http://www.sinarharapan.co.id/content/read/pernikahan-massal-lintas-agama-indonesia-kecil-di-istora-senayan/

21.07.2011 10:03

Pernikahan Massal Lintas Agama, Indonesia Kecil di Istora Senayan
  


(foto:dok/ist)
Kisah cinta berliku dialami Sukma Setyawati dan Simanjuntak. Pasalnya, hubungan 
asmara yang bersemi di hati mereka sejak sebelas tahun lalu sempat ditolak 
keluarga mereka lantaran perbedaan agama.

Simanjuntak berasal dari Medan dan memeluk agama Kristen, sementara Sukma dari 
Ciamis penganut Islam. Setelah menikah secara Kristen, mereka diusir dari rumah 
orang tua dan kini tinggal di sebuah kamar kos ukuran 3x4 meter bertarif Rp 
150.000 per bulan di daerah Gondangdia, Jakarta.

Sukma saat itu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tekstil di Bogor, tapi 
kini ia jadi joki "Three in One" di seputaran Thamrin, Jakarta. "Kalau sudah 
cinta aku rela pergi ke mana saja," ujar Sukma tersenyum malu mengenang kembali 
kisahnya. Baginya, menganut agama apapun tak masalah, yang penting cintanya 
bisa tetap dipertahankan. 

"Jadi sebenarnya kami sudah nikah gereja, cuma surat dari catatan sipil belum 
punya," ujar Simanjuntak. Ketika itu ia kesulitan membuat akta nikah di catatan 
Sipil karena terbentur biaya dan persyaratan adiministrasi. "Waktu itu saya 
belum punya KTP karena jadi anak jalanan. Pada waktu itu saya diminta nunjukkin 
surat keterangan pindah dari Medan dan harus membayar Rp 15.000," lanjutnya. 
Sekarang Simanjuntak jadi pengamen, dan biasa bermain gitar di Gereja Oikumene 
di Jakarta Pusat, dengan penghasilan Rp 30.000-Rp 50.000. 

Selasa (19/7), di Istora Senayan Bung Karno, Jakarta, Sukma dan Simanjuntak 
terlihat serasi dengan kostum pengantin warna oranye. Dengan riasan sederhana, 
garis keriput di kening Simanjuntak maupun di tulang pipi Sukma menampakkan 
bahwa mereka mulai menjalani masa tua bersama. "Saya berterima kasih bisa ikut 
dalam nikah massal ini. Asal ada surat dari catatan sipil sudah senang banget," 
ungkap Simanjuntak.

Sepasang pengantin dari Tanjung Priok, Rahman dan Sumirah, juga mengucapkan 
rasa syukurnya kepada Tuhan. "Kami bersyukur kepada Tuhan yang telah menjawab 
doa kami. Dengan pernikahan ini, kami dapatkan buku nikah," kata Rahman yang 
berusia 86 tahun.

Kebahagiaan Simanjuntak-Sukma dan Rahman-Sumirah melengkapi kebahagiaan 4.541 
pasang pengantin masyarakat prasejahtera dari agama Islam, Kristen, Katolik, 
Buddha, dan Hindu yang dinikahkan secara massal hari itu. 

Peserta berasal dari kelompok masyarakat miskin yang tidak punya akses dan 
kemampuan memenuhi administrasi kependudukan termasuk buku/akta nikah (marriage 
certificate). Bahkan, ada yang sudah punya cucu tapi belum mampu memiliki 
buku/akta nikah. Dalam acara ini, pasangan pengantin termuda berusia 16 tahun 
dan tertua berusia 86 tahun.

Kaya Hati Kaya Materi

Suasana kehidupan seperti "Indonesia Kecil" inilah yang ingin dikembangkan 
menjadi suasana Indonesia sepenuhnya oleh Yayasan Pondok Kasih sebagai 
penyelenggara, dan Stasiun B Channel sebagai media anchor, dan mitra kerja 
seperti Keluarga Indonesia Sejahtera, Tim Partisipasi Penanggulangan 
Kemiskinan, serta Pemerintah DKI Jakarta.

"Yang lebih penting, acara ini untuk memberikan identitas dan harga diri kepada 
peserta nikah massal tersebut," kata Sofia Koswara, Direktur Utama stasiun 
televisi B Channel. "Dalam masyarakat kita dan masyarakat dunia, banyak sekali 
orang yang kaya materi, tapi sedikit yang juga kaya hati untuk peduli pada 
orang miskin. Kaya materi dan kaya hati adalah kombinasi yang dahsyat untuk 
mengentaskan kemiskinan di muka bumi ini," lanjut Sofia.

Semangat yang sama juga disampaikan Hana Ananda atau yang juga dikenal sebagai 
Bunda Theresa dari Indonesia. "Kami sudah puluhan tahun menangani orang-orang 
miskin di kolong-kolong jembatan, di tempat-tempat pembuangan sampah, atau di 
kantong-kantong kemiskinan lainnya," ungkapnya. Hana menambahkan, sekalipun di 
mata manusia orang dari kalangan bawah itu dianggap sampah, tapi di mata Tuhan 
mereka adalah permata yang berharga. Kata kuncinya adalah kepedulian, lanjutnya.

Pernikahan massal lintas agama ini adalah yang pertama kali dilakukan dan yang 
terbanyak jumlahnya. Acara ini memecahkan rekor dunia dan dicatat oleh Royal 
World Records yang berkedudukan di Inggris. Selain dapat memenuhi hak-hak 
administrasi kependudukan mereka, kegiatan ini juga jadi sarana mengingatkan 
masyarakat akan Pancasila yang tercermin dari peserta yang berasal dari lima 
agama di Indonesia. 

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman menegaskan, nilai-nilai 
Pancasila tidak akan kukuh jika tidak ada saling peduli dan bekerja sama. 
Sebab, keutamaan nilai Pancasila adalah ideologi pemersatu bangsa. "Dari 
perjalanan panjang sejarah bangsa ini, telah terbukti Pancasila mampu 
mempersatukan perbedaan yang fundamental dalam masyarakat, yakni perbedaan 
agama, suku, etnis, dan budaya," lanjutnya. (CR-19)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke