http://www.jambiekspres.co.id/opini/19904-kematian-di-kota-kita.html
Kamis, 14 Juli 2011 10:41 Kematian di Kota Kita Oleh: Suyadi Penulis jadi teringat tigapuluhan tahun yang lalu, di lingkungan tempat tinggal penulis sebagian besar penduduk masih menggunakan petromaks dan lampu minyak. Hanya segelintir masyarakat yang menggunakan listrik yang ditarik dari diesel milik tetangga. Ketika diesel milik tetangga yang dibayar bulanan itu 'ngadat' maka suasana desa tidak mengalami perubahan yang mencolok, sebab ngadatnya diesel itu paling lama satu atau dua jam saja. Hanya saja selama dua jam menunggu itu masyarakat sekitar merasakan kehilangan hiburan dari televisi yang masih dimiliki dari segelintir orang saja, sebab kami ketika itu biasa nonton bareng menyesaki ruang tamu pemilik televisi. Selama menunggu, kami biasanya bermain di luar bersama-sama. Permainan anak-anak yang menyenangkan tentunya seraya ditemani kunang-kunang yang berterbarangan. Kejadian yang serupa tapi sama saat ini terjadi, setelah lebih dari tigapuluh tahun kegelapan pun masih seringkali menyergap warga. Tentunya dengan masa yang berbeda dampak dari hilangnya arus listrik itu saat ini begitu luas; tidak hanya kerugian materil akan tetapi juga kerugian immateril. Selain durasi 'kegelapan' yang cukup lama berdampak pada berkurangnya produktivitas home industry juga hilangnya rasa kebersamaan dalam keluarga; menikmati hiburan keluarga. Belum kerugian lainnya yang berdampak pada hilangnya tempat tinggal karena kebakaran dan hilangnya harta milik karena pencuri yang leluasa memanfaatkan kegelapan dalam keramaian. Kematian PDAM Ironisnya lagi, kegelapan kota ini diiringi dengan menghilangnya pasokan air ke rumah-rumah penduduk. Sumur pompa pun menjadi tak berarti karena mesin air itu memerlukan tenaga listrik untuk menyedot air. Bertambah lengkaplah kegelapan ini. Gelap jalan menuju kamar mandi yang tak ada airnya. Seingat penulis wilayah pemasok air kota ini tidak termasuk dalam daftar yang daerah terjadi pemadaman listrik, jadi semestinya pasokan air tidak terhalang. Sebab turbin PAM itu semestinya masih bisa dioperasikan, atau setidaknya sebuah perusahaan besar seperti PDAM sewajarnya memiliki sebuah pembangkit cadangan yang mandiri tidak melulu mengandalkan pasokan dari negara. Sehingga apabila terjadi kasus seperti saat ini tidak semakin menambah beban rakyat dalam menjalani hidup yang sudah berat; bukan hanya karena harga kebutuhan yang semakin melambung saja akan tetapi juga pusing memikirkan biaya masuk sekolah anak yang tergolong mahal. Kematian BBM Kematian yang tidak kalah serunya adalah langkanya premium/pertamak/solar di pangkalan minyak hampir seluruh Provinsi Jambi. Negeri yang dulu memiliki kelimpahan rezeki minyak kini surut menjadi negeri yang kekurangan minyak. Memang ada kewajaran yang bila ditilik dari perkembangan dunia akhir-akhir ini. Tigapuluhan tahun yang lalu meskipun terjadi kekurangan pasokan BBM (khususnya untuk kendaraan) tidak begitu dirasakan sebab pemilik kendaraan tidak sebanyak saat ini. Kalau dulu kita sempat mengekspor minyak memang cukup wajar sebab kebutuhan di dalam negeri belum membeludak seperti saat ini. Saat ini, kepemilikan kendaraan bermotor hampir merata dari kota yang bergelar metropolitan hingga ke dusun yang berada di lereng bukit. Mungkin yang semestinya dibenahi adalah cara pengelolaan bahan bakan minyak ini. Kita harus mengusahakan agar minyak yang dipompa dari perut ibu pertiwi ini juga dikelola di negeri ini sehingga kita tidak perlu mengeluarkan biaya pengelolaan yang berdampak pada tingginya biaya beli di dalam negeri. Mungkin kita sudah terbuai dari dulunya untuk selalu menerima jadinya saja meskipun itu harus membunuh kita. Penulis ikut mengantre untuk mengisi motor Shogun tua di sebuah SPBU di Kota Jambi dan turut menikmati panasnya mengantre. Dengan penuh kesabaran dibarengi dengan obrolan seputar kematian-kematian di kota ini, tentunya obrolan sesama pengantre lainnya. Ada yang nyeloteh bahwa kelangkaan premium/solar ini merupakan kesalahan pemerintah daerah begitu pun dengan kegelapan dan kekeringan yang dialami kita saat ini. Pada saat terjepit, biasanya rakyat selalu menyalahkan pemimpin. Ada kalanya benar tapi ada kalanya salah. Apa lagi ketika menyaksikan ada yang menerobos langsung ke pompa bensin dengan membawa jeriken meskipun petugas berdiri disamping pompa bensin, namun sang penyerobot itu dengan bangganya berhasil membawa jeriken yang penuh dengan BBM, sementara penulis dan pengantre lainnya turut menyaksikan sirkus penyerobotan itu. Selama dua jam lebih ikut mengantre tak kurang dari sepuluh orang yang menerobos mendahuli kami yang rela berpanas-panas mengantre. Rasanya wajar bila ada yang jengkel dengan menyalahkan pemerintah [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
