http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=282771

Menggoyang Kekuasaan Cikeas
Oleh Supadiyanto 

Kamis, 14 Juli 2011

Citra Partai Demokrat yang mampu menjadi pemenang Pemilu 2004 dan 2009, kini 
mulai meredup. Persoalannya sederhana saja. Terjadi konflik internal dalam 
partai berlambang bintang mercy tersebut. Di samping itu, adanya isu korupsi 
yang dilakukan oleh sejumlah elite parpol tersebut menjadi blunder, semakin 
merontokkan kekokohan pengaruhnya hingga ke akar rumput. 

Praktis daya tarik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pendiri ikut 
terpuruk. Tak ayal, berbagai survei menunjukkan secara kasat mata bahwa 
popularitas nama SBY, yang dulu bak magnet, sekarang mulai ramai dihujat dan 
dikritik oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk para aktivis mahasiswa 
tertentu. 

Saat ini, merupakan masa krusial bagi petinggi PD untuk menenangkan berbagai 
konflik yang terjadi, khususnya yang menimpa para petinggi partai tersebut. 
Sejalan dengan itu, para politikus yang menjadi pengimbang pemerintahan yang 
berkuasa, seharusnya bisa memanfaatkan momentum ini untuk mendongkrak atau 
menaikkan popularitas diri maupun parpol mereka. 

Dengan melakukan manuver politik, kita menilai para petinggi partai besar lain 
di luar PD seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, maupun PKS berpotensi 
mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat luas. Apalagi, Pemilu 2014 tinggal 
3 tahun lagi. Yang artinya, berita negatif yang diembuskan oleh berbagai media 
massa cetak dan elektronik, yang menyoroti keganjilan dan konflik yang menimpa 
Partai Demokrat, menjadi kampanye gratis bagi pesaing (musuh politik) partai 
yang didirikan oleh Presiden SBY dan kawan-kawan tersebut. 

Gejala-gejala terjadinya upaya untuk menggoyang hegemoni kekuasaan Cikeas, yang 
diwakili oleh keluarga SBY, dan kroni-kroninya, bisa dicium dari kian santernya 
wacana pedas yang dihembuskan oleh banyak kalangan, yang pada intinya menyerang 
kekuasaan Istana Negara. Dengan dukungan berbagai data dan fakta yang 
dikeluarkan oleh kalangan intelektual melalui beragam seminar, dialog publik 
dan acara semacamnya, seperti yang diusung oleh Rizal Ramli, yang belakangan 
ini getol mengkritik kepemimpinan SBY.

Dunia politik bangsa ini secara hukum alam memang selalu berputar ritmis, 
terkadang berjalan berulang dan kerap juga mengalami percepatan. Roda zaman 
juga terus berputar. Tak ada yang abadi di dunia ini, kecuali perubahan demi 
perubahan. Apalagi, kekuasaan. Ia akan beralih dari satu penguasa ke penguasa 
lain. 

Tergantung pada garis takdir dan segala upaya yang dilakukan oleh umat manusia 
sebuah bangsa. Rezim Orde Lama hanya berkuasa selama 21 tahun. Rezim Orde Baru 
sendiri memegang kursi pemerintahan selama lebih kurang 32 tahun. Sedangkan 
kita tidak tahu, Rezim Orde Reformasi yang mulai dipegang oleh Presiden BJ 
Habibie, dilanjutkan oleh Gus Dur dan Megawati serta sekarang dipegang oleh 
SBY; bakal berakhir kapan? Apakah dapat bertahan hingga melebihi masa Orde 
Baru, atau setangguh pemerintahan semasa Kerajaan Majapahit yang bisa bertahan 
selama ratusan tahun? Tak ada ilmu yang bisa menjawab pertanyaan di atas. 
Karena, bisa jadi, Orde Reformasi bisa jatuh di tengah jalan, sebagaimana nasib 
pemerintahan Orde Baru, yang berakhir dengan pahit. Entah apakah seandainya 
Orde Reformasi jatuh, akan terlahir periode baru atau Orde Pascareformasi? 
Semuanya masih abu-abu, belum jelas jluntrungan-nya. 

Masa depan tidak bisa dipastikan bagaimana kesudahannya. Yang bisa dilakukan 
manusia pada zaman ini adalah menghasilkan karya cipta peradaban terbaik, yang 
mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan zaman. Karena, sangat logis, 
hukum atau keyakinan yang terbaik hari ini, bisa dianggap sudah kedaluwarsa 
pada peradaban zaman yang akan datang. 

Dengan demikian, rezim yang berkuasa pada saat ini adalah produk terbaik yang 
dimiliki oleh sebuah bangsa. Kecenderungan yang terjadi, manusia yang hidup 
pada zaman ini, umumnya selalu menyalahkan peradaban pada zaman sebelumnya. 
Dan, manusia yang hidup pada peradaban zaman dahulu menyalahkan pendahulunya 
juga. Akhirnya menimbulkan siklus salah menyalahkan lintas peradaban (rezim) 
dari masa ke masa. Bukan sebaliknya, kita semakin dewasa dan mawas diri dengan 
berbagai pengalaman sejarah dan perjalanan peradaban zaman yang telah berlalu. 

Maka dari itu, salah besar bagi bangsa ini, jika kita hanya berfokus untuk 
saling menjatuhkan kekuasaan. Bukannya membangun kekuasaan, sebagai satu 
kesatuan, tidak saling meniadakan. Mampukan para politikus yang kini menjadi 
pengkritik pemerintahan yang sedang berkuasa, melakukan tugasnya dengan baik. 
Yakni membangun kekuasaan baru, tanpa perlu menjatuhkan satu rezim, apalagi 
dengan dibarengi berbagai tindakan anarkis yang memakan banyak korban jiwa. 
Kita masih ingat betul berapa harga mahal sebuah demokrasi, ketika melengserkan 
Rezim Orde Baru. *** 

Penulis adalah Ketua Umum PPWI DIY, alumnus UIN-UNY Yogyakarta. 


+++++
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=282772

            Krisis Demokrat atau SBY?
            Oleh Iding R Hasan 

            Kamis, 14 Juli 2011

            Konferensi pers yang digelar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat terkait gonjang-ganjing yang 
menimpa partai biru berlambang 'segitiga Mercy' ini patut dicermati. Temu 
wartawan dari berbagai media massa tersebut diadakan di kediaman Presiden SBY 
di Cikeas, Bogor dan dihadiri oleh hampir semua elite partai penguasa ini, 
Senin (11/7) malam lalu.

            Dari sisi komunikasi, apa yang dilakukan SBY tersebut sesungguhnya 
lebih bernuansa internal ketimbang eksternal. Pertama, acara dilakukan di 
tempat kediaman pribadi, tidak di tempat umum. Kedua, saat itu SBY bertindak 
dalam kapasitasnya sebagai orang yang paling menentukan di partai berlambang 
'bintang Mercedes' tersebut, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina, 
bukan sebagai presiden.

            Namun, dari sudut tujuan komunikasi, peristiwa di atas tidak cukup 
hanya dimaknai sebagai kepentingan internal semata. Karena, di dalam kesempatan 
tersebut SBY juga menggunakannya sebagai forum "pembelaan diri" dan "curhatan" 
serta tidak ketinggalan pula "sentilan pedas" terhadap pihak-pihak luar yang 
dianggapnya ingin mengobok-obok Partai Demokrat. Apalagi, acara tersebut 
dikemas dalam balutan konferensi pers yang tentu saja merupakan konsumsi publik.

            Dari perspektif internal, pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan 
SBY tentu dapat dimaknai sebagai upaya untuk menjaga soliditas Partai Demokrat. 
Hal ini sangat relevan mengingat dalam beberapa waktu terakhir ini banyak isu 
terkait Demokrat yang kian memanaskan telinga SBY sebagai Ketua Dewan Pembina. 
Setidaknya ada tiga isu yang bisa diidentifikasi.

            Pertama, isu akan diselenggarakannya kongres luar biasa (KLB) yang 
bukan tidak mungkin akan berujung pada diberhentikannya Anas Urbaningrum dari 
posisi ketua umum. Isu ini makin santer setelah bocornya SMS (short message 
service) yang dilayangkan salah seorang anggota Dewan Pembina, Marzuki Alie 
kepada SBY, yang antara lain isinya meminta SBY untuk melakukan tindakan 
"penyelamatan partai". Banyak pihak menduga bahwa istilah penyelamatan partai 
sebenarnya adalah bentuk efimisme dari penggantian ketua umum. Apalagi, Marzuki 
adalah rival Anas dalam memperebutkan kursi nomor satu di tubuh Demokrat dalam 
kongres di Bandung, beberapa waktu lalu.

            Kedua, isu perpecahan di kalangan elite Demokrat. Hal ini mulai 
terlihat ketika kasus Nazaruddin menyeruak ke permukaan. Sebenarnya tidak ada 
kesepakatan bulat di kalangan mereka mengenai opsi pemecatan Nazaruddin dari 
kursi bendahara umum partai. Inilah yang kemudian memicu "perseteruan internal" 
antara Dewan Kehormatan dan Tim Pencari Fakta yang dimotori Fraksi Demokrat di 
DPR. Tampaknya perseteruan tersebut masih tetap berlangsung sehingga dalam 
sebuah acara di salah satu stasiun televisi terjadi perdebatan panas tanpa 
tedeng aling-aling antara Amir Syamsuddin dan Ruhut Sitompul yang dapat 
dikatakan mencerminkan dua kubu yang berbeda.

            Ketiga, isu yang menyebutkan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat Anas 
Urbaningrum akan mendongkel SBY dari posisinya sebagai Ketua Dewan Pembina. Isu 
ini tentu dihembus-hembuskan mengingat sejarah di masa lalu (baca: Kongres 
Bandung) di mana SBY sesungguhnya tidak sreg dengan majunya Anas sebagai 
kandidat ketua umum. Terkait dengan keputusan Dewan Kehormatan yang notabene 
dipimpin SBY pun, diduga ada ketidaksepakatan antara SBY dengan Anas.

            Namun, melalui pernyataan-pernyataannya malam itu SBY mencoba 
menegasikan semua isu tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada perpecahan di 
kalangan Partai Demokrat. Secara internal tentu penegasan SBY tersebut sangat 
penting dan berguna untuk menenangkan semua anggota partai, sehingga soliditas 
partai bisa tetap terjaga.

            Sumber Sepihak?


            Namun, di luar kepentingan internal tersebut justru apa yang 
dilakukan SBY belum memenuhi keinginan publik. SBY agaknya lebih rajin 
menyentil pihak-pihak luar yang dianggapnya memperkeruh kekisruhan internal 
Demokrat. SBY, misalnya, menyindir acara-acara talkshow di televisi yang 
menurutnya kian memperuncing pertikaian. Bahkan, SBY juga melayangkan kritik 
pada media massa secara umum yang dipandangnya hanya menggunakan sumber 
sepihak, apalagi berupa SMS yang sulit dipertanggungjawabkan. (Pesan via SMS 
bisa dikirim oleh siapa pun, termasuk oleh pihak-pihak tertentu yang 
mengatasnamakan Nazaruddin. Benarkah SMS tersebut dikirimkan oleh Nazaruddin 
sendiri, masih belum jelas).

            Bahwa SBY sebagai pribadi melayangkan kritik terhadap apa pun dan 
siapa pun tentu boleh-boleh saja, karena dia memiliki hak yang sama dengan 
semua warga negara. Namun, SBY agaknya lupa atau tidak peka terhadap tuntutan 
publik agar Nazaruddin yang sudah semakin "liar" tersebut diberhentikan dari 
partai dan DPR. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua 
Dewan Kehormatan, apa susahnya memberhentikan seorang Nazaruddin, kecuali kalau 
memang ada "apa-apanya" di balik itu semua.

            Jadi, sekarang kuncinya terletak di tangan SBY sendiri sebagai 
orang yang paling menentukan di Partai Demokrat. Maka, kalau kasus Nazaruddin 
dibiarkan berlarut-larut, yang kena bukan sekadar Demokrat tapi justru SBY 
sendiri. Karenanya, tidak salah kalau ada yang mempertanyakan apakah sekarang 
ini merupakan krisis Demokrat atau SBY? *** 

            Penulis adalah Deputi Direktur Bidang Politik The Political 
            Literacy Institute dan Kandidat Doktor Komunikasi Unpad. 
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke