Ya ya ya ! Betul sekali brur !

--- On Sun, 28/8/11, Sunny <[email protected]> wrote:

From: Sunny <[email protected]>
Subject: [proletar] Hampanya Hari Merdeka
To: [email protected]
Received: Sunday, 28 August, 2011, 3:40 AM







 



  


    
      
      
      Refl: Tidak apa-apa kalau hari merdeka hampa, asal tidak hampa bagi 
rejeki penguasa NKRI di segala bidang dan tingkat pemerintahan baik sipil 
maupun militer.



http://www.analisadaily.com/news/read/2011/08/27/10459/hampanya_hari_merdeka/#.TlmvXKgg15g



Hari ini Pkl. 00:31 WIB



Hampanya Hari Merdeka



HINGGA hari ini, Sabtu (27/8/11), baru sekitar sepuluh hari sejak kita 
merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan yang ke-66. Namun, kesan yang 
terasa seakan kita sudah memperingati hari nan sakral itu pada jauh-jauh hari 
sebelumnya.

Kesan itu bisa kita lihat secara kasat mata. Tidak ada jejak nuansa Merah-Putih 
yang bisa kita nikmati selama berminggu-minggu seperti sebelumnya. Paling mudah 
untuk merasakannya ialah minimnya pengibaran bendera Merah-Putih oleh 
warganegara.



Ironisnya, jika berani jujur, pada saat yang sama itu juga tidak kurang 
banyaknya kantor pemerintah, swasta, dan lembaga-lembaga lain milik bangsa ini 
yang juga sepertinya tidak menganggap penting HUT Proklamasi Kemerdekaan. Tiada 
nuansa Merah-Putih di lingkungan kantornya, bahkan walau sekadarnya. Jika 
diperhatikan, tidak sedikit pula dari mereka yang malah tidak mengibarkan 
bendera Indonesia di kantornya.



Setelah 66 tahun merdeka, kesan yang kini kita rasakan ialah kian pudarnya 
nasionalisme kita sebagai rakyat bangsa ini. Satu bangsa yang memperjuangkan 
kemerdekaannya melalui perjalanan berabad-abad dan mengorbankan harta-benda 
bahkan nyawa yang tak terhitung. Kini, jejak pengorbanan besar pendahulu bangsa 
itu kian samar-samar. Mudah-mudahan kita tidak segera menderita amnesia sejarah 
besar ini.



Memang, relevansi mengibarkan Merah-Putih dan tingkat nasionalisme saat 
memperingati Proklamasi Kemerdekaan masih layak debat. Tapi, jika kita percaya 
bahwa perilaku adalah ekspresi jiwa, maka bukanlah satu kekeliruan jika banyak 
pihak yang menyimpulkan bahwa semangat dan kebanggaan kita sebagai rakyat dan 
bangsa Indonesia makin luntur diukur dari keengganan mengibarkan bendera di 
hari bersejarah ini!



HUT RI tahun ini memang terkesan sungguh hampa. Dia ibarat "hilang ditelan 
angin". Dalam waktu singkat, tiada lagi gemanya, apalagi kemeriahan dan 
kesemarakannya, yang menjadi obrolan dan ekspresi sukacita rakyat. 
Peringatannya yang bersamaan dengan bulan suci Ramadhan, bulan ibadah umat 
Islam—mayoritas rakyat negeri ini—tidak dapat kita jadikan pembenaran atas 
kondisi tersebut.



Apakah ini berarti nasionalisme kita benar-benar memudar? Betul. Itulah yang 
sejujurnya. Apakah kita, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negeri ini, 
berani mengakuinya? Jawaban atas pertanyaan ini yang kita nantikan.



Kita tidak bisa menganggap enteng vitalnya nasionalisme. Justru, di tengah kian 
ketatnya persaingan antarbangsa dan pertarungan mempertahankan jatidiri di 
tengah era kesejagatan, nasionalisme adalah elemen vital kita. Semangat 
kebangsaan menjadi keunikan, identitas khas, sekaligus napas keberlangsungan 
eksistensi kita di antara bangsa-bangsa lain. Tanpa identitas kuat yang kita 
miliki, maka kita akan tinggal sejarah yang tak dikenal di dunia.



Semangat kebangsaan kita yang berdasarkan Pancasila inilah yang sangat kita 
butuhkan juga untuk mengatasi tantangan di dalam negeri. Kita membutuhkan 
jaminan hak asasi manusia, persamaan perlakuan di depan hukum, pemerataan dan 
keadilan sosial, dan sebagainya. Semua warganegara berhak mendapatkan haknya 
dan wajib menunaikan kewajibannya tanpa diskriminasi. Tapi, kita tidak bisa 
maksimal, bila takut dianggap gagal, menjaga hak-hak dan kewajiban 
konstitusional itu justru karena tanpa disadari kita lupa nasionalisme 
Indonesia.



Hampanya peringatan dan perayaan HUT ke-66 Kemerdekaan RI ini, harus dijadikan 
sinyal kewaspadaan, khususnya bagi pemimpin bangsa, untuk berjuang mengobarkan 
kembali nasionalisme rakyat Indonesia. Karena, pemimpin adalah inspirator. 
Dialah rujukan keteladanan sikap dan perilaku. 



Bagi pemimpin Indonesia saat ini, tantangan untuk menjadi inspirasi generasi 
mendatang ialah keberanian mengelola dan menyelenggarakan kehidupan 
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sesuai Pancasila dan semangat 
Merah-Putih. Misalnya, berani menegakkan hukum meski mungkin akan mengorbankan 
diri sendiri, berani hidup bersahaja, tegar, dan jiwa luhur lainnya. Apakah ini 
muluk? Bila itu anggapan kita terhadap sifat dan sikap seperti ini, maka tidak 
mengherankan jika kemerdekaan kitapun kian hampa.



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke