Refl: Tidak apa-apa kalau hari merdeka hampa, asal tidak hampa bagi rejeki penguasa NKRI di segala bidang dan tingkat pemerintahan baik sipil maupun militer.
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/08/27/10459/hampanya_hari_merdeka/#.TlmvXKgg15g Hari ini Pkl. 00:31 WIB Hampanya Hari Merdeka HINGGA hari ini, Sabtu (27/8/11), baru sekitar sepuluh hari sejak kita merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan yang ke-66. Namun, kesan yang terasa seakan kita sudah memperingati hari nan sakral itu pada jauh-jauh hari sebelumnya. Kesan itu bisa kita lihat secara kasat mata. Tidak ada jejak nuansa Merah-Putih yang bisa kita nikmati selama berminggu-minggu seperti sebelumnya. Paling mudah untuk merasakannya ialah minimnya pengibaran bendera Merah-Putih oleh warganegara. Ironisnya, jika berani jujur, pada saat yang sama itu juga tidak kurang banyaknya kantor pemerintah, swasta, dan lembaga-lembaga lain milik bangsa ini yang juga sepertinya tidak menganggap penting HUT Proklamasi Kemerdekaan. Tiada nuansa Merah-Putih di lingkungan kantornya, bahkan walau sekadarnya. Jika diperhatikan, tidak sedikit pula dari mereka yang malah tidak mengibarkan bendera Indonesia di kantornya. Setelah 66 tahun merdeka, kesan yang kini kita rasakan ialah kian pudarnya nasionalisme kita sebagai rakyat bangsa ini. Satu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya melalui perjalanan berabad-abad dan mengorbankan harta-benda bahkan nyawa yang tak terhitung. Kini, jejak pengorbanan besar pendahulu bangsa itu kian samar-samar. Mudah-mudahan kita tidak segera menderita amnesia sejarah besar ini. Memang, relevansi mengibarkan Merah-Putih dan tingkat nasionalisme saat memperingati Proklamasi Kemerdekaan masih layak debat. Tapi, jika kita percaya bahwa perilaku adalah ekspresi jiwa, maka bukanlah satu kekeliruan jika banyak pihak yang menyimpulkan bahwa semangat dan kebanggaan kita sebagai rakyat dan bangsa Indonesia makin luntur diukur dari keengganan mengibarkan bendera di hari bersejarah ini! HUT RI tahun ini memang terkesan sungguh hampa. Dia ibarat "hilang ditelan angin". Dalam waktu singkat, tiada lagi gemanya, apalagi kemeriahan dan kesemarakannya, yang menjadi obrolan dan ekspresi sukacita rakyat. Peringatannya yang bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, bulan ibadah umat Islam—mayoritas rakyat negeri ini—tidak dapat kita jadikan pembenaran atas kondisi tersebut. Apakah ini berarti nasionalisme kita benar-benar memudar? Betul. Itulah yang sejujurnya. Apakah kita, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negeri ini, berani mengakuinya? Jawaban atas pertanyaan ini yang kita nantikan. Kita tidak bisa menganggap enteng vitalnya nasionalisme. Justru, di tengah kian ketatnya persaingan antarbangsa dan pertarungan mempertahankan jatidiri di tengah era kesejagatan, nasionalisme adalah elemen vital kita. Semangat kebangsaan menjadi keunikan, identitas khas, sekaligus napas keberlangsungan eksistensi kita di antara bangsa-bangsa lain. Tanpa identitas kuat yang kita miliki, maka kita akan tinggal sejarah yang tak dikenal di dunia. Semangat kebangsaan kita yang berdasarkan Pancasila inilah yang sangat kita butuhkan juga untuk mengatasi tantangan di dalam negeri. Kita membutuhkan jaminan hak asasi manusia, persamaan perlakuan di depan hukum, pemerataan dan keadilan sosial, dan sebagainya. Semua warganegara berhak mendapatkan haknya dan wajib menunaikan kewajibannya tanpa diskriminasi. Tapi, kita tidak bisa maksimal, bila takut dianggap gagal, menjaga hak-hak dan kewajiban konstitusional itu justru karena tanpa disadari kita lupa nasionalisme Indonesia. Hampanya peringatan dan perayaan HUT ke-66 Kemerdekaan RI ini, harus dijadikan sinyal kewaspadaan, khususnya bagi pemimpin bangsa, untuk berjuang mengobarkan kembali nasionalisme rakyat Indonesia. Karena, pemimpin adalah inspirator. Dialah rujukan keteladanan sikap dan perilaku. Bagi pemimpin Indonesia saat ini, tantangan untuk menjadi inspirasi generasi mendatang ialah keberanian mengelola dan menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai Pancasila dan semangat Merah-Putih. Misalnya, berani menegakkan hukum meski mungkin akan mengorbankan diri sendiri, berani hidup bersahaja, tegar, dan jiwa luhur lainnya. Apakah ini muluk? Bila itu anggapan kita terhadap sifat dan sikap seperti ini, maka tidak mengherankan jika kemerdekaan kitapun kian hampa. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
