gue kok ngga betah cuti di padang ya
kalau soal makanan, enakan makanan sunda menurut gua


________________________________
From: ajeg <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, July 24, 2011 5:48 PM
Subject: Re: [proletar] Pulang Basamo...


  

Nikmatnya punya kampung halaman... 

--- "rezameutia" <rezameutia@...> wrote:

> Gw baru aja 'Pulang Basamo' dengan seluruh keluarga besar berjumlah 
> 26 orang yang terdiri dari mertua, anak, menantu, keponakan, dan 
> cucu dengan rentang usia dari 1,5 tahun sampai usia 80 tahun. 
> 
> "Pulang Basamo" ini sudah direncanakan dari sejak tahun lalu supaya 
> semua anggota keluarga diharapkan bisa ikut berpartisipasi. 
> 
> Begitu pesawat tiba di bandara "Minangkabau" kami langsung menuju 
> bis yang sudah menunggu untuk langsung membawa rombongan ke 
> Bukittinggi.  Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi memakan waktu 
> sekitar 2 jam dengan pemandangan yang sangat menawan sehingga 
> perjalanan menjadi tidak membosankan. 
> 
> Pemandangan alam menuju Bukittinggi sangat mirip dengan pemandangan 
> alam di Jawa Barat yang terdiri dari gunung, sawah yang menghampar 
> dan hijau sepanjang mata memandang.
> 
> Dalam perjalanan ke Bukittinggi rombongan berhenti sebentar di air 
> terjun Lembah Anai untuk menikmati air terjun dan potret2 
> dokumentasi.  Sepanjang jalan di Lembah Anai ini mirip dengan jalan 
> di Cadas Pangeran, yang merupakan jalan berliku-liku dengan dinding 
> bukit  disebelah kiri jalan dan jurang curam dengan sungai di dasar 
> jurang di sebelah kanan jalan. 
> 
> Kelebihannya disini dibandingkan dengan Cadas Pangeran adalah 
> sepanjang perjalanan di Lembah Anai banyak beruk yang berkeliaran 
> di pinggir jalan.  Sangat alami sekali...
> 
> Pemberhentian kedua adalah makan siang (sebenernya sih 'late 
> lunch') di restoran 'Mak Syukur' di Padangpanjang.   Sate Padang 
> Mak Syukur sudah terkenal dan kebetulan karena saat itu sudah lewat 
> makan siang sehingga restoran agak kosong dan rombongan leluasa 
> mendapatkan meja untuk bergabung menjadi satu meja besar. 
> 
> Sate Mak Syukur nggak usah di komentarin lagi rasa enaknya yang 
> terkenal itu.  Ukuran satenya besar, kuahnya kental dan pedas, rasa 
> enak dan gurihnya juga berbeda dengan sate Mak Syukur di Jakarta. 
> 
> Gw juga pesan minuman khas Padangpanjang, kopi jahe pake telor. 
> Rasanya sih agak aneh menurut lidah gw, tapi 'drinkable' juga tuh 
> sehingga bisa gw habisin tanpa ada masalah.
> 
> Rombongan tiba sore hari sekitar jam 4 di Bukittinggi.  Bukittinggi 
> adalah kota di Sumatra Barat dengan ketinggian antara 900 - 1,000 
> dpl.  Kota sejuk ini tempat kelahiran Muhammad Hatta, Founding 
> Fathers Indonesia.  Ada 2 kota kebanggan orang Minang yaitu 
> Bukittinggi, kota tempat kelahiran Bung Hatta dan Koto Gadang kota 
> tempat kelahiran Haji Agus Salim.
> 
> Setelah mendapatkan kamar dan istirahat sejenak, rombongan keliling 
> menikmati kota Bukittinggi at night dan makan malam di restoran 
> "Benteng".  Rumah makan ini terkenal dengan makanan ayam pop-nya 
> yang enak dan gurih, udah gitu potongannya juga besar2.  Gw coba 
> rendangnya kurang sip, gw cobain dendeng baladonya juga kurang enak.
> 
> Setelah makan malam pulang ke hotel, ternyata di dekat hotel ada 
> yang jualan duren.  Langsung lah gw dengan sekitar 8 orang, 
> berpesta duren.  Duren di Bukittinggi terkenal enak karena 'jatuh 
> dari pohon', dan disini tidak ada yang namanya musim duren karena 
> duren berbuah sepanjang tahun. 
> 
> Menurut gw, duren yang terkenal enak itu adalah duren Medan, duren 
> Pontianak dan duren Jepara.  Duren Bukittinggi ini rasanya nggak 
> kalah dengan duren Medan dan duren Pontianak.
> 
> Besoknya setelah sarapan, rombongan berangkat dengan tujuan ke desa 
> Kumango, dekat Batu Sangkar, untuk mengunjungi Rumah Gadang (milik 
> ibu mertua) disana.  Perjalanan ke Kumango memakan waktu kurang 
> lebih 2 jam dari Bukittinggi. 
> 
> Desa Kumango ini desa kecil yang hanya terdiri dari beberapa Rumah 
> Gadang dan rumah penduduk, ada sebuah lumbung beras tradisional dan 
> sebuah surau, mungkin hanya beberapa puluh orang yang tinggal di 
> desa itu.  Beberapa Rumah Gadang tampak tidak ada penghuninya tapi 
> masih kelihatan terurus.
> 
> Rumah Gadang yang kami kunjungi sudah berdiri sejak beberapa 
> generasi dan walaupun beberapa Rumah Gadang itu tampak tidak 
> berpenghuni tetapi tidak ada orang yang berani mengklaim atau 
> mencoba untuk mengambil Rumah Gadang yang kosong tersebut. 
> 
> Jadi, pemilik Rumah Gadang tidak pernah merasa khawatir akan 
> kehilangan Rumah Gadang di kampungnya walaupun Rumah Gadang itu 
> tidak pernah dihuni selama beberapa generasi, karena Rumah Gadang 
> adalah selain warisan turun temurun juga merupakan asal atau 
> silsilah orang Minang.
> 
> Adat Minang yang matriachart mengenal Harta Pusako itu ada 2. 
> 
> Harta pusako tinggi dan harta pusako rendah.  Harta Pusako tinggi 
> adalah harta pusaka yang jatuh ke anak perempuan tertua seperti 
> contohnya Rumah Gadang tersebut.  Harta Pusako tinggi yang berupa 
> Rumah Gadang ini, akan terus turun temurun diwarisi oleh anak 
> perempuan tertua dalam keluarga.  Harta pusako rendah adalah harta 
> warisan yang didapat dan dihasilkan oleh orang tua dan dibagikan 
> kepada ahli warisnya secara hukum Islam.
> 
> Budaya Minangkabau berpedoman "Adat bersendi syarak, syarak 
> bersendi kitabullah".  'Syarak' yang dilafalkan sebagai agama 
> berada diatas adat dan adat bersandarkan agama dan pada akhirnya, 
> tentu saja, agama bersandarkan kitabullah. 
> 
> Berbeda dengan budaya Jawa yang bersifat sinkretik, dimana semua 
> unsur budaya dan agama dari unsur luar diperlakukan sama dan bahkan 
> diakui sama kebenarannya (sadaya agami sami mawon). 
> 
> Sementara budaya Minang yang berorientasi sintetisme, yaitu 
> peleburan atau persenyawaan antara budaya adat dan budaya agama 
> yang menjadi satu.  Dengan demikian unsur adat yang bersenyawa 
> dengan agama atau 'syarak' itu adalah yang serasi dengan agama 
> Islam.
> 
> Setelah urusan berkunjung Rumah Gadang sudah beres di Kumango, 
> rombongan lalu kembali ke Bulittinggi untuk makan siang.  Rombongan 
> makan siang di Pasar Atas di rumah makan Nasi Kapau Uni Lis.  Gw 
> memilih makanan lauk usus yang didalamnya telor, tunjang dan ayam 
> balado.  Busyeeet dah, makanannya pedas banget, tapi lezaatt luar 
> biasa. 
> 
> Sore hari sekitar jam 4 setelah beristirahat sebentar di hotel, 
> rombongan berangkat ke Sungaipuar dengan menempuh perjalanan 
> sekitar 40 menit dari Bukittinggi.  Sungaipuar terletak di kaki 
> Gunung Merapi, jadi lebih dingin daripada Bukittinggi.  Sesampainya 
> di Sungaipuar, kami langsung menuju ke surau yang terletak 
> dibelakang Rumah Gadang.
> 
> Surau ini dibangun tahun 1882 merupakan surau turun temurun sama 
> seperti Rumah Gadangnya di depan surau tersebut dan sudah di 
> renovasi sekitar 20 tahun yang lalu.  Surau ini bisa dikatakan 
> merupakan tempat tinggal bapak mertua karena sesuai adat yang 
> berlaku di Minang pada saat dulu, anak laki2 yang sudah akil baliq 
> tinggalnya di surau belakang rumah.
> 
> Surau tersebut ukurannya sedang saja, mungkin bisa menampung 
> sekitar 30 jemaah, terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas 
> terdapat 2 kamar tidur dan ruangan ruangan luas semacam ruangan 
> serbaguna.  Disamping surau ini terdapat kolam ikan yang agak besar 
> sehingga suasana surau terasa sangat sejuk dan tentram.
> 
> Setelah sholat maghrib di surau, lalu dilanjutkan makan malam 
> dengan menu antara lain rendang angsa, tunjang, di lantai 2 surau 
> tersebut dengan seluruh kerabat dan keluarga besar disana. 
> 
> Gw stiap hari makan makanan Padang yang pedas, berkuah santan dan 
> setelah sampe di hotel selalu diteruskan dengan makan duren di 
> pinggir jalan deket hotel.  Tentu saja perut gw nggak bisa tahan 
> lagi dan akibatnya gw kebelakang mulu setiap saat. 
> 
> Tapi, makanan Bukittinggi nggak ada yang ngalahin deh kelezatannya, 
> maka untuk 'mengantisipasi perut yang melilit' gw selalu 'teken' 
> Norit, Pochai, Diatab, dan Lipitor setiap mau tidur.  Gw nggak 
> boleh kehilangan kesempatan untuk menikmati makanan2 Bukittinggi 
> yang lezat kan?!
> 
> 
> 
> bersambung...
> 
> =======


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke