat
Indonesia menginginkan agar implementasi nilai-nilai Pancasila dimasukkan
dalam kurikulum sekolah. Bukan hanya teorinya, tetapi lebih kepada
pengamalannya, bagaimana mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.



Hasil survey BPS ini sesuai dengan aspirasi bangsa yang ingin menjadikan
Pancasila sebagai pedoman utama dalam kehidupan bangsa dalam meyelenggarakan
negara atau pemerintahan dan kehidupan masyarakat umumnya.



Ini kelihatan dari banyaknya dan bermacam-macamnya kegiatan yang dilakukan
oleh berbagai kalangan di seluruh Indonesia untuk membahas kembali
pentingnya Pancasila, yang sudah terlalu lama diabaikan oleh banyak orang
dan diselewengkan atau dipalsukan oleh rejim militer Orde Baru selama
puluhan tahun.



Begitu pentingnya Pancasila ini bagi kehidupan bangsa dan negara kita,
sehingga ada usul dari sejarawan terkemuka, Asvi Warman Adam, untuk adanya
kementerian atau departemen yang secara khusus mengurusi soal-soal yang
berkaitan dengan penghayatan dan pengamalan Pancasila. Untuk itu
diusulkannya supaya Kementerian Agama dijadikan Kementerian Agama dan
Pancasila. « Kelihatannya agama dan Pancasila dua hal yang berbeda, tapi
saling melengkapi,", katanya kepada Vivanews.



Paris, 1 Juni  2011



  1.. Umar Said


 = = = =





Mayoritas Rakyat Ingin Pancasila Diajarkan di Sekolah


Media Indonesia, 01 Juni 2011



JAKARTA--MICOM: Momentum peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2011
diupayakan terjadi revitalisasi terhadap implementasi Pancasila. Untuk
mengetahui respon masyarakat, Badan Pusat Statistik melakukan survei dengan
12 ribu responden di seluruh Indonesia. Hasilnya, 80% masyarakat Indonesia
menginginkan agar implementasi nilai-nilai pancasila dimasukkaan dalam
kurikulum sekolah.

"Kira-kira 80 persen yang berharap ada intensitas (nilai) pancasila dalam
kurikulum. Bukan hanya teorinya, lebih kepada pengamalannya, bagaimana
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, mereka merasa kurang selama
ini," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan seusai melaporkan hasil survei
tersebut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden
Jakarta, Selasa (31/5).

Rusman menjelaskan, survei tersebut dilakukan selama tiga hari, yakni
tanggal 27, 28 dan 29 Mei 2011. Responden yang disurvei sebanyak 12 ribu,
kepada seluruh masyarakat yang terdistribusi sesuai dengan tingkat
pendidikan dan pekerjaannya. Di 33 Provinsi dengan total 181 Kabupaten/Kota.

"Dari berbagai golongan, ada tentara, anggota dewan, elit politik, petani
juga birokrat. Pokoknya merata, dari Aceh hingga Papua. Umumnya sama
responnya, positif, kangen (terhadap impelementasi pancasila)," ujar Rusman.

Rusman menyampaikan, kekangenan masyarakat terhadap Pancasila, kemungkinan
karena akhir-akhir ini banyak terjadi ketegangan-ketegangan horizontal yang
terjadi di masyarakat. "Mereka merindukan bagaimana masyarakat bisa memahami
kehidupan yang toleran, kan itu ada di Pancasila," tuturnya.

Ia pun menyampaikan, dalam survei tersebut juga ada aspirasi yang tetap
ekstrem, menyatakan Pancasila sebagai peninggalan indoktrinasi masa lalu.
"Memang ada yang ekstrem, tetapi itu cuma satu persen," jelas Rusman.

Ia mengatakan, penerapan Pancasila dalam kurikulum sekolah, yang paling
penting bagaimana mengemas paket pelajaran Pancasila. Yakni menekankan
pemahamannya, bukan dari sisi teori, seperti yang ada di masa lalu,
menghafal setiap butir. "Masyarakat ingin bagaimana lebih kepada
implementasi sebagai insan apa yang yang harus dilakukan. Misalkan untuk
persatuan bangsa, apa yang akan dilakukan," tukasnya.

Rusman menyampaikan, hasil survei secara lengkap tersebut disampaikan
Presiden dalam Pidato peringatan hari kelahiran Pancasila di Gedung MPR, 1
Juni.  Presiden Yudhoyono berpidato tepat pukul 10.00 WIB di Gedung
Nusantara IV MPR/DPR, Jakarta, yang akan dihadiri oleh seluruh anggota Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Selain SBY, dua Presiden sebelumnya juga menyampaikan pidatonya, yakni
Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri. SBY
mendapatkan giliran ketiga setelah BJ Habibie, Megawati, lalu diakhiri SBY.
Selain tiga presiden, beberapa mantan Wakil Presiden seperti Hamzah Haz, Try
Sutrisno, dan Jusuf Kalla juga hadir dalam acara ini.

Agenda penting lain dalam rangkaian peringatan pidato Bung Karno, jelasnya,
MPR juga akan menggelar lokakarya nasional yang akan mengundang seluruh
pakar yang berkompeten untuk bersama-sama memberikan masukan tentang rumusan
Pancasila.

Melalui peringatan pidato Bung Karno 1 Juni 1945, dimaksudkan agar Pancasila
tidak hanya sebagai konsep pemikiran semata, tetapi mampu menjadi landasan
etika dan moral dalam pembangunan pranata politik, pemerintahan, ekonomi,
penegakan hukum, politik, sosial budaya, dan berbagai aspek kehidupan
lainnya. (Mad/OL-2)



* * *



Diusulkan, Kementerian Agama dan Pancasila




Selasa, 31 Mei 2011,



VIVAnews -- Kontroversi mengemuka jelang peringatan 110 tahun kelahiran
Soekarno: apakah ia lahir di Blitar atau Surabaya.

Terkait itu, sejarawan Asvi Marwan Adam mengatakan, ada yang lebih penting
ketimbang di mana persisnya Soekarno lahir. Apa itu? "Yang lebih penting 1
Juni kelahiran Pancasila," kata dia kepada VIVAnews.com, Selasa 31 Mei 2011.

Untuk diketahui, jelang peringatan hari lahirnya, pemerintah berniat
merevitalisasi Pancasila. Salah satu caranya, Ketua MPR, Taufiq Kiemas
menyatakan Pendidikan Pancasila akan dimasukkan lagi ke kurikulum pelajaran
sekolah.

Menurut Asvi, pemerintah tak boleh setengah hati menyosialisasikan
Pancasila. "Kenyataannya setengah hati, lembaga tinggi negara baru membentuk
komisi," kata dia.

Mestinya, tambah dia, Pancasila ditangani oleh lembaga setingkat departemen.
Namun, tak perlu sampai membentuk yang baru yang membutuhkan dana besar.
Tapi, "melalui departemen yang ada yakni Departemen Agama dan Pancasila.
Kelihatannya agama dan Pancasila dua hal yang berbeda, tapi saling
melengkapi," tambah dia.

Langkah ke dua, Presiden diminta untuk menetapkan tanggal 1 Juni sebagai
Hari Lahir Pancasila. "Harusnya ada Kepres yang memutuskan 1 Juni sebagai
Hari Lahir Pancasila. Seperti halnya 18 Agustus yang ditetapkan jadi Hari
Konstitusi," tambah dia.

Menurut Asvi, ini aneh, pemerintah justru menetapkan hari lahir UUD 45,
bukannya Pancasila yang menjiwainya. "Masih ada diskriminasi terhadap
Pancasila, belum diakui, pemerintah masih setengah hati." (eh)

• VIVAnews



 = = = =




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke