Refleksi : Kalau pembelian pesawat MA-60  tidak banyak dalangnya dan hanya satu 
sole agent  saja yaitu Bapak wakil presiden JM Kalla, maka dapat dipastikan 
semua hal beres sebagaimana mestinya dan pesawat pun  dijamin tidak akan jatuh 
di teluk Manokwari beberapa waktu.

http://us.detikfinance.com/read/2011/06/07/084530/1654490/4/jk-banyak-dalang-dalam-pembelian-pesawat-china

Selasa, 07/06/2011 08:45 WIB

JK: Banyak Dalang dalam Pembelian Pesawat China  
Suhendra - detikFinance 

 


Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan masalah pembelian 
pesawat MA-60 buatan China oleh PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) melibatkan 
banyak pihak yang berkepentingan. Ia menyebut istilah orang-orang yang 
memuluskan pembelian pesawat tersebut sebagai dalang.

"Dalangnya banyak, dalangnya, banyak dalangnya," katanya saat ditemui di 
kediamannya, Jl Brawijaya, Senin malam (6/6/2011).

Menurut JK dibelinya pesawat MA-60 oleh Merpati atas persetujuan kredit oleh 
pemerintah tak terlepas dari begitu agresifnya China menawarkan produk mereka 
dengan berbagai kemudahan. Selain itu, adanya campur tangan para 'agen' di 
dalam negeri ikut menentukan lolosnya pembelian tersebut.

Ia menggambarkan, adanya ancaman China terkait kelanjutan proyek listrik 10.000 
MW terkait rencana pembatalan pembelian MA-60 buatan Xian Aircraft tak 
seluruhnya benar. Pada waktu itu, pihak China hanya keberatan dengan bunga 
kredit pinjaman proyek 10.000 MW kepada PLN yang dianggap masih rendah.

Namun di dalam negeri, masalah itu dihembuskan bahwa seolah-olah pemerintah 
China tak setuju dengan proyek 10.000 MW karena rencana pembelian MA-60 akan 
dibatalkan oleh Indonesia.

"Mungkin agen-agen di Indonesia lah yang mengatakan kalau China tak 
setuju-setuju, cuma yang diminta bunganya naik. Jadi Agennya macam-macam lah," 
katanya.

Terlepas dari agen-agen tadi, menurutnya pada waktu itu pembelian MA-60 
semenjak adanya persetujuan menteri keuangan 5 Agustus 2008 hingga proses 
realisasi pengiriman pesawat dipimpin oleh Menteri Perdagangan Mari Elka 
Pangestu sebagai ketua tim negosiasi Indonesia dengan China. Posisi Mari 
tercatat sebagai pihak yang terakhir melakukan perundingan bersama Merpati.

"Justru tim perundingnya Mari (mendag), Mari menyebut menteri keuangan, tapi 
menurut Said Didu Mari yang berundingan dengan (bersama) Merpati," katanya.

JK juga mengatakan sampai saat ini ia pun tak tahu latar belakang terjadi 
penandatangan persetujuan self agreement yang begitu berani antara menteri 
keuangan melalui dirjen pengelolaan utang (surat kuasa) dengan pemerintah China 
tanggal 5 Agustus 2008. Pasalnya, semenjak itu posisi Indonesia sulit berkutik 
untuk lepas dari skenario pembelian MA-60 yang sejak awal ia tolak.

"Itu lah yang jadi masalah siapa yang mengatur semua ini," katanya.

"Ketika menteri keuangan teken, disitu mulai bermasalah. Saya tanya Ani (Sri 
Mulyani), Ani juga bingung kalau ditanya, tanya dirjen saja. Ibu Ani bikin 
surat kuasa katanya," katanya.

Seperti diketahui, masalah pembelian pesawat China oleh Merpati kini menuai 
permasalahan setelah terjadinya kecelakaan di Papua. Pembelian pesawat China 
itu juga diduga banyak terjadi penyimpangan.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke