Refl: Prof Dr Haryono Suyono, penulis artikel dibawah ini katakan bahwa : "Peristiwa hukuman mati para TKI di negara-negara asing yang menyedihkan membuktikan bahwa tenaga Indonesia yang bekerja di luar negeri kualitasnya sangat rendah" , Hebat sekali penemuan sang profesor.
Untuk menyatakan demikian demikian hal, tanpa gelar profesoor pun anak kecil buta huruf pun bisa semprot. Professor lupa kebiadaban tuan rumah di Arab Saudia.yang memperlakukan TKW diluar batas kemanusiaan. http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=128128 Menyongsong penduduk dunia 7 miliar Tanggal: 15 Jul 2011 Sumber: Harian Terbit Oleh Prof Dr Haryono Suyono PADA hari Mingu pagi lalu di Jakarta diadakan Gerak Jalan untuk menyongsong penduduk dunia yang akan mencapai jumlah sekitar 7 miliar pada akhir tahun ini. Gerak jalan yang antara lain disponsori oleh Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI), BKKBN Pusat dan UNFPA di Indonesia itu menarik perhatian berbagai kalangan karena pertambahan penduduk itu sebagian besar merupakan sumbangan dari Indonesia. Diperkirakan penduduk Indonesia memberi sumbangan hampir seperempat milyar dengan kualitas yang belum dapat diandalkan. Para peserta Gerak Jalan yang datang dari berbagai organisasi yang sangat peduli terhadap akibat masalah kependudukan tersebut merasa bahwa perhatian pemerintah yang sangat tinggi masih sangat diperlukan untuk diterjemahkan secara konkrit dalam langkah nyata yang dapat meningkatkan kualitas penduduk Indonesia. Peristiwa hukuman mati para TKI di negara-negara asing yang menyedihkan membuktikan bahwa tenaga Indonesia yang bekerja di luar negeri kualitasnya sangat rendah. Tenaga pendukung, apakah itu para pengirim TKI atau perwakilan kita di luar negeri belum mampu memberikan dukungan secara paripurna, sehingga TKI Indonesia masih tetap mendapat hukuman dan konon dengan sedikit sekali pembelaan. Angka kemiskinan yang baru saja diumumkan oleh BPS menurun, tetapi penduduk yang hampir miskin masih menumpuk, dan sewaktu-waktu, dengan goncangan sedikit saja akan mudah jatuh miskin, ini sungguh merupakan suatu fenomena yang sangat menyedihkan. Penduduk yang hampir miskin sebenarnya secara jujur adalah penduduk miskin, hanya kebetulan mereka mempunyai tingkat pendapatan beberapa rupiah diatas angka batas kemiskinan. Kalau angka itu dinaikkan, misalnya lima atau sepuluh rupiah, hampir pasti angka kemiskinan di tanah air kita masih belum menurun. Peringatan dengan gerak jalan itu merupakan awal dari upaya mengingatkan pemerintah dan kita semua bahwa penduduk dunia yang jumlahnya sekitar 7 miliar, nanti strukturnya sangat berubah. Kalau di masa lalu hampir separo penduduk berusia di bawah 15 atau 25 tahun, dengan kebutuhan yang relatif terbatas, maka penduduk dunia, termasuk penduduk Indonesia, strukturnya makin dewasa. Sebagian besar berusia di atas 15 tahun, bahkan angka penduduk lansia atau lanjut usianya sudah mencapai lebih dari 10 persen. Kebutuhan penduduk dewasa dan lansia jauh lebih bermacam dan kompleks dibandingkan dengan kebutuhan penduduk anak-anak dan balita. Apalagi penduduk yang melimpah pada usia dewasa dan lansia itu sekarang lebih separo bermukim di perkotaan. Kebutuhan mereka mulai dari air sampai tempat permukiman jauh lebih mahal dari kebutuhan penduduk di daerah pedesaan. Anak-anak yang berada di perkotaan dalam menyongsong kembali ke sekolah saja akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan anak-anak di desa. Setelah diterima di sekolah, anak-anak di kota memerlukan pembiayaan yang juga lebih mahal dibandingkan dengan anak di daerah pedesaan. Jenis pekerjaan untuk anak-anak muda di perkotaan juga dirasakan jauh lebih mahal dibandingkan dengan kebutuhan lapangan kerja di daerah pedesaan. Jumlah anak muda kini adalah sekitar 3 kali jumlah anak muda usia yang sama di tahun 1970-an. Jumlah ini masih akan meningkat terus dalam sepuluh tahun yang akan datang. Kebutuhan fasilitas untuk lansia dan penyandang masalah disabilitas yang hak-haknya harus dijamin dengan baik, jumlahnya sangat membengkak. Gedung-gedung pelayanan umum yang di pedesaan tidak perlu dirombak karena harus bisa diakses, di perkotaan harus dilakukan penyesuaian paripurna. Apabila penyesuaian itu tidak dilakukan, maka pelayanan umum itu akan mendapat kritik dan pinalti karena dianggap melanggar hak-hak penduduk lansia atau penduduk penyandang disabilitas. Oleh karena itu waktu tidak banyak lagi, pemerintah pusat dan daerah perlu menempatkan penduduk sebagai titik sentral pemberdayaan dan sekaligus memberikan dukungan penyesuaian terhadap datangnya penduduk 7 miliar tersebut. (Penulis adalah Ketua Umum DNIKS/haryono.com) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
