Refleksi : Wah! Filter rokok sehat? Insyaalloh!
http://www.cenderawasihpos.com/index.php?mib=berita.detail&id=1828
Kamis, 30 Juni 2011 , 17:53:00
Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Penemu Filter Rokok Sehat
Asap Aman di Ruang Ber-AC dan bagi Perokok Pasif
Profesor Sutiman Bambang Sumitro, Penemu Filter Rokok Sehat. F-HARTO/MALANG POST
Di tengah maraknya kontroversi soal bahaya merokok, kini muncul penemuan
menarik tentang rokok sehat. Yakni, karya Prof Sutiman Bambang Sumitro,MS,DSc,
guru besar Universitas Brawijaya (UB), Malang, yang berhasil menggemparkan
dunia kesehatan. Seperti apa?
HAPPY D.Y., Malang
Di meja kerja Sutiman B. Sumitro yang berlokasi di laboratorium FMIPA jurusan
biologi lantai II UB (Universitas Brawijaya), terlihat tiga bungkus filter
rokok. Per bungkus berisi sekitar 30 filter rokok.
Filter-filter rokok itu dikemas dalam plastik transparan. Filter tersebut
berdiameter sekitar 7 milimeter dengan panjang 2 sentimeter. Bungkusnya
berukuran 7 x 9,5 sentimeter.
Plastik pembungkus tersebut tidak dibuat polos, tapi ada tulisan yang mudah
dibaca walau berukuran kecil. Di tengah plastik pembungkus terdapat lingkaran
berdiameter 3 sentimeter yang bertulisan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal
Bebas Malang. Di bawahnya ada tulisan Filter Rokok Sehat dengan ukuran huruf
sedikit lebih besar.
Dengan begitu, tulisan tersebut mudah terbaca ketika pandangan singgah ke
pembungkus filter itu. Paling bawah, tertera alamat Jl Surabaya No 5, Malang,
lengkap dengan nomor telepon 0341-570631. Di bagian sudut kiri ada banderol Rp
10 ribu.
Begitulah gambaran penemuan Sutiman tentang filter rokok sehat yang mengangkat
tema Inovasi Mereduksi Dampak Negatif Merokok dan Memperkuat Dampak Positif
Merokok dalam Memperbaiki Kualitas Hidup.
Berdasar penelitian guru besar biologi sel dan molekuler UB itu, filter rokok
tersebut disebut divine cigarette. Diamati sepintas, bentuknya mirip filter
pada rokok. Warnanya juga sama, yakni putih. "Saya kadang memopulerkan
penelitian saya dengan sebutan Nano Biologi Jawaban Keretek Sehat," ungkap
Sutiman kepada Radar Malang (Cenderawasih Pos Group) kemarin.
Sebelum mengupas panjang lebar hasil penemuannya, pria kelahiran Jogjakarta,
11 Maret 1954, itu meminta waktu untuk menyampaikan secara singkat asal-muasal
ketertarikannya meneliti rokok. "Saya memang bukan perokok. Seorang peneliti
justru harus mengabaikan unsur subjektivitas dan mengedepankan objektivitas,"
ungkap alumnus S-1 Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Dasar penelitian Sutiman terkait dengan permasalahan bangsa yang dirasa
menuntut penyelesaian dengan kearifan lokal. Salah satu yang disorot adalah
masalah rokok. Banyak peneliti yang menyebutkan bahaya merokok. Di sisi lain,
rokok sudah menjadi sebuah industri besar. Di dalamnya melibatkan banyak unsur,
yakni ekonomi, ribuan tenaga kerja, serta dampak lain yang perlu pemikiran
bersama ketika industri tersebut berhenti.
"Pemikiran saya, terciptanya rokok keretek yang dibuat nenek moyang kita dulu
bukan tanpa dasar. Rokok keretek dibuat untuk obat batuk," ungkap pria yang
mengambil program doktor di Nagoya University, Jepang, tersebut.
Sayangnya, fakta ilmiah itu tidak pernah diperhatikan pemerintah, terlebih
oleh industri rokok keretek di Indonesia. Mereka tidak memiliki hasil riset dan
pengembangan produk yang memadai.
Padahal, ditinjau dari aset serta volume perdagangan rokok di Indonesia, riset
seputar rokok sesungguhnya gampang direalisasikan. Seiring dengan arus
globalisasi, rokok keretek yang merupakan produk kearifan lokal itu dilanda isu
sebagai produk tidak sehat tanpa didukung data hasil riset memadai.
Ironisnya, isu rokok tidak sehat tersebut berembus dari luar negeri serta
dibangun melalui kegiatan riset asing. Sementara itu, potensi lokal kurang
percaya diri untuk melakukan inovasi tentang rokok sehat. Apalagi, ide tentang
rokok sehat terkesan menentang arus. "Muncul pemikiran saya untuk ikut mengkaji
bahaya rokok. Apakah memang sudah final asap rokok itu berbahaya?" ujarnya.
Ketertarikan Sutiman untuk meneliti rokok dimulai pada 2007. Secara garis
besar, prinsip yang dia lakukan kala itu adalah menghilangkan radikal bebas
dari asap rokok. Selain itu, memodifikasi makro molekul yang terkandung dalam
asap rokok lewat sentuhan teknologi dengan ukuran lebih kecil.
"Divine cigarette ini ada senyawanya, sehingga mampu menjinakkan radikal
bebas. Tapi, senyawanya apa saja, itu yang masih dalam proses dipatenkan," ucap
guru besar UB yang kini diperbantukan sebagai dekan Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, tersebut.
Bagi perokok, penggunaan divine cigarette tersebut cukup mudah. Filter yang
menempel di rokok diambil, selanjutnya diganti divine cigarette hasil penemuan
Sutiman. Dengan begitu, divine cigarette menggantikan filter asli pada rokok.
"Filter yang asli tinggal diambil dan diganti divine cigarette ini. Tidak
rumit," jelas dosen yang juga bertugas di program doktor pendidikan biologi UM
(Universitas Negeri Malang) itu.
Dari beberapa responden yang menggunakan divine cigarette tersebut, didapatkan
data sesuai dengan tujuan penelitian. Di antaranya, merokok terasa lebih
ringan. Bahkan, menghasilkan manfaat di luar yang dipikirkan. Di antaranya,
saat merokok di ruang ber-AC, tidak timbul kabut tebal dan tidak meninggalkan
bau di ruangan. Lebih dari itu, ada yang lebih penting bagi perokok pasif.
Perokok pasif lebih aman ketika berdekatan dengan si perokok.
Hasil diskusi dengan rekannya sesama dosen UB, Yudi Arinto Ponco Wardoyo PhD
yang mengambil disertasi soal asap, banyak memberikan support bagi penelitian
Sutiman. "Saya sering berdiskusi dengan beliau (Yudi). Saya mendapat banyak
masukan untuk memecahkan bahaya kandungan asap rokok," ungkap dosen yang sudah
melahirkan puluhan karya penelitian tersebut.
Menurut Sutiman, asap rokok berasal dari pembakaran tidak sempurna yang
menghasilkan ribuan komponen berbahaya. Dari komponen tersebut, berhasil
ditemukan sekitar lima ribu komponen yang bisa diamati seperti aseton (cat
kuku), toluidin (cat) metanol (spiritus bakar), polonium (bahan radioaktif),
arsen (racun tikus), serta toluene (pelarut industri). "Hipotesis saya, radikal
bebas dari asap rokok memang berbahaya. Tapi, komponen racun yang terkandung
itu bisa diminimalisasi," tegas dosen yang memiliki bidang keahlian sel biologi
tersebut.
Dia menyebutkan, hasil penelitian dalam bentuk divine cigarette tersebut
merupakan fase-fase awal. Karena itu, Sutiman masih merancang penelitian
lanjutan. Dua kajian yang sedang dilakukan adalah mengarakteristik jenis-jenis
asap dan mengumpulkan data-data dari pengguna divine cigarette. Total ada 200
responden yang dilibatkan dalam penelitian tersebut.
Mengenai divine cigarette, Sutiman mengaku respons masyarakat, terutama dari
kalangan perokok, cukup banyak. Kendati belum diproduksi masal, setidaknya
dalam sehari ada permintaan sekitar 30 pak divine cigarette. "Hasil penjualan
itu digunakan untuk membiayai penelitian yang sudah saya rancang," katanya.
Demi uji coba divine cigarette tersebut, Sutiman mendirikan laboratorium
swasta yang diberi nama Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang.
Labotarium sebagai tempat produksi tersebut juga digunakan untuk mengumpulkan
kajian riset. "Saya memiliki donatur tetap yang bersifat individu untuk
membiayai penelitian saya ini," jelas pria murah senyum tersebut.
Menghadapi kontroversi bahwa rokok mengakibatkan gangguan kesehatan, Sutiman
sementara mengambil langkah aman. Di antaranya, kapasitas produksi divine
cigarette masih dibatasi, belum menawarkan hasil penelitiannya kepada
perusahaan rokok, dan tidak menggunakan sistem marketing untuk mengenalkan
hasil penelitian tersebut. Dia beralasan semua masih dalam tahap penyempurnaan.
(*/jpnn/c5/iro)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/