Refleksi : Sangat bagus sekali kalau kaum elite berpesta supaya kaum miskin 
terhibur sebagai penonton.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/ironi-demokrasi-pesta-kaum-elite/

10.06.2011 09:00

Penulis : Antonio Pradjasto*   

 (foto:dok/ist)
Setelah 12 tahun Reformasi berlangsung, tampaknya kita masih harus 
mempertanyakan capaian proses demokrasi di Indonesia.
Desentralisasi memang telah berlangsung beberapa tahun belakangan, namun ibarat 
pesta, ternyata kue hanya dinikmati oleh sekelompok elite lokal setempat.

Demokratisasi tak mampu meningkatkan kualitas kesejahteraan, keadilan, dan rule 
of law. Dengan kata lain, demokratisasi yang berlangsung hanya menguntungkan 
kaum elite yang memiliki akses terhadap kekuasaan. 

Sementara itu, kalangan pinggir masih berada di tepian. Angka kemiskinan masih 
meninggi, meski alokasi anggaran publik untuk mengentaskan kemiskinan naik 
berlipat. 

Kondisi timpang ini masih terjadi terutama disebabkan minimnya pemahaman 
demokrasi substansial. Banyak sudah perubahan kelembagaan dilakukan namun 
demokrasi yang ada belum mampu mengatasi kekerasan, perlindungan pada 
minoritas, dan justru ditunggangi kelompok fundamentalis agama dan pasar. 

Banyak sudah program-program populis yang diklaim dirancang, namun tak mampu 
mengenyahkan kemiskinan. Sumber daya publik seperti anggaran belanja mengalami 
pembajakan yang akut oleh kepentingan oligarki. 

Demokratisasi tidak berhasil menjadikan sumber daya publik terdistribusi, 
tetapi ironisnya menjadi lahan bagi elite untuk mengakumulasi kekayaan.

Menurut penelitian Demos (2009-2011) mengenai "pemenuhan hak ekonomi, 
sosial-budaya" dan mengenai "politik anggaran menunjukkan tiadanya niat negara 
menyejahterakan rakyatnya. 

Jikapun terdapat program-program pembangunan, kesejahteraan bukan merupakan 
tujuan kebijakan tersebut. 

Di tingkat yang paling keras, yaitu penganggaran dana publik, ternyata politik 
alokasi anggaran lokal (APBD) mencerminkan tiga pilar kepentingan elite 
oligarki tersebut: populisme semu, birokrasi, dan rente. 

Anggaran digunakan untuk Royal pada diri sendiri. Dari studi tersebut diperoleh 
lebih dari 75 persen anggaran belanja lokal digunakan untuk membiayai keperluan 
birokrat. 

Jumlah ini didapat dari jumlah belanja tak langsung ditambah dengan alokasi 
honor, belanja aparatur lainnya yang terselip dalam pos belanja langsung.

Untuk itu, tak mengherankan, meski anggaran untuk pendidikan cukup tinggi, 
namun setelah diselisik, alokasi terbesarnya ternyata diperuntukkan bagi 
membiayai pegawai. 

Tentu saja hal ini mengundang ironi tersendiri. Beberapa daerah yang menjadi 
wilayah penelitian Demos menunjukkan mereka lebih memprioritaskan belanja 
pegawai ketimbang membangun sarana pendidikan seperti sekolah yang ambruk dan 
rusak parah.

Warga Hanya Menonton

Partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan pada akhirnya sekadar aksesori 
pesta pembangunan. Hajatan musrenbang seperti pesta karnaval tahunan yang 
memosisikan warga sebagai penonton. Partisipasi warga terdominasi oleh 
teknokratisme maupun transaksi kepentingan antara eksekutif dan legislatif.

Gambaran suram ini harus dilihat sebagai dering peringatan bahwa proses 
demokratisasi di Indonesia harus segera diperbaiki. Karena demokrasi idealnya 
harus dapat memberi arti bagi masyarakat.

Jika demokrasi dirasa tidak bermakna, masyarakat pun menjadi resah, mandek atau 
kecewa. Proses demokrasi pun terancam.

Bagaimanapun sistem demokrasi merupakan pilihan tepat ketimbang harus kembali 
ke periode gelap otoritarianisme yang menawarkan kesejahteraan semu. Sistem 
pemerintahan otoriter bukanlah pilihan. 

Justru, kita tetap boleh berharap pada demokrasi, karena demokrasi memiliki 
kapasitas untuk terus diperbaharui. Yang perlu dilihat adalah persis 
titik-titik mana dari demokrasi yang masih defisit agar menjadi lebih 
bermaknaan demokrasi membawa kesejahteraan.

Berdemokrasi tidak berarti hanya bangga dengan berdirinya ratusan partai 
semenjak reformasi dimulai; atau penyelenggaraan pemilu secara adil dan damai. 
Tidak cukup pula dengan memiliki indeks kebebasan tertinggi se-Asia Pasifik. 

Apalagi sekadar kegaduhan gedung parlemen yang menonjolkan orkestrasi politik 
dengan efek yang sangat minim bagi kesejahteraan rakyat kebanyakan. Banyaknya 
pilihan partai politik, pemilu yang bebas dan adil serta kebebasan itu semua, 
baik dan perlu dipertahankan.

Yang defisit dan perlu dihadirkan adalah emosi warga negara. Sebagai warga 
negara, elite maupun warga biasa, aktif mengambil keputusan publik berdasarkan 
pada paham kewargaan. Sebagai warga negara kita menghormati HAM, pluralisme, 
dan prinsip demokrasi lainnya. 


*Penulis adalah Direktur Eksekutif Demos.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke