Gw baru aja 'Pulang Basamo' dengan seluruh keluarga besar berjumlah 26 orang yang terdiri dari mertua, anak, menantu, keponakan, dan cucu dengan rentang usia dari 1,5 tahun sampai usia 80 tahun.
"Pulang Basamo" ini sudah direncanakan dari sejak tahun lalu supaya semua anggota keluarga diharapkan bisa ikut berpartisipasi. Begitu pesawat tiba di bandara "Minangkabau" kami langsung menuju bis yang sudah menunggu untuk langsung membawa rombongan ke Bukittinggi. Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi memakan waktu sekitar 2 jam dengan pemandangan yang sangat menawan sehingga perjalanan menjadi tidak membosankan. Pemandangan alam menuju Bukittinggi sangat mirip dengan pemandangan alam di Jawa Barat yang terdiri dari gunung, sawah yang menghampar dan hijau sepanjang mata memandang. Dalam perjalanan ke Bukittinggi rombongan berhenti sebentar di air terjun Lembah Anai untuk menikmati air terjun dan potret2 dokumentasi. Sepanjang jalan di Lembah Anai ini mirip dengan jalan di Cadas Pangeran, yang merupakan jalan berliku-liku dengan dinding bukit disebelah kiri jalan dan jurang curam dengan sungai di dasar jurang di sebelah kanan jalan. Kelebihannya disini dibandingkan dengan Cadas Pangeran adalah sepanjang perjalanan di Lembah Anai banyak beruk yang berkeliaran di pinggir jalan. Sangat alami sekali... Pemberhentian kedua adalah makan siang (sebenernya sih 'late lunch') di restoran 'Mak Syukur' di Padangpanjang. Sate Padang Mak Syukur sudah terkenal dan kebetulan karena saat itu sudah lewat makan siang sehingga restoran agak kosong dan rombongan leluasa mendapatkan meja untuk bergabung menjadi satu meja besar. Sate Mak Syukur nggak usah di komentarin lagi rasa enaknya yang terkenal itu. Ukuran satenya besar, kuahnya kental dan pedas, rasa enak dan gurihnya juga berbeda dengan sate Mak Syukur di Jakarta. Gw juga pesan minuman khas Padangpanjang, kopi jahe pake telor. Rasanya sih agak aneh menurut lidah gw, tapi 'drinkable' juga tuh sehingga bisa gw habisin tanpa ada masalah. Rombongan tiba sore hari sekitar jam 4 di Bukittinggi. Bukittinggi adalah kota di Sumatra Barat dengan ketinggian antara 900 - 1,000 dpl. Kota sejuk ini tempat kelahiran Muhammad Hatta, Founding Fathers Indonesia. Ada 2 kota kebanggan orang Minang yaitu Bukittinggi, kota tempat kelahiran Bung Hatta dan Koto Gadang kota tempat kelahiran Haji Agus Salim. Setelah mendapatkan kamar dan istirahat sejenak, rombongan keliling menikmati kota Bukittinggi at night dan makan malam di restoran "Benteng". Rumah makan ini terkenal dengan makanan ayam pop-nya yang enak dan gurih, udah gitu potongannya juga besar2. Gw coba rendangnya kurang sip, gw cobain dendeng baladonya juga kurang enak. Setelah makan malam pulang ke hotel, ternyata di dekat hotel ada yang jualan duren. Langsung lah gw dengan sekitar 8 orang, berpesta duren. Duren di Bukittinggi terkenal enak karena 'jatuh dari pohon', dan disini tidak ada yang namanya musim duren karena duren berbuah sepanjang tahun. Menurut gw, duren yang terkenal enak itu adalah duren Medan, duren Pontianak dan duren Jepara. Duren Bukittinggi ini rasanya nggak kalah dengan duren Medan dan duren Pontianak. Besoknya setelah sarapan, rombongan berangkat dengan tujuan ke desa Kumango, dekat Batu Sangkar, untuk mengunjungi Rumah Gadang (milik ibu mertua) disana. Perjalanan ke Kumango memakan waktu kurang lebih 2 jam dari Bukittinggi. Desa Kumango ini desa kecil yang hanya terdiri dari beberapa Rumah Gadang dan rumah penduduk, ada sebuah lumbung beras tradisional dan sebuah surau, mungkin hanya beberapa puluh orang yang tinggal di desa itu. Beberapa Rumah Gadang tampak tidak ada penghuninya tapi masih kelihatan terurus. Rumah Gadang yang kami kunjungi sudah berdiri sejak beberapa generasi dan walaupun beberapa Rumah Gadang itu tampak tidak berpenghuni tetapi tidak ada orang yang berani mengklaim atau mencoba untuk mengambil Rumah Gadang yang kosong tersebut. Jadi, pemilik Rumah Gadang tidak pernah merasa khawatir akan kehilangan Rumah Gadang di kampungnya walaupun Rumah Gadang itu tidak pernah dihuni selama beberapa generasi, karena Rumah Gadang adalah selain warisan turun temurun juga merupakan asal atau silsilah orang Minang. Adat Minang yang matriachart mengenal Harta Pusako itu ada 2. Harta pusako tinggi dan harta pusako rendah. Harta Pusako tinggi adalah harta pusaka yang jatuh ke anak perempuan tertua seperti contohnya Rumah Gadang tersebut. Harta Pusako tinggi yang berupa Rumah Gadang ini, akan terus turun temurun diwarisi oleh anak perempuan tertua dalam keluarga. Harta pusako rendah adalah harta warisan yang didapat dan dihasilkan oleh orang tua dan dibagikan kepada ahli warisnya secara hukum Islam. Budaya Minangkabau berpedoman "Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah". 'Syarak' yang dilafalkan sebagai agama berada diatas adat dan adat bersandarkan agama dan pada akhirnya, tentu saja, agama bersandarkan kitabullah. Berbeda dengan budaya Jawa yang bersifat sinkretik, dimana semua unsur budaya dan agama dari unsur luar diperlakukan sama dan bahkan diakui sama kebenarannya (sadaya agami sami mawon). Sementara budaya Minang yang berorientasi sintetisme, yaitu peleburan atau persenyawaan antara budaya adat dan budaya agama yang menjadi satu. Dengan demikian unsur adat yang bersenyawa dengan agama atau 'syarak' itu adalah yang serasi dengan agama Islam. Setelah urusan berkunjung Rumah Gadang sudah beres di Kumango, rombongan lalu kembali ke Bulittinggi untuk makan siang. Rombongan makan siang di Pasar Atas di rumah makan Nasi Kapau Uni Lis. Gw memilih makanan lauk usus yang didalamnya telor, tunjang dan ayam balado. Busyeeet dah, makanannya pedas banget, tapi lezaatt luar biasa. Sore hari sekitar jam 4 setelah beristirahat sebentar di hotel, rombongan berangkat ke Sungaipuar dengan menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bukittinggi. Sungaipuar terletak di kaki Gunung Merapi, jadi lebih dingin daripada Bukittinggi. Sesampainya di Sungaipuar, kami langsung menuju ke surau yang terletak dibelakang Rumah Gadang. Surau ini dibangun tahun 1882 merupakan surau turun temurun sama seperti Rumah Gadangnya di depan surau tersebut dan sudah di renovasi sekitar 20 tahun yang lalu. Surau ini bisa dikatakan merupakan tempat tinggal bapak mertua karena sesuai adat yang berlaku di Minang pada saat dulu, anak laki2 yang sudah akil baliq tinggalnya di surau belakang rumah. Surau tersebut ukurannya sedang saja, mungkin bisa menampung sekitar 30 jemaah, terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas terdapat 2 kamar tidur dan ruangan ruangan luas semacam ruangan serbaguna. Disamping surau ini terdapat kolam ikan yang agak besar sehingga suasana surau terasa sangat sejuk dan tentram. Setelah sholat maghrib di surau, lalu dilanjutkan makan malam dengan menu antara lain rendang angsa, tunjang, di lantai 2 surau tersebut dengan seluruh kerabat dan keluarga besar disana. Gw stiap hari makan makanan Padang yang pedas, berkuah santan dan setelah sampe di hotel selalu diteruskan dengan makan duren di pinggir jalan deket hotel. Tentu saja perut gw nggak bisa tahan lagi dan akibatnya gw kebelakang mulu setiap saat. Tapi, makanan Bukittinggi nggak ada yang ngalahin deh kelezatannya, maka untuk 'mengantisipasi perut yang melilit' gw selalu 'teken' Norit, Pochai, Diatab, dan Lipitor setiap mau tidur. Gw nggak boleh kehilangan kesempatan untuk menikmati makanan2 Bukittinggi yang lezat kan?! bersambung... ======= ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
