Refleksi :  TKI adalah hari depan Indonesia, memang  sangat cocok. Tetapi, 
seandainya ada yang tidak mau djadikan bangsa TKI  maka apa yang harus 
diperbuat? 

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=100217:rentetan-kegelisahan-tki-meregut-bait-bait-kebangsaan&catid=127:artikel&Itemid=150


      Rentetan Kegelisahan TKI Meregut Bait-bait Kebangsaan        

      Ria Ristiana Dewi



      Puisi adalah keindahan seseorang menyikapi kehidupan. Pada dasarnya 
kehidupan memiliki banyak dilema yang keseluruhannya adalah puisi itu sendiri. 
Hidup pun memiliki banyak jalur yang mana setiap jalur adalah pilihan kehidupan 
yang akan dijalani. Bagaimana jika hidupmu itu adalah puisimu?

      Kata pengantar Handoko F Zainsan dalam buku kumpulan puisi "Mata Api" 
oleh MH. Poetra mengatakan, "Sesungguhnya kita berdiri di lorong gelap 
kegelisahan. Kegelisahan dari gegap gempita laju karya yang kian semarak".

      Sejalan dengan paparan ini, Hinshelwood dalam kata pengantar Handoko (MH. 
Poetra: xi) menyatakan, teori-teori psikonalisis tentang kegelisahan telah 
banyak bermunculan dan sebagian besar berkaitan dengan masalah-masalah dari 
berbagai bentuk konflik yang berbeda".

      Penulis sangat setuju apabila kegelisahan memang sesuatu yang tidak dapat 
kita hindari. Kegelisahan ini memanglah perasaan yang tak menentu, penuh 
syakwasangka. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang kerap kita bincangkan 
selepas makan atau selagi dalam perjalanan kita mengunjungi saudara-saudara 
kita. Pertanyaan-pertanyaan terus saja mencari jawaban. Bahkan kadang semuanya 
lepas kendali lantaran kuatnya kegelisahan dan berubah menjadi sesuatu yang 
irasional. 

      Hal inilah yang terjadi sepanjang tahun pada masyarakat Indonesia. Kali 
ini topiknya, TKW. Ada banyak sekali kasus TKW di luar negeri dan yang sedang 
hangatnya adalah kasus dieksekusinya Ruyanti secara tiba-tiba. Seperti yang 
tertambat dalam tulisan opini Dony Arlando dalam harian Analisa (Kamis, 23 Juni 
2011), pelaksanaan hukuman mati terkesan sangat mendadak. Bahkan Micheal Tene, 
juru bicara kementrian luar negeri mengatakan, pelaksanaannya tidak pernah 
diinformasikan kepada KBRI di Riyadh. Kemudian KBRI berdalih selama ini sudah 
ada upaya KBRI untuk memberi bantuan hukum kepada Ruyanti.

      Tentu saja kegelisahan masyarakat Indonesia saat ini sedang memuncak 
menyusul pemberitaan tersebut. Ini pula yang menyebabkan fobia luar biasa, baik 
itu kalangan rakyat maupun pemerintah sekalipun.

      Buah daripada kegelisahan ini membuat pemerintah memutuskan untuk 
menghentikan sementara pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk pekerja 
domestik atau PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) atau memberlakukan moratorium 
penempatan ke Arab Saudi mulai Agustus.

      Dalam pemberitaan Analisa (Kamis, 23 Juni 2011) juga dikatakan, "Menteri 
Tenaga Kerja dan Imigrasi, Muhaimin Iskandar berharap, pemberlakukan moratorium 
ini dapat dimanfaatkan semua pihak untuk bekerja sama membenahi sistem 
penempatan dan perlindungan TKI dan kejadian-kejadian yang merugikan TKI tidak 
terulang lagi".

      Harapan itu tidak hanya harapan pemerintah, bila dapat bersebab 
sesungguhnya pemerintah memiliki sebab akibat yang penuh tanggung jawab atas 
hal ini. Dalam hal penempatan-penempatan tenaga kerja, pemerintah harus lebih 
tegas dan berani. Keberanian pemerintah itu adalah tolak ukur keberanian 
masyarakat dan sudah selayaknya fobia yang terus memacu di kalangan bangsa 
Indonesia akan hilang seiring pembelajaran ini.

      Ya, masyarakat dan pemerintah memang gelisah atas kejadian satu atau 
beberapa orang di luar negeri dan dampaknya adalah perekonomian negara. Jika 
dalam puisi dampak kegelisahan ini adalah munculnya karya-karya terbaik, maka 
yang bangsa ini harapkan juga adalah pembelajaran terbaik.

      TKI adalah Hari Depan Indonesia

      Melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang bekerja sebagai TKI dan yang 
terbanyak sekarang ini adalah wanita. Tidak salah bahwa 36 tahun yang lalu 
Taufiq Ismail membuat sebuah puisi berjudul "Kembalikan Indonesia Padaku". 
Dapat dikutip puisi tersebut: "Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut 
yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt, sebagian 
berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian. Hari depan 
Indonesia adalah pertandingan pimpong siang malam dengan bola yang bentuknya 
seperti telur angsa".

      Rakyat Indonesia makin lama makin banyak jumlahnya. Masyarakat Indonesia 
dengan penduduk 200 juta lebih dan kemiskinan yang melanda, menyebabkan 
pemimpin harus bersungguh-sungguh memimpin negara dan membuat rakyat menjadi 
makmur. Karena itu penyair menyerukan imbauan agar Kembalikan Indonesia kepada 
rakyat. Perjuangkanlah nasib rakyat. Sebenarnya apabila inilah yang terjadi 
maka kuantitas TKI dapat dikurangi bahkan kalaupun harus menjadi TKI, akan 
menjadi TKI yang memiliki keahlian khusus dan dikontrak dengan kehormatan. 
Tentu kita semua tidak ingin mendengar lagi gaji TKI yang tidak dibayar ataupun 
hukuman mati dengan alasan tidak jelas sehingga dianggap terlalu berpihak pada 
majikan saja.

      Apabila segala bentuk kesalahan ini mampu dibendung, akan menjadi nilai 
baik buat Indonesia di masa yang akan datang. Bisa pula kita hitung lagi 
bagaimana Indonesia kedepan: Apakah TKI yang berjaya, TKI yang bahagia, dan TKI 
yang mendapat keadilan serta dukungan dari tempat asalnya? Atau justru 
sebaliknya? Tentu bukan hal buruk lagi yang diharapkan bangsa ini.

      Negara Kita Perlu Belajar dari Penyair

      Perlu memang bangsa ini belajar dari seorang penyair. Belajar berpuisi 
sesungguhnya tidaklah perkara menguasai teori yang begitu banyak sebab 
seyogiyanya belajar puisi sama dengan kita belajar berbicara.

      Belajar berbicara tidak membutuhkan teori, baru bisa berbicara sebab 
seorang manusia yang baru saja lahir akan belajar dengan terbata-bata saat 
pertama kalinya dengan kemudian dia akan berhasil. Begitupun puisi, yang 
menyimpan sejuta kesejukan melihat situasi. Sejuk apabila dalam pikiran 
seseorang selalu tertanam keindahan walaupun ada banyak rintang yang membentang.

      Sepertinya memang itulah yang sedang menggejala di negara kita. Apabila 
pemerintah bersama-sama masyarakat mampu menyikapi masalah TKW di luar negeri 
sebagai pembelajaran, tidak akan terjadi lagi derita yang tragis atau 
kemungkinan lebih tragis di masa mendatang.

      Kenyataannya dalam opini yang ditulis oleh Januari Sihotang dalam analisa 
(kamis, 23 Juni 2011), derita tragis TKI kita sering terlupakan. Hal itu 
terjadi akibat berbagai kepentingan para pemangku kekuasaan. Kehadiran mereka 
terkesan tidak memiliki kesadaran ambil andil dalam masalah ini bahkan di 
beberapa media sering terjadi lempar masalah daripada inisiatif bahkan 
perbuatan menyelesaikan masalah tersebut sehingga akhirnya presiden dituntut 
pula menyelesaikan secara keseluruhan. Barulah gerak-gerik itu bungkam.

      Tidak adanya kesadaran masing-masing pihak yang memiliki hubungan 
langsung atas masalah TKI inilah sebenarnya akan merugikan perekonomian negara 
kita. Pemerintah harus memperhatikan pula masalah pihak-pihak tersebut dan 
mereguk agar kelak pihak-pihak itu memiliki tujuan dan kepentingan yang tidak 
berat sebelah.

      Inilah salah satu dari banyak hal gerak pembelajaran negara kita dalam 
mengatasi masalah TKI yang merupakan sumber investasi terbesar. Profesionalisme 
lagi-lagi dituntut. Mengapa? Penyair selalu dianggap memiliki kegiatan yang 
kurang kerjaan jika akhirnya negara perlu belajar dari kecintaan penyair 
terhadap karya-karyanya.

      Seorang penyair selalu dituntut memiliki tanggung jawab atas karyanya dan 
akan selalu siap atas gejolak itu. W. S. Rendra selalu dikenang kala dia selalu 
menciptakan karya-karya terbaik. Menjadi seorang penyair memang bukan perkara 
uang segepok, maka selalu saja mendapat dukungan dan sambutan dari banyak pihak.

      Negara kita memang harus lebih banyak belajar dari seorang penyair. Ya! 
Ada banyak hal keindahan dalam masalah TKI khususnya TKW yang dapat menjadi 
keberhasilan di masa yang akan datang. Semoga!

      Serambi KOMPAK, 30 Juni 2011
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke