Refl: Jauh di mata jauh di hati!

http://www.antaranews.com/berita/271935/perbatasan-beranda-negara-yang-masih-terabaikan

Perbatasan, Beranda Negara Yang Masih Terabaikan
Selasa, 16 Agustus 2011 09:02 WIB | 3878 Views

Oleh Teguh Imam Wibowo



 
Dua prajurit TNI di salah satu pos perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong 
(arsipardava.blogspot.com)

Pernyataan Kepala Desa Mungguk Gelombang, Yusak, yang ingin mengibarkan bendera 
Malaysia di desa yang masuk administratif Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten 
Sintang, Kalimantan Barat, seolah menyengat banyak pihak.

Apalagi disampaikan menjelang peringatan 66 tahun Indonesia sebagai negara 
berdaulat oleh Soekarno dan Hatta.

Jajaran Pemerintah Kabupaten Sintang, kalangan tentara dan polisi menggelar 
rapat setelah pernyataan Yusak diekspos di media massa.

Komando Daerah Militer XII Tanjungpura pun melakukan pengecekan langsung di 
lapangan terkait adanya kabar rencana tersebut. 

Kepala Badan Pengelola Kawasan Perbatasan dan Kerjasama Kalbar, MH Munsin 
menegaskan bahwa berita tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. 

Semua berusaha membantah berita tersebut. Beragam media massa baik lokal maupun 
pusat pun kemudian berburu berita di Kecamatan Ketungau Tengah.

Meski ada beberapa kalangan DPR dan DPRD dari Kalimantan Barat yang mengakui 
bahwa isu itu merupakan hal yang mungkin saja terjadi.

Anggota DPR RI Karolin Margret Natasa mengatakan, isu pengibaran bendera 
Malaysia di wilayah perbatasan Kalimantan Barat merupakan ungkapan putus asa 
masyarakat di wilayah tersebut.

"Itu jeritan atau ungkapan putus asa masyarakat di wilayah perbatasan karena 
memang akses mereka yang sangat sulit," kata Karolin di Pontianak, Jumat (12/8).

Sementara Anggota DPRD Kalimantan Barat Suprianto mengatakan, ancaman 
pengibaran bendera lain menjelang 17 Agustus karena masyarakat perbatasan 
menganggap tidak adanya perhatian dari pemerintah pusat dan daerah.


Terbantu Jiran
Harus diakui, selaku jiran, Malaysia cukup menopang kehidupan masyarakat di 
perbatasan Kalimantan Barat dengan Sarawak.

Terlebih lagi ada perjanjian Sosial Ekonomi Malaysia Indonesia yang 
memungkinkan warga di perbatasan berbelanja kebutuhan sehari-hari di Sarawak 
dengan nilai maksimal 600 ringgit Malaysia.

Beragam kebutuhan seperti elpiji, gula, makanan ringan, minuman, telur, 
terkadang dibeli dari Sarawak. Sementara warga Kalbar di perbatasan menjual 
hasil alam seperti cabai, jahe atau lengkuas.

Lambat laun, kebutuhan itu berubah menjadi ketergantungan, misalnya elpiji. 
"Kami sudah lama menggunakan elpiji dari Sarawak," kata Imran, Kepala Desa 
Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Ketergantungan itu yang akhirnya menimbulkan keresahan warga karena Pemerintah 
Malaysia melarang elpiji yang mereka subsidi juga dimanfaatkan warga luar.

"Masyarakat kesulitan mendapatkan elpiji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 
sejak dua minggu terakhir," kata Imran, Senin pekan lalu.

Ia memperkirakan ada ribuan warga di Entikong yang mengalami hal yang sama. 
Kondisi ini dialami pula beberapa daerah di Kalbar yang berbatasan langsung 
dengan Sarawak.

Elpiji dari Pertamina kurang laku karena harganya lebih mahal dan beratnya 
lebih ringan dibanding yang dijual Petronas.


Pilihan Logis
Akses yang lebih mudah ke Sarawak menjadi salah satu alasan warga perbatasan 
tidak memilih produk dalam negeri.

Desa Suruh Tembawang, terletak sekitar 60 kilometer dari Entikong. Entikong 
mempunyai Pos Pemeriksaan Lintas Batas darat yang pertama di Indonesia. Namun 
hingga kini belum ada jalan aspal menuju desa tersebut.

Warga Suruh Tembawang harus menyusuri Sungai Sekayam menggunakan perahu 
bermotor selama setengah hari sambil melewati beberapa riam yang berbahaya. 
Alternatif lain, masuk ke wilayah Sarawak dan mengikuti jalan mulus tak jauh 
dari perbatasan lalu kembali ke wilayah Kalimantan Barat. Itu pun harus 
berjalan kaki.

Atau warga Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, yang berbatasan 
langsung dengan Melanau, Sarawak. 

Desa yang letaknya paling utara Kalimantan Barat itu, dapat dijangkau 
menggunakan kapal dari Desa Sebubus menyusuri tepian Laut Natuna. Pilihan lain, 
menggunakan sepeda motor menyusuri Pantai Paloh sepanjang 60 kilometer, sambil 
memperhitungkan pasang surut air laut, sungai yang banjir dan buaya muara.

Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, yang sudah menjadi salah satu 
Pos Pemeriksaan Lintas Batas baru, pun tidak mudah dijangkau. Dari ibu kota 
Kabupaten Sambas, Sambas, melewati jalan tanah merah yang licin di waktu hujan, 
berdebu di waktu kemarau.

Jarak 99 kilometer pun harus ditempuh empat jam lebih, kalau cuaca bagus.Bagi 
sebagian orang, jauh lebih mudah dan nyaman kalau menjangkau Aruk melalui 
Entikong, masuk ke Sarawak, menyusuri jalanan mulus di negeri jiran itu, menuju 
Biawak, yang berbatasan langsung dengan Aruk. Cukup tiga jam perjalanan.

Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, harus menempuh perjalanan hampir 24 
jam dari Pontianak untuk tiba di Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, lokasi lain 
rencana Pos Pemeriksaan Lintas Batas. 

Pulangnya, ia masuk ke Sarawak dari Badau melalui Lubok Antuk, dan menyusuri 
jalan di perbatasan di wilayah Malaysia dan kembali masuk ke Kalimantan Barat 
di Entikong.


Masih Klasik
Hidup dengan akses jalan yang sangat minim, tanpa listrik, pelayanan publik 
lain terbatas, selama puluhan tahun, apa yang paling tepat untuk mengungkapkan 
perasaan warga perbatasan saat ini?

Untuk menarik perhatian negara, mungkin salah satunya dengan wacana pengibaran 
bendera Malaysia, yang dianggap lebih "dekat" dibanding negeri sendiri. 

Meski masih belum maksimal, upaya pemerintah sudah lebih baik dibandingkan 
tahun-tahun lalu. Gubernur Kalbar Cornelis mengatakan, cukup banyak program 
pemerintah dalam mewujudkan perbatasan sebagai beranda negara sesungguhnya.

"Untuk jalan dari Sambas menuju Aruk, dialokasikan Rp270 miliar dan diharapkan 
segera dibangun," kata Cornelis.

PLN pun ikut mencoba menerangi perbatasan dengan program kelistrikan, di 
antaranya, membangun dua unit Pembangkit Litrik Tenaga Surya di Desa Sidding 
(Kabupaten Bengkayang) dan Temajuk (Kabupaten Sambas).

Alasan klasik adalah terbatasnya dana. "Program ada, tapi sekarang tergantung 
dana. Tidak hanya untuk perbatasan, tetapi juga Kalbar," kata Christiandy 
Sanjaya.

Butuh triliunan rupiah untuk membangun perbatasan Kalbar, sedangkan APBD Kalbar 
tahun 2011 sekitar Rp1,8 triliun. Salah satu harapan adalah komitmen 
pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam membangun perbatasan.

Kalau tidak, bukan tidak mungkin akan muncul Yusak-Yusak baru di perbatasan 
Kalbar, yang tentu saja lebih keras menagih janji pemerintah dengan caranya 
sendiri. (T.T011)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2011


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke