Persis kata Suryana, si ambon itu loper spesialis judul. Langsung saja dia jejingkrakan walau isi beritanya nggak sesuai dengan isi kepalanya yang terlanjur berdaki sampai menyangka bendera Amerika sudah diganti dan pukul rata Indonesia itu Islam semua.
Nggak salah lagi, si ambon pasti sibuk histeris cuma gara-gara nonton jambul the cangcuters ketimbang nyimak lagunya. Selain itu, voa-islam.com sepertinya memang dibikin untuk menghibur para pelahap jambul. --- "sunny" <ambon@...> wrote: > Refleksi : Apakah bendera USA pada tugu Iwojima di Washington, > USA, telah diganti dengan bendera bertulisan Arab? > > Kalau Pancasila bukan pandangan hdup umat Islam, lantas orang Islam > yang berbicara atau mempropagandakan tentang kehebatan Pancasila > untuk Indonesia, hanya hembusan suara tidak berekho dan ibarat lain > di bibir lain lain di hati? > > http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/06/07/15157/adian-husaini-pancasila-bukan-pandangan-hidup-umat-islam/ > > Selasa, 07 Jun 2011 > > > > Adian Husaini: Pancasila Bukan Pandangan Hidup Umat Islam > > Jakarta (voa-islam) - Dalam pandangan Adian Husaini, isu negara > Islam itu sebenarnya tidak penting. Yang terpenting adalah apakah > umat Islam sekarang ini bisa menjadikan negeri muslim ini sebagai > negeri yang baldatun thoyyibatun warrabbun ghafur, negeri yang > dibawah naungan ridho Ilahi. > > "Saya tidak bicara label negara Islam. Yang jelas, dengan Pancasila > sebagai dasar negara, telah memberikan kesempatan seluas-luasnya > kepada umat Islam untuk menjalankan agamanya dan membangun negeri > ini, negeri muslim yang besar," kata Adian saat dijumpai > disela-sela acara diskusi di Jakarta. > > Ketika ditanya, apakah Pancasila sudah final? "Saya tidak suka > dengan kata-kata final atau tidak final. Sebab, saya khawatir > Pancasila akan disamakan dengan wahyu. Yang diperlukan sekarang ini > bukanlah penguatan Pancasila, tapi mendudukkan Pancasila secara > tepat dan proporsional serta menfasirkannya secara benar pula, > seperti yang dimaui oleh para perumus Pancasila itu sendiri. Namun > ironisnya, Pancasila telah diselewengkan sejak masa Orde Lama, Orde > Baru, hingga Reformasi," jelas Adian. > > Yang harus dirumuskan dari Pancasila, kata Adian, adalah mendudukan > Pancasila sebagai dasar negara, tapi jangan menarik Pancasila ke > hal-hal yang berlebihan, seperti Pancasila sebagai pandangan > hidup. Bukankah dalam setiap agama, punya konsepnya masing-masing > tentang pandangan hidup. Karena itu, jangan mencari konsep tuhan, > alam dan moral menurut Pancasila. Dalam Islam sendiri, punya > konsep Ketuhanan, begitu juga dengan Kristen. > > "Ya sudah biarlah Pancasila diletakkan sebagai dasar negara, dimana > komponen bangsa memahami Pancasila menurut pemahamannya masing- > masing. Lalu pada level kenegaraan, mereka berjuang secara > konstitusional," jelas Adian. > > Kenapa Anda mengatakan Pancasila tidak bertentangan dengan Islam? > Dijawab Adian, karena memang, Pancasila dari awal disepakati oleh > para tokoh nasionalis maupun tokoh Islam. Tokoh Islam Muhammad > Natsir tahun 1954 mengatakan, Pancasila tidak bertentangan dengan > Islam. > > "Yang diprotes kemudian oleh tokoh Islam pada masa Orla dan Orba > adalah penafsiran yang menyuimpang dari Pancasila, misalnya > Pancasila ditafsirkan secara Nasakom, dimana Pancasila justru > mengakomodir komunisme. Hal itulah yang tidak bisa diterima oleh > tokoh Islam. Jadi, bukan Pancasilanya, yang tidak bisa diterima, > tapi ketika Pancasilan dijadikan sebagai worldview atau rumusan > kehidupan. Tidak bisa, konsep ketuhanan dirumuskan oleh Pancasila. > Dan sudah pasti, akan bertabrakan dengan konsep agama, terutama > Islam," papar Adian. > > Harusnya Pancasila, lanjut Adian, tidak masuk ke wilayah worlview > itu. Sebab, worldview itu wilayahnya agama. Karena itu, jangan > jadikan Pancasila sebagai landasan moral atau perilaku. > Dikhwatirkan menjadi bias dan menimbulkan kebingungan. Orang yang > berilaku menurut Pancasila akan bertabrakan dengan Islam. Mengingat > Islam sendiri sudah punya konsep perilaku. > > Pancasila Toghut? > > Kelompok Islam tertentu memahami Pancasila sebagai toghut. > Bagaimana dalam pandangan Adian? "Saya bisa memahaminya, karena itu > merupakan pemahaman yang panjang terhadap penyalahgunaan Pancasila > itu sendiri. Saya sendiri menggunakan perspekstif Kasman Dimedjo, > yang mengatakan Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. > Pancasila memberikan kesempatan kepada umat Uslam untuk berjuang > menjalankan agamanya." > > Dengan Pancasila, lanjut Adian, umat Islam tidak dilarang untruk > membaca Al Qur'an, menjalankan shalat, zakat dan sebagainya, bahkan > sampai menerapkan syariat Islam, seperti di Aceh. Di Aceh, orang > yang menjalan syariat Islam apakah akan dianggap melanggar > pancasila? Tentu tidak. > > Menurut Adian, Piagam Jakarta adalah dokumen resmi, yang ditegaskan > dalam dekrit Presiden 5 Juli 1959 oleh Bung Karno. Adapun dekrit > itu merupakan satu kesatuan dengan Konstitusi UUD 1945. Setelah > dekrit tersebut berlaku, banyak produk per-Undang-undangan di > Indonesia yang konsdirennya mengacu pada Piagam Jakarta. > Misalnya, berdirinya IAIN (Penpres no 11 tahun 1960). > > "Piagam Jakarta tidak pernah dipersoalkan. Tapi begitu masuk Orde > Baru, banyak pihak yang alergi, mereka takut jika umat Islam > menjalankan syariah. Padahal, jika umat Islam menjalankan syariah, > sesungguhnya dijamin oleh konstitusi. Walaupun tidak secara > eksplisit tujuh kata dicantumkan lagi, tapi yang jelas dekrit itu > mengakomodir Piagam Jakarta," tukas Adian. > > Dengan demikian, secara operasional, Pancasila akan dijadikan acuan > membentuk perundang-undangan, baik di bidang ekonomi, politik, > maupun keagamaan. Sebagai contoh, melarang Ahmadiyah, tentu tidak > melanggar ataupun bertentangan dengan Pancasila. Hal inilah yang > terus diperjuangkan kelompok liberal untuk mencabut pasal penodaan > agama (PNPS tahun 1965) karena dianggap bertentangan dengan > Pancasila. > > Dikarenakan Pancasila yang sekarang mengacu pada rumusan Dekrit > Presiden 5 juli 1959, maka berarti tidak boleh ada peratuaran > perudangan-undangan di Indonesia yang bertentangan dengan syariah. > "Kita bukan kembali pada rumusan Pancasila 18 Agustus ataupun 1 > Juni, tapi 5 Juli 1959. Jadi tanggal 1 Juni itu bukan kelahiran > Pancasila, tapi hari pidato Bung Karno di BPUPK. Kelahiran > Pancasila adalah pada tanggal 18 Agustus 1945, dan diterima resmi > secara nasional oleh komponen bangsa. > > Tokoh Reformasi Acak-acak Pancasila > > Sementara itu dikatakan Pengamat politik dan budayawan Betawi > Ridwan Saidi menegaskan, ketika ditanya perlukan umat Islam > mendirikan negara Islam? Kata Babe- begitu ia akrab disapa, kita > harus kembali pada UUD 45 dulu, agar negara ini kembali normal > keadaannya. > > "Jangan ada ide-ide yang lain dulu. Karena dengan perubahan yang > dilakukakan oleh reformasi ini menjadi tidak karuan, Jadi kita > nggak perlu bicara negara Islam itu dulu, Kita bicara UUD 45 yang > asli," kata Ridwan. > > Menurut Ridwan, Yang menjadi masalah UUD 45 ini diacak-acak oleh > reformasi, Pancasila itu sendiri disingkirkan oleh tokoh reformasi. > Mereka itu tiada lain SBY, Amin Rais, Abdurrahman Wahid. Mereka > inilah yang menyingkirkan Pancasila. Tapi kemudian ingin > mengaktfkan lagi. > > "Sudahlah jangan buang-buang waktu. Jangan kita hina-hina > Pancasila. Sebab, Pancasila itu juga karya ortu kita dulu. Jangan > Islam diadu-adu. Islam itu sudah luhur. Yang jadi soal, Pancasila > itu disepak. Mereka buat per-undang-undangan yang liberal,"tandasnya > > Dikatakan Ridwan Saidi, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 bersandarkan > pada Piagam Jakarta, yang kemudian melahirkan UUD 45. Tapi > lagi-lagi, UUD 45 diacak-acak oleh komplotan Amin Rais dan > Abdurrahman Wahid, yakni UUD 45 yang diamandemen. Akibatnya, > hancurlah negara ini. Sekarang, ada upaya untuk mengaktifkan lagi > Pancasila. Yang jelas, umat Islam punya garis yg tegas, setia pada > negara ini, karena sejak awal umat Islam ikut mendirikan negara > ini. Desastian > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
